
“Alan. Dimana Dia?”tanyanya sembari menengok ke sana ke mari.
“Ngapain kamu Bian. Berisik banget. Ini rumah sakit”jawabnya dengan mata yang baru terkejut.
“Aku tahu Alan.. Tapi Dimana dia. Apa aku mimpi iya”,,ucapnya sembari memukul pelan pipinya yang ternyata sakit.
“ Emang kamu cari siapa?’tanyanya membuat Bian kembali menengok ke sana ke mari.
“Pada saat aku menikmati makan malam aku mendapat panggilan dari pemilik tempat kita tinggal”ucapnya penuh semangat.
“Alan. Aku sangat terkejut. Suaranya mirip banget..”lanjutnya berucap sembari memandang lekat Alan yang baru bersandar.
“Mirip suara Riri”ucapnya melanjutkan ucapan Bian yang tertunda.
“Benar banget. Aku enggak salah menebak kan..Terus Di mana dia?”ucapnya lagi sembari mencari mencari.
“Enggak perlu dicari. Orangnya udah pulang setelah menghubungimu”ucapnya membuat Bian terkejut sekaligus bahagia.
“Jadi beneran Pemilik kamar sebelah adalah Riri”ucapnya membuat Bian teringat penjelasan dua orang baru di sadari persamaannya.
“Astagfirullah. Bodoh banget aku. Kenapa aku enggak sadar saat Ibunya Alya mengatakan tentang kondisi keponakan”lanjutnya mengatai diri sendiri.
“Bian. Jadi selama ini Kamu tahu tentang kondisi Riri”ucapnya dengan nada tinggi membuat Bian terdiam.
“Jika kamu mengetahui semuanya mengapa enggak memberitahuku Bian”lanjutnya mulai dilanda emosi.
“Tenang Alan. Tenang”ucapnya menghampiri laki laki yang masih berpakaian pasien.
“Kamu menyuruh ku tenang Bian. Sedangkan kamu tahu sendiri. Riri enggak baik baik saja”ucapnya memberontak tetapi di cengkraman Bian melebihi tenaganya.
“Diam Alan. Kamu masih di rawat. Apa kamu ingin sakit terus dan tidak bisa berbuat apa apa untuknya”ucapnya dengan tegas membuat Alan terdiam.
“Alan perlu tahu Daddymu sengaja mengirim mu ke Samarinda untuk memperjuangan Cintamu yang belum kelar”lanjutnya menjelaskan setelah melepas cengkraman nya
“Jadi Daddy mengetahui semuanya”ucapnya seolah tidak percaya membuat Bian tersenyum simpul.
“Alan. Alan. Kamu kira Daddymu melarang dan memarahi mu karena tidak menyayangimu Kamu salah besar itu bukti dan cara Daddymu menyayangimu”jelasnya membuat Alan terdiam.
“Daddymu sengaja enggak memberitahu tentang keadaan Riri kepadamu. Karena belum tentu Riri memiliki perasaan sama sepertimu”ucapnya membuat Alan terdiam dalam kecemasan.
“Apalagi dengan kenangan pahit yang telah terjadi ke padanya. Alan harus lebih berusaha lagi untuk menjadikan Riri Milikmu. Jangan menyianyiakan Usaha Daddymu”lanjutnya berucap sebelum duduk mengistirahatkan tubuhnya yang tanpa mereka ketahui di balik pintu ada seseorang yang sedari tadi memperhatikan mereka.
“Apa. Alan menyukaiku. Itu enggak mungkin. Bian pasti salah”ucapnya pada diri sendiri dan benar benar beralih meninggalkan rumah sakit yang sedari awal direncanakan tetapi terhalang oleh rasa khawatir untuk meninggalkan mantan Boss nya seorang diri.
__ADS_1
Malam ini terasa panjang bagi Alan dan Riri yang di temani oleh pikiran tetang kenangan kenangan besama serta esok hubungan mereka akan menjadi seperti biasa.
Entah sepasang mana yang mulai terpejam menyusul Bian yang jelas pagi kembali tiba mengantar Bian menemani kepulangan Alan.
“Kamu benar benar anak bandel. Udah gede masih saja mau di ingatkan tentang makan. Kamu udah tahu tentang penyakitmu. Kenapa harus cari mati lagi”ucap Daddy lewat sambungan Video.
“Udah sayang. Alan masih sakit”ucap Mom membuat mulut Daddy komat kamit.
“Terima kasih Daddy”ucapnya lirih membuat semua terdiam dan melihat ke arahnya.
“Apa otaknya bergeser sampai mengucap kata langkah. Terima kasih”batinnya sembari melirik Bian yang hanya tersenyum.
“Alan udah tahu semuanya”ucapnya lagi membuat semua masih terdiam.
“Alan tidak akan mengecewakan kalian. Doakan aku bisa menjadikan Dia menjadi bagian dari Lana”lanjutnya membuat semua saling memandang satu sama lain.
