HATI ANAK RANTAU

HATI ANAK RANTAU
13. LAKI LAKI BERTOPENG


__ADS_3

"Bian. Bos di mana. Tumben belum datang?”tanya


“Alan. Libur”jawabnya singkat.


"Libur?.Bos sakit" tanyanya lagi.


“Aku tidak tahu Riri. Ruangan Alan tetap harus kamu bersihkan”ucapnya.


“Sudah Bian. Bos Sakit iya sampai kemarin tidak balik kantor dan sekarang tidak masuk?”ucapnya dengan nada lesu.


“Jika Alan mendengan perhatianmu Pasti langsung semangat kerja. Apa memang ada hubungannya sama Riri?”batinnya membuat Riri memandangnya penuh harap.


“Riri tidak perlu mikirin Alan. Anggap saja hari ini kamu cuti setelah lima Bulan kerja, Terserah kamu mau puang atau tetap di kantor. Aku ada urusan lain”ucapnya berlalu begitu saja tanpa menunggu respon Riri.


“Apa aku membuat kesalahan sampai Bian juga berubah”batinnya memili melangkah tak tahu arah tujuan.


“Dokumennya banyak banget lagi”keluhnya sembari berjalan dan fokus pada berkas di tangannya sampai tidak menyadari kehadiran seseorang di hadapannya.


“Prak”bunyi berkas berjatuhan sebab tubuhnya bertabrakan.


“Sorry. Sorry”ucapnya sembari memungut berkasnya membuat seseorang tersenyum penuh arti.


“Aku tahu harus mencari tahu di mana” batinnya.


“Cika”panggilnya membuat Cika mengangkat kepala.


“Pak Bian. Maaf saya tidak sengaja”ucapnya sembari berdiri dan menunduk penuh permintaan maaf.


“Santai saja. Jam istirahat nanti Cika janji?” tanya dengan senyuman manis.


“Janji. Tidak ada Pak”jawabnya.


“Kalau begitu kita lunch bareng di kafe kantor”jawabnya membuat Cika geer.


“Jangan sampai terlambat”lanjutnya berucap sebelum berlalu membuat Cika melompat kegirangan.


“Cika sepertinya kamu akan menyusun Riri”ucapnya kegirangan membuatnya menjadi pusat perhatian.


“Tinggal tiga jam lagi. Aku harus menyelesaikan dokumen ini”batinnya kembali kemeja kerja tanpa senyuman pudar.


Waktu telah berlalu dua orang kini duduk di ruangan VIP dengan berbagai menu yang telah ter sajikan. Cika sampai tidak mampu membendung bahagia. Bagaiman tidak bahagia. Makan bersama dengan pria tanpa yang tidak lain adalah sekertaris Ceo tempatnya bekerja.


“Cika. Jangan malu malu. Semua ku pesan untukmu”ucapnya membuat Cika tersenyum dan langsung melahap makanan dengan rakusnya.


“Wanita unik”batin Bian tak lepas dari pandangan ke arah Cika.


“Maaf. Baru dapat makanan bintang lima”ucapnya setengah tertawa membuat Bian ikut tertawa.


“Santai saja. Makan sepuasnya setelah itu ada yang ingin aku bicarakan denganmu” jawabnya membuat Cika makin baper dan kembali menyantap menu di hadapannya.


“Alhamdulillah”ucapnya setelah merasa kenyang.

__ADS_1


“Sudah kenyang?”tanyanya membuat Cika hanya mampu mengangguk sebab tak kuat berbicara karena terpesona oleh senyuman Bian.


 “Ada yang ingin aku bicarakan padamu Cika”ucapnya mulai serius.


“Pak Bian mau bicara apa?”tanyanya berusaha memandu detak jantungnya.


“Cika bersahabat dengan Riri?”tanyanya membuat Cika tak hentinya baper.


“Pak tahu saja. Cika dan Riri adalah bestie.”jawabnya dengan senyuman mekar.


“Riri tidak punya Pacar iya?”tanyanya membuat Cika spontan.


 “Riri tidak punya pacar tetapi sudah punya calon Imam”jawabnya kemudian menutup mulut sembari mengumpat kebodohannya.


 “Calon Imam. Maksud Cika. Riri sudah punya calon suami?”tanya membuat galau di buatnya.


“Cika, Cika. Matilah kamu. Entar kemakan janji”batinnya.


“Cika Riri sudah punya calon Suami sejak kapan?’tanay lagi dengan suara meninggi.


“Pak Bian kenapa marah. Apa Pak Bian suka sama Riri. Bodoh kamu cika mengira dia menyukaimu”batinnya kembali mengumpat dirinya sendiri.


“Cika jawab atau aku akan memecat mu secara tidak terhormat”ucapnya penuh Ancaman membuat Cika gemetar.


“Riri sudah punya calon Imam, kemarin baru di lamar dan akhir bulan depan mereka akan menikah”jawabnya terbata bata.


