
Kamar sederhana yang dulunya hanya di penuhi buku yang tersusun rapi kini telah terganti dengan berbagai jenis barang dari orang orang yang merantau ke daerah yang sangat di hindari.
“Alan. Jawab pertanyaanku’ucapnya membuat Alan berbalik kearahnya.
“Pertanyaan yang mana?”ucapnya ikut mengajukan pertanyaan.
“Kenapa memili tempat seperti ini . Bukankah kita bisa tinggal di hotel atau di apartemen?”ucapnya.
“Enggak ada yang salah dengan tempat ini..Sederhana tapi nyaman”jawabnya.
“Tapi..”
“Bian. Aku hanya ingin merasakan bagaimana hidup menjadi orang biasa enggak diatur atur. Aku hanya ingin merasakan hidup normal”jelasnya membuat Bian mampu memahami maksud Alan.
“Alan. Apa kamu baik baik saja tinggal di kota ini?”ucapnya membuat hembusan nafas terdengar.
“Enggak ada alasan ku untuk tidak berbahagia jika dia sudah bahagia dengan pilihannya”
“Bagaimana kalau Dia enggak bahagia sama sekali?”tanyanya membuat raut wajah Alan berubah pias.
“Aku hanya berdoa semoga tidak ada lagi pertemuan diantara kita dengan begitu aku bisa berusaha hidup tanpanya. Hidup tanpa menganggu hidupnya”
“Bagaimana kalau Dia masih sendiri?”tanyanya lagi membuat Alan sejenak bisu.
“Jangan memberiku harapan jika nyatanya aku maupun kamu telah mendapat undangan pernikahan darinya”jawabnya.
“Alan..”ucapnya hendak menyampaikan kebenaran.
“Bian..Cukup.. Apa kamu lupa persyaratan yang harus kita penuhi selama tinggal di sini,”ucapnya memotong perkataan dengan mengalihkan pembahasan.
“Berhubung tempat ini punya keponakanku yang sekarang tinggal di kamar sebela jadi tante harap tak menciptakan keributan apalagi di waktu pagi hari karena keponakanku sangat tidak menyukai keributan”jelasnya.
“Keponakan ku baru saja kehilangan orang tuanya dan calon suaminya sehingga tidak mau diganggu dengan siapapun”lanjutnya menjelaskan membuat dua laki laki muda ikut merasakan luka.
“Ibu. Sampaikan ucap terima kasih kepada keponakan ibu karena telah mengizinkan kami tinggal di sini.. Alan juga termasuk orang yang menyukai ketenangan”jawabnya membuat ibu tersenyum.
Alan dan Bian berakhir memutar memori tanpa tahu siapa pemilik tempat yang ditempatinya saat ini.Kamar yang hanya terhalang tembok serta pagar besi di bagian loten membuat Alan dan Bian mampu melihat bagaimana kamar di sebelah tidak perna muncul pemiliknya.
__ADS_1
Matahari kembali menyinari dunia membuat Alan dan Bian berangkat ketempat kerja melewati kamar di sebelahnya tak perna ada suara apalagi wujud dari sang pemilik meski satu minggu telah berlalu.
“Alan. Aku penasaran dengan kamar sebelah. Apa benar ada penghuninya atau jangan jangan”ucapnya membuat Alan hanya geleng geleng kepala.
“Berarti Bian enggak percaya dengan Ibu”jawabnya.
“Emang Alan enggak penasaran..padahal aku perhatikan kamu selalu melirik ke kamar sebela”ucapnya membuat Alan mengalihkan pembicaraan.
“Sekarang waktunya kerja Bian. Apa mau gajimu aku potong”ucapnya penuh penekanan tapi tidak mampu mematahkan keberanian Bian.
“Kerja apa Alan. Bukan kah perusahaan ini beroperasi dengan baik dan sangat baik. Kita hanya perlu menjadi pengawas dan pemerintah..Apalagi karyawan nya semuanya bekerja dengan sangat baik. Paman seperti memberi kita libur”ucapnya sembari berbaring di sofa panjang.
“Jika kamu enggak ada kerjaan mending pergi cari calon tangan mu”ucapnya membuat Bian langsung terbangun.