“Daddy. Alan udah bertemu dengan Riri”ucapnya membuat semua tersenyum bahagia.
“Mom. Selalu mendoakan sayang”ucapnya penuh kelembutan.
“Daddy percaya padamu. Tetapi jika kali ini kamu gagal juga maka kamu harus pulang dan menerima perjodohan”ucapnya penuh ketegasan.
“Sayang. Kenapa begitu tegas ke pada Alan”ucap Mommy setelah panggilan berakhir.
“Mommy sayang Tenang saja. Elan yakin kali ini Kak Alan enggak bakalan gagal lagi”lanjutnya sembari memeluk dan mengecup pipi Mommy nya yang perlahan tersenyum.
Empat pasang mata memandang dua pemuda yang memasuki wilayah. Senyum terbit kecuali wanita seumurannya.
“Kak Riri.Temani Alya main”ucapnya membuyarkan lamunan.
“Ayo kak. Tangkap Alya”Ucapnya sembari berlari mengelilingi halaman kosong.
“Larinya jangan kencang kencang entar jatuh”teriaknya sembari mengejar.
“Hore. Kakak tak bisa tangkap Alya”ucapnya tertawa tanpa berhenti berlari.
“Tangkap”ucap seseorang sembari mendekap tubuh mungilnya membuat semua orang memandang ke arahnya.
“Kak Alan. Curang. Kakak tidak ikut main”ucapnya sembari merajuk membuat Alan memegang kedua telinganya.
“Baiklah Kak minta maaf. Kakak salah dan Alya pemenangnya”ucapnya dengan muka yang terlihat imut sampai membuat Riri tersenyum.
“Ya Allah terima kasih telah mengembalikan senyuman indahnya”batin Alan terpesona.
__ADS_1
“Apa mereka di takdirkan untuk membawah ke bahagian untuk Riri”Batin Ibu Alya.
Senyuman Riri menjadi obat paling mujarat bagi semua orang terutama Alan sehingga tubuhnya yang lemas berubah segar seketika. Saat kebahagian menghampiri Riri tetapi tidak dengan bestie nya yang sedang terbaring di ranjang dengan tangan dan kaki yang terikat.
“Candi. Lepaskan aku. Aku kamu sudah gila”teriaknya pada laki laki yang tertawa lebih lantang .
“Hahaha. Aku memang sudah gila karena penghianatan mu dan kamu harus bertanggung jawab”ucapnya sembari mengotak atik ponsel.
“Jangan macam macam kamu”teriaknya penuh ancaman dan pemberontakan membuat Candi berlari kepadanya.
“Diam. Atau aku akan membiarkan tubuhmu jatuh ke lantai”ucapnya sembari menurunkan dari gendongannya.
“Beraninya kamu menyentuhku”teriaknya dengan tatapan sadis
“Aku akan bertanggung jawab”ucapnya dengan senyuman.
“Ternyata orang tuanya bukan orang biasa”ucapnya saat melihat foto keluarga pada galerinya.
Dering ponsel mengejutkan seseorang yang sedang menjalankan tugas abdi negara. Wajah penuh karismatis berubah ganas saat menerima panggilan yang terpampang wajah yang bukan pasti anaknya.
“Kamu siapa. Di mana Anakku?”ucapnya penuh ketegasan.
“Aku Candi Ayubi. Calon menantu Papa”jawabnya dengan senyuman membuat Cika melotot dan Papanya berubah datar.
“Papa. Jangan dengarkan dia orang gila dan bukan laki laki normal”teriaknya membuat Papa melotot ke arah laki laki yang berada di layar ponselnya.
“Untuk mendapatkan Restu Calon Papa mertua apa perlu Candi membuktikan terlebih dahulu bahwa aku laki laki normal”ucapnya sembari melangka dan duduk di samping wanita yang terbaring.
“Jangan macam macam. Atau aku akan menjatuhkan hukuman mati padamu”,ucapnya penuh amarah.
“Calon Papa mertua. Suatu kehormatan bagi Candi bisa mati ditangan orang terpandang di dunia kepolisan. Sebagai ucapan terima kasih Candi akan memberikan Cucu”ucapnya sembari mendekat kearah Cika yang memberontak.
“Baiklah. Aku memberikanmu Restu untuk menikahi anakku Cika. Tetapi tolong jangan melakukan itu”ucapnya penuh permohonan setelah berusaha mereda emosi.
“Papa. Cika enggak mau. Dia Impoten”ucapnya membuat Candi semakin mendekat kearahnya.
“Candi. Stop. Lebih baik cari penghulu dan saksi setelah itu lepaskan Anakku”ucapnya membuat Candi penuh kemenangan.
“Terima Kasih Papa. Candi akan kembali menghubungi Papa jika sudah memenuhi persyaratan Assalamualaikum”lanjutnya berucap.
“Waalaikumussalam”jawabnya diakhir panggilan.
“Candi Ayubi. Paman Riri. Dia pada dasarnya laki laki baik”ucapnya pada diri sendiri.
__ADS_1