HATI ANAK RANTAU

HATI ANAK RANTAU
16. TAKUT KEHILANGAN


__ADS_3

Kebahagian kini beralih menjadi kesedihan sebab hari ini adalah hari perpisahan Riri dengan rekan kerjanya. Senyum, canda dan tawa yang kemarin tercipta kini berganti dengan air mata mengantar perpisahan bahkan Alan hanya mampu menyaksikan lewat ponselnya.


“Riri. Aku kira kamu pergi tanpa berpamitan”ucap seorang karyawan perempuan.


“Datang dengan cara yang baik maka wajib pulang dengan yang sama”ucapnya sembari merangkul sejenisnya.


“Kantor bakal hambar sebab kita tidak bisa cuci mata lagi”ucap seorang karyawan laki laki.


“Riri. Ucapkan terima kasih kepada semuanya termasuk Pak Bian dan Bestie ku Cika. Tanpa kalian tugasku di sini takkan terselesaikan. Dan maaf jika selama disini kita jarang menghabiskan waktu bareng bareng. I Love you All”ucapnya membuat isak tangis kembali terdengar.


“Sudah waktunya kembali bekerja”ucap Bian membuat semua mengusap air mata dan berlalu meski berulang kali menengok seakan tak ingin berpisah dengan Wanita yang kini berdiri di samping Bian dengan wajah senyum semu.


“Bian. Bos masih tidur?”tanya sebab tak melihat keberadaan atasannya.


“Jika kamu berani memasuki kamar utamanya lalu mengapa kamu ragu untuk memasuki kamar pribadinya. Setidaknya berpamitan lah sebelum kembali Ke Samarinda”ucap Bian berlalu membuat Riri bimbang namun tetap melangkah ke ruangan yang selam enam bulan Riri huni.


“Assalamu’alaikum”ucapnya berulang tiga kali tapi tak ada jawaban membuatnya memutuskan untuk membuka pintu.


“Bos”ucapnya ragu membuat Alan membuka mata tetapi masih dalam selimut.


“Bos. Maaf jika selama ini Riri sering membuat Bos marah dan selalu mengikuti kemanapun Bos pergi. Maaf. Terima kasih telah memperlakukanku dengan baik. Riri pamit. Jaga diri Bos baik baik”ucapnya membuat Air Mata Alan tak terbendung lagi.


“Pergilah dan berbahagialah bersama dengannya. Mutiara Ririani Fatimah Ayubi” ucapnya memandang pintu yang baru saja tertutup.


“Bos. Riri selalu mendoakan yang terbaik untukmu. Semoga Allah segera mempertemukan Bos dengan cinta sejatimu” batinnya melangkah meninggalkan ILA untuk selamanya.


Kamar yang biasanya selalu dipenuhi buku kini tak terisi walau hanya satu sebab kembali ke tempat semula.


“Riri. Aku akan merindukanmu”ucapnya memeluk erat.


“Kalau rindu entar Cika ke Samarinda bersama Bian”ucapnya Riri sembari melirik laki laki yang sedari tadi menyaksikan drama perpisahan sahabat.


“Cika bisa pergi sendiri”jawabnya membuat Riri tertawa.


“Jika kamu tidak mau bersama Bian. Ingat masih ada Pamanku”ucapnya membuat Cika kembali menangis dan memeluk Riri.


“Riri tidak bisakah kamu pindah ke sini bareng calon Imammu”ucapnya masih terisak.


“Cika. Jam terbang sebentar lagi tiba. Jika kamu rindu kita bisa sama sama mengunjungi Riri”ucapnya membuat pelukan berakhir.


“Cika tidak percayalah. Pak PHP. Yuk Riri kita berangkat”ucapnya langsung menarik Riri begitu saja.

__ADS_1


“Sabar Bian”batinnya sebab untuk pertama kalinya menyeret dua koper sekaligus.


 “Riri. Aku mau di belakang”ucapnya langsung di kursi penumpang.


 “Cika sepertinya dapat jadwal PMS”batinnya.


“Aku tunggu undanganmu”ucapnya sembari memberikan pelukan terakhir.


“Cika wajib datang”jawabnya membuat Cika tersenyum.


“Bian. Aku titip bestie ku”ucapnya.


“Pasti. Apa tidak sekalian titip Bosmu salah mantan Bosmu”


“Riri percaya padamu Bian. Riri pamit. Jaga diri kalian baik baik”ucapnya memasuki ruang.


“Jangan lupa hubungi aku jika sudah sampai” teriak Cika membuatnya menjadi pusat perhatiaan.


Maskapai telah merentangkan sayap di udara membuat Cika kembali terisak bahkan Bian hanya mampu menyodorkan tissue yang jumlahnya tak terhitung lagi bahkan mobilnya seperti tong sampah.


“Benar benar wanita itu ajaib sebentar tertawa sebentar lagi menangis”Batin Bian.


“Kak di mana?”tanya melalui jarak jauh


“Di Rumah”jawabnya.


