
“Alan. Alan”ucapnya saat menghampiri Alan yang sedang memandang bangunan di sekitar perusahaannya.
“Bian. Bisa tidak kamu tidak menggangguku”ucapnya jengkel.
“Tidak bisa..Alan tahu barusan aku bertemu Cika dia belanja di sinu”jelasnya penuh semangat membuat Alan duduk dengan santainya.
“Hanya karena itu kamu menganggu imajinasiku”ucapnya membuat Bian tamba bersemangat.
“Alan perlu tahu saat aku bertanya tentang Riri”ucapnya membuat Alan memandangnya penuh keseriusan.
“Cika mala pergi begitu saja. Katanya ada urusan penting”lanjutnya membuat raut wajah Alan penuh kecewa.
“Belum sempat juga minta Alamatnya langsung pergi begitu saha”ucapnya lagi.
“Uda curhatnya. Berhubung kamu mengecek semua barang hari ini seorang diri jadi aku memisahkan mu pergi merasakan suasana hotel”ucapnya membuat sangat bahagia.
“Boss ku memang terbaik. Tapi harus gratis satu malam”ucapnya membuat Alan mengangguk.
“Kita harus pesan hotel terbaik di Samarinda”ucapnya mendapat jawaban tidak terduga
“Aku mau sendiri. Jadi pilih di hotel atau di kost”ucapnya membuat kebahagian pudar
“Enggak seru banget pergi sendiri”ucapnya.
“Tenang saja.. Aku tetap tinggal di kost. Enggak akan kemana mana. Aku hanya ingin sendiri”ucapnya membuat Bian mengalah.
“Baiklah aku nginap di hotel aja. Tapi hanya kali ini saja”ucapnya.
“Iya. Kita pulang aja”ucapnya membuat Bian menurut saja.
“Bian. Mulutmu ember banget.. Kenapa harus sebut nama Riri segala lihat Alan jadi galau lagi”umpatnya dalam hati.
“Alya”ucap Bian menyapa Gadis kecil yang sedang bermain di depan Musholah
“Kakak”ucapnya berlari ke pelukan Bian membuat kedua orang tuanya tersenyum.
“Alya. Sayang kakak tidak?”tanyanya sembari tersenyum
“Sayang”ucapnya dengan khas anak kecil sembari melepas pelukan dan mengangguk dengan polosnya.
“Kalau kak Alan. Alya juga sayang?”tanyanya membuat Alya hanya memandang laki laki yang berdiri seperti patung.
“Alan. Jangan cemberut mulu . Alya jadi takut”ucapnya tapi Alan masih berdiam diri.
“Alya. Kak Alan. Baik banget orangnya. Sama aja seperti kak Bian”Bisiknya membuat Alya menatap Alan dengan lekat
Langka kaki Alan terus berlaju menghampiri Bian dan gadis kecil yang mulai membuang pandangan serta menunduk penuh takut tetapi Alan melakukan tindakan tidak perna terduga membuatnya menjadi pusat perhatian.
__ADS_1
“Alya”ucapnya sembari mengusap lembut rambut Alya.
“Ternyata dibalik sikap diamnya. Nak Alan ternyata sangat penyayang”batin Ibu tersenyum
“Alya juga sayang Kakak”ucapnya tersenyum lebar membuat Alan meraih dan menenggelamkan dalam pelukannya.
“Alya pintar”ucapnya membuat Alya berbahagia.
“Kak. Temani Alya Main”ucapnya sembari memegang tangan Alan membuat Alan melempar landangan kesemua orang secara bergantian.
“Bapak sangat berterima kasih jika Nak Alan berkenan menemani Alya bermain”ucapnya membuat Alan memandang gadis kecil yang masih memegang tangannya tanpa senyuman pudar.
“Alya mau main apa?”tanya.
“Alya mau main kereta api”ucapnya penuh semangat.
“Kak. Pegang pundak Alya”ucapnya membuat Bian menyerah diantara dua orang yang sedang berbaris
“Kak Bian juga mau ikut main. Alan di belakang aja”ucapnya sembari memegang pundak Alya dan Alan memegang pundaknya
Lagu kereta api dilantunkan oleh Alya dan Bian sementara Alan hanya mengikuti pergerakan kaki orang di hadapannya. Ke dua orang tua Alya sangat berbahagia melihat pemandangan langkah di hadapannya.
“Bapak.Ibu tak salah menawarkan mereka tinggal di sini. Lihat Anak kita sangat bahagia”ucapnya terharu.
“Iya Ibu..Mereka sangat baik. Meski dari ibu kota tapi mereka tidak malu bermain dengan anak kita”ucapnya masih memandang penuh kebahagian.
“Tak..Ikuti Alya kak”ucapnya polos tanpa memahami keadaan orang di belakangnya.
“Nak..Isterahat dulu..Besok lagi di lanjut”ucapnya membuat Alya berhenti melangkah.
“Alya mau main”ucapnya dengan wajah pias.
