HATI ANAK RANTAU

HATI ANAK RANTAU
6. TERPESONA


__ADS_3

“Riri. Bangun. Uda malam”ucap Bian membangunkan wanita yang sedang tidur sembari duduk.


“Astagfirullah Al Azim”ucapnya terkejut melihat jam menunjukkan malam telah tiba.


“Maaf.Riri ketiduran”lanjutnya berucap kemudian fokus melihat atasan yang masih terbaring tak berdaya.


“Jangan khawatir. Alan sangat Hobby tidur. Saat sehat pun mampu tidur satu hari Full apalagi saat kurang sehat”ucapnya membuat sedikit kekhawatiran berkurang di hati Riri.


“Riri Pulang saja dulu. Istirahat. Besok harus masuk kerja lagi. Jangan sampai terlambat”ucap Bian.


“Tidak apa apa Bian tinggal sendiri menjaganya?”tanyanya sembari melihat Alan secara sekilat.


"Enggak apa apa. Entar juga Alan siuman. Riri pulang aja dulu. Apa perlu aku antar?”ucapnya menawarkan.


“Terima kasih. Tak usah Bian. Aku bisa pulang naik Grab”jawabnya.


“Aku pulang dulu. Assalamu’alaikum”lanjutnya berpamitan.


“Waalaikumussalam”jawabnya.


Riri menyusuri gedung yang mulai tampak sepi yang hanya satu satu orang yang masih bergelut dengan pekerjaan demi menjalankan tugas dan mendapatkan tambahkan penghasilan dari bonus lembur. Saat Riri baru membuka Aplikasi Grab tepat di depan perusahan di mana seseorang memanggil namanya.


"Riri”teriaknya sembari menghampirinya.


“Cika”ucapnya terkejut.


"Cika kenapa belum pulang. Lembur iya?.” lanjutnya bertanya.


“Aku tidak lembur”jawabnya membuat Riri heran.


“Jika tidak lembur terus Kenapa Cika masih di sini?.”tanya membuatnya mendapat pukulan gemes.


“Nungguin Riri lah.Takut enggak tahu jalan pulang. Baru baru di sini nanti kesasar kalau pulang sendiri”jawabnya menjelaskan membuat Riri tersenyum penuh syukur.


“Enggak usah senyum terus entar aku Naksir. Yuk pulang”lanjutnya berucap.


“Terima Kasih”Teriak Riri saat kendaraan sudah beroperasi membuat yang di bonceng tersenyum sembari berkata santai.


Malam Kembali datang sebagian besar penduduk dunia beristirahat tapi tidak dengan Bian yang mendengarkan ocehan Alan yang baru tersadar tepat setelah Riri meninggalkan ruangan.


“Bian. Enak banget kamu masukin  sembarang cewek di Ruanganku. Sudah tahu aku paling enggak suka ada orang lain mengingatkan kaki di Ruanganku”ucapnya marah marah tetapi Bian menanggapinya dengan santai.


“Namanya Riri. Dia bukan orang lain melainkan Sekertaris Pribadimu”jawabnya menambah amarah.


“Sekertaris Pribadi. Kamu jangan bercanda Bian. Aku Suda punya Kamu sebagai sekertaris ku. Ngapain Aku tambah sekertaris lagi. Tambah repot saja”omelnya


“Kamu emang enggak Namba sekertaris tetapi Daddy mu langsung yang meminta Riri menjadi sekertaris Pribadimu”jawabnya tak mampu di tebak oleh Alan sehingga membuatnya terkejut.


“Daddy. Untuk apa. Apa satu sekertaris tidak cukup. Di tambah satu perempuan lagi. Kenapa kamu setuju setuju saja”ucapnya menyalahkan orang lain.

__ADS_1


“Aku hanya menjalankan perintah. Kalau merasa keberatan silahkan langsung protes pada Daddy mu”jawabnya sembari memperbaiki posisi tidurnya.


