HATI ANAK RANTAU

HATI ANAK RANTAU
24. HARUS BANGKIT


__ADS_3

Cika mulai sekarang kamu bukan hanya Sekertaris ku melainkan partner hidupku juga” ucapnya membuat Cika terdiam membisu.


“Jangan salah paham.Partner dalam menghancurkan hidup Riri”lanjutnya tertawa terbahak bahak di ikuti Cika yang ikut tertawa.


“Benar benar Raja Iblis”batinnya yang tidak selaras dengan pembawaannya.


“Terima kasih Bos. Senang bekerja sama denganmu”ucapnya sembari menjulurkan tangan.


“Senang juga bekerja sama denganmu Sekertaris ku”jawabnya sembari menjabat tangan.


“Tapi ingat. Aku paling tak suka dengan penghianat”lanjutnya berbicara setelah melepaskan tangannya. membuat Cika tersenyum.


“Tenang saja selama visi misi kita sama maka Cika selalu di pihakmu”jawabnya masih tersenyum meski batinnya terus mengumpat.


“Sayangnya kita tidak setu Visi dan Misi. Jadi aku orang pertama yang akan menggagalkan rencanamu”batinnya sebelum kembali menjalankan tugas.


Malam kembali datang Riri semakin teringat dengan masa lalu yang membuat Air mata mengalir sangat deras.


“Umma,Appa. Kukira malam itu gelap tapi ternyata hidupku jauh lebih kegelapan tanpa kalian”ucapnya dengan mata sembab.


“Riri kemana otak berlian mu kamu sembunyikan sehingga masih hidup dalam keterpurukan”ucapnya dengan lantang membuat Riri memandang ke arahnya.


“Cika”ucapnya saat melihat siapa yang datang.


“Riri. Lihat dirimu kamu tidak lebih dari penghuni Rumah Sakit Jiwa”ucapnya membuat Riri memandang dirinya yang tak terurus sama sekali


“Riri harusnya kamu duduk di kursi kebesaran Ayubi bukan mala mengurung diri seperti ini”lanjutnya sembari memegang dagu sahabatnya yang kembali di hias air mata membuat Cika tak mampu tegar lagi.


“Riri.Kemana Riri yang pertama kulihat yang penuh senyuman. Hidup ini harus tetap berjalan meski sangat sangat menyesakkan” ucapnya dengan lembut sembari memeluk erat wanita yang mulai terisak.


“Riri tidak bisa Cika. Hidupku mati bersama mereka”jawabnya dengan isak yang semakin kencang.


“Ri. Lihat aku. Mataku tidak mampu terpejam dengan nyenyak tanpa melihat senyummu. Riri harus bangkit”ucapnya berusaha menguatkan tapi nyatanya air matanya mengalahkan Air mata Riri.


“Cika jangan menangis. Entar cantikmu hilang”ucapnya sembari mengusap Air mata sahabatnya.

__ADS_1


“Riri sudah kembali’ucapnya tertawa dengan Air mata masih mengalir.


“Teletabis”ucap seseorang tiba tiba membuat Riri dan Cika sungguh terkejut.


“Kak Candi. Bee”ucap Riri dan Cika bersamaan.


“Sejak kapan Kak Candi ada di sini?’tanyanya terkejut


“Sejak kamu menangis”jawabnya sembari melihat Cika yang berdiri dihadapannya.


“Cika jangan takut. Pamanku orang baik sangat baik”ucapnya membuat Cika berbalik melihatnya.


“Seandainya Riri tahu masihkah kata kata itu kamu ucapkan”batinnya berusaha tersenyum.


“Riri.Tenang saja sekarang kita berteman. Iya kan Kak Candra”ucapnya kembali memandang Candi dengan senyuman yang di balas senyuman pula.


“Sudah.Besok pelukannya bisa di lanjut lagi”ucapnya membuat Cika langsung mengerti arah pembicaraan.


“Riri. Sudah waktunya tidur.Jangan lanjut nangis lagi kalau masih mau melihatku besok”ucapnya membuat Riri mengangguk.


“Bee. Tidur dulu jangan lupa berdoa”,ucapnya lembut membuat Riri berbaring yang di selimuti oleh Candi.


“Terima Kasih Paman,Cika”jawabnya tersenyum hingga menutup mata.


“Alhamdulillah. Terima kasih Ya Allah Senyum indah itu kembali terbit setelah tiga bulan lebih terbenam”batinnya berjalan meninggalkan kamar.


