
“Sakit hati. Apa karena Bianca”batinnya menduga duga sendiri.
“Aku baru tahu Nona Elan”jawabnya.
“Aku kira kamu mengetahui semua tentang Kakakku sebab hanya kamu yang mampu bersama dan merubahnya”jelasnya.
“Aku kurang memahami maksud Nona Elan”jawabnya,
“Sebelum kamu datang kakakku selalu menghilang entah kemana dan tidak perna ke kantor tepat waktu tapi semenjak lima bulan terakhir. Aku kira kamu lebih mengetahuinya” jelasnya membuat Riri bertanya tanya maksud dari Adik Bosnya.
“Rumah Lana selalu terbuka untukmu” ucapnya berlalu begitu saja membuat riri hanya memandang kepergiannya.
“Jangan Pikirkan perkataan Elan. Aku titip kantor padamu” ucapnya sebelum menyusul wanita yang berjalan mendahuluinya.
“Elan. Apa maksud kamu mengatakan hal itu kepada Riri?”tanyanya sewot.
“Aku rasa enggak perlu menjelaskannya sebab Bian tahu maksudku”jawabnya.
“Elan. Kamu tambah memperkeruh suasana Perlu kamu tahu Riri sudah punya calon” jelasnya membuat Elan memandangnya kemudian tersenyum.
“Baru calon. Masih ada kesempatan untuk berjuang”jawabnya saat Lift telah beroperasi.
“Tapi Riri tidak tahu apa apa. Tidak seharusnya kita menyeretnya dalam urusan perasaan Alan apalagi sebentar lagi tugasnya akan selesai di sini. Jangan Egois Elan hanya memikirkan Kakakmu dan mengorbankan Orang lain”jelasnya.
“Selama ini aku tidak perna melakukan apa apa untuk Kak Alan jadi biarkan kali ini aku membantunya. Setidaknya kelak tidak menyesal sebab enggak mengungkapkan rasa” jelasnya.
“Elan. Alan bukan laki laki pemberani kalau soal urusan cinta malah jadi laki laki paling lemah” jawabnya.
“Aku hanya tidak ingin melihatnya terus mengurung diri lagian belum tentu Riri memenuhi undanganku”jelasnya,
Minggu telah telah datang tiga kali pertanda pekan ini adalah pekan terakhir Riri di ibu kota dan menjadi bagian ILA. Tak perna bertemu kembali setelah kejadian itu membuat Riri beralih pekerjaan menjadi kaki tangan Bian yang mengerjakan semua tugas Alan selam tiga pekan ini. Lalu bagaimana dengan Alan?.
“Kak. Sampai kapan kamu seperti ini?”tanya sebab melihat Kakaknya dengan tubuh tak terurus.
“Aku tidak mau melihatnya lagi”jawabnya.
“Kak Riri enggak salah apa apa atas sakit hati kakak. Bukankah selama ini Kakak tidak perna menyatakan rasa kepadanya”jelasnya membuat Alan mengacak acak rambutnya sehingga tambah berantakan.
“Elan. Kakak mau sendiri, Tolong keluarlah!” ucapnya kembali menarik selimutnya menutupi wajah yang sudah di basahi setitik Air Mata.
“Apa aku harus memecat kak Riri”batinnya sebelum berlalu.
“Alan. Dia sudah punya calon lupakan dia dan jangan terus mengingatnya”Ucapnya sebab setiap kali menutup mata Riri selalu hadir.Padahal kenyataanya Riri tidak perna menghubungi apalagi mendatanginya sebab memili fokus menyelesaikan magangnya.
“Bian. Apa Bos Alan masih tidak baik baik saja?” tanyanya.
__ADS_1
“Alan tidak perna mau bertemu denganku meski aku kerumahnya. Kata Elan. Alan mau sendiri dan tidak mau di ganggu oleh siapapun, bahkan oleh keluarganya.
“Terus bagaimana dengan Dokumen ini yang tidak bisa di wakili. Harus Bos yang menanda tangani langsung”ucapnya masih setia memegang beberapa lembar kertas dalam map.
“Aku pusing Riri. Dokumennya penting banget lagi bisa jadi perusahaan harus membayar denda kerja sama yang jumlahnya bisa sampai miliyaran”ucapnya.
“Bian.Bisa antar Riri ke rumahnya Bos?”tanya membuat bola mata Bian membulat sempurna.
“Untuk apa Riri?”tanyanya.
“Untuk meminta tanda tangan Bos”jelasnya membuat Bian berpikir sejenak.
“Mungkin aku harus meneruskan perjuangan Elan. Setidaknya mereka bertemu sebelum berpisah untuk selamanya. Riri bukanlah wanita seperti Bianca yang matre dan mementingkan diri sendiri”batinnya membuat keputusan.
“Baiklah. Tapi jika Alan tidak mau bertemu maka kita harus kembali ke kantor”ucapnya membuat Riri menyetujui.
