HATI ANAK RANTAU

HATI ANAK RANTAU
34. MELEWATI BATAS


__ADS_3

Terima Kasih untuk perhatiannya”ucapnya memuat Riri memandang kearahnya.


Mata indah ditambah senyuman manis dari wajah yang nampak lesu membuat Riri mengalihkan pandangan.


“Boss masih saja tidak tahu menjaga kesehatan”ucapnya membuat Alan tersenyum lebar.


“Aku bukan Boss mu lagi. Panggil saja Alan”jawabnya masih dengan suara lemas.


“Lebih baik Kak Alan Istirahat”ucapnya membuat Alan membisu dan memandangi wanita pujaan hatinya yang sedang menghubungi seseorang yang entah siapa.


“Wajahnya enggak sedamai dulu. Aku enggak perna menduga ternyata yang di omongin Ibunya Alya adalah kamu. Ri”batinnya.


Panggilan tak terjawab membuat Riri mengirim pesan singkat yang entah kepada siapa.


“Ri”ucapnya membuat Pemilik nama memfokuskan pandangan kearahnya.


“Harusnya yang di kasihani yaitu kakak terbaring di rumah sakit tak ada keluarga yang menemani”ucapnya sebab memandang mimik wajah sendu.


“Jika bisa aku ingin menjadi penawar dukamu”ucapnya membatin.


“Tak perlu memandangku. Isterahat.Entar aku bangunin jika perawat membawakan mu makanan”ucapnya membuat Alan salah tingkah.


“Apa kamu akan meninggalkanku lag?”tanyanya membuat Riri memperbaiki posisi dengan duduk.


“Istirahatlah aku akan menunggu hingga kerabatmu datang”jawabnya membuat Alan susah paya memejamkan mata.


“Alan pasti udah tahu semuanya”batinnya sembari memandang lekat


Di sisi lain seseorang memasuki kediaman Candi dengan mengendap endap agar keberadaannya tidak di ketahui. Senyum terbit sebab kamar yang di tujuh tidak terkunci


“Rejeki anak sholehah. Terima kasih tuhan”ucapnya penuh syukur.


“Kak Candi pasti menyimpan surat warisan di kamarnya. Aku harus menemukannya”ucapnya sembari menggeledak.


“Waktuku tinggal sedikit lagi. Ke buruh Candi keluar dari kamar mandi”ucapnya sembari sekali kali melirik pintu kamar mandi dimana pemiliknya sedang membersihkan diri.


“Surat warisannya di mana. Di laci tidak ada. Di lemari juga tidak ada. Terus dimana dia menyimpannya”ucapnya pada diri sendiri sembari memandang setiap duduk sampai senyum terbit memandang koper di kolom tempat tidur.


“Ketemu juga akhirnya”ucapnya sembari meraih koper yang ternyata memilki pengaman.


“Lebih baik aku ambil saja sebelum ketahuan. Entar aku cari cara untuk membukanya”ucapnya hendak berlalu tetapi tertunda oleh pintu kamar mandi yang sudah terbuka.


“Ya Allah tolong aku.Jangan sampai ketahuan”ucapnya saat bersembunyi di kolom tempat tidur.

__ADS_1


Langka kaki semakin dekat kearahnya tanpa tahu pemilik kamar yang awalnya melangkah dengan santai berubah serius saat menyadari ada sesuatu yang ganjal di kamarnya.


“Bukannya pintu tidak kututup kenapa bisa”ucapnya jelas terdengar di telinga membuat jantungnya berdetak lebih kencang.


“Bodoh kamu”batinnya mengumpat diri sendiri.


“Mungkin angin yang menutup pintunya”ucapnya lagi membuat seseorang bernafas lega.


“Pasti ada seseorang yang ingin main main denganku”batinnya sembari melangkah melewati tempat tidur dan membuka handuk yang melilit di pinggangnya


“Mata suciku ternoda”batinnya kemudian menutup mata yang pada dasarnya tak melihat apapun kecuali kaki sampai betis.


Candi kembali melangkah ketempat tidur dan mengistirahatkan tubuh dan jelas hal itu membuat Seseorang di landa kecemasan sampai menutup mata rapat rapat.


“Hidupku akan berakhir jika sampai ketahuan oleh raja iblis”ucapnya sesaat sebab melihat lampu padam disusul dengkuran dari atasnya.


“Terima kasih Ya Allah”ucapnya sembari kembali mengendap endap.


“Ternyata susah tidur”ucapnya melihat laki laki tampan dalam cahaya remang remang.


“Aku harus pergi secepatnya”ucapnya sebelum berlalu tanpa menyadari senyum dari pemilik mata yang masih tertutup.


“Kenapa pintunya tidak bisa terbuka”ucapnya berusaha membuka pintu tapi tidak bisa.


“Sial. Tendanganmu lumayan juga”ucapnya sembari melap darah dari sudut bibirnya.


Tangan beralih menghidupkan lampu membuat Candi mendekat ke arah seseorang yang hanya nampak sepasang matanya.


“Aku akan melepaskan mu jika meninggalkan koper itu”,ucapnya sembari melirik dan menjulurkan tangannya.


“Spertinya kamu ingin main main denganku”ucapnya sembari tersenyum sebab melihat koper di sembunyikan di belakang tubuh.


