
Melodi dari Biola terdengar indah tapi nyatanya menyayat hati. Kenangan bersama kembali menghampiri membuat setitik air mata jatuh di pipih dan hidup jelas dilihat oleh Bian dan melodinya di dengar oleh pemilik kamar sebelah.
“Indah tapi sendu”ucapnya saat mendengar melodi dari seberang
“Stop Alan. Suara Biola mu melanggar aturan”ucapnya membuat melodi berhenti.
“Biasanya aku menenangkan diri dengan menikmati pemandangan dan sejuknya angin diketinggian”ucapnya.
“Dan memainkan biola untuk meluapkan emosi. Aku tahu itulah kamu. Tetapi bukankah kamu yang menyetujui persyaratan singga kita berada di sini”ucapnya penuh ketegasan membuat Alan menyimpan alat musiknya pada tempatnya.
“Sepertinya bukan hanya hatiku yang bukan milikku tetapi hak aku sebagai manusia sudah direbut secara tidak sadar”ucapnya dengan suara normal membuat pemilik kamar di sebelah langsung tersinggung.
“Usss. Jangan ribut..Entar kedengaran oleh pemilik kamar sebela”ucapnya setelah berada di samping Alan.
Bisu menciptakan sunyi membuat semua tenggelam dengan pikiran masing masing.Bian berpikir apa penyebab Alan frustasi sedangkan Alan berfikir mengapa hatinya masih miliknya sedangkan pemilik kamar sebelah berpikir apa esok masih seperti ini yang hanya mampu berpura pura bahagia tapi nyatanya saat sendiri luka tertumpah lewat Air mata.
“Alan. Kamu dengar tidak”bisiknya saat mendengar suara tangisan.
“Suara tangisan perempuan. Mungkin keponakan ibu kembali mengingat keluarganya yang telah tiada”ucapnya dengan suara renda.
“Diam. Tidur. Dia butuh waktu untuk meluapkan rasa”lanjutnya berucap kemudian menutup mata.
“Kasihan banget. Dari tangisannya jelas terdengar memikul beban yang sangat berat”ucapnya sebelum tertidur.
Pagi hari di nikmati Pemilik kamar sebela di balkon. Hembusan napas berulangkali terhempas membuat suasana hati lebih baik. Langka kaki meninggalkan tempat tepat saat balkon di seberang terdapat laki laki dengan wajah bantalnya.
“Introvet”ucapnya setelah melihat sekilas pemilik kamar sebela.
Bakso di sajikan dalam mangkok sembari menghubungi seseorang. Asapnya masih terlihat pertanda baru saja selesai di masak. Pintu di buka menghadirkan senyuman.
“Masya Allah.. Bakso kesukaan Bibi.Terima kasih sayang”ucapnya memeluk kemudian mengambilnya membuat senyum terbit.
“Bi. Riri bisa minta tolong?”tanya membuat Bibi meletakkan semangkok bakso.
“Minta tolong apa Nak?”ucapnya membuat Riri mengambil semangkok bakso lagi.
“Untuk Bibi lagi?”ucapnya heran.
“Riri minta tolong berikan ini untuk penghuni baru di kamar sebela”ucapnya membuat Bibi mengambil meski masih dilanda bingung.
Ketuk pintu terdengar membuat pemiliknya membuka sementara yang satunya mengguyur tubuhnya dalam kamar mandi.
“Ibu. Masuk bu”ucapnya mempersilahkan membuat Ibu hanya tersenyum.
“Terima kasih Nak suka bakso kan?”ucapnya membuat Bian memandang mangkok di tangan ibu
__ADS_1
“Suka bu.. Sangat suka. Ibu masuk dulu”ucapnya penuh semangat
“Ni. Bakso dari keponakan Ibu”ucapnya membuat Bian menerimanya.
“Lain kali ibu mampir takut anak ibu mencari ku”lanjutnya berucap.
“Terima Kasih Bu. Bian dan Alan titip ucapan terima kasih untuk keponakan Bibi. Tempatnya entar Bian kembalikan”ucapnya membuat senyuman menghias.
“Siapa?”tanyanya setelah keluar dari kamar mandi.
“Pakai baju dulu. Sebelum makan bakso gratis”teriaknya saat melihat Alan hanya memakai handuk.
“Seperti wanita saja”ucapnya tapi tetap memakai pakaian.
“Alhamdulillah. Mereka masih akrab seperti dulu”ucap pemilik kamar di sebela tanpa sadar tersenyum meski sekilas.
“Ambil mangkok dulu”ucapnya membuat Alan langsung balik arah lagi.
“Di sini aku bosnya”ucapnya sembari meletakkan satu mangkok di hadapan Bian.
“Iya . Alan bosnya. Ini aku kasih yang banyak”ucapnya sembari membagi bakso.
“Ternyata tahu diri juga”ucapnya langsung menyantap makanan
“Apa ini”ucapnya mengambil satu kertas dalam loyang.
