
Satu pekan telah berlalu membuat Cika kembali bekerja dan mencari informasi seputar Bestie nya tapi tak menemukan apapun bahkan jejak sosial media tidak membantunya. Menikmati makanan di jam kerja tanpa menghentikan kegiatannya
“Seseorang pasti memberhentikan dan menghapus berita tentang kejadian seminggu yang lalu”batinnya sampai tidak menyadari kehadiran seseorang.
“Cika”ucapnya membuat Cika spontan berdiri.
“Pak Bian”
“Cika. Minggu yang lalu kamu jadi ke pernikahan Riri.Coba aku mau lihat foto pengantinnya pasti tambah cantik”ucapnya membuat Cika melamun.
“Apa aku harus memberitahu kenyataannya. Pak Bian kan suka sama Riri tetapi…”batinnya.
“Hello. Ditanya malah melamun”ucapnya menyadarkan Cika.
“Aku tidak punya Riri”ucapnya.
“Cika. Kamu tidak pintar berbohong.Tunjukkan ke padaku. Ini perintah atasan”ucapnya membuat Cika menyodorkan ponselnya.
“Kenapa hanya ada fotomu di terowongan..Dekornya mega banget. Di larang memotret pengantin iya?”ucapnya setelah melihat isi galeri Riri yang foto terakhirnya hanya tentangnya.
“Pak Bian sudah percaya. Maaf Cika harus kembali bekerja”ucapnya berlalu meninggalkan Pak Bian.
“Cika kenapa. Apa PMS lagi?”tanyanya sembari melihat kepergian Cika.
“Aku harus minta bantuan Papa”batinnya.
Laki laki berkepala lima tetapi masih terlihat muda dari usianya terlihat gagah dengan seragam coklat dengan lambang empat bintang emas.
“Assalamualaikum Papa”
“Waalaikumussalam. Ada keperluan apa sampai anak Papa menghubungi orang tuanya?”tanyanya dengan setengah bercanda.
“Papa. Cika hanya rindu”jawabnya membuat papanya tertawa.
“Cika tidak bisa mengelabuhi Papa. Katakan apa yang Nak perlukan?”ucapnya membuat Cika tersenyum.
“Ternyata Papa masih hebat seperti dulu” ucapnya.
“Papa. Perna mendengar tentang kecelakan sepekan yang lalu yang terjadi di Samarinda?”tanyanya.
“Mengapa Cika menanyakan hal itu?” jawabnya kembali mengajukan pertanyaan.
“Papa. Sepekan yang lalu Cika meminta izin ke pernikahan sahabat baru yang berada di Samarinda. Salah satu korban kecelakaan tersebut adalah calon dari sahabat Cika”ucapnya.
“Inna lillahi wa inna ilahi rajiun. kenapa baru bilang. Cika mau mengetahui info detailnya?” tanyanya membuat Cika menggeleng.
__ADS_1
“Enggak Pa. Riri hanya kurang percaya kalau kecelakan itu murni kecelakaan”
“Mengapa mengatakan hal itu padahal berita yang kami dapat Penyebab kecelakaan karena Sopir truk mengantuk dan melaju di atas rata sehingga menabrak mobil korban dan semuanya meninggal di tempat”jelasnya
“Papa lalu mengapa tidak ada pemberitaan padahal korbannya bukan orang biasa?”
“Salah satu pihak keluarga meminta memberhentikan dan menghapus semua pemberitaan mengenai kecelakaan itu untuk melindungi kejiwaan dari pihak keluarga korban”jelasnya membuat Cika masih menyimpan keraguan.
“Papa. Cika mau pindah kerja”ucapnya.
“Pindah.Bukankah ILA adalah perusaan Impianmu. Apa Nak mengalami masalah di kantor?”tanya terkejut.
“Cika tidak memiliki masalah apapun di kantor tetapi Cika mau menemaninya di Samarinda sekaligus pindah bekerja di sana”jelasnya.
“Nak. Beneran mau pindah?”tanyanya membuat Cika mengangguk yakin.
“Aku yakin Anak ini pasti menyembunyikan Sesuatu. Pasti bukan hanya menemani sahabatnya tetapi melakukan penyelidikan. Ternyata darahku lebih dominan dalam dirinya”batinnya.
“Papa. Hanya Papa yang mampu menolong Cika.Cika mohon Papa”ucapnya sembari memohon.
“Baiklah Papa mengizinkanmu ke Samarinda tetapi dengan syarat”ucapnya.
“Syarat apa. Cika siap melaksanakan” ucapnya sembari hormat.
‘Ternyata Papa tidak bisa ku kelabui. Tidak apa apa Cika karena cepat atau lambat Papamu tetap menikahi mu dengan anak dari sahabat Papa. Kan sudah di jodohkan sejak dalam kandungan”batinnya.
