HATI ANAK RANTAU

HATI ANAK RANTAU
21. JALAN HIDUP MASING MASING


__ADS_3

“Ri. Siapa yang bilang?. Semua adalah takdir tidak ada hubungannya dengan Riri”ucapnya berjongkok di hadapan Riri.


“Riri yang salah. Kalau saja aku tidak menerima Lamaran Bang Hidayat pasti mereka tidak akan kecelakaan dan Umma dan Appa masih di sini bersama Riri”ucapnya dengan tangisan sembari menyembunyikan wajahnya di atas lutut.


“Ri…”ucapnya menyentuh pundak Bestie nya membuat Riri semakin menjadi jadi.


“Pergi pergi..Riri pembawa sial”ucapnya dalam amukan membuat Seseorang meninggalkan tempat persembunyiannya dengan wajah bahagia


“Ri..”ucapnya menenangkan Riri tetapi mendapat dorongan hingga mau tidak mau menyuntikkan obat penenang hingga perlahan Riri tak sadar diri.


“Maafkan Cika,Ri”ucapnya saat menopang tubuh Riri ke tempat tidur.


“Candi’ucapnya saat mendapati seseorang duduk santai sembari menikmati secangkir kopi.


“Kak. Ada apa?”tanyanya.


“Bagaimana dengan perusahaan Almarhum Kakak?”tanyanya membuat Candi tersinggung.


“Kenapa kakak mempertanyakan hal itu?. Selama ini Candi selalu mendampingi Almarhum Kak Candra dalam mengelola perusahaan. Kak percayalah, Candi bisa memimpin perusahan Ayubi”,jelasnya.


“Kakak sangat percaya padamu Candi tapi kakak takut kesehatanmu juga ikut terganggu karena padatnya pekerjaan apalagi tanpa sekertaris”jawabnya.


“Candi belum menemukan orang yabg tepat untuk menjadi Sekertaris ku”jelasnya membuat wanita yang baru menuruni tangga tersenyum punya arti.


“Aunty”ucapnya membuat semua memandang kearahnya.


“Nak Riri baik baik saja kan. Riri tidak melukaimu?”tanyanya cemas.


“Enggak Aunty. Cika baik baik saja”jawabnya ikut bergabung.


“Kak Candi sibuk iya. Baru kelihatan?” ucapnya sok akrab membuat Candi memendam jengkel.


“Candi memiliki tanggung jawab yang besar untuk mengelola perusahan Ayubi selama pewaris tunggalnya masih berduka”jawab Bibi membuat Candi tersinggung tapi hanya mampu memendam.


“Perusahan Ayubi..Perusahan Tambang terbesar di Kalimantan. Cika kenapa baru sadar Ayubi adalah nama terakhir Bestie mu”batinnya.


“Pewaris Tunggal. Bukankah Candi juga termasuk pewaris. Cika di balik duka ini hanya Dia yang mengalami keuntungan besar. Aku harus memulai darinya”lanjutnya membuat Candi tak mampu memendam rasa.


“Aku tahu aku Tampan. Tetapi tidak suka jadi pusat perhatian”ucapnya membuat Cika langsung sadar Diri.


“Aunty. Cika Resign dari tempat kerja. Apa Aunty ada kenalan yang mencari pekerja?”ucapnya menggali lobang perangkap membuat mangsa langsung ketangkap.


“Nak Cika lulus jurusan apa?”tanyanya.


“Manajemen Bisnis”jawabnya singkat membuat Bibi beralih memandang Candi.


“Candi. Bagaimana dengan Nak Cika?. Dia cocok menjadi sekertaris mu kakak yang jamin Nak Cika dapat dipercaya" ucapnya membuat Cika tersenyum dalam hati.


“Tapi Kak. Dia tidak punya pengalam apa apa dan bahkan baru bekerja selama tiga tahun sebagai marketing”jawabnya penuh pembelaan.

__ADS_1


“Perusahaan sebesar ILA mampu memberi kesempatan dengan Mahasiswa Magang yang tampa pengalaman apalagi perkenalan. Lalu mengapa tidak memberikan kesempatan kepada Nak Cika”jawabnya membuat Candi mengumpat dalam hati.


“Gadis Kanibal. Kamu ingin bermain main denganku enggak mungkin ada irang betul betul tulus di dunia ini.Kita lihat apa tujuan terselubung mu”batinnya membuat dua wanita masih menunggu kepastian.


“Baiklah aku beri kesempatan tiga bulan di mulai besok hari”jawabnya membuat Cika berbahagia.


“Terima kasih Aunty”jawabnya riang dan memeluk spontan wanita yang hanya tersenyum.


“Terima Kasih Pak Candi. InsyaAllah saya dapat menjadi rekan yang baik” jawabnya formal membuat Candi hanya melirik sembari menghabiskan kopi dingin.


