
Dering Ponsel terhubung menampilkan wajah kedua orang tua Riri. Senyum mekar jelas terlihat membuat Anaknya semakin dilanda kerinduan.
“Assalamu,Alaikum Umma, Apa”ucapnya sembari melambaikan tangan pada layar ponselnya.
“Waalaikumussalam. Nak bagaiman Magangnya. Lancar?”tanyanya.
“Alhamdulillah Umma. Riri sudah ada teman kantor bahkan kita sebelahan kost”jawabnya membuat Umma tersenyum bahagia.
“Alhamdulillah. Kalau Bosmu bagaimana?” tanya lagi.
“Bos Riri galak Ummi.Tapi baik”jawabnya.
“Bos sayang laki laki atau perempuan” tanyanya lagi.
“Laki laki sepertinya seumuran dengan Bang Hidayat”jawabnya membuat Ummi kaget sekaligus cemas,
“Seumuran dengan Nak Hidayat. Berarti Bos Muda. Sayang harus hati hati”ucapnya meluapkan kecemasan.
“Iya Umma. Riri memiliki Bos mudah seorang Ceo Anak dari Direktur Utama”jawabnya membuat Umma tidak terkira.
“Ceo. Direktur Utama?.emangnya sayang di pekerjakan sebagai Apa?”tanyanya
“Asisten Pribadi Ceo. Tapi Umma tenang saja Riri hanya pelengkap. Bos Riri punya seorang Asisten sungguhan”jawabnya.
“Kenapa Anak magang bisa diangkat jadi Asisten Pribadi Ceo di perusahan besar seperti ILA?”tanyanya.
“Bos Riri memiliki penyakit Asma Umma. Sehingga membutuhkan sekertaris pribadi, Menjaga dan mengawasinya”
“Berarti sayang kebanyakan bersama Bosmu. Ingat, sayang harus hati hati jangan sampai main hati ingat Nak Hidayat menunggumu” jawabnya gusar tidak seperti sang suami yang nampak lebih santai dan tenang.
“InsyaAllah Ummi” jawabnya.
Percakapan tembus hingga Azan Isya bagi daerah DKI Jakarta ber komandan. Menjalankan kewajiban sebelum mengistirahatkan tubuh mengumpulkan tenaga untuk melaksanakan tugas di hari esok.
“Kamu.Ngapain?”tanyanya tiba tiba.
“Astagfirullah Al Azim”kagetnya sebab kemunculan seorang di belakangnya.
“Kenapa kamu terkejut. Apa kamu nonton hal senono”ucapnya
“Astagfirullah Al Azim. Bos jangan sembarang menuduh. Liat ini Bos”ucapnya sembari menunjukkan dokter Aisyah Dahlan.
“Aku tidak menuduh melainkan bertanya” jawabnya berlalu ke kursi kebesarannya.
“Dasar Bos nyebelin”gumamnya dalam hati sembari menekuk wajah yang nampak lucu di mata atasannya.
“Ternyata dia tahu cemberut juga. Comel”batinnya sembari senyum senyum sendiri.
“Kamu”ucapnya kembali mengejutkan Riri.
“Siapa. Aku Bos”tanyanya sembari menunjuk dirinya sendiri.
__ADS_1
“Iya kamulah. Di ruangan ini hanya ada kita berdua”jawabnya.
“Kemari!”perintahnya lewat telunjuk membuat Riri menghampirinya.
“Ada yang bisa saya bantu Bos?’tanyanya.
“Sepertinya kamu bosan. Bagaimana kalau aku memberimu pekerjaan. Tenang saja. Aku tidak akan memberatkan mu”ucapnya dengan senyuman yang mencurigakan.
“Pekerjaan Apa Bos?”tanyanya.
“Aku bosan. Bagaimana kalau temani aku ke atap”ucapnya sembari menunjuk atap kantor membuat Riri waspada.
“Laki laki dan perempuan tidak baik berduaan karena ketiganya pasti setan”jawabnya dengan penolakan halus.
“Aku memang tertarik kepada wanita tetapi aku tidak akan merusak wanita apalagi wanita baik baik”jawabnya melewati Riri yang membeku terkesima.
“Ikut atau aku akan kabur lagi”ucapnya membuat Riri mengekor.
Entah jalan mana yang di tempuh Riri tak tahu yang jelasnya matanya kini menangkap pemandangan indah ibu kota, Takjub benar benar takjub sampai Riri memejamkan Mata dan merentangkan tangan sembari tersenyum menikmati hembusan angin pagi.
“Cantik”ucap Alan lirih saat berbalik arah.
“Kemari!. Jangan jadi seperti patung” ucapnya sembari baring terlentang membuat Riri heran tetapi tetap menurut.
“Duduk!”ucapnya dengan mata masih tertutup dan lagi lagi Riri menjadi penurut.
“Seperti yang aku katakan. Kamu hanya perlu menemaniku”ucapnya sembari memandang Riri yang juga memandangnya.
Saat Alan terbuai keindahan, di ruangannya terdapat dua laki laki yang dilanda gusar mencari keberadaan dan mengira melakukan kebiasaan.
“Bian. Anak bandel itu bolos lagi”teriaknya dengan suara parunya.
“Alan ke mana?.tidak mungkin dia bolos sebab Bian melihat, Riri selalu mendampinginya” jawabnya setelah berlari memasuki ruangan yang hanya ad Direktur utama.