“Bian.Enggak seru kamu. Kamu sekertaris ku harusnya menuruti perintahku bukan perintah Daddy”ucapnya memandang lekat laki-laki yang berbaring di sisinya,


“Aku memang sekertaris mu Alan. Tetapi hanya Daddy mu yang mampu memecat ku. Jadi aku harus cari Aman”jelasnya dengan mata tertutup.


“Bian. Awas kamu. Liat saja Aku buat dia megundurkandiri.Belum apa apa sudah berani memukulku pakai kanebo lagi. Dia kira aku debu apa.”ucapnya  penuh dendam.


“Dia punya nama. Riri. Mutiara Ririani Fatimah Ayubi.Kamu harus mengingatnya”jawabnya saat masih setengah sadar.


“Bian. Aku enggak peduli tentang namanya. Yang jelas Dia harus berhenti jadi sekertaris ku. Pokoknya kamu harus membantuku.”ucapnya penuh penekanan tapi tidak mendapat balasan.


“Bian.Biaaan..”ucapnya tambah jengkel sembari memastikan keadaan Bian yang ternyata sudah masuk ke alam mimpi.


“Dasar sekertaris tidak tahu diri. Bosnya Bicara mala enak enakan tidur”lanjutnya berucap kemudian membenamkan tubuhnya pada selimut dan menuju mimpi juga.


Semua pasang mata memandang kagum pada sosok baru yang menjadi bagian dari tempat kerjanya.Ternyata pagi telah tiba hingga Riri kembali menjadi pusat perhatian hanya senyuman yang mampu Dia lontarkan tanpa tahu seseorang menunggunya untuk melenyapkannya termasuk senyumannya.


“Assalamu’alaikum Riri”ucapnya saat Lift lantai teratas terbuka.


“Astagfirullah Al Azim. Pak Bian”jawabnya terkejut.


“Emangnya Aku setan sampai harus istigfar.harusnya jawab salam”ucapnya menyadarkan Riri.


“Waalaikumussalam. Maaf Pak.Riri sangat terkejut dengan kedatangan bapak yang tiba tiba”jawabnya membuat Bian tersenyum.


“Santai saja. Aku sudah sedari tadi menunggumu”ucapnya yang terkesan rayuan.


“Aku menunggumu atas perintah Ceo untuk menyampaikan bahwa Ceo menunggu Riri di ruangannya”ucapnya membuat Riri tambah heran.


“Ceo..Apa mau menghukum ku karena memukulnya kemarin”lanjutnya membatin.


“Riri. Kenapa melamun.Cepat sebelum Ceo tambah mengamuk”ucapnya kemudian berlalu di susul Riri dengan detak jantung yang tidak menentu.


“Riri. Kamu salah jadi wajib menanggung resiko”batinnya menguatkan diri.


Pintu di buka oleh Bian menampakkan seseorang duduk di kursi kebesarannya sembari membelakangi pintu membuat Rambutnya hanya terlihat. Jantung Riri seakan mau copot dari tempatnya  begitupun dengan laki-laki yang menampakkan wujudnya dengan sempurna namun lebih terpesona dengan wujud yang berada di samping Bian.


“Alan”ucap Bian memanggilnya tapi masih saja diam membisu.


 “Alan”lanjutnya memanggil tetapi yang dipanggil ternyata memandang lekat Riri yang saat ini menundukkan wajah.


“Alan”panggilnya lagi sembari menyentuh pundaknya membuat Alan tersadar.


“Bian. Kamu mau membuatku tuli”ucapnya marah sakin terkejutnya.


“Emang kamu sudah tuli karena terpesona”umpat Bian dalam hati.


“Apa di lantai ada emas sampai kamu tidak berhenti menatapnya”ucapnya mengandung sindiran membuat Riri menegakkan wajah hingga mata sempat beradu hingga Riri melihat kearah Bian yang hanya tersenyum.

