
Semenjak peristiwa di kamar. Alan kembali ke kantor dengan syarat jangan mengajaknya berbicara sebelum dia sendiri yang memulai. Meski syarat terdengar aneh tetapi semua terutama keluarganya menyetujui dan bahkan berterima kasih kepada Bian karena telah membawa Riri. Lalu bagaimana hubungan Alan dan Riri?”.
“Alan. Temani aku ketemuan?”ucapnya membuat dahi Alan berkerut.
“Ketemuan. Sejak kapan kamu punya kekasih?. Kenapa aku baru tahu”tanyanya.
“Sejak kamu mengurung diri. Please temani aku iya. Kalau kamu tidak mau biar aku minta bantuan kepada Riri saja”ucapnya sembari melirik Riri di meja kerjanya.
“Kapan?”tanyanya.
“Nanti malam. Di Apartemenku”ucapnya membuat Riri tersenyum tipis.
“Kamu gila Bian belum apa apa sudah ngajak ke temuan di Apartemen kenapa tidak sekalian di Hotel”ucapnya dengan nada jengkel.
“Jangan berpikir kotor Alan. Aku tidak mau ngapa ngapain anaknya orangnya maka aku mengajakmu” jawabnya.
“Iya aku akan menemanimu jadi tidak perlu mengajak orang lain”jawabnya membuat Riri dan Bian berbahagia.
“Aku tunggu jam delapan malam”ucapnya sembari berlalu dan mengedipkan mata pada Riri sebagai isyarat, yang jelas tanpa sepengetahuan Alan.
“Bos sepertinya benar benar marah padaku sampai melihatku saja enggan”Batinnya seraya memandang Alan yang kembali serius pada komputernya”
“Mengabaikannya rasanya berat banget tetapi Alan kamu harus melakukannya untuk mencegah hatimu terluka lebih dalam lagi. Tinggal sepekan”batinnya.
Azan ber komandan menyadarkan Alan dan Riri dalam lamunan. Membuat Alan berlalu begitu saja meninggalkan Riri yang mengawasinya diam diam.
“Riri. Alan mau kemana?”tanya Bian melihat Alan berlalu dengan tergesa gesa.
“Aku tidak tahu Bian”jawabnya.
“Bian bisa pinjam mobilmu. Aku harus mengikutinya”lanjutnya berucap.
“Hati hati. Alan adalah raja jalanan”ucapnya saat memberikan kunci.
“Terima kasih. Riri berangkat dulu. Assalamu Alaikum”ucapnya.
“Waalaikumussalam”ucapnya tanpa mengalihkan pandangan.
“Sebenarnya kalian serasi tapi sayang Riri sudah punya calon”batinnya.
Mobil Alan berlalu meninggalkan Kantor tepat saat Riri berdiri di depan pintu utama. Riri berlari menuju parkiran khusus mencari mobil yang baru dipinjam, membuat Riri langsung duduk di kursi kemudi menyusul Alan.
“Bos. Ke mana, Kok tidak ada dimana mana”ucapnya setelah memutari daerah yang tak menampakkan adanya Bosnya.
“Kalau begitu aku ke mesjid terdekat dulu. Sholat baru lanjut mencari Bos”ucapnya kembali melajukan mobil dalam kecepatan normal.
Masjid menjadi pilihannya. Ke tempat wudhu khusus perempuan membasuh dari tangan hingga kaki kemudian memasuki area perempuan dan mengambil saff paling depan di mana hanya tinggal beberapa wanita yang entah sholat atau sedang istirahat.rakataat demi rakaat berjalan dengan khusyuk sembari memanjatkan doa di akhir sholat.
“Ya. Allah terima kasih atas nikmat iman, kesehatan serta kesempatan masih berada di dunia dan menjalankan tugas utama yaitu beribadah kepadamu. Ya Allah. Ya Rabb akhir bula ini adalah waktu menyempurnakan iman. Ridho dan lancarkan urusan kami. …Aamiin”ucapnya dalam doa.
“Aku harus mencari Bos di mana lagi?” ucapnya saat setelah berada di dalam mobil.
“Jangan dulu. Bukankah itu Bos. Terus mengapa salim dengan imam masjid”ucapnya saat matanya menangkap sosok yang iya cari cari.
“Pak. Saya pamit pulang dulu. Terima kasih”ucapnya sembari salim dan tersenyum begitu rama yang jelas hanya mampu di perhatikan oleh Riri tanpa mendengar percakapan.
“Harusnya bapak yang berterima kasih karena Nak Alan selalu menyempatkan diri ke sini di tenga kesibukan”jawabnya tak kalah rama.
