
“Cika. Aku ada salah sama kamu. Kenapa aku perhatikan dari kemarin kamu jadi pendiam”tanyanya saat kembali dari tempat kerja.
“Enggak. Cika enggak kenapa kenapa” balasnya tanpa melihat lawan bicaranya.
“Betulan Cika enggak marah?”tanyanya ragu.
“Iya”jawabnya masih fokus pada ponselnya.
“Cika…”ucapnya sembari merebut Ponselnya.
“Kembalikan Ponselku”ucapnya ingin berdiri dan meraih ponselnya yang berada ditangan yang melangit, nyatanya tidak bisa sebab Candi terlalu tinggi.
“Aku tidak bisa membaca pikiranmu, jadi bicara supaya aku tahu”ucapnya sembari memandang lekat wanita yang kembali duduk dengan wajah yang di tekuk.
“Kenapa harus mengusirnya.Riri nanti tinggal dimana.Kamu jahat. Riri hanya memilikimu tetapi kamu..”ucapnya kecoplosan.
“Kenapa tidak di teruskan. Aku memang jahat tetapi apa kamu lupa kita sama sama saja”jawabnya duduk di samping Cika.
“Enggak usah mikirin Riri. Bukankah semakin dia tersiksa semakin bagus untuk kita. Atau jangan jangan kamu…”ucapnya membuat Cika deg degan.
“Aku hanya tidak ingin penderitaannya berakhir dengan cepat..Gimana kalau dia mencoba mengakhiri hidupnya lagi”jawabnya berusaha menyembunyikan rasa sebenarnya.
“Aku enggak akan biarin Dia menyusul orang tuanya sekarang. Tenang saja aku sudah mengutus seseorang untuk mengawasinya”jawabnya.
“Dia harus merasakan apa yang aku rasa. Kehilangan apa yang harusnya menjadi milikku” lanjutnya penuh penekanan dan sorot mata penuh dendam.
“Apa mungkin Candi bukan anak kandung Kakek Ayubi sampai tidak terdaftar sebagai pewaris Sah”batinnya sembari memandang laki laki di sampingnya.
“Tapi jika Riri mirip dengan Wajah Appa nya pas masih muda. Itu berarti Wajah Appa nya Riri mirip seperti Candi, sangat mirip.Jadi enggak mungkin Candi Bukan anak kandung Terus mengapa dia tidak kebagian Harta Warisan?” batinnya penuh tanda tanya tanpa sadar Candi tiba tiba menghadap kearahnya.
“Ternyata Cika lebih cantik ketika terdiam” batinnya dengan pandangan beradu.
“Andaikan kamu sebaik yang di ceritakan Riri. Pasti aku dengan senang hati menjadi Aunty nya”batinnya sembari memandang sepasang mata yang sangat dekat darinya.
“Tidak perlu mengasihi ku. Aku sudah biasa mendapatkan perlakuan tidak adil”jawabnya memutuskan pandangan.
“Aku tidak kasihan padamu. Aku hanya heran kenapa laki laki tampan tidak tertarik padaku yang cantik ini”ucapnya kembali ceria dengan penuh percaya diri.
__ADS_1
“Cika cantik kan?”tanyanya pada Candi yang kembali melihat kearahnya sembari meletakkan kedua tangannya di pipi.
“Cantik”jawabnya sembari membalas senyuman Cika.
“Tapi sayang. Kecantikanmu kau tutupi oleh kerudungmu.Hanya orang baik yang pantas menggunakannya”lanjutnya langsung mencap di hati Cika.
“Setidaknya tidak semua yang kulakukan adalah Buruk. Aku hanya ingin menjaga apa yang seharusnya menjadi milik pendampingku kelak sebab aku tahu bagaimana rasanya kehilangan apa yang seharusnya menjadi milik kita. Sungguh menyakitkan”jawabnya membuat Candi makin terpana.
“Sebenarnya kamu memiliki hati yang lembut seperti Riri tapi sayang pata hati merubamu jadi keras”batinnya.
“Aku kehilangan Bestie ku karena kamu. Candi Ayubi kamu harus bertanggung jawab” lanjutnya membatin.
“Ini. Ponselmu. Cepat kembali ke kamarmu. Sebelum aku berubah pikiran”jawabnya melempar Ponsel kepangkuan pemiliknya yang terkejut sekaligus heran.
“Candi seperti laki laki Normal. Terlihat tidak nyaman saat aku memandangnya apalagi seperti tadi. Aku harus membuktikannya”batinnya sembari beranjak dan meninggalkan Candi seorang diri.
“Kak Candi”teriaknya sebelum kaki menginjak anak tangga.
“Apa?”tanyanya berbalik pandangan.
