HATI ANAK RANTAU

HATI ANAK RANTAU
19. TERPURUK


__ADS_3

“Candi mau ke mana?”tanya Bibi.


“Candi ada keperluan. Titip Riri Kak”jawabnya setelah mendapatkan anggukan.


“Aunty Cika ke kamar mandi dulu”tanyanya mendapat jawaban yang sama


“Aku harus mencari pendonor darah”batinnya saat berlalu.


Ruang rawat kini di isi oleh dokter yang melakukan transfusi darah. Wajah pucat Riri terlihat jelas di mata orang yang selalu bersamanya selama ini.


“Aku memang membenci tetapi aku tidak akan membuatmu meninggal dengan mudah.


Kamu terlebih dahulu harus merasakan apa yang kurasakan selama ini. Penderitaan seorang diri”batinnya tanpa mempedulikan berapa banyak darahnya yang telah berpindah ke tubuh Riri.


“Cika sepertinya kamu salah paham ke padanya”batinnya yang ternyata mengikuti Candi diam diam.


Wajah yang tadinya pucat kini tak nampak pucat lagi bahkan matanya terbuka melihat orang terdekat menunggu kesadarannya


“Bee”ucapnya dengan suara masih lemas.


“Riri’jawabnya sembari menghampiri keponakannya.


“Bee. Riri tidak punya siapa siapa lagi. Umma Appa..”ucapnya menghasilkan pelukan.


“Riri masih punya Paman,Masih punya Kak Amel,Kak Aldi,Alya dan juga Bestie mu Cika”jawabnya membuat Cika memandang senyum Bibi dan Bestie nya sedangkan Candi tersenyum licik.


“Cika. Kamu harus meminta maaf kerena mencurigainya sebagai pelaku”batinnya.


“Permisi. Pasien harus di periksa kembali”ucap dokter membuat pelukan dan lamunan sirna.


“Silahkan Dok”jawab Cika membuat Dokter melakukan tugas


“Dok. Bagaimana keadaan keponakanku?” tanya Bibi setelah Dokter selesai memeriksa.


“Keadaan Pasien sudah membaik tetap tetap harus rawat inap sampai luka di pergelangannya di lepas perban dan memastikan jahitannya tidak menimbulkan efek samping”jelas Dokter


“Dok…”ucapnya hendak mengajukan protes


“Terima kasih Dok”ucap Candi memotong ucapan Riri.


“Nona. Masih banyak orang yang menginginkan hidup kembali. Jadi merasa beruntunglah kita yang masih hidup”ucapnya sebelum berlalu


“Riri membuat Bibi khawatir”ucapnya menghampiri keponakannya.


“Maaf Bibi”jawabnya kembali menunduk


“Candi,Bibi pulang dulu.Kalau ada apa kabari Kakak”ucapnya.


“InsyaAllah kak. Kakak harus pulang kasihan Alya. Ini kunci mobil Candi”ucapnya sembari menyodorkan kunci mobil.

__ADS_1


“Nak Cika mau pulang bersama Aunty?” tanyanya.


“Cika di sini saja nemenin Riri”jawabnya membuat Riri melihatnya


“Cika pulang saja.Aku janji tidak nekat lagi.Ada Paman yang menjagaku”jawabnya membuat Riri memperbaiki duduknya.


“Kemarin Riri juga janji tapi nyatanya ingkar. Cika tetap mau di sini  Aunty tidak takutkan pulang sendiri?”jawanya di akhiri tanyanya  membuat Bibi tersenyum dan berlalu dengan salam.


“Maaf”ucap Riri.


“Cika tidak mau memaafkanmu.Riri tahu betapa khawatirnya aku saat melihatmu di dapur.”ucapnya tak mampu memperjelas


“Jangan Riri pira pura tidur saat Cika masuk ke kamarmu?”tebaknya tepat sasaran.


“Maaf. Riri meninggalkan Kamar saat Cika masuk ke kamar mandi”jawabnya.


“Riri mengapa melakukan itu.Ingat Dosa Ri bahkan ketika matipun tidak akan mencium bau surga”ucapnya lagi membuat Candi menjadi penonton.


“Maaf. Riri tidak sanggup. Lebih baik menyusul mereka”jawabnya membuat Cika mengomel ngomel.


“Cika tahu.Riri menyayangi orang tuamu dan juga Bang Hidayat tapi tidak begitu caranya.. Doa yang mereka butuhkan…Riri aku tidak mau kehilangan bestie ku jadi..’


“Riri butuh istirahat.Jadi berhentilah mengomel”ucapnya membuat dua wanita terdiam.