“Hehehe..saya pamit dulu Pak. Assalamu alaikum”ucapnya.
“Waalaikumussalam”jawabnya tak henti memandang Alan yang berlalu setelah menundukkan kepala saat melewati Pak Iman.
“Apa benar itu pak Alan”batinnya tak percaya sebab perubahan 180 derajat.
__ADS_1
“Ya. Allah dia pemuda yang baik, Lindungi, lancarkan urusannya serta berikanlah dia jodoh terbaik”ucapnya dalam doa hingga tak sadar ada wanita yang menghampirinya di halaman depan masjid.
“Assalamu’alaikum”ucap Riri.
“Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh”jawabnya
“Maaf.Saya Riri pak”ucapnya memperkenalkan diri”
“Bapak, Iman di sini. Ada yang bisa bapak bantu,Nak Riri?”tanyanya membuat Riri ragu menyampaikan niatnya.
“Maaf Pak. Riri mau bertanya apakah pemuda yang barusan bersama bapak. Adalah anak bapak?”tanyanya men jeda beberapa kalimat.
“Maksud Nak Riri. Nak Alan”ucapnya membuat Riri mengangguk.
“Nak Alan bukan anak kandung bapak tetapi sudah bapak Anggap sebagai anak sendiri. InsyaAllah dia pemuda yang baik dan Sholeh sebab selalu menyempatkan diri untuk men sedekahkan sebagian harta yang di miliki dan setiap Sholat Duhur dan Ashar selalu ke mesjid ini untuk melaksanakan Sholat dan seringkali tinggal mendengar ceramah padahal Nak Alan orang sibuk”jelasnya membuat Riri hanya berbicara dalam hati.
“Ternyata Pak Alan tidak seburuk yang kulihat selama ini. Aku sungguh tidak akan percaya jika tidak melihat dan mendengar langsung ucapan pak Imam”batinnya membuat Pak Iman tersenyum.
“Berarti selama Ini Bos selalu hilang di saat tengah hari hingga sore ternyata berada di sini Bukan ke Bar. Jadi minggu perna aku masuk kerja itu hanya trik Bos untuk membuatku mundur”batinnya lagi.
“Nak Riri. InsyaAllah Nak Alan adalah Imam yang baik untuk rumah tangganya kelak” ucapnya sembari tersenyum membuat Riri hanya mampu tersenyum.
“Hehehe. Terima kasih Pak. Riri pamit dulu. Assalamu alaikum”ucapnya.
“Waalaikumussalam”jawabnya.
“Sungguh Anak muda yang di landa virus merah jambu”ucapnya melihat kepergian Riri.
“Riri. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan Bosmu. Meskipun nampak nakal dan garang dia adalah pemuda baik baik”ucapnya pada diri sendiri sembari memandang mobil di hadapannya.
“Bian, ternyata mengikuti ku”ucapnya saat melihat di kaca spion depan mobil yang mengikutinya. Mobil terus melaju dengan normal sembari pura pura tidak tahu.
“Bian. Kenapa kamu di sini bukankah..” ucapnya saat melihat Alan berada di ruangannya.
“Jika Bian ada di sini. Terus siap yang mengendarai mobilnya”pikirnya.
“Sial. Ternyata Dia”umpatnya saat baru menyadari ketidak hadiran Riri.
“Assalamu’Alaikum”ucapnya membuat dua laki langsung melihat ke arahnya.
“Waalaikumussalam”jawab Bian sementara Alan membuang muka dan kembali ke kursi kebesarannya.
“Bian. Ini Riri kembalikan kunci Mobilmu. Terima Kasih”ucapnya membuat Alan makin jengkel.
“Santai saja Riri. Semangat bekerja”ucapnya membuat Riri hanya tersenyum.
“Ternyata benar benar Dia”batinnya tanpa melakukan interaksi apalagi kerja sama dengan sekertaris pribadinya hingga malam kembali Datang.
“Riri. Gimana. Cika udah cantik?”ucapnya setelah menggunakan pakaian kasual berwarna pink serta hijab putih.
“MasyaAllah. Cika selalu perfect”jawabnya sembari memberikan dua jempol.
“Pasti cantik meski tidak secantik Riri.
“Cika Bisa saja. Yuk kita pergi nanti ke duluan Bos”ucapnya.
“Siap siap. Kadonya jangan sampai lupa”jawabnya
Setelah menempuh perjalanan sampailah di sebuah Apartemen yang sudah terhias dengan elegan. Kue ulan tahun serta beberapa orang terutama Bian yang sudah menunggu kedatangannya.
