
“Tapi Pak.Allah sudah mengambil semua yang ada padaku, kedua orang tuaku, Calon suamiku dan Kini Paman dan Sahabatku sendiri mengkhianati ku, semua hanya kesulitan lalu kapan kemudahan itu datang”ucapnya menggebu gebu.
“Nafas yang masih ada pada dirimu membuktikan bahwa Allah masih memberikanmu kesempatan untuk menggapai kemudahan”ucapnya membuat Air mata Riri masih mengalir.
“Terkadang Kita manusia lupa bahwa selama ini Allah selalu memberikan kita yang terbaik, orang tua, keluarga,pendidikan,sahabat dan harta yang tidak terkira hanya karena Allah memberikan secuil ujian. 20 tahun bahagia 1 berduka. Apakah pantas kita mengatakan Allah tidak mencintai kita. Allah tidak Adil.”lanjutnya berucap membuat Riri terdiam.
“Nak. Sholat, baca Al Quran adalah kunci ketenangan”ucap Pak imam menghampiri sebelum berlalu.
Riri melihat Al Quran dalam pangkuannya yang diletakkan Pak Imam sebelum berlalu membuatnya membuka lembaran tertulis Ar Rahman. Membaca Ayat Ayat demi ayat hingga Nikmat Tuhan Mana yang kamu dustakan.Terus berulang membuat Riri makin menumpahkan Air mata sembari bersujud penuh permohonan.
“Ya Allah maafkan hambamu ini yang meragukan kekuasaan yang mengeluh oleh ketentuan-Mu”ucapnya terisak dalam sujud.
“Ri. Semua yang ada padamu adalah miliknya yang kini Allah ambil kembali dan bisa jadi selanjutnya kamu juga kembali kepada NYA” ucapnya menghapus Air mata dan melangkah meninggalkan Rumah Allah.
Rumah yang selama ini Riri tempati terasa Asing baginya. Mengikhlaskan adalah keputusan yang membutuhkan usaha yang sangat keras.
“Umma,Appa. Maafkan Riri karena tidak mampu menjadi penerang di dalam kubur Mu”Ucapnya saat berada dalam kamar orang tuanya yang tidak ada perubahan sama sekali.
“Umma. Appa Tenanglah di sana. Riri di sini masih berjuang menjaga Apa yang Allah titipkan pada Riri”ucapnya dengan Air mata yang kembali menghias mata.
“Ummi sangat ingin melihat Riri duduk di pelaminan dan memakai gaun pengantin. Maaf Riri belum bisa mengabulkan keinginan Ummi”
“Appa. Dari kecil Appa selalu membawa Riri ke Perusahan Ayubi dengan Harapan kelak Riri menjadi penerus tapi nyatanya Riri belum bisa mengendalikan diri sendiri apalagi mengandalkan banyak orang”
“Umma. Appa. Riri janji akan memperjuangkan keinginan yang belum terpenuhi sebelum kalian kembali ke sisi-Nya” ucapnya menghapus Air mata.
Saat Riri mengumpulkan sekuat tenaga untuk bangkit di sisi dimana Raja Iblis ada terdapat seorang wanita yang berfikir keras menyusun rencana halus untuk membalas laki laki di hadapannya.
“Raja Iblis berwujud Pangeran.Tunggu saja pertarungan segera di mulai”batinnya memandang horor laki laki yang tidak ada hentinya tersenyum.
“Bos”ucapnya setelah berada di hadapan Candi.
“Cika. Bisa tidak kamu tidak mengejutkanku” ucapnya membuat Cika terpaksa memberikan senyuman terbaiknya
“Bos tamba tampan jika terkejut”ucapnya terdengar tulus.
“Gadis ini benar benar menguji Imanku” batinnya yang ternyata terpikat.
“Jangan tersenyum seperti itu lagi jika masih mau bernafas tanpa membayar”ucapnya tegas membuat Cika mengumpat dirinya sendiri.