“Iya aku sampai lupa kalau Cika juga berada di kota ini. Tapi kenapa setiap kali di hubungin nomornya enggak perna aktif. Apa mungkin Cika sudah ganti nomor”ucapnya membuat Alan meledeknya
“Baru ngakuin calon tunangan padahal selama di Jakarta cuek. Tapi sepertinya pura pura cuek”ucapnya sembari tersenyum.
“Cika emang wanita cerdas, baik tapi sayang aku enggak suka wanita yang pecicilan”jawabnya.
“Ayahnya sahabat ayahmu, juga Ayahku yang berarti kita punya tanggung jawab untuk menjaga anak sahabat dari orang tua kita”
“Terserah kamu aja..yang penting jangan menggangguku”ucapnya membuat Bian kembali berbaring tanpa lupa mengumpat.
“Tidak suka di ganggu..seperti pemilik kamar di sebela”ucapnya jelas Di dengar Alan tapi menghiraukannya begitu saja.
Kamar sebelah kini di ketuk oleh seseorang perna sangat berharga baginya..tiga kali ketukan tapi pemiliknya tidak kunjung membukakan pintu membuatnya berteriak.
“Riri . Please Bu. Cika mau bicara”teriaknya membuat Seseorang menghampirinya.
“Riri. Tak mau diganggu”ucapnya membuat Cika berbalik memandang pemilik suara.
“Aunty’ucapnya dengan wajah sendu.
“Aunty mohon..Jangan mengganggunya Cukup selama ini kalian melukainya”ucapnya membuat wajah sendu makin terlihat.
“Aunty”.
__ADS_1
“Aunty tidak mau melihatmu berada di sini lagi”ucapnya membuat Cika berpamit meski berat hati.
“Aunty Cika akan balik ke Jakarta. Cika minta maaf. Cika titip Riri”ucapnya sembari meraih tangan dan menciumnya.
Air mata Aunty menetes tidak sederas Air mata Riri di dalam kamar. Ingin sekali bertemu mantan sahabatnya tetapi tidak siap terluka lagi. Kekecewaan menghapus kenangan indah.
“Cika. Apa salahku sehingga engkau menghianati persahabatan kita. Apa aku bisa hidup sendiri di dunia ini”ucapnya sembari terisak.
“Riri. Kamu harus Bisa”ucapnya sembari menghapus menghapus air matanya.
Beranjak dan membuka pintu membuat dua wajah saling berhadapan. Raut wajah sendu masih terpampang membuat Aunty membuka obrolan.
“Nak”ucapnya.
“Bibi. Riri baik baik saja”ucapnya membuat Bibi berusaha tersenyum.
“Riri mau ke ILA Samarinda”ucapnya sembari berpamitan.
“Ya Allah. Semoga kebahagian kembali menyertainya"batinnya memandang kepergiannya.
Memasukkan berbagai macam makanan instan dan keranjang. Wajah yang dulu penuh senyuman kini terlihat datar tetapi masih saja membuat sepasang mata memandangnya tanpa berkedip. Pemilik sepasang mata itu tidak lain adalah pemiliknya yang sedang berkeliling melakukan pengawasan.
“Dia masih seperti dulu’batinnya terus melihat Riri.
“Ya Allah. Mengapa jantung ini masih berdetak kencang saat melihatnya”lanjutnya membatin tanpa menyadari kehadiran seseorang di sampingnya yang menatapnya dengan bingung.
“Alan..Lihat sampai segitunya”ucapnya sembari mengikuti arah pandangan Alan yang hanya nampak punggung wanita berpakaian syar’i.
“Lihat konsumen. Kembali keruangan”ucapnya berlalu begitu saja.
“Alan pasti ke ingat Riri”batinnya.
“Ya Allah sekeras apa aku ingin mengikhlaskan nya tetap hati ini masih miliknya”ucapnya ikut membatin.
“Alan. Sadarlah. Kamu tidak seharusnya mencintai istri orang lain”lanjutnya berusaha tegarkan hati .
Saat masa lalu datang dengan rasa masih sama akankah memiliki kesempatan yang sama untuk kembali bersama ataukah berjalan masing masing tanpa bertemu apalagi bersama kembali. Aku berharap mereka dipertemukan dan disatukan. Itulah harapan Bian yang hanya mampu di utarakan dalam hati.
__ADS_1