“Akhirnya dua primadona kantor datang juga”ucap seorang rekan kerja laki laki.
“Iya donk kita harus dandan cantik. Inikan hari spesial Ceo ILA”jawab Cika.
__ADS_1
“Bagaimana. Semua sudah tahu tugas masing masing. Ingat Alan paling suka bersih”jawabnya membuat semua mengangguk dan mengatakan siap kecuali Riri.
“Cika kamu juga punya tugas?”tanyanya.
“Pasti Riri ku sayang. Siapa suruh tadi siang kamu tidak hadir jadinya tidak kebagian tugas”ucapnya membuat Bian angkat bicara
“ Riri. Sebenarnya aku geli kalau harus jadi pembawa kuenya. Jadi kamu gantiin aku saja”ucapnya membuat semua tidak percaya.
“Yang lain saja Bian. Bos anti denganku” jawabnya.
“Riri saja. Yang lain mana berani berhadapan langsung dengan Alan”ucapnya sembari memandang tajam kepada semua orang yang menggeleng.
“Iya Riri saja. Anggap saja ini bentuk perpisahan mu”jawabnya setelah berubah mengangguk berjamaah.
“Benar kata Cika. Riri saja. Hanya kali ini saja”jawab yang lain membuat Riri mengiyakan.
Apartemen tidak lagi terlihat apa apa sebab pemiliknya sudah mematikan semua lampu sehingga Alan heran saat memasuki Apartemen.
“Bian. Apa gajimu kurang sampai menghemat listrik”teriaknya membuat semua siap siap.
“Bian. Jangan bilang”ucapnya mulai berpikir tidak tidak hingga lagu serta lilin menjadi penerang.
“HBD Bos”ucap Riri bersamaan dengan lampu menyalah dengan terang serta layar besar berputar berjudul Bast the Moment …
“Jangan marah. Liat pegawaimu sudah menyiapkan dengan susah payah’ucap bian membuat semua mengangguk meski takut.
“Bos pasti marah karena aku”batinnya membuat Alan mengulurkan tangan mendekati lilin kemudian mengibas ngibas hingga lili padam.
“Tidak usah pake tiup lilin”jawabnya tegas membuat semua kembali menunduk.
“Apa kalian tidak mempersilahkan Bosmu duduk”ucapnya langsung duduk di sofa single.
“Alan benar benar tidak bisa menghargai orang lain”Batin Bian sebab tak ada nampak kebahagiaan di raut wajahnya.
“Kalian mau berdiri terus sampai krim kuenya meleleh. Kamu kemari!”ucapnya sembari menunjuk Riri.
“Bagaimana aku bisa memotong kuenya jika kamu tidak mau mendekat”ucapnya sebab Riri selesai melangkah kearahnya yang masih menyisakan jarak.
“Riri letakkan kuenya di meja depan Alan”ucap Bian membuat Riri melaksanakan.
Alan mulai memotong kue membuat semua ikut menyaksikan dan bertanya tanya potongan pertama akan di berikan kepada siapa.
“Potongan pertama untuk.. Alan ingat dia sudah punya calon”batinnya kemudian menyuap dirinya sendiri membuat semua bawahnya memandang ke padanya.
“Kamu. Potong kuenya, bagikan ke yang lain sebelum ilernya membanjiri apartemen Bian”ucapnya sembari menghadap ke arah Riri membuat semua melat mulut termakan omongan Alan.
Riri memotong satu demi satu dan membagikan ke yang lain. Menerima dengan senang hati dan menikmatinya hingga Cika tersenyum melihat ke arah Riri dan mencolek kuenya kemudian meletakkan ke pipi Riri.
“Cika”ucapnya penuh penekanan sebab wajahnya ternodai oleh kue membuat Cika makin gemes dan melakukan hal yang sama di pipi sebelah.
“Cika”lanjutnya membuat Cika memasang kuda kuda dan terjadilah kejar kejaran mengitari ruangan.
“Cika. Berhenti”teriaknya dengan jengkel sebab tak berhasil membalas membuat Cika makin semangat dan tak luput dari pandangan semua yang sedang menahan tawa.
“Lucu banget Dia ketika jengkel”batin Alan di susul dengan Tawa membuatnya menjadi pusat perhatian.
“Pak Alan makin tampan saat tertawa lepas”batin semua wanita terutama Cika.
“Berhasil”sorak Riri sebab membuat wajah Cika cemong membuat tawa Alan semakin menggema.
“Melihatmu tersenyum sudah cukup untukku” batinnya.
__ADS_1