HATI ANAK RANTAU

HATI ANAK RANTAU
7. UJIAN


__ADS_3

“Riri tugasmu sebagai Asisten Pribadi. Hanya menjalankan perintah sesuai Kontrak”Jelas Bian saat hendak meninggalkan ruangan.


“Jangan Mencuci Otaknya Bian. Dia Sekertaris ku jadi Dia harus mengikuti semua Perintahku” jawabnya tetapi bukan Riri melainkan Alan.


“Riri Sama sepertiku. Berada di tim Direktur Utama” jawabnya santai.


“Bian. Sialan”jengkelnya sebab melihat kepergian Bian begitu saja sementara Riri hanya menjadi penonton setia.


“Kamu. Aku Bosmu jadi kamu harus mengikuti semua perintahku”Tunjuknya dengan nada penuh perintah.


“Maaf. Aku di pekerjakan oleh Direktur utama” jawabnya santai.


“Kamu..”tunjuknya semakin geram.


“Maaf Bos. Namaku Riri”Potongnya membuat Alan bungkam.


“Lihat saja. Ujian akan dimulai. Kita akan lihat apa mentalmu tak kalah dengan parasmu atau hanya modal tampang saja”Batinnya sembari duduk di kursi kebesarannya.


“Sampai kapan Aku hanya duduk mengawasinya. Seperti bukan sekertaris melainkan Bodyguard”Batin Riri mulai bosan setelah beberapa jam tak melakukan apa apa selain duduk dan mengawasi laki-laki yang satu ruangan dengannya.


“Aku tahu. Aku tampan tapi pandanganmu mengalihkan konsentrasi ku” jawabnya membuat mata Riri membulat.


“Jangan melototi Bos mu.Tidak sopan. Aku  Mau keluar dulu”ucapnya hendak berlalu tapi terhalang oleh tubuh Riri yang secepat kilat berdiri Di daun Pintu.


“Bos mau ke mana?”tanya sembari merentangkan kedua tangannya.


“Bukan urusanmu. Minggir!” jawabnya lantang membuat Bian mengalihkan pandangan ke arahnya.


“Ini tugasku”jawabnya tak mau kalah.


“Baiklah kalau kamu tidak mau Minggir. Aku akan..”jawabnya sembari tersenyum ke arah Riri yang mulai dilanda kecemasan.


“Bos mau apa?”tanyanya dengan suara yang mulai ketakutan melihat Bosnya sejengkal darinya.


“Kamu, seperti Istri yang menyambut suaminya dari rantauan”jawabnya membuat Riri merinding sementara Bian tersenyum penuh kebahagian.


“Bos jangan macam macam”ucapnya penuh penekanan.


“Aku hanya mau satu macam. Pelu..”jawabnya sembari mengikis jarak tetapi tak jadi sebab Riri keburu menghindar sehingga Alan berlalu penuh kemenangan.


“Bos. Alan”Teriak dua sekertaris secara bersamaan.


“Pimpin rapat jam sebelas nanti” jawabnya berlalu membuat Bian bercap jengkel karena waktunya tinggal sejam lagi.


“Bos”teriaknya lagi sembari berlari hingga pintu Lift yang hendak tertutup berhasil Dia masuki.


“Siapa yang menyuruhmu memasuki Lift pribadi Bosmu”ucapnya sembari melayangkan tatapan tajam pada wanita yang masih mengatur napas.


"Memberikan hukuman aku bisa apalagi hanya memasuki Lift pribadi Bos”jawabnya penuh keberanian.


“Kamu..”jawabnya jengkel hingga tak mampu mengimbangi tatapan lebih tepatnya senyuman kemenangan Riri.


Pintu Lift terbuka membuatnya menjadi pusat perhatian serta mendapat hormat dari seluruh pegawainya. Alan hanya berlalu begitu saja tanpa respon apapun yang disusul oleh Riri yang berlari tanpa mempedulikan tatapan dan ucapan orang.

__ADS_1


“Siapa yang menyuruhmu duduk” ucapnya setelah memasuki kursi kemudi yang  bersamaan dengan Riri yang duduk di sampingnya.


