
“Cika.Cika”ucapnya di akhiri teriak membuatnya tersadar.
“Boss. Maaf”jawabnya sembari menundukkan kepala dan kembali duduk.
“Kamu kenapa tiba tiba jadi aneh seperti ini, apa Cika ada masalah?”tanyanya membuat Cika memandangnya dengan lekat.
“Kalau tak mau bicara aku tidak bisa memaksa”ucapnya hendak berlalu.
“Cika harus kembali ke Jakarta”jawabnya membuat Candi terkejut sembari berbalik kearahnya.
“Tak boleh kontrak kerjamu belum selesai”jawabnya.
“Cika akan bayar denda”jawabnya membuat Candi melangkah ke arahnya.
“Tak. Aku tidak butuh uangmu aku hanya butuh kamu terus bersamaku”jawabnya spontan membuat semua terdiam sesaat.
“Maksudku kamu tetap bekerja hingga kontrak selesai jika kamu mau aku siap menepati janji karena kita telah mengalahkan Riri”lanjutnya menjawab dengan nada mulai normal.
“Maksudnya Boss melamar ku?”tanyanya membuat Detak jantung Candi memompa dengan cepat
“Daripada balik ke jakarta dan di jodohkan oleh orang tuamu lebih baik menikah denganku. Kita sama sama untung. Kamu terbebas dari perjodohan dan aku akan menjadi pemilik sah Ayubi”ucapnya di akhiri tawa jahat.
“Maaf Riri. Aku tidak bisa memenuhi harapanmu. Pamanmu terlalu menakutkan. Cika takut terpesona pada wajahnya”batinnya kemudian berdiri.
“Kak Candi..”ucapnya tidak terpotong.
“Pikir pikir saja dulu. Aku ada rapat”ucapnya tiba tiba memotong dan berlalu.
“Kamu di kantor saja”lanjutnya sembari berbalik memandang wanita yang mematung.
“Boss. Candi”teriaknya saat tersadar tapi ternyata yang dipanggil sudah tidak terlihat lagi di koridor lantai paling atas.
Hari ini adalah kemenangan bagi Candi sebab namanya tertulis sebagai pemilik Ayubi. Tapi tidak dengan laki laki yang tidak kalah tampan dan kaya darinya. Menginjakkan kaki di tempat yang paling dihindari adalah hidup yang butuh perjuangan.
“Alan”ucap seseorang jengkel sebab tidak mendapat respon.
“Alana Putra”teriaknya membuat laki laki menoleh ke arah pengemudi.
“Bian..”ucapnya penuh penekanan.
“Santai Boss..Aku hanya ingin bertanya kita mau ke mana?”
“Ke perusahaan”jawabnya singkat.
“Ke perusahan,Alan mau tinggal di sana.Bukankan lebih baik kita cari tempat tinggal terlebih dahulu”ucapnya membuat Alan melotot ke arahnya.
“Kita ke perusahaan aja dulu. Control terlebih dahulu..soal tempat tinggal entar kita searching sempat ada yang dekat dengan perusahaan”jawabnya membuat Bian hanya mengangguk angguk.
Ibu dan seorang anak kecil tinggal berdiri di depan perusahaan sembari menghubungi seseorang yang tapi tidak kunjung mendapatkan respon.
__ADS_1
“Ibu. Ayah mana. Alya ngantuk”renganya.
“Sayang. Ibu hubungi Ayah lagi iya”jawabnya sembari mengusap rambut buah hatinya.
“Alan..Kita uda sampai”ucapnya.
“Alan kamu liatin apa..serius banget’lanjutnya berucap sebab melihat tidak merespon dan hanya memandang lurus.
“Parkir mobil di sana”ucapnya dengan tatapan fokus.
“Kenapa harus di sana..dekat ibu ibu dan anaknya”jawabnya mengajukan protes.
“Bian. Bisa tidak langsung melaksanakan perintah”ucapnya.
“Siap Boss.Dasar Boss Arogant”jawabnya.
Kendaraan kembali berlaju berhenti tepat di hadapan orang tua dan seorang gadis kecilnya yang mematung ditempat sembari melihat dua laki laki mudah berjalan ke arahnya.
“Permisi Bu”ucap Alan membuat semua terheran heran.
“Iya”jawabnya masih dilanda kebingungan.
“Ibu mau kemana biar kami antar”ucapnya menawarkan.
“Tak usah Nak.Suamiku akan menjemput kami”jawabnya penuh rasa curiga dan waspada.