“Bodoh kamu Cika. Enggak mungkin dia terpikat. Dia kan tidak normal”batinnya.
“Jangan melamun terus katakan apa yang ingin kamu katakan”ucapnya.
“Selanjutnya kita harus bagaimana?” tanyanya.
“Tidak perlu khawatir. Aku sudah ada rencana. Hari ini kita cepat pulang ke rumah dan menjalankan rencanaku”ucapnya dengan senyuman iblisnya.
__ADS_1
“Rencana apa Bos?”tanya penuh penasaran.
“Entar juga kamu tahu. Aku percaya kamu adalah wanita cerdas”ucapnya membuat Cika merajuk.
“Bos. Meski Cika wanita cerdas tetap tidak bisa mengerti tanpa di kasih tahu”ucapnya.
“Jangan banyak protes cukup selalu bersamaku dan saksikan pernderitaannya” ucapnya sembari tersenyum.
“Riri benar Pamannya sangat tampan dan lembut tapi sayang ternyata Raja Iblis jika tidak mungkin aku akan jadi wanita paling bahagia karena melihat senyumannya dari arah dekat”batinnya membuat Candi bertepuk tangan di depan wajah Cika.
“Cika ada apa aku perhatikan hari ini kamu banyak melamun”ucapnya membuat Cika tersadar.
“Bagaimana aku tidak melamun jika sepanjang hari terus melihat wajah tampanmu yang di hias senyum”jawabnya spontan kemudian menutup mulutnya.
“Hehehe..Cika bisa saja gombalnya hati hati entar suka beneran”jawabnya dengan tertawa lepas menambah pesonanya.
“Ya Allah kenapa raja Iblis makin Tampan jika tertawa lepas” batinnya tanpa berkedip membuat Candi mendekatkan diri dan membisikkan sesuatu.
“Sabar saja jika tujuan kita tercapai maka aku akan menjadi milikmu”bisiknya membuat Cika tersadar dan terpaksa memasang senyuman kemudian kembali ke meja kerjanya
“Sadar Cika Dia Raja Iblis. Jika kamu benar benar terpikat dia akan menyeret mu ke neraka jahannam”batinnya sembari menepuk nepuk pelan wajahnya.
“Candi. Cika seperti Riri yang sangat polos. Buat dia terpikat padamu dengan begitu kamu bebas memanfaatkannya”batinnya tanpa berhenti tersenyum dan tanpa sadar tatapan beradu dalam menit.
“Apapun rencanamu aku akan merubahnya menjadi senjata makan tuan”Ucapnya mempertahankan tatapan serta senyuman pura puranya.
“Cepat selesaikan pekerjaanmu baru kita pulang menjalankan rencana”ucapnya sembari memegang lehernya.
“Enggak. Mungkin Raja Iblis itu punya rencana tersembunyi. Cika harus hati hati” batinnya kemudian beralih ke kerjaan.
“Jika siang malam terus melihat senyumannya bisa jadi aku diabetes.Manisnya sungguh kebangetan” batinnya baru berani memandang lekat Cika.
Sesuai rencana Candi dan Cika kembali ke rumah lebih cepat dari biasa. Menyusuri jalanan tanpa percakapan dan bahkan Cika tertidur di pundaknya.
“Nyesal aku menyuruhmu duduk di sampingku. Cantik cantik tapi ngorok” batinnya jengkel tapi mala tersenyum.
“Bangun. Cika bangun”ucapnya membuat Cika langsung terbangun dan masih menguap.
“Kalau menguap tutup mulut nanti Jin masuk"ucapnya meninggalkan Cika yang terdiam.
“Bos..”teriaknya saat baru sadar dan mengejar Candi.
“Rumah kok sepi banget macam kuburan” ucapnya saat memasuki Rumah yang tampak tak berpenghuni. Aunty pasti belum datang.
“Kuburan bagi keponakan tersayang ku” ucapnya melangkah menyusuri kamar dan membuka salah satunya.
