
“Dasar wanita ceroboh. Bagaimana kalau aku ngapa ngapain kamu”batinnya memandang Riri dengan hembusan napas teratur pertanda sudah masuk ke alam mimpi.
“Bangun”ucapnya dengan tegas dan keras.
“Maaf. Maaf. Aku ketiduran lagi”jawabnya terkejut sembari memperbaiki kerudungnya.
“Apa hobby kamu tidur. Coba kalau kamu bersama laki laki yang bukan Aku. Bisa bisa kamu disantap. Lain kali jangan tidur bersama laki laki lain”ucapnya jengkel sembari meninggalkan Riri yang masih mencoba mencerna ucapan atasannya.
“Apa kamu mau bermalam di sini. Cepat kembali bekerja!”ucapnya penuh perintah membuat Riri berlari ke arahnya.
“Kalian dari mana?”tanya Bian mengejutkan dua orang yang baru memasuki Ruangan kerjanya.
“Sialan kamu Bian. Bisa tidak kamu tidak mengejutkanku. Kalau aku kena serangan jantung bagaimana”jawabnya mengomel omel.
“Riri dari mana?”ucapnya mengabaikan jawaban Alan.
“Riri…”ucapnya hendak menjawab.
“Jangan menjawabnya. Dan kamu Bian mulai detik ini dilarang bertanya apapun kepada padanya”ucapnya hendak memasuki kamar pribadinya.
“Alan. Apa hakmu melarang ku bertanya pada Riri”ucapnya menyusul Alan tetapi terhalang oleh pintu yang sudah di tutup.
“Aku ada hak. Karena Aku Bos di sini” jawabnya dengan berteriak sembari membuka kancing bajunya.
“Bian. Tenang saja kami dari tempat yang aman. Percayalah padaku”ucapnya membuat Bian berbalik dan melihat wanita yang sedang duduk di meja kerjanya.
“Aku heran sama Alan. Tidak biasanya dia mau ditemani. Apa apa selalu di lakukan sendiri”ucapnya sembari menghampiri Riri.
“Bos juga manusia yang butuh orang lain” jawabnya membuat Bian makin mendekat.
“Aku tahu. Tetapi Alan berbeda. Paling suka menyendiri dan tidak suka di ganggu. Makanya selalu hilang enggak tahu di mana. Bahkan aku sekertaris nya sekaligus sahabatnya tidak tahu Alan ke mana” ucapnya membuat Riri berpikir ke arah lain.
“Apa Bian sering ke Bar bersama Bos?” tanyanya membuat Bian terkejut sekaligus heran.
“Mengapa kamu bertanya demikian. Riri kira kami laki laki apa?”tanyanya tidak terima pertanyaan..
“Biasanya Ceo dan sekertaris nya selalu mencari ketenangan dan kebahagiaan di tempat itu”jawabnya menjelaskan.
“Siapa yang bilang?”tanyanya tidak terima dengan mata yang melotot..
“Riri hanya bertanya dan berargumen, Bian”ucapnya.
“Aku dan Alan selalu diajarakan untuk tidak menyentuh tempat itu. Bisa bisa Mommy nya mengubur kami hidup hidup jika menginjakkan kaki di Bar”ucapnya
“Tapi…”jawabnya tak jadi mengungkap kebenaran.
“Tapi apa Riri?’tanya heran.
__ADS_1
“Apa Bos selama ini ke Bar tanpa sepengetahuan orang lain’Batinnya menebak nebak.
“Tidak. Tidak apa apa. Bian lebih baik kembali keruangan mu sebelum Bos marah marah lagi jika tahu Bian bertanya padaku” jawabnya hendak mengakhiri obrolan.
“Kamu siapa sampai berani berani memerintah Bian”ucapnya mengejutkan keduanya.
“Alan..”ucap Bian.
“Kamu belikan aku makanan tiga porsi. Tidak pake bertanya apalagi lama”ucapnya penuh perintah membuat Riri melaksanakan perintah.
“Bian. Kamu dilarang melihatnya lebih dari satu menit”lanjutnya berucap membuat Bian mengalihkan pandangan ke arahnya.
“Kamu sudah berlebihan Alan”ucapnya menghampiri Alan yang sedang terdiam.
“Jangan bilang kamu menyukai Riri?”tanya membuat Riri memandangnya dengan tatapan sulit diartikan
“Jika kamu tidak menyukainya maka aku akan berusaha mendapatkannya. Riri wanita..” ucapnya tersenyum membuat Alan panas dingin.
“Jangan perna berharap kamu mendapatkannya. Kamu harus berhadapan denganku”jawabnya mengibarkan bendera perang membuat Bian bersorak dalam hati.
“Dari kecil hingga sekarang kita selalu bersama jadi kamu tidak mungkin bisa menyembunyikan apa apa dariku. Mulutmu boleh berkata kasar padanya tapi hatimu sudah terpikat olehnya.Sejak kapan”ucapnya di lanjutkan pertanyaan membuat Alan tak mampu mengelak laki.