“Besok lagi iya sayang. Kak Alan dan Kak Bian ada kerjaan”ucapnya sembari menghampiri anaknya dengan mata mulai berkaca kaca.
“Alya. Besok main bareng kakak lagi iya. Kak harus kerja. Iyakan Alan”ucapnya setelah bubar barisan.
“Alya. Jika mau main ke kost kakak saja. Hari ini kakak harus kerja”ucap Alan.
“Besok Alya bisa main bereng kakak lagi”ucapnya membuat Alan dan Bian mengangguk.
“Iya. Alya.. Kak Alan janji”ucapnya dengan janji kelingking membuat Alya tersenyum kembali.
“Ibu. Bapak. Alya udah punya teman”ucapnya penuh bahagia.
“Terima kasih nak”ucap kedua orang tua Alya sebelum berlalu.
Kamar yang tidak perna di lihat penghuninya membuat Alan dan Bian selalu menengok ke arahnya setiap kali melewatinya. Tidak penghuni yang terlihat padahal selalu ada dan melakukan aktivitasnya dalam kamar. Belajar. Memasak. Memantau peninggalan Umma nya Dan meratapi nasibnya.
__ADS_1
“Umma. Appa. Lihat. Mereka berbahagia dan Riri juga harus bahagia untuk mereka. Cukup selama ini Riri membuat mereka bersedih”ucapnya menyaksikan semuanya dan berusaha tersenyum.
“Alan”ucapnya pada laki laki yang baru saja merebahkan tubuhnya.
“Apa Bian. Kalau mau pergi pergi aja. Aku uda mengurus semuanya. Tinggal nikmati aja”jawabnya masih sementara berbaring.
“Tahu. Aku hanya mau nanya. mau pesan makanan apa?”tanyanya.
“Enggak usah.entar aku pesan atau beli sendiri. Kamu pergi aja. Aku mau tidur”jawabnya.
“Iya. Tapi harus ingat makan. Jangan sampai Mag nya kambuh lagi”ucapnya hendak berlalu.
“Iya Bian”jawabnya sebelum Bian berlalu dan Dia tertidur.
Waktu berlalu tanpa Alan sadari malam telah tiba. Sementara Riri menikmati pemandangan malam dari balkonnya. Duduk santai sembari menutup mata menenangkan pikiran dan hati tanpa menyadari ke hadiran seseorang di balkon sebelah. Mata yang awalnya sayup langsung membulat seketika.
“Riri”ucapnya terkejut sekaligus mengejutkan pemilik nama.
“Boss Alan”ucapnya langsung berdiri.
“Apa aku mimpi”ucap Alan mengusap kedua matanya.
Dua orang di pertemukan kembali dengan jarak yang sangat dekat hanya saja terhalang besi pembatas balkon. Mata Alan memancarkan binar sama seperti dulu yaitu binar cinta berbalut rindu sedangkan Riri entah mengapa air matanya tidak mampu terbendung.
“Jangan menangis di hadapanku sebab aku tidak bisa menghapus Air matamu”ucapnya mengulurkan tangan lewat lulang besi penghalang. Air mata Riri semakin deras membuat Alan ikut terluka dan terjatuh seketika.
“Boss. Boss”teriaknya sebab tubuh Alan tergeletak di lantai.
“Ri”ucapnya lirih sebelum menutup mata.
Riri berlari ke kamar Bibinya meminta bantuan membuat Alya terbangun dan merengek mengikut kedua orang tuanya. Menghubungi pihak rumah sakit membuat Alan mendapatkan pertolongan.
“Ibu. Bapak”ucap Alya sembari menangis membuat kedua orang tuanya membatalkan kepergian.
‘Bibi. Biar Riri yang ke rumah sakit. Bibi dan paman temani Alya”ucapnya sebelum Ambulance membawanya ikut berlalu.
Rumah sakit di mana sekarang Alan di rawat membuat Riri mondar mandir di ruang tunggu sembari berdoa untuk keselamatan laki laki yang baru bertemu dengannya lagi.
“Dok. Bagaimana keadaannya?”tanyanya setelah melihat dokter keluar dari ruangan.
“Apa suami Ibu punya penyakit?”ucapnya ikut mengajukan pertanyaan membuat Riri hanya terdiam.
“Sebagai seorang istri harus memperhatikan keadaan suami. Perutnya kosong hingga Mag nya kambuh. Jadi setelah siuman tolong pola makannya lebih diperhatikan”jelasnya.
“Tapi Dok”ucapnya hendak menjelaskan statusnya tapi terpotong oleh penjelasan dokter
“Ibu. Silahkan masuk dan menemani suaminya yang harus dirawat inap”jelasnya sebelum berlalu yang membuat Riri menghampiri laki laki yang masih berbaring dengan Impus ditangannya.
__ADS_1
“Masih aja bandel. Bian sudah mengingatkanmu tapi kenapa enggak makan makan juga”omelnya membuat s