“Itu kertas Alan. Gitu aja enggak tahu”ucapnya sebelum memfokuskan pandangan.
“Kertas. Jangan bilang surat cinta”ucapnya hendak merebut tapi gagal.
“Baksonya dari mana?”tanyanya sebelum tersenyum saat membaca suratnya membuat Bian penasaran dan mendekat tepat di samping Alan.
“Melodi indah tak menganggu jadi silahkan di mainkan”ucap Bian membaca isi suratnya.
“Ternyata Pemilik kamar sebelah baik juga”ucap Bian sebelum kembali duduk dan menyantap makanan
“Pemilik kamar sebela. Maksudnya Pemilik tempat ini”ucapnya tidak percaya.
“enggak usah terkejut begitu.. Memang dari pemilik kamar sebelah tetapi bibinya yang bawah.. Jadi di makan aja”ucapnya membuat Alan menyantap sembari senyum senyum sendiri
“Ternyata tidak anti sosial. Wanita romantis”batinnya.
Disisi lain tepat di perusahan Ayubi terdapat Atasan marah marah sebab menerima surat pengunduran dari sekertaris terbaiknya.
“Cika. Beraninya kamu mengundurkan diri tanpa menghadap langsung padaku. Aku tidak menerimanya”ucapnya penuh emosi sembari merobek dan membuang pada tempat sampah.
__ADS_1
“Sial. Enggak di angkat lagi”umpatnya saat panggilannya tidak terjawab.
Cika terburu buru kembali ke rumahnya berteriak teriak memanggil nama Cika tetapi tidak ada respon. Bahkan semua pekerja memasuki rumah utama mendengar teriakan Atasannya.
“Di mana Cika”ucapnya membuat semua menunduk penuh ketakutan.
“Tuan. Nona Cika menitipkan ini”ucap seorang pelayan wanita.
“Nona kalian Di mana. Jangan bilang kalian membiarkannya pergi”teriaknya membuat semua mematung kecuali pelayan wanita mengangguk dengan setia masih menunduk.
“Pergi sebelum Aku memecat kalian semua”teriaknya lagi membuat semua berhamburan seketika.
“’Assalamu’alaikum Boss. Saat menerima Surat ini itu berarti Cika sudah kembali ke tempat asalku. Sorry enggak berpamitan secara langsung sebab kutahu Boss enggak akan mengizinkanku pergi. Jaga diri baik baik dan jangan mencari ku. Baik baik dengan ke ponakanmu sebab Dia banyak berkorban untukmu tanpa kamu ketahui”ucapnya saat membaca sepucuk surat.
“Cika. Aku akan mencari mu sampai lubang semut sekalipun. Kamu harus menerima perjanjian kita dengan begitu Ayubi akan jadi milikku seutuhnya”ucapnya tanpa mengetahui kebenaran.
“Sorry Candi. Aku tidak jujur padamu”,ucapnya saat berada di sebuah ruangan sembari memandang bangunan bertingkat di hadapannya.
“Riri. Cika tidak akan pergi jauh darimu sebelum orang yang membuat Air matamu menetes mendapatkan ganjaran”lanjutnya berucap saat mengintai menggunakan teropong.
“Aku harus menyelinap masuk ke kamar Candi dan mengambil hak Riri”ucapnya.
“Enggak ada gunanya menjelaskan kebenaran pada Candi sebab mata dan hatinya dibutahkan oleh harta”lanjutnya berucap kemudian berlalu menghampiri ILA Samarinda.
“Cika”ucap seseorang mengejutkannya sampai barang di tangannya terjatuh.
“Bian”ucapnya wajahnya nampak setelah memungut barang yang terjatuh.
“Ternyata Allah begitu menyayangiku tanpa susah payah aku mencari mu kamu datang sendiri kepadaku”ucapnya sembari tersenyum.
“Ngapain kamu di sini”ucapnya penuh ketegasan.
“Santai Cika. Garangnya seperti Papanya saja. Apa kamu lupa ILA adalah perusahan Boss ku dan sekarang aku membantu menjaga perusahaannya”ucapnya.
“Jadi Daddy memindahkan kalian ke sini”ucapnya membuat Bian mengangguk.
“Selama ini Cika di mana aja. Susah banget di hubungi apalagi bertemu. Apa selama ini enggak perna bertemu dengan Riri. Harusnya sebagai Bestie. Cika selalu ada saat
Riri berduka”ucapnya membuat mimik wajahnya berubah pias.
“Bian sudah mengetahui semuanya”ucapnya menebak.
“Seharusnya menjadi hari bahagia malah menjadi hari duka. Apakah Riri bisa baik baik saja menerima dan melewati kenyataan pahit itu”ucapnya membuat Cika mempertimbangkan sesuatu.
“Apa aku harus memberi tahu Bian. Tetapi Riri enggak mau bertemu dengan siapapun” batinnya bimbang
__ADS_1