“Kemarin?. calonnya orang  di sini?”tanyanya terus menggali informasi.


“Pantas saja Alan kemarin pergi dengan wajah marah dan sedih rupanya pata hati lagi”Batinnya dengan wajah sendu.


“Pak Bian pasti pata hati”ucap Cika dalam hati.


“Yang sabar Pak. Jodoh tidak akan ke mana”ucapnya membuat Bian memandangnya.


“Aku antar ke kantor. Aku ada urusan lain. Kejadian hari ini anggap saja tidak perna terjadi dan ingat jangan sampai ke coplosan lagi”ucapnya diakhiri peringatan membuat Cika hanya mengangguk.


Gedung menjulang tinggi terdapat seseorang duduk di bangku kebesarannya dengan seragam serba hitam serta penutup wajah berupa topeng berwarna senada.


“Tidak ada yang boleh memilikimu. Mutiara Ririani Fatimah Ayubi”ucapnya penuh dendam sembari menghubungi seseorang.


“Pantau terus keberadaannya dan jangan melewatkan setu detik pun”ucapnya penuh perintah membuat seseorang mengangguk sembari mengamati geduk pencakar langit dari gedung sebelah.


“Bos. Apa perlu aku menghabisinya?” tanyanya di sudut gedung.


“Jangan gegabah. Pantau saja jangan sampai ketahuan. Aku masih mau bermain main dengannya, kesayanganku”ucapnya dengan senyum misterius.


“Siap Bos”jawabnya di akhir panggilan dan memperhatikan semua yaang bersangkutan dengan objek utamanya.


“Elan”ucapnya terkejut.


“Bian. Kenapa terkejut seperti itu. Apa kamu lupa aku juga penerus dari ILA”ucapnya membuat Cika menunduk hormat kemudian berlalu setelah menerima isyarat dari mata Bian.

__ADS_1


“Kamu perlu apa ke sini. Tidak mungkin bekerja”ucapnya membuat Elan tersenyum.


“Aku hanya ingin melihat wanita yang membuat Kakakku kembali pata hati”ucapnya mendahului Bian.


“Kamu tahu”ucapnya setelah mengejar Elan.


“Berarti benar tebanku. Wanita itu yang membuat kakakku tidak bersemangat hidup”ucapnya lagi dengan nada tegas.


“Kamu jangan macam macam sama Dia. Dia tidak tahu apa apa”ucapnya  membuat Elan tersenyum di dalam Lift.


“Bian tidak perlu khawatir. Aku hanya ingin melihatnya. Sekarang Dia di mana?”tanyanya.


“Mungkin ada di ruangannya. Di ruangan kakakmu”


“Mereka satu ruangan”tanyanya memastikan.


“Daddy mu yang membuat keputusan” jawabnya membuat Elan lagi lagi tersenyum misterius dengan langkah sampai ke tempat tujuan.


“Dia. Di mana?”ucapnya mengulang pertanyaan sebab melihat ruangan yang tidak berpenghuni.


Dering ponsel seseorang yang berada di atap kantor menghentikan pemiliknya yang sedang berbaring dan menutup mata menikmati angin serta mengingatkannya tentang Bosnya. Sepertinya Rindu Itu mulai hadir.


“Assalamu Alaikum”jawabnya.


“Waalaikumussalam. Riri di mana. Sudah pulang?”tanyanya.


"Tidak. Riri masih ada di kantor”jawabnya membuat dua orang heran.


“Aku ada di ruangan mu”ucap Bian membuat Riri beranjak.


“Bian mencari ku?”tanya sembari berlari.


“Bukan aku yang mencari mu melainkan Adiknya Alan”ucapnya membuat memutuskan sambungan membuat Riri mempercepat langkah.


“Riri dari mana?”tanya Bian saat melihat Pintu terbuka dan menampilkan wajah seseorang.


“Biarkan dia duduk dulu”jawabnya sembari melirik sofa panjang membuat Riri duduk di samping wanita muda.


“Kamu sekertaris pribadinya kakak Alan?”tanyanya.


“Aku Riri sekertaris pribadinya Bos Alan. Nona Elan senang bertemu denganmu”jawabnya membuat Elan tersenyum.


“Sebagai sekertaris pribadinya. Apa kamu tahu bahwa Bos Alan mu sedang sakit”ucapnya membuat Riri kaget sembari memandang Bian yang hanya diam.


“Bos Alan sakit?”ucapnya ikut bertanya.


“Bos Alan mu sakit hati”jawabnya membuat dua orang cemas.


“Kakakku sakit karena wanita yang iya cintai tidak perna meliriknya dan bahkan memili laki laki lain”jelasnya membuat hati Riri tak menentu.


“Apa kamu mengetahui itu?”tanya sembari memandang lekat wanita yang tidak tahu harus bagaimana.

__ADS_1


“Elan. Jangan macam macam kamu!” batinnya dengan sorot mata penuh ancaman.


__ADS_2