HATI ANAK RANTAU

HATI ANAK RANTAU
18. PERGI MENYISAHlKAN LUKA


__ADS_3

Pemakaman lima orang sekaligus benar benar di banjiri air mata bahkan Riri berulangkali tak sadar diri.Membuat Cika senantiasa mendampinginya.


“Candi.Bukankah ini yang kamu mau. Mengapa engkau meneteskan Air mata juga”batinnya sembari melihat pusaran dengan Air mata yang jatuh begitu juga.


“Pak Candi. Kami ucapkan bela sung kawan. Semoga Mereka semua di tempatkan di tempat terbaik”ucap seorang rekan bisnisnya membuat Candi hanya membalas dengan Anggukan.


“Kak. Maafkan Candi. Sudah waktunya Candi mengambil Hakku yang selama ini kakak Ambil”Batinnya.


Satu persatu orang pulang dari duka membuat Riri berjongkok dan memeluk pusaran Umma nya.


“Candi.Kak pulang dulu. Alya nanti menangis jika Kakak terlalu lama”bisiknya membuat Candi lagi lagi hanya mampu mengangguk.


“Umma. Bukankah Umma ingin melihatku memakai gaun pengantin. Hehehe.Kenapa Umma ikut meningalkan Riri”Ucapnya.


“Appa. Bukankah Appa ingin menjadi wali Nikah Riri. Tapi mengapa Appa juga ikut pergi disaat Riri belum bisa memenuhi Keinginan Appa”lanjutnya berucap dengan Air mata yang mengalir dengan deras.


 “Bang Riri tahu. Abang akan meninggalkanku saat ini. Aku pasti menerimamu empat tahun yang lalu..Riri salah Bang.Tetapi kenapa Abang menghukum Riri dengan pergi untuk selamanya”Ucapnya memeluk pusaran yang masih basah yang tambah basa oleh Air mata.


“Tuhan.Mengapa engkau mengambil mereka. Mengapa bukan Riri saja”teriaknya diakhiri isak tangis hingga kembali tidak sadar diri


“Sebenarnya kamu tidak bersalah apa apa Bee Kecuali menjadi Penerus SAH Ayubi”Batinnya sembari mengendong Riri ke mobilnya.


“Kamu Jaga dia dibelakang”ucapnya membuat Cika menutup Pintu depan dan beralih membuka pintu penumpang


“Riri.Kasian banget kamu. Cika janji akan membantumu”Batinnya sembari memandang wajah Riri yang pucat.


“Meninggal.Aku harus mencari tahu.Jika benar kamu dalang semuanya. Jangan Panggil Aku Cika jika tidak menyekap mu dan membuat wajah tampanmu babak belur”ucapnya dengan tatapan horor.


Kembali ke kediaman Ayubi yang di penuhi karangan bunga duka menambah suasana menjadi kelabu Senyum,tawa dan keharmonisan kini hanya tinggal kenangan membuat Candi mengendong Riri ke kamarnya yang harusnya menjadi Kamar pengantin.


“Ganti bajunya”ucapnya sebelum berlalu.


“Malang sekali nasibmu Ri”batinnya membuka gaun pengantin putih yang berubah warna menjadi coklat.


Sepasang mata terbuka secara perlahan,menampakkan kelopak bunga Mawar Merah di sekelilingnya membuat Air Mata kembali berjatuhan.


“Tuhan..Apa salah Riri sampai menghukum ku seperti Ini mengapa tidak sekalian  Engkau tak ambil Aku”teriaknya sembari mencekik dirinya sendiri.


“Astagfirullah Ri.”teriak Cika dari kamar mandi berlari melepaskan cekikan dan beralih memeluk nya.


“Astagfirullah Al Azim. Nak. Umma mu tidak akan tenang melihatmu seperti ini”ucap Bibi yang baru datang bersama Candi yang hanya membisu.


“Ri. Harta, tahta, keluarga dan semua apa yang kita miliki adalah titipan. Allah sebagai pemiliknya berhak mengambilnya kembali sewaktu waktu”ucapnya masih setia memeluk.


“Mengapa Allah mengambil semuanya dari Riri secara bersamaan dengan cara kurang baik.Mengapa Ri.Mengapa”teriaknya seraya memukul mukul punggung Cika


“Riri sayang..Sesungguhnya Allah maha tahu segalanya sedangkan kita tidak tahu Apa apa.”ucapnya melepas pelukan dan menghapus Air mata Riri.


“Tapi..”

__ADS_1


“Usss.. Cika akan selalu bersama mu”ucapnya membuat Riri terdiam dan melamun.


“Kasihan kamu Nak. Beruntung Nak Cika masih setia bersamamu”batin Bibi.


“Riri ingin sendiri”ucapnya lirih dengan tatapan masih kosong.


“Tapi Ri”jawab Cika terpotong.


“Cika.Riri tidak akan macam macam”ucapnya membuat Riri beralih melihat Bibi yang mengangguk.


“Cika keluar dulu.Kalau perlu apa apa langsung hubungi aku iya”ucapnya sebelum berlalu.


“Nak.Terima kasih masih berkenan mendampinginya”ucapnya.


“Meski kami baru bersama.Persahabatan kami sejati. Ini Tugas Cika”jawabnya membuat laki laki di hadapnya tersenyum tipis.