“Ibu enggak perlu khawatir kami orang baik baik. Maaf karena tidak sengaja memperhatikan ibu sedari tadi”ucap Alan lagi membuat Bian mematung saking herannya.
“Biar kami antar. Kasihan anaknya udah ngantuk banget”ucapnya sembari memandang lekat gadis kecil
“Entar ibu merepotkan Nak..Biar Tunggu suamiku saja”jawabnya.
“Enggak merepotkan sama sekali. Ibu silahkan masuk”ucapnya sembari membuka pintu membuat Bian makin dilanda ketidak percayaan.
“Ibu..”ucap Alya dengan mata tertutup membuat Ibu menggendongnya.
“Terima Kasih Nak”ucapnya sembari menggendong anaknya kedalam mobil.
“Enggak usah bu..Biar kami saja”ucapnya menghadang ibu mengangkat barangnya.
“Bian. Cepat. Jangan tahu melamun aja”ucapnya lagi membuat Bian tersadar dan langsung mengangkat barang barang kedalam mobil.
“Maaf ibu merepotkan Nak”ucapnya membuat Alan tersenyum dengan tulus
“Enggak merepotkan sama sekali. Biar barang barangnya kami yang angkat.Ibu nemenin anaknya aja”ucapnya membuat semua melaksanakan perintah.
Kendaraan kembali melaju membuat Bian hanya mampu melirik laki laki disampingnya seakan meminta penjelasan terapi orang yang di tujuh masih setia memandang orang tua yang mengusap rambut anak gadisnya sayang.
“Ibu kami antar kemana?”tanyanya.
__ADS_1
“Jalan aja. Biar ibu jadi penunjuk jalan”jawabnya kembali menciptakan sunyi hingga dering ponsel berbunyi kembali menciptakan bunyi.
“Assalamualaikum. Paman”ucap Bian sembari mengaktifkan pengeras suara.
“Waalaikumussalam Bian. Kalian uda sampai Di kalimantan?”tanyanya membuat orang orang dewasa menyimak semuanya.
“Alhamdulillah Paman. Bian dan Alan udah sampai di Kalimantan dengan selamat. Paman enggak usah khawatir. Bian akan menjaga Alan”jawabnya.
“Daddy. Alan bukan anak kecil lagi”ucapnya membuat tawa renyah terdengar dari ponsel.
“Daddy enggak bilang kamu masih anak kecil. Daddy hanya enggak percaya padamu”jawabnya membuat wanita tersenyum.
“Daddy..”
“Enggak usah merajuk. Owh iya Daddy hampir aja lupa.. Kalian udah dapat tempat tinggal?”tanyanya membuat Bian angkat bicara.
“Belum Paman. Entar kita cari cari”
“Apa perlu Bantuan paman?”ucapnya menawarkan.
“Enggak perlu. Deddy ingat kesepakatan kita”jawabnya tapi Bukan Bian melainkan Alan.
“Terserah.. Aku percaya Bian bisa menjagamu”ucapnya membuat Bian tersenyum sementara Alan jengkel.
“Daddy..ucapnya hendak mengajukan protes tapi terpotong oleh suara di seberang sana.
“Jaga diri kalian..Deddy ada kerjaan..Assalamualaikum”ucapnya.
“Waalaikumussalan”jawabnya diakhir panggilan.
Kendaraan kembali melaju membuat Alan memandang jalanan dengan tatapan kosong se kosong hatinya.
“Nak..Berhenti di depan aja”ucapnya sembari menunjuk gedung bertingkat.
“Ibu tinggal di sini?”tanyanya memastikan saat berhenti di parkiran.
“Iya terima kasih nak”ucapnya sembari menggendong anaknya turun dari mobil membuat dua laki laki muda sigap menurunkan barang barang.
“Biar kami bantu bu”ucapnya.
“Tak usah Nak Alan..Entar suami ibu yang angkat”ucapnya tidak mendapat penawaran yang sama lagi.
Ucapan terima kasih sebagai penutup pertemuan tapi nyatanya saat dua laki laki muda hendak memasuki kendaraan Ibu mala terungat percakapan di mobil. Setelah berpikir Ibu membuat keputusan yang menghentikan keberangkatan.
“Nak..Tunggu Dulu”,ucapnya membuat Alan dan Bian menengok ke arah suara.
“Nak cari tempat tinggal?”tanyanya membuat dua laki laki hanya mengangguk.
"Jika mau. Nak bisa tinggal disini berhubung masih ada satu kamar yang kosong”ucapnya membuat Alan dan Bian memandang bangunan bertingkat dihadapannya.
__ADS_1