“Di Rumah. Kak enggak antar Kak Riri pulang?”tanyanya membuat Alan hanya diam


“Astagfirullah Kak. Daddy dan Mommy mengizinkanmu tinggal karena meminta mengantar kepulangannya. Ternyata benar kata Bian . Kak lemah dalam urusan cinta”ucapnya membuat Alan mengakhiri panggilan secara sepihak


“Coba kalau bukan kakakku satu satunya sudah ku jadikan sate”umpatnya membuat orang tuanya heran


“Kakakmu buat ulah lagi”tanya Mommy


“Kak tidak mengantar kak Riri. Mala tinggal di rumah”


“Benar benar Anak Nakal tidak tahu memaafkan waktu”ucapnya sembari menghubungi Riri tapi berada diluar jangkauan.


“Mungkin kak Riri sudah berangkat. Rasanya aku ingin mempercepat waktu ke bulan depan untuk menjewer telinga kak Alan”jengkelnya.


“Biarkan Anak Bandel itu melakukan sesuka hati. Daddy tidak akan membatunya lagi”jawabnya membuat Mommy tidak sependapat.

__ADS_1


“Daddy kalau bukan kita yang membantunya siapa lagi”jawab Mommy.


Waktu telah berjalan begitu cepat undangan sudah tersebar di penjuru negara, halaman serta rumah sudah di dekor dengan indah  dan bahkan baju pengantin sudah terpajang dengan indah .Tinggal menunggu hari esok untuk menjadi hari bahagianya.


“Mulai besok Nak bisa memandang wslinya sepuasnya. Jadi tahan rindu Nak”ucap Ibu saat melihat anaknya senyum senyum sendiri sembari memandang Foto foto masa kuliah


"Ibu. Hidayat sudah menunggu hampir empat tahun jadi satu hari bukanlah hal yang berat”jawabnya dengan wajah yang berubah sendu.


“Terus apa yang Nak khawatirkan?tanya


“Hidayat hanya takut membuatnya menangis” ucapnya.


“Setiap Rumah tangga akan dihadapkan dalam kondisi suka maupun duka yang penting dukanya bukan karena mendua apalagi main tangan”jawabnya membuat raut wajah Hidayah makin sendu


“Hidayat takut meninggalkan sendiri dalam keadaan duka”jawabnya.


“Nak..Berdoalah semoga Allah meridhoi dan melancarkan urusan esok”


“Aamiin”ucapnya berjamaah.


Di kediaman Ayubi Riri duduk sembari di berikan nasehat berumah tangga oleh keluarganya bahkan Umma nya sampai tak mampu menahan Air mata.


“Sayang. Esok adalah hari pernikahanmu. Esok statusmu akan berubah menjadi seorang istri. Surgamu berada di suamimu..Ingat sayang tugas seorang istri bukan hanya tentang kebutuhan batin dan jasmani melainkan bagaimana seorang istri mampu menjaga Aib suami. Pakaian istri adalah pakai suami begitupun sebaliknya . Maka satu pakaian yang kotor pakaian yang lain akan ikut kotor”ucapnya penuh nasehat.


“Sayang Umma sangat menyayangimu” lanjutnya dengan isak tangis dalam pelukan anaknya.


“Sayang. Sebagai seorang laki laki kami bukan hanya mementingkan bagaimana rupanya melainkan bagaimana menghormati suami. Ketika bahagia menjadi pengingat untuk tetap bersyukur dan apabila duka menerpa menjadi pelajaran untuk sabar.. apabila masalah menerpa bicarakan baik baik terlebih dahulu. Appa,Umma dan paman sangat menyayangi mu tetapi kami tidak berhak ikut campur dalam masalah rumah tanggamu lagi sayang.”ucap Appa kemudian beralih memandang laki laki yang sedari tadi hanya menjadi penonton.


“Candi” panggilnya setelah Riri dan Umma berlalu membuat Candi tersadar dalam pikirannya


“Paman selalu ada untukmu Bee meski kelak Hidayat bersamau.Ingat paman akan selalu menyayangimu”ucapnya dengan serius


“Paman..Riri juga sangat menyayangi Paman.Terima kasih telah menjagaku selama ini”ucapnya beralih ke pelukan paman yang perlahan mengusap kepala yang tertutup kerudung.


“Candi..Riri adalah anak kami tetapi semua tahu sayang sangat dekat denganmu. Dari kecil hingga dewasa kamu selalu mendampinginya. Kakak hanya berharap Candi tetap menjadi pelindung Untuk Riri meski kakak tak lagi ada”


“Kak. Besok Riri akan menikah. Candi tidak bisa seperti dulu lagi kepadanya. Tugasku akan beralih ke suaminya”


“Kakak tahu..tetapi kita tidak tahu kedepannya seperti apa. Darah lebih kental dari pada air”


“Kak.Aku takut kehilangan”ucapnya dengan wajah tak mampu di tebak.

__ADS_1


__ADS_2