“Ini tugasku”jawabnya.


“Terserah. Jangan sampai kamu menyesal”ucapnya penuh senyuman misterius.


Kendaraan melaju dengan kencang hingga menyelip ke sana ke mari menimbulkan kebahagian tersendiri bagi Alan sebab mengira wanita di sampingnya akan teriak penuh ketakutan tapi nyatanya duduk dengan santai seakan menikmati permainan membuat senyuman Alan lenyap.


“Bos mau ngapain di sini?”tanya sebab melihat mobil berhenti tepat di hadapan bangunan megah tertulis Bar.


“Jangan sok polos. Apa lagi kalau bukan menikmati hidup”jawabnya kembali memberikan ujian.


“Apa kamu mau ikut?”tanyanya menawarkan lebih tepatnya menantang tapi Bukan Riri namanya kalau mudah di taklukkan.


“Kenapa Bos memandangku seperti itu?” tanyanya sebab melihat atasnya memandangnya penuh heran sebab riri mengikutinya bukan berdiam di dalam mobil.


“Beneran. Tempat ini tidak baik untukmu”ucapnya mengingatkan.


“Bukan hanya untukku tapi untuk Bos juga”jawabnya sembari memandang lekat atasnya membuat Alan salah tingkah.


“Terserah. Aku mau masuk. Jangan sampai kamu menjadi bebanku”ucapnya penuh penekanan sembari menerima sambutan dari penjaga pintu utama.


“Ternyata Dia tak seberani yang ku kira”batinnya sebab melihat Riri berdiam diri di depan pintu utama.


“Sis. Silahkan masuk”ucap salah satu penjaga pintu utama.


“Terima kasih Pak. Riri menunggu di sini saja”jawabnya dengan sopan membuat para penjaga pintu utama terkesima.


“Pak boleh.Riri numpang duduk?”tanya sembari menunjuk salah satu kursi milik penjaga pintu utama.


Sejam telah berlalu namun Alan belum kelihatan juga membuat Riri hanya mampu duduk dan berbalik  memandang ke arah pintu, berharap atasannya datang namun nyatanya Hanya beberapa pasangan yang saling bermesraan membuat Riri benar benar Risih.


“Astagfirullah”ucapnya beristigfar untuk yang kesekian kalinya dan hal itu tak luput dari perhatian penjaga pintu utama.


“Permisi Sis. Apa perlu Aku memangilnya?”tanya menawarkan.


“Jika tidak keberatan. Riri sangat berterima makasih  Pak”jawabnya dengan senyuman membuat penjaga pintu utama menghampiri rekan kerjanya dan membisikkan sesuatu hingga menerima Anggukan kepala.


Suasana Bar terlihat sangat ramai meski masih siang bolong bahkan Alan duduk di kerumuni wanita seksi yang menggodanya namun tak ada yang benar benar mampu menemani apalagi menyentuhnya sebab penolakan tegas yang di berikan oleh Alan.


“Apa dia Baik baik saja”batinnya yang ternyata memikirkan wanita yang menunggunya sedari tadi.


“Permisi Tuan.”Ucap penjaga pintu Utama menyadarkan Alan dari pikirannya.


“Apa?”jawabnya tidak bersahabat.


“Maaf. Istri tuan masih menunggu di luar”ucapnya lantang agar terdengar sebab suara khas Bar mendominasi Bangunan.


“Apa. Istri”ucapnya ter heran heran.


“Iya. Istri Tuan. Wanita tertutup yang datang bersama Tuan, Kalau tidak salah nama nyonya Riri”ucapnya menjelaskan membuat Alan heran baru tersenyum.


“Istri”batinnya sembari tersenyum senyum sendiri.

__ADS_1


“Katakan padanya Aku masih mau di sini”lanjutnya berucap dengan menyembunyikan senyuman lewat wajah tegasnya.


“Tapi tuan..”jawabnya hendak menyampaikan sesuatu.


“Tapi apa. Pergi sebelum aku melaporkanmu pada Atasanmu”jawabnya penuh ketegasan membuat sang penjaga pintu utama berlalu dengan berat hati.