“Aku sudah memperingatimu jadi jangan salahkan aku”ucapnya mengikis jarak sehingga seseorang di hadapannya melakukan perlindungan dengan melayangkan tinju serta tendangan tetapi meleset.


Fokus melakukan penyerangan sampai Candi memutarkan badan dan meraih kain di kepala lawannya. Dua pasang mata membulat sempurna sebab wajah yang awalnya tertutup kini nampak jelas terlihat.


“Cika”ucapnya membuat Pemilik nama melindungi rambutnya dengan koper di tangannya.


“Please. Candi berikan kerudungku”ucapnya penuh permohonan membuat Candi melemparkan kain hitam ke arahnya.


“Terima kasih”ucapnya berusaha memasang kerudungnya terhalang oleh dekapan Candi. Tangannya telah terkunci.


“Cika. Jadi selama ini kamu membohongiku”ucapnya semakin mengunci pergerakan membuat Cika tak mampu berkutip.

__ADS_1


“Kenapa diam saja. Kamu mengasa kesabaranku”ucapnya menyeret tubuh Cika ketempat tidur dan menindi tubuh wanita.


“Jawab Cika. Jangan Diam saja. Aku akan berbuat lebih daripada ini”ucapnya membuat Cika berusaha sekuat tenaga untuk melakukan perlawanan tetapi tenaga Candi melebihi tenaganya.


Mata indah Cika memandang tajam pada laki laki diatasnya yang hanya menggunakan celana selutut. Tubuh indahnya tidak seindah hatinya.


“Candi. Jangan melewati batasmu”ucapnya penuh ketegasan dan amarah.


“Bukan aku yang melewati batasan tetapi kamu”jawabnya tidak kala ganas.


“Ternyata kamu terlalu pintar bersandiwara. Sampai membohongiku selama ini. Aku kira kamu berbeda dari Riri. Tetapi ternyata kalian sama saja. Seperti mawar merah yang indah tetapi melukai”


“Kamu yang bodoh. Bagaimana aku bisa menghianati sahabatku sendiri demi raja iblis sepertimu. Aku hanya ingin mengambil hak yang engkau rampas”ucapnya sembari berteriak membuat Candi marah semarahnya sampai mencekik Cika.


“Merampas. Itu hak ku bukan hak sahabatmu. Kalian sama sama saja selalu merendakanku. Padahal selama ini hanya kamu yang aku percaya. Tetapi kamu tidak ada bedanya dengan kakak. Kalian semua sama saja”ucapnya dengan amarah bercampur air mata.


“Candi. Kamu..”ucapnya berusaha membuka mulut tetapi terhalang oleh bibir yang sudah menyatu di bibirnya.


Cika berusaha melepaskan tautan bibir tetapi Candi memperdalam hingga tamparan di pipinya Candi membuat Tautan bibir terlepas.


“Candi”ucapnya terpotong oleh ancaman.


“Sekali lagi kamu bercakap buruk tentangku. Aku bukan hanya mengambil ciumanmu tetapi juga kehormatanmu”ucapnya kembali mengunci pergerakan.


“Raja iblis. Aku membencimu”teriaknya penuh amarah membuat Candi terbakar hingga menjelajahi wajah dan Nar dengan bibirnya.


Isakan Tangisan dari Mulut Candi membuat Candi lebih menggencarkan aksinya hingga Air mata membasahi wajah Cika yang ternyata menjadi kelemahan Candi.


“Candi Ayubi. Perlu kamu tahu. Kamu telah membuat kesalahan besar. Riri dan orang tuanya yang telah kamu bunuh sangat menyayangimu. Mereka hanya menyimpan setengah milikmu sampai kamu menikah”ucapnya sembari berteriak meski jaraknya berjarak senti saja.


“Maksud kamu apa Cika. Jangan coba membodohi ku lagi atau..”


“Atau apa.. Aku akan menuntut mu. Perlu kamu kakak yang kamu bunuh. Hanya menjalankan warisan dari Almarhum Ayahmu. 50% perusahan Ayubi akan jadi milikmu saat kamu telah menikah. Mereka hanya menjaga untukmu tapi kamu malah berbuat keji sampai menghilangkan nyawa orang lain”


“Aku tidak perna membunuh siapapun. Dan kamu hanya mengada ada untuk mengelabuhi ku. Aturan itu hanya dari Riri bukan dari kakeknya telah tiada. Tak mungkin memberikan setengah untukku sebab hanya menyayangi kakak”ucapnya penuh amarah sampai beranjak dari tubuh yang ditindih.


“Lihat. Aku enggak akan memaafkan mu”ucapnya sembari melempar ponselnya kearah Candi.


Air mata Candi mengalir dengan deras seiring Video terputar di mana percakapan Dua sahabat di kamar mandi tentang kertas asli warisan.


“Riri melarang ku untuk memberitahumu. Tetapi kamu sudah melewati batas”ucapnya membuat isakan tangisan terdengar tanpa rasa malu sedikipun.


“Candi. Harusnya kamu yang mati bukan mereka”ucapnya sembari memecahkan tangisan dan Cika hanya menatapnya entah dengan perasaan apa.

__ADS_1


 


__ADS_2