“Kak Candi Jangan lupa istirahat.Emma”ucapnya sembari memberikan Kiss jarak jauh.
“Wanita itu benar benar pemberani. Apa dia lupa di Rumah Utama hanya ada kita berdua”batinnya tanpa melepas pandangan pada Cika yang semakin menjauh.
“Alhamdulillah. Raja Iblis tidak mengejar ku” ucapnya setelah mengunci Pintu Kamarnya.
Malam Ini Cika terjaga seperti hanya Riri yang tidak mampu menutup mata dalam kamar yang baru dua malam Dia tempati setelah kemarin mendapat fakta baru lagi.
“Riri Kos Kosan 99 pintu ini adalah Aset Almarhumah Umma mu sebelum menikah dengan Appa mu”jelasnya Bibinya.
“Bibi dan Paman hanya mengelola semenjak Umma dan Appa mu Memutuskan menikah. Riri tahu Bangunan ke seratus yang telat berada di pertengahan bangunan ini adalah Masjid yang mempertemukan kedua orang tuamu”lanjutnya dengan Air mata ber lenang.
“Umma dan Appa sering menceritakan hal itu pada Riri tetapi Riri baru tahu ternyata Kos dan Masjid yang dimaksud adalah tempat Bibi yang setiap bulan Riri injak”jawabnya.
“Umma dan Appa mu merahasiakan itu sebab mereka memberikan semua Ini Ke Bibi dan Paman tapi Pamanmu tidak menerima seutuhnya. Mereka takut Riri tidak ikhlas jika jatuh di tangan orang lain sebab penuh kenangan”jelasnya.
“Mulai sekarang Riri tinggal di sini bareng Bibi. Mau kan?”tanyanya.
__ADS_1
“Riri enggak mau tinggal dilantai paling atas”jawabnya dengan suara sendu.
“Enggak apa apa Riri boleh pilih kamar yang mana saja tetapi tinggal dua yang kosong kamar yang berada di bawah kamar Bibi” jawabnya.
Percakapan kemarin menghasilkan malam ini dimana Riri menerima tawaran Bibinya meski dengan syarat seperti hanya Alana yang menerima tawaran Daddy nya dengan mengajukan syarat pula.
“Daddy. Kenapa Alan harus di pindahkan ke Samarinda padahal perusahaan cabang di sana berjalan dengan baik. Alan tidak mau merantau”tolaknya.
“Terserah, memili apa yang jelas pilihan hanya dua mengelola perusahaan Cabang di Samarinda atau Menikah entah dengan Cika atau Bianca”ucapnya.
“Kenapa Daddy selalu membuat keputusan sebelah pihak. Alan hanya ingin bebas seperti anak anak pada umumnya, bukan hanya tentang pendidikan dan ahli waris”jawabnya.
“Apa selama Ini Daddy kurang memberimu kebebasan. Pacaran dengan Bianca selama bertahun tahun, kabur entah kemana pada saat jam kerja dan Daddy selalu memberimu kebebasan jika Bian mendampingi mu” jelasnya.
“Daddy lebih percaya Bian dari pada Alan anakmu sendiri”
“Bagaimana Daddy bisa percayalah padamu jika menyatakan Cinta saja tidak bisa. Cukup Daddy tidak mau lagi mendengar bantahan cukup pilihan”jelasnya penuh penekanan.
“Baiklah Alan merantau ke Samarinda dengan syarat tempat tinggal harus Alan sendiri yang memili”ucapnya penuh penawaran.
“Baiklah Daddy terima persyaratan mu asal Bian mendampingi mu”ucapnya tersenyum licik sembari menghadap pada Bian yang hanya menunduk penuh hormat.
“Pantas saja ILA menjadi salah satu perusahaan di negara ini. Direktur Utamanya tidak terkalahkan kalau soal penawaran” jawabnya membuat Lana tertawa.
“Semua yang ada padamu menurun dari Daddy”jawabnya.
“Bian kawal anak bandel itu jangan sampai kabur kaburan lagi”lanjutnya penuh perintah
“Siap. Bian akan setia mendampingi Alan kemanapun dia pergi”jawabnya sembari memberi hormat serta senyuman manis.
“Lebih baik seperti ini dari pada harus menikah. Entar di Samarinda atur strategi baru”batinnya.
“Samarinda. Pasti Paman punya rencana. Apa ada hubungannya dengan Riri”ucap Bian dalam hati.
“Semoga kali ini usahaku membuahkan hasil yang manis”batinnya sebelum memantau perusahaan.
“Samarinda. Ya Allah semoga enggak bertemu dengannya lagi. Bisa jadi cinta yang belum kelar tumbuh semakin lebat ”batinnya penuh harap.
__ADS_1