“Aku tidak tahu. Aku suka melihatnya cemberut, marah, terkejut. Aku suka semua yang ada padanya”ucapnya sembari memutar semua moment yang perna lakukan bersama.
“Segerakan lah. Waktumu kurang dari Enam Bulan”ucapnya sembari memukul mukul pelan pundak Alan sebagai tanda penyemangat.
“Kenapa kamu jadi tidak percaya diri. Dimana Alan yang ku kenal”
“Aku ragu karena pasti banyak laki laki yang mengharapkannya. Bisa jadi dia punya seseorang di hatinya”jawabnya pesimis.
“Sebelum saksi mengatakan SAH maka kamu masih ada waktu. CV nya masih tertulis belum menika”jawabnya.
“Aku..”jawabnya tergantung sebab ucapan berisi salam seseorang.
“Assalamu Alaikum”ucapnya membuat Bian ikut memandangnya kemudian mengalihkan pandangan ke sembarang arah.
“Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh” jawab Alan membuat Bian heran terlebih lebih Riri yang sampai mematung di tempat.
“Kamu mau berdiri terus sampai aku pingsan”ucapnya dengan menyilangkan kaki saat duduk di sofa panjang.
“Maaf Bos”ucapnya memberikan makan dan hendak berlalu.
“Kamu kira aku rakus sampai bisa menghabisi semuanya” ucapnya membuat Bian tersenyum sementara Riri dilanda kebingungan.
“Duduk dan makan bersama kami”ucapnya penuh perintah.
“Tapi Riri masih…”jawabnya.
__ADS_1
“Perintah tidak dapat di ganggu gugat” ucapnya penuh penekanan membuat Bian angkat bicara.
“Makan saja Riri. Jika tidak mau melihat Mag Bos kita kambuh lagi”ucapnya membuat Riri terpaksa mematuhi perintah.
“Maaf aku hanya beli Nasi Campur sebab tidak tahu kesukaan Bos” ucapnya.
“Makan jangan minta maaf terus. Entar nasimu menangis” ucapnya mulai menyantap makan sembari sekali kali melirik Riri yang makan dengan lahapnya.
“Katanya kenyang tetapi seperti orang yang baru dapat makanan”batinnya sembari senyum senyum sendiri.
“Ternyata cinta tidak mengenal waktu. Baru saja bekerja sama udah jatuh cinta. Semoga Riri tidak membuat Alan merasakan lagi pahitnya pata hati” batinnya.
“Alhamdulillah”ucapnya sembari menegakkan kepala dan tatapan kembali bertemu dengan laki laki di hadapannya.
“Kerja jangan terus memandangku”ucapnya mempertahankan wibawa.
“Terima kasih Bos untuk makanannya” jawabnya kembali ke meja kerjanya.
Notifikasi dari Abang Hidayat membuat Riri tersenyum dan hal itu tidak luput dari pantauan Atasannya yang bertanya tanya penyebab senyuman dan lebih lebih mengagumi dan menikmati senyuman yang sangat indah di matanya.
“Assalamu’alaikum Ri.Jangan lupa makan siang”perhatiannya dari kejauhan.
‘Waalaikumussalam, Alhamdulillah Riri sudah makan” balasnya membuat laki laki di seberang sana tersenyum.
“Alhamdulillah kalau Ri sudah Makan. Abang baru tunggu pesanan”lanjutnya lewat chat.
“Abang sendiri iya?”balasnya dengan tanya.
“Sendiri. Abang kan masih menunggu keputusan seseorang yang kelak selalu menemaniku”balasnya langsung mengena di hati Riri.
“Hehehe. Seseorang itu masih butuh waktu. Riri kira Abang bersama sekertaris”
“Sekertaris Abang lagi cuti”
“Setelah kembali. Seseorang itu ku harap memberikan keputusan sesuai heran ku” lanjutnya membalas membuat wajah Riri berubah sendu.
“InsyaAllah Abang. Jika Allah meridhoi Seseorang itu akan bersama Abang tetapi jika tidak Riri berharap Abang membuka hati untuk yang lain”balasnya.
“Abang berdoa mendapatkan Ridho Allah untuk bersamanya walau hanya sedetik”
“Pesanan Abang sudah datang. Lain kali dilanjut iya Ri.Wassalamu Alaikum”jawabnya mengakhiri percakapan membuat Riri melamun seketika.
“Aku menggaji mu untuk bekerja bukan melamun”ucapnya tiba tiba membuat Riri tersadar tetapi masih bertanya tanya pada dirinya sendiri.
“Riri. Bang Hidayat adalah laki laki setia, pekerja keras dan terpenting taat Agama. Apalagi yang kamu tunggu”batinnya dengan pandangan mengarah ke pada atasannya.
“Aku terlalu tampan sehingga Dia tidak bisa mengalihkan pandangan dariku. Alan pesonamu memang tidak terkalahkan” batinnya percaya diri sembari pura pura sibuk bekerja.
__ADS_1
“Ya Allah. Ridoilah mereka bersama” batinnya masih setia menjadi penonton di sofa panjang.