“Cika. Paman”ucap pemilik kamar dengan terkejut.
__ADS_1
“Bee kenapa kaget. Bukankah biasanya selalu lari ke pelukan ku”ucapnya menghampiri Riri yang masih memegang Al Quran.
“Sepertinya Bee sangat tidak punya kerjaan. Kenapa tidak sekalian mengemasi pakaianmu” ucapnya membuat dua wanita terkejut
“Maksud Paman apa?”tanyanya.
“Ternyata otakmu tidak berfungsi lagi. Maksud Paman. Bee kemasi pakaianmu dan kaki dari Rumah ini”ucapnya di akhiri penekanan.
“Paman jangan melewati batas. Rumah ini adalah Rumah Appa dan Umma. Paman tidak berhak mengusirku”ucapnya tegas dan berdiri dengan tegak membuat Cika tersenyum tipis.
“Rumah ini memang warisan dari orang tuamu untukmu tetapi orang gila tempatnya bukan di rumah tetapi di rumah sakit jiwa” jawabnya sembari mencengkaram dagu Riri.
“Lepas paman. Riri tetap akan tinggal di sini”jawabnya melepaskan tangan Candi dengan kasat.
“Silahkan saja jika kamu ingin melihat Rumah ini rata dengan tanah”ucapnya membuat Cika menggenggam tinjunya.
“Paman tega meruntuhkan Rumah ini yang penuh kenangan indah tentang Umma, Appa dan tentang kebersamaan kita”ucapnya dengan mata yang mulai memerah.
“Bee. Jangan pura pura bodoh, meruntuhkan kepercayaan dirimu saja aku tega apalagi rumah ini. Jadi cepat kemasi pakaianmu dan angkat kaki dari Rumah ku”ucapnya penuh penekanan membuat wanita yang baru tiba meradang.
"Candi.Kakak tidak percaya ternyata selama ini kamu yang terus mencuci otak Riri dan sekarang mengusirnya dari rumahnya sendiri” ucapnya langsung berada di perantara Riri dan Candi.
“Kakak dengan Kak Candra sama saja. Semuanya tidak ada yang menganggap keberadaan ku”ucapnya.
“Apa maksudmu Candi selama ini kami memperlakukanmu sama dengan Riri” jawabnya.
“Sama.Tidak, kalian semua hanya menyayangi Riri sebagaimana Kakek hanya menyayangi Kak Candra. Harusnya Perusahan Ayubi juga milikku bukan hanya Kak Candra terlebih lebih Dia”ucapnya sembari menunjuk Riri.
“Kakak tidak tahu apa apa karena kamu hanya ipar bukan pewaris sah Ayubi”
“Paman. Jaga ucapanmu pada Bibi”teriaknya ingin menghampiri Candi.
“Candi. Memang kakak hanyalah Ipar tetapi kakak lebih tulus menyayangi mereka dari kamu yang hanya cinta harta dan tahta”bucapnya menghalangi Riri.
“Riri.ikut Bibi saja. Allah tidak perna tidur”ucapnya menarik Riri dan berhenti di hadapan Cika.
“Nak Cika mau ikut..”ucapnya
“Maaf Aunty”ucapnya memotong ucapan dan berdiri di sisi Candi
“Nak Cika. Sungguh Aku tidak mengerti dengan kalian”ucapnya dengan mata merah.
“Bibi. Sudah. Kita pergi saja”ucapnya membatu Bibi melangka.
“Cika sekarang kita bukan lagi Bestie” ucapnya sebelum benar benar berlalu.
“Maafkan Cika Ri, Aunty. Cika tetap harus di sisinya untuk melumpuhkannya dari dalam” batinnya menahan luka dan amarah.
__ADS_1
“Cika. Ternyata aku tidak salah memilihmu menjadi partner hidup”ucapnya diakhiri tawa jahat.
“Ter tawa lah sepuasnya sebelum aku membungkam mulutmu”batinnya mengumpat tetapi masih tersenyum.