“Jangan meremehkannya. Daddy dan kamu sahabatnya saja bisa di kelabui apalagi Riri yang merupakan orang baru” jelasnya setengah marah.
“Alan tidak kelihatan di mana mana”ucapnya setelah memeriksa CCTV di komputer pribadi Ceo.
“Anak bandel itu ke mana lagi?. Asisten pribadinya juga mana. Mengapa tidak ada di ruangan ini”ucapnya lagi tambah marah.
“Cepat hubungi Riri. Perintahkan dia mencari Anak bandel itu”ucapnya lagi membuat Bian langsung melaksanakan.
“Tidak diangkat”ucapnya setelah melakukan panggilan.
“Coba lagi sampai dia mengangkatnya!" ucapnya penuh perintah.
Panggilan kembali terhubung membuat Alan terganggu sementara pemiliknya masih duduk sembari memejamkan mata entah ketiduran atau hanya malas menerima panggilan.
“Jawab panggilanmu!. Menganggu saja”ucapnya sembari menarik ujung hijabnya yang melayang layang akibat hembusan Angin.
“Maaf Bos. Aku ketiduran”jawabnya terkejut dan langsung menerima panggilan.
__ADS_1
“Riri di mana?.Cepat keruangan Ceo dan mencari Alan. Alan Bolos lagi”ucapnya membabi buta membuat Riri memandang laki laki yang masih setia memejamkan mata.
“Maaf Pak Bian. Bos Alan bersamaku” jawabnya membuat Bian dan Direktur Utama heran.
“Alan bersamamu Riri. Di mana. Direktur Utama mencari kalian?”ucapnya lagi membuat Alan mengambil alli ponsel.
“Tidak perlu kamu tahu. Aku tidak mau di ganggu. Aku akan kembali dengan sendirinya” jawabnya ambigu tapi mala ditanggapi senyuman oleh Direktur Utama.
“ Terserah yang penting kamu menjaga Anak gadis orang” jawabnya tetapi bukan Bian melainkan Direktur Utama.
“Anaknya siapa. Aku atau kamu”jengkelnya sembari memutusakan panggilan dan kembali memejamkan mata.
“Paman. Alan...”ucapnya hendak mengutarakan keluh kesah.
“Biarkan saja. Paman percaya Anak bandel itu aman di tangan Riri.Ternyata lebih cepat yang aku kira”lanjutnya berucap membuat Bian heran kemudian tersenyum.
“Bian sependapat dengan Paman” jawabnya dihias senyuman penuh arti.
Jam telah berlalu namun Alan masih saja belum berlalu membuat Riri hanya duduk sembari menopang tubuhnya dengan kedua tangan di belakang punggung. Bosan? Tidak. Riri sangat menikmati ciptaan tuhan sama seperti Alan bedanya Riri dilanda pertanyaan tentang Atasannya yang kini seperti orang yang sedang tidur nyenyak meski matahari mulai menyinari.
“Jangan terus memandangku jika kamu tidak mau jatuh cinta”ucapnya baru membuka mata membuat Riri ketangkap Basa.
“Jangan memandangku..”ucapnya hendak mengulang kalimat tetapi dicegah oleh Riri.
“Bos. Sampai kapan kita di sini?” tanyanya.
“Sampai sesuka hatiku”jawabnya sembari tersenyum membuat Riri jengkel dan tak sengaja memukul dada atasannya.
“Adu..”jeritnya kesakitan membuat Riri merasa bersalah.
“Maaf. Maaf Bos. Riri tidak sengaja”jawabnya memohon maaf membuat Alan tersenyum.
“Aku akan memaafkan mu jika kamu melakukan hal yang sama sepertiku. Berbaring di sini dan menutup mata”ucapnya sembari menepuk nepuk tempat kosong di sampingnya.
“Tapi..”ucapnya hendak membantah.
“Dimaafkan atau dihukum”ucapnya penuh penekanan membuat Riri membaringkan Tubuhnya dan menutup mata.
“Bagus. Wanita penurut”ucapnya masih setia memandang Riri yang nampak sangat jengkel
“Dasar Bos. Suka suka hati memerintah. Bodoh kamu Riri mengikuti perintahnya” batinnya dengan mulut komat kamit yang sangat indah di mata atasan
"Jengkel saja masih Comel. Alan..Alan sepertinya kamu sudah jatuh cinta padanya”batinnya tanpa henti menikmati ciptaan tuhan yang berada di sampingnya.
“Bos..”ucapnya hendak protes
“Diam. Jangan mengganguku atau kita akan bermalam di sini”ancamnya tanpa mengalihkan pandangan.
“Dasar Bos tidak punya hati. Panas tahu”keluhnya tidak mengenal rasa takut tanpa sadar menambah pesona nya.
“Kamu benar. Aku tidak punya hati sebab hatiku telah menjadi milikmu”batinnya penuh kesadaran.
__ADS_1
“Berhentilah mengeluh. Kamu tahu..Tempat ini adalah tempat favoritku. Setiap kali aku bosan, sedih dan lelah oleh takdir. Tempat ini menjadi saksi bisu nya sekaligus menjadi obat. Angin menerbangkan luka. Matahari mengeringkan Air mata dan saat menutup mata kedamaian datang menghampiri.”jawabnya membuat Riri terkesima dan tampa sadar membuka mata dan hasil tatapan saling bertemu. Akankah Riri memiliki rasa yang sama?.