__ADS_1


“Dia mau ngapain”Batin Riri menyadari langkah sang atasan menuju ke arahnya.


“Kenapa Dia terus memandangku apa dia ingin menelanku hidup hidup”lanjutnya membatin dalam wajah kembali menunduk.


“Siapa nama kamu?.tanya saat berusaha mengatur perasaannya yang tidak tahu arah.


“Mutiara Ririani Fatimah Ayubi. Biasa dipanggil Riri”jawabnya berusaha menenggakan wajah dan memandang laki-laki di hadapannya.


“Siapa yang menyuruhmu melihatku”ucapnya membuat Riri kembali menunduk sementara Bian hanya senyum senyum tidak jelas.


“Apa sebenarnya maunya, Menunduk tidak boleh,memandangnya pun tidak boleh”umpatnya dalam hati.


“Jangan mengumpat ku dalam hati”ucapnya membuat Riri kembali membatin.


“Apa semua Ceo punya kemampuan mendengar kata hati”


“Kamu tahu apa salahmu?”tanyanya dengan tangan terlipat di depan dada.


“Maaf. Pak. Aku salah memukul dan menuduh Bapak pencuri”jawabnya masih dengan kondisi menunduk.


“Apa hanya itu kesalahanmu?” tanya lagi membuat Riri hanya mampu mengangguk.


“Kamu perlu tahu salahmu bukan hanya memukulku menggunakan Kanebo,menuduhku pencuri. Tetapi kesalahanmu masih banyak salah satunya.Menjawab menggunakan Anggukan.berpicara tanpa melihat orangnya dan memanggil Aku bapak padahal aku tidak perna nika sama Ibumu”jelasnya membuat Riri lagi lagi mengumpat dalam hati.


“Selain Bandel ternyata dia tidak punya pendirian”


“Bian. Kamu beruntung banget pagi ini langsung disuguhkan dengan yang manis manis. Semoga terus berlanjut”ucap Bian ikut membatin.


“Apa Kamu tidak punya kuping dan tidak tahu fungsinya mulut”ucapnya penuh penekanan membuat Riri memberanikan Diri memandang sang atasan.


“Maaf. Aku harus Memanggil Anda dengan sebutan Apa?”tanyanya membuat Alan salah tingkah sendiri sampai Bian terkekeh dan mendapat lirikan hingga terdiam.


“Terserah yang penting bukan Bapak. Aku masih muda”ucapnya kembali ke singgasananya.


“Aku harus memanggilnya Apa?”tanyanya pada diri sendiri.


“Silahkan Ke meja kerjamu dan pikirkan panggilan yang cocok untukku. Jangan sampai Buat kesalahan lagi”Ucapnya penuh penekanan padahal nyatanya deg degan.


“Katanya mau membuat Riri mengundurkan diri tapi mala mempersilahkan ke meja kerja. Dasar Alan”Batin Bian.


“Ngapain masih berdiri. Sana pergi.Kerja”ucapnya sembari menunjuk meja yang berada satu ruangan dengannya.


“Subhanallah.Satu Ruangan dengannya”batinnya setelah menunduk hormat.


“Kita Akan lihat berapa lama kamu bertahan. Mutiara Ririani Fatimah Ayubi”batinnya sembari memandang dengan senyuman yang tak henti.


“Apa kemarin kamu Enggak melihatnya.Jangan terus melihatnya nanti tambah terpesona”Bisik Bian kepada Alan yang melayangkan tatapan sadisnya.


“Kalau dilihat lihat Ternyata Dia jauh lebih cantik dari yang Daddy Ceritakan. Apalagi  pada saat serius.Kerudungnya ternyata enggak mengurangi kecantikannya”Batin Alan sembari tersenyum.

__ADS_1


“Sok galak tapi nyatanya terpesona juga”Ucap Bian membuat nya menjadi pusat perhatian.


__ADS_2