Lampu menyinari Rumah Sakit  membuat Candi dan Cika bergantian menjaga dan melakukan kewajibannya sebagai Ummat Islam. Dokter dan Suster melakukan tugas mereka dengan baik bahkan makan yang di sediakan kini di telan paksa oleh Riri.


“Riri.Harus menghabisi makanannya setelah itu Istirahat”ucap Cika sembari menyuap Riri


“Nurut jangan membantah”ucapnya penuh penekanan


“Cika seperti Bos Alan”jawabnya spontan membuat Cika tertawa.


“itu tandanya kita jodoh. Cepat makan”ucapnya.


Makan telah habis meski dengan berat hati membuat Riri menutup mata mengistirahatkan tubuh dan juga hatinya.


“Dia sudah tidur”ucap seseorang mengejutkannya


“Uss..Pelan kan suaramu. Entar Riri bangun”jawabnya membuat Candi meletakkan nadi kotak di pangkuannya


“Terima kasih”ucapnya tidak mendapat respon.


“Paman..”ucapnya membuat Candi memandangnya.


“Sejak kapan aku menjadi Pamanmu” jawabnya


“Besok Aku harus balik ke Jakarta.Cuti kerjaku habis. Aku titip Riri pada Kak Candi”ucapnya setelah menghabisi makanan.


“Tanpa di suru aku pasti melakukannya.Kamu tenang saja”

__ADS_1


“Aku percaya sama kak Candi dan Cika berharap,Kakak tidak mengecewakanku terlebih lebih lebih mengecewakan Riri”ucapnya membuat Candi diam beberapa saat


“Jangan terlalu banyak cakap. Lebih baik kamu tidur”ucapnya.


“Aku sengaja memesan VIP agar kamu tidak di kursi”ucapnya sembari menutup Mata di kursi dekat Riri.


“Ternyata Paman Riri benar benar laki baik baik”batinnya saat membereskan bekas makanannya.


Koper kembali di seret dan melakukan perjalanan beberapa jam begitu pagi sampai tak berpamitan membuatnya di cari cari.


“Paman. Cika mana?”tanyanya saat baru membuka mata


“Balik ke Jakarta harus kerja”jawabnya.


“Kok tidak pamitan sana Riri”ucapnya sedih.


“Apa Riri percaya ada orang baru yang mau bersahabat dengan orang yang tidak menghargai dirinya sendiri”ucapnya membuat Riri terdiam.


“Nanti sore bisa kembali ke rumah.Aku sudah mengurusnya”ucapnya membuat Riri bahagia sesaat


Kaki kembali menginjakkan kaki di rumah duka yang masih ramai dengan Zikir dan doa. Riri hanya mampu terdiam dan melamun hingga tujuh hari ke matian orang tuanya telah berlalu. Rumah baru terasa sepi,sunyi dan penuh kenangan.


“Sayang,Juara satu Appa bangga padamu” ucapnya pada anak kecil berseragam penari.Air mata jatuh.


“Candi.Berhenti mengejar keponakanmu nanti kalian jatuh”teriak Ummi padanya yang berlari di tangga.Isak tangisan menjadi jadi


“Umma,Appa”teriaknya sembari melempar semua benda di sekitarnya membuat Bibi berlari menghampirinya.


“Ri.Istigfar sayang”ucapnya berusaha menenangkan tetapi mala mendapat dorongan.


“Bi.Tuhan tidak adil pada Riri. Mengambil semua yang kumiliki”teriaknya pada wanita yang ter jatuh ke lantai.


“Sayang. Masih ada Bibi bersamamu”ucapnya kembali mendekatkan diri


“Bibi sama Sepertu Cika yang meninggalkanku sendiri. Pergi pergi”teriaknya kembali melempar dan menangis sejadi jadinya membuat Bibi berlalu.


“Ibu.Kak Riri kenapa teriak teriak?”tanya anaknya.


“Nak..Kak Riri tidak bisa menemani Alya main jadi jangan ke kamar kak Riri”ucapnya menjelaskan.


“Kak Riri.Tidak mau berteman dengan Alya.ibu”ucapnya.


“Sayang main sama Ibu sama Ayah”jelasnya membuat senyuman kembali terbit tidak seperti Riri yang terpuruk.


“Aku rindu yang dulu.Tuhan tidak adil”teriaknya sembari melepas hijabnya.


“Ya Allah. Aku harus bagaimana?”tanya Bibi saat melihat semuanya melalui panselnya.


“Ini baru permulaan. Melihatmu menderita lebih menyenangkan daripada melihatmu menyusul ke dua orang tuamu, keponakanku” ucapnya tertawa jahat menyaksikan semuanya di kursi kebesaran di PT Ayubi Perkasa.

__ADS_1


 


__ADS_2