“Bagaimana keputusanmu Cika Rinjani?”tanya berubah tegas.
“Siap Pak Jendral. Cika Siap melaksanakan setelah kontrak kerja di ILA berakhir”jawabnya kembali hormat.
“Aku harus membantu Riri. Perasaan Cika masih mengatakan ada hal yang mengganjal aku harus memulai dengan orang terdekatnya”Batinnya.
Empat bulan telah berlalu Cika menolak perpanjangan kontrak kerja dan memili mengundurkan diri membuat Alan dan Bian tidak habis pikir.
“Apa gajimu selama ini kurang?”tanya setelah menerima surat pengunduran diri.
“Tidak Pak Alan. Gaji Di ILA sesuai dengan kinerjanya hanya saja Cika ada urusan yang haruskan pindah ke Samarinda”jawabnya membuat Alan melamun.
“Samarinda..Mutiara Ririani Fatimah Ayubi. Bagaimana keadaanmu apa kamu bahagia dengannya?”batinnya membuat Bian angkat bicara.
“Jika keputusan Cika sudah bulat maka kami tidak bisa berbuat apa apa. ILA selalu terbuka untukmu”ucapnya.
“Terima Kasih Pak Bian. Semoga ILA lebih maju di tangan Pak Alan”jawabnya sebelum berlalu dari hadapan Alan yang masih dengan pikirannya.
“Alan.. Masih mengingatnya”ucap Bian membuat Alan melihatnya dengan sorot mata pilu.
__ADS_1
"Alan.Harus melupakannya. Ingat dia sudah ada yang punya"lanjutnya berucap.
"Semoga kamu bahagia"batinnya setelah kepergian Bian.
Cika kembali menginjakkan kaki di Rumah yang satu minggu lalu menjadi lokasi pernikahan.
"Nak Cika. Silahkan masuk"ucapnya dengan senyum rama.
"Terima Kasih Aunty. Owh iya Aunty Riri mana kenapa enggak kelihatan. Apa Riri ke kampus?" tanyanya setelah tidak melihat keberadaan bestinya membuat semua saling memandang satu sama lain
"Aunty, ada apa. Riri baik baik saja kan?" lanjutnya kembali mengajukan pertanyaan.
"Nak. Semenjak pulang dari rumah sakit. Keadaan Riri menurun. Selalu teriak dan menghancurkan semua barang barang di sekitarnya. Riri sepertinya belum belum mengikhlaskan kepergian calon suaminya, kedua calon mertuanya dan kedua orang tuanya"jelasnya membuat Cika terkejut.
"Kenapa bisa Aunty?. Padahal sebelum Cika kembali ke Jakarta Riri tidak separah itu meski masih berduka"ucapnya heran.
"Aunty juga tidak tahu. Saat Candi membawanya pulang. Riri tidak perna baik baik saja Mungkin Rumah ini penuh kenangan sehingga membuat Riri makin terpuruk. Tetapi Riri tetap mau di sini dan tak perna kemana mana"jelasnya.
"Apa sebenarnya yang terjadi. Riri bukalah wanita lemah"batinnya.
"Aunty. Boleh Cika menemui Riri?"tanyanya penuh harap.
"Tapi Nak. Riri tidak suka di temui dan sering melukai orang yang memasuki kamarnya"jawabnya.
"Aunty. Cika hanya ingin bertemu dengannya. Apapun yang terjadi Cika harus tetap mendampingi Riri"jelasnya dengan tulus membuat Bibi terkesima.
"Tapi Nak. Harus hati hati. Jika Riri tak mampu di kendalikan. Suntik menggunakan Alat ini"ucapnya sembari menyorkan botol kecil beserta suntikan.
"Ini untuk apa Aunty?"tanya mengamati benda di tangannya.
"Obat penenang dari dokter. Nak hati hati" jawabnya sebelum Cika berlalu.
"Assalamualaikum Ri"ucapnya saat membuka pintu membuat Riri tersenyum dan berlari ke arahnya.
"Umma. Jangan tinggalin Riri"ucapnya memeluk Cika.
"Ri. Aku Cika"jawabnya membuat Riri melepas pelukan dan memandang lekat wajah di hadapannya yang nampak seperti Umma lalu berubah menjadi bestienya.
"Ri. Aku sahabatmu. Maaf baru datang"ucapnya meraih dan meneluk wanita yang sedang meneteskan air mata.
"Cika..."ucapnya menangis sejadi jadinya membuat Cika mengusap kepala Bestienya yang tidak tertutup hijab.
"Ri. Tenang. Cika selalu bersamamu"ucapnya berusaha tersenyum membuat Riri berjongkok dan memeluk lutut.
"Semua salah Riri. Riri yang membunuh mereka"ucapnya sembari terisak membuat seseorang di balik pintu tersenyum bahagia di atas penderitaan keponakannya.
__ADS_1