“Kamu pantasnya menjadi seorang Artis”ucapnya membuat Cika otomatis memasang muka kedua.


“Kak Candi cocoknya jadi Aktor Korea. Romantis,perhatian,penuh kasih sayang tapi nyatanya…Luar biasa”jawabnya dengan senyuman.


“Terima kasih pujiannya. Cika tidak kalah hebat denganku. Pelukan penuh ketulusan, Air mata yang mengalir dengan deras tapi nyatanya gadis bermuka dua”ucapnya tidak mau kalah


“Terima Kasih partner hidupku. Cika butuh istirahat untuk kembali syuting esok hari”jawabnya melambaikan tangan meninggalkan Candi yang masih tersenyum


“Jika mencekik mu tidak berdosa maka aku akan melakukan sekuat kuatnya agar tidak ada lagi Raja Iblis di dunia ini”batinnya dengan senyuman yang berubah sinis.

__ADS_1


“Riri.Sahabatmu menjadi senjata pamungkas ku untuk memusnakanmu”batinnya tersenyum sampai ke dalam mimpi.


“Ri. Maafkan Abang meninggalkanmu. Maafkan Abang membuatmu menangis”ucapnya dengan wajah yang nampak berseri seri


“Abang tidak salah..Riri yang salah membuat Abang pergi untuk selamanya”Jawabnya sendu sembari mendekat ke pada Hidayat yang tamba tampan dengan seragam putih putihnya.


“Ri..Abang memaafkan mu jika mengikhlaskan Abang dan kembali tersenyum.Riri harus bangkit”ucapnya dengan tubuh yang perlahan berubah menjadi cahaya di langit.


“Abang”teriaknya sembari mengulurkan tangan tapi nyatanya tak melihat Hidayat melainkan kamarnya.


“Abang. Kenapa baru datang dalam mimpi Riri..Riri Rindu senyuman manismu”,ucapnya setelah menyadari semua hanya mimpi semata.


Riri tersenyum kemudian menangis sembari membekap mulutnya agar suara tangisan tidak terdengar padahal nyatanya seorang terbangun mendengar teriakannya yang saat ini berbahagia melihat Air mata Riri kembali berjatuhan.


“Riri. Maafkan Paman membuatmu menderita bukan hanya di dunia tetapi juga dalam mimpi”ucapnya tertawa menyaksikan semua lewat ponselnya.


Paman di mata Riri adalah laki laki terbaik setelah Almarhum Appa nya tetapi nyatanya dia adalah Raja Iblis yang membuatnya ter sesak entah dengan alasan apa sebenarnya sehingga tega kepada keponakannya tersendiri..Alasan itu adalah hal yang masih menjadi tanda tanya di hati Cika hingga kembali bersama dan berpura pura menjadi partner hidup dari dalang semuanya.


Riri menghapus Air mata dan melangkah memasuki kamar mandi dan membersihkan diri sekaligus mencuci otaknya yang sudah dipenuhi noda masa lalu.


“Ri.Berulang kali kamu ingin mengakhiri hidup tapi nyatanya kamu masih bernyawa hingga kini. Itu berarti Allah masih menginginkanmu hidup dan mengukir cerita baru di dunia ini”ucapnya seraya memejamkan mata.


“Ternyata menutup mata adalah terapi kesehatan jiwa. Pantas saja Bos selalu menutup mata di atap”batinnya saat merasakan kenyamanan tersendiri


“Bos adalah laki laki baik seperti Abang Hidayat..Beribadah bersembunyi sembunyi”lanjutnya membatin kemudian tersenyum mengingat Alan di masjid .


Riri baru mengakui semuanya saat Alan mulai terbiasa hidup tanpanya akankah Cinta menyatukan mereka ataukah ujian terus menjadi penghalang kebersamaan sepasang manusia yang terhalang jarak serta perempuan yang masih mengenang masa lalu.


Alan meraih berbagai penghargaan dari rekan bisnisnya sementara Riri memulai kembali hidup.


“Ri. Bos pasti sudah bahagia dengan Bianca tidak sepertimu yang kehilangan calon suamimu”,ucapnya dengan Air mata yang kembali mengalir yang seketika di hapus.


“Riri. Harus bangkit untuk orang orang yang menyayangimu”ucapnya berusaha memasang senyuman yang masih nampak kaku.


"Riri Bisa dan harus bisa demi Cika, Paman"lanjutnya menyemangati diri.

__ADS_1


 


 


__ADS_2