“Apa kamu bisa melewati ujian ini Nyonya Riri”Batinnya sembari senyum senyum tak jelas, Sementara riri menarik nafas dalam dalam mendengar ucapan penjaga pintu utama.


 “Maaf Sis.Tuan masih mau di sini”ucapnya.


“Tidak apa-apa. Terima Kasih Pak bantuannya”jawabnya tulus.


“Pak Boleh. Riri bertanya?”lanjutnya berucap.


“Bertanya apa Sis?”jawabnya.


“Apa pekerjaan Bapak di sini memuaskan?”tanya dengan ragu.


“Kalau dari segi materi. Bapak menerima gaji di atas rata rata. Tetapi jika Anakku Tidak membutuhkan biaya yang banyak Akibat penyakit kanker mungkin bapak mencari pekerjaan yang lebih layak”jawabnya sendi yang terasa tidak cocok dengan tubuh kekarnya.


“Maaf membuat bapak bersedih. Riri doain semoga Anak bapak di beri kekuatan serta ke sembuhan.Aamiin”jawabnya diakhir percakapan hingga Riri memili meninggalkan tempat setelah berjam jam menunggu dan jam tangannya menunjukkan waktu sholat Duhur.


 “Ternyata Dia gagal dalam ujian ini. Siap siap saja aku tendang dari perusahaan”ucapnya setelah memutuskan melihat kondisi Sekertaris pribadinya yang ternyata sudah tidak ada di tempat.


“Buang Buang waktuku saja. Mending Aku pulang ke kantor Istirahat”umpatnya meninggalkan Bar dan mengemudi mobil tampa tahu bahwa sebenarnya sekertaris pribadinya sedang menjalankan kewajibannya sebagai ummat Muslim setelah mencari cari Masjid terdekat.


“Alan.Riri mana?”tanya Bian heran saat melihat Alan pulang seorang diri.


“Bukan kah dia sudah kembali”ucapnya tak kalah heran.


“Enggak. Bukannya Riri pergi bersamamu. Barang barang Bahkan ponselnya di tinggal begitu saja”ucapnya sebab telah mengambil berkas di Ruangan Ceo dan menghadapi kenyataan yang nyatanya membuat Alan cemas tak terkira.


 “Sial”umpatnya berlalu meninggalkan Bian yang tak tahu apa apa.


Alan menempuh perjalanan dengan kecepatan penuh serta bunyi klason yang tiada henti membuat kendaraan lain memberi jalanan meski dengan berat hati. Di pikiran Alan hanya secepatnya sampai di tempat sekertaris pribadinya Dia tinggalkan.


“Cantik. Kenapa sendirian aja. Sini Abang temani”ucap seorang pengunjung laki laki membuat Riri tak nyaman.


“Jangan sok jual mahal Cantik. Bilang saja mau di bayar berapa?”ucapnya pengunjung yang lain berusaha menyentuh Riri tetapi terhalang oleh tangan seseorang.


“Jangan berani berani menyentuhnya jika masih mau tanganmu utuh”ucapnya penuh Ancaman membuat Riri yg berdiri di belakangnya mengenalinya.


“Bos..”ucapnya.


“Masuk ke mobil!”ucapnya dengan tatapan tajam membuat Riri menjadi penurut.


“Jangan sok jadi pahlawan. Cantik itu milik kita”ucapnya tak mau mengalah.


“Milik kalian. Dia istriku. Kalau tidak percayalah tanya dia”ucapnya menunjuk laki laki yang berdiri di depan pintu utama. Pengunjung mengikuti arah yang yang ditunjuk sementara Alan mengunakan kesempatan untuk menyusul wanita yang sudah duduk di samping kursi pengemudi.


“Dasar Ceroboh. Sudah aku peringatkan jangan membuatku repot”ucapnya masih jengkel.


“Terima kasih”jawabnya tulus membuat Alan memandangnya lebih tepatnya saling memandang.

__ADS_1


“Sial.Ini ujianku. Bukan ujiannya”umpatnya dalam hati.


__ADS_2