Riri tersadar membuatnya kembali teringat dengan calon suami yang suada tiada. Air mata menetes tak terkira membuat dada mendapat serangan bertubi tubi.


“Mutiara Ririani Fatimah Ayubi maukah kamu menjadi pendamping hidupku”ucapnya kepada anak dari  teman SMA Ibunya.


“Maaf Bang Hidayat  Riri masih mau melanjutkan pendidikan”jawabnya.


“Ri bisa melanjutkan kuliah meski sudah menikah. Abang mendukungmu sepenuhnya”ucapnya.


“Bang.Riri mau fokus menyelesaikan pendidikan terlebih dahulu”jawabnya.


“Abang bisa menunggu sampai Riri selesai bahkan sampai siap”jawabnya untuk pertama dan kesekian kalinya.


“Abang..bukankah ingin menunggu Riri. Tapi nyatanya Abang pergi meninggalkan Riri sendiri. Abang jahat”ucapnya histeris dengan isak tangis.


“Hehehe.. Abang  tidak jahat Riri yang jahat membuat Abang menunggu hingga akhir hidup”tawanya dengan air mata mengalir.


“Alan. Bianca membuat keributan di bawah”ucapnya.


“Wanita yang gigih kukira empat bulan membuatnya menyerah tetapi masih saja berjuang”ucapnya yang terkesan membanggakan padahal tidak.


“Alan mau ke mana?”tanya saat melihat Alan berdiri dari kursi kebesarannya.


“Aku tidak mau Bianca membuat pekerja ILA terganggu dengan keras kepalanya”ucapnya langsung menuju tempat wanita yang marah marah pada petugas.


“Sayang..”teriak hendak berlari kearah Alan.


“Lepas..”bentaknya pada petugas yang menghalangi jalannya.


“Lepaskan Dia”ucapnya membuat petugas penjaga pintu utama melaksanakan perintah atasan.


“Dengarin. Aku akan memecat mu”tunjuknya dengan sombong membuat Bian tertawa.


“Kuntilanak tidak tahu diri”batinnya.


“Tidak ada yang berhak memecat tanpa sepengetahuanku. Dan kamu Bianca jaga sikapmu”ucapnya penuh penekanan dengan tatapan maut membuat Bianca mala tersenyum menggoda.


“Sayang. Jangan galak galak entar tampanmu nambah membuatku tergila gila” ucapnya mengikis jarak membuatnya menjadi bahan tontonan dan pembicaraan.


“Menjijikkan”ucapnya.

__ADS_1


“Sayang. Aku bisa merupa penampilanku seperti wanita kampungan”ucapnya membuat dua pasang mata melotot ke arahnya.


“Siapa yang kamu bilang kampungan?” tanyanya.


“Siapa lagi kalau bukan mantan Sekertaris Pribadimu”ucapnya.


“Jaga ucapanmu. Dia bukan seperti dirimu. Gila harta. Menjijikkan”ucapnya penuh amarah.


“Bianca kamu menggali lubang kuburanmu sendiri” batin Bian.


“Sayang. Mengapa marah..Aku bisa menjadi seperti Dia agar bisa kembali bersamamu” jawabnya hendak memeluk Alan.


“Berhenti. Jangan membahas dia lagi. Seret dia keluar dari kantorku”ucapnya penuh penekanan membuat Bianca mengambil keputusan.


“Aku bisa pergi sendiri. Dan ku pastikan Sayang kembali ke pelukan ku”jawabnya sebelum berlalu penuh percaya diri.


“Dasar wanita murahan”bisik bisik pegawai


“Bekerja atau dipecat”ucapnya penuh penekanan membuat semua kembali menjalankan tugas


“Alan..”ucapnya


“Bian aku ingin sendiri”ucapnya meninggalkan Bian yang melamun.


Untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di tempat favoritnya semenjak orang yang perna bersamanya pergi dari hari harinya


“Kini aku dan kamu berjalan masing masing dan kuharap kamu baik baik saja di sana”ucapnya entah pada siapa sembari menutup mata.


“Aku tidak sanggup hidup lagi”ucapnya histeris disaat seseorang tulus mendoakannya.


“Kamu harus bahagia Mutiara Ririani Fatimah Ayubi” batinnya dengan mata tertutup dihias air mata.


Menghapus air mata dan membuka secara perlahan dan melihat benda yang melingkar di pergelangan tangannya yang merupakan kado paling berkesan di tahun ini sebab berisi surat dari pemilik hatinya.


Assalamualaikum Bos.


Setelah melewati waktu bersama lebih banyak. Baru kusadari bahwa Cinta Bos tumbuh untuk Sekertaris Pribadi yang sudah memiliki Calon Imam. Semoga waktu bisa menghapus jejakku.


Masuk kerja dengan tepat waktu.


Makan sesuai jadwal


Beribadah tanpa henti.


Itulah harapan di balik Jam tangan.


Mutiara Ririani Fatimah Ayubi.


 

__ADS_1


__ADS_2