“Bi perna dengar istilah musuh dalam selimut?”tanyanya


“Perna. Kenapa Nak?”jawabnya ikut bertanya.


“Cika tidak mau menjadi orang seperti itu. Nampak malaikat di depan padahal di belakang menjadi seorang Iblis”jawabnya penuh penekanan sembari memandang lekat punggung di hadapannya


“Nak benar. Bibi juga berharap tidak perna di pertemukan dengan orang seperti itu”jawabnya membuat langka Candi terhenti.


“Candi ada apa?”tanya nya sebab Candi  memutar badan.


“Nak. Maafkan Candi. Dia masih berduka. Dia laki laki baik dan penyayang”ucapnya membuat Cika hanya mampu tersenyum kecut.


“Nak pagai baju Riri dulu.tidak apa apakah?”tanya di ambang tangga.


“Tidak apa apa Aunty. Cika sering meminjam  baju Riri saat tinggal di Jakarta”ucapnya tersenyum.


“Eloklah.Nak jangan lupa turun makan”ucapnya.


“Iya Aunty.Cika Ke kamar Riri dulu.Gerah mau mandi”jawabnya membuat Bibi mengangguk dan tersenyum


Di kamar sebelah yang Cika tempati terdapat seseorang melakukan perintah oleh bawahannya.


“Pergi sejauh mungkin jangan sampai kamu buka mulut atau kamu menjadi korban pertamaku”ucapnya penuh penekanan membuat seseorang mengangguk.


“Siap Bos. Tetapi bagaimana dengan wanita Itu?”tanya sementara memasukkan barang pentingnya dalam tas.


“Biarkan Dia menjadi urusanku Aku akan menghubungi kembali”ucapnya sebelum mengakhiri panggilan.


Dua orang berbeda jenis baru saja membersihkan diri memili mili baju sahabatnya yang hendak di pinjam sedangkan di sisi lain seseorang laka laki berjalan setengah tertutup dan langsung menggunakan pakaian kasual.Senyum Riri mekar mendapati sepasang baju pink dengan hijab instan berwarna hitam.


“Riri. Cika pinjam dulu iya baju pink nya”ucapnya.


Makanan tertata rapi dimana tiga orang dewasa serta satu anak kecil duduk mengitari menu menunggu dua wanita yang belum terlihat juga. Senyum Bibi terbit melihat kedatangan Cika menuruni tangga

__ADS_1


“Maaf Cika membuat semua menunggu”ucapnya membuat Candi buang muka setelah terpana beberapa saat.


“Nak Cika duduk dulu. Jangan malu malu”ucapnya membuat Cika duduk di kursi Kosong tepat di samping anak kecil yang tersenyum kepadanya.


“Mbok. Tolong panggilkan Riri di kamarnya”ucapnya membuat Riri baru sadar.


“Riri belum datang..padahal tidak ada di kamarnya. Pas Cika masuk Kamar Riri masih tidur tetapi pas sudah selesai mandi. Riri sudah tidak ada di kamar. Cika kira Riri”


“Kamu jangan bercanda. Riri belum perna kelihatan”jawabnya memotong ucapan Cika.


“Nak. Tahan emosimu.Tidak baik membentak wanita”ucap laki laki berumur di sampingnya.


“Ahhh”teriak seseorang dalam dapur membuat semua gembar dan berlari ke asal suara.


“Tuan Muda. Nona Riri”ucapnya terbata bata sembari menunjuk sudut dapur membuat semua terkejut.


“Riri”teriak Cika berlari menghampiri sahabatnya yang sedang tergeletak di lantai dengan pisau di tangan kanannya dan pergelangan tangan kirinya mengeluarkan darah segar.


“Cepat.Kita harus membawanya ke rumah sakit”ucap Candi setelah mendahului Cika.


“Ibu”..ucap anak kecil bersembunyi di pandak ibunya


“Sayangku. Alya. Sama Ayah dulu. Ibu mau melihat Kak Riri’ucapnya sembari mengendong dan memberikan anaknya kepada suaminya.


“Ibu hati hati dan kabar Ayah”jawabnya setelah menerima ciuman tangan dari istrinya


"InsyaAllah Ayah..Nak.Ibu pamit dulu..baik baik sama ayah”jawabnya menyusul ke mobil.


“Apa yang kamu lakukan?”teriaknya sebab melihat seseorang di balik kaca spion depan.


“Aku hanya menghentikan aliran darahnya”ucapnya sembari membalut luka Riri.


“Candi. Pelan pelan. Fokus sama jalan”ucap Bibi di sampingnya.


Setelah menempuh perjalan singkat sampailah di Rumah sakit dan langsung mendapatkan pelayanan darurat.


“Pasien kehilangan banyak darah dan rumah sakit kami kehabisan stok darah B”ucap Dokter setelah memeriksa pasien membuat semua yang hadir langsung saling melihat satu sama lain.


"Apakah aku harus menolongnya lagi"batin seseorang.


"Ri. Aku tahu kepergian mereka menyisakan luka untukmu. Tapi kamu harus kuat. Cika tidak mau kehilanganmu"batinnya dengan Air Mata tak terkontrol.


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2