Bian dan Riri meninggalkan perusahan tanpa sadar ada yang mengawasi dan bahkan memotretnya secara diam diam. Perintah untuk memantau objek dilaksanakan dengan hati hati sampai mobilnya mengikuti secara pelan pelan hingga sampai ditempat tujuan.
“Penjaganya sangat banyak dan ketak” ucapnya membuat laporan.
“Aku tidak mau tahu kamu harus terus memantau dan menyetor laporan”ucap laki laki bertopeng.
“Siap Bos”ucapnya sembari memutar kembali mobilnya dan mengamati setiap sudut. CCTV di mana mana membuatnya mengeluarkan sebuah unit laptop dan bertempur.
“Bikin repot saja. Rasanya aku ingin melenyapkan mu detik ini juga”umpatnya menyelinap masuk melalui pintu belakang di saat semua pada sibuk urusan CCTV.
“Riri”ucap Elan terkejut dengan kedatangan orang sejak lama di tunggu.
“Bian. Ada apa kamu bersama Riri kemari?” tanyanya membuat Bian diam dan melirik Elan.
“Maaf Pak. Ada dokumen kerja sama yang membutuhkan tanda tangan Bos Alan”jawab Riri.
“Daddy. Biarkan Dia menemui kakak Alan”ucapnya membuat kedua orang tuanya heran.
“Nak. Kakakmu tidak mau ditemui siapapun”ucap Mommy membuat Daddy mengangguk memberi Isyarat.
“Elan antar Riri ke kamar kakakmu”ucap Daddy.
“Ikut aku”ucapnya.
“Terima kasih Nona Elan”jawabnya menuju lantai paling atas.
“Kamu masuk sendiri”ucapnya setelah keluar dari Lift dan menunjuk ruangan paling sudut.
“Masuk saja. Kamarnya tidak perna terkunci”lanjutnya berucap sebab melihat Riri hanya diam sembari melihat ke arahnya.
__ADS_1
“Tapi tidak baik seorang perempuan memasuki kamar laki laki bujang”jawabnya membuat Elan tersenyum.
“Rumah Ini di penuh CCTV jadi kamu jangan macam macam”ucapnya meninggalkan Riri seorang diri.
“Assalamu Alaikum”ucapnya beri salam membuat Alan mala menutup telinga.
“Masuk saja Riri. Kamu sudah mendapat izin”batinnya mendorong pintu.
“Elan. Jangan ganggu kakak”ucapnya masih setia pada selimutnya.
“Maaf. Saya Riri Bos”ucapnya membuat Alan langsung terbangun.
“Lancang banget kamu masuk kamarku”ucapnya berdiri dan menghampiri Riri secara perlahan dan hal itu tidak luput dari pantauan seseorang.
“Bos”ucap Riri sembari mundur perlahan sebab Alan terus mendekat ke arahnya.
“Kamu tahu apa yang terjadi jika perempuan memasuki kamar laki laki”ucapnya hingga sampai tubuh Riri sampai di tembok.
“Itu sama saja kamu menyerahkan diri ke mulut harimau”ucapnya sangat dekat sampai hembusan nafasnya terasa oleh Riri dan hal itu dijadikan kesempatan oleh mata mata dari laki laki bertopeng sebelum berlalu.
“ Bos..”ucapnya sembari lewat dibawah tangan Alan yang ditopang ke tembok.
“ Bos. Aku datang untuk mengantar dokumen ini”ucapnya sembari memperlihatkan kertas di tangannya.
“Kalau aku tidak mau. Kamu bisa apa?” tanyanya kembali menatap ganas Riri.
“Bos harus mau karena ini untuk kepentingan perusahaan”jawabnya membuat Alan kembali menghampirinya sembari tersenyum.
“Bos mau apa?”tanyanya mundur hingga sampai duduk di tempat tidur.
“Bos jangan macam macam. Riri sudah punya calon”ucapnya membuat senyuman Alan pudar.
“Keluar”ucapnya setelah menandatangi kertas tersebut, Riri pun langsung lari begitu saja.
Notifikasi di terima seseorang membuatnya tak percaya bahkan semua orang yang melihatnya tidak bisa mempercayai bahwa wanita yang sebentar lagi menjadi istrinya berada di foto yang sama dengan laki laki dengan posisi yang sangat intim.
“Astagfirullah Al Azim Nak”ucapnya setelah melihat dan memutar Video yang entah darimana asalnya.
“Ibu. Aku percayalah dengan Riri. Ini hanya ujian menjelang pernikahan”jawabnya.
“Tapi Nak bagaimana kalau..”ucapnya tak mampu meneruskan.
“Bagaimanapun keadaan Riri. Aku tetap ingin bersamanya. Ibu sangat mengenalnya jadi jikapun itu benar maka Riri hanya korban”jawabnya bijak membuat orang yang menyaksikan lewat ponselnya sangat jengkel.
“Sial. Aku tidak akan membiarkanmu menggagalkan rencanaku. Jika perlu aku melenyapkan mu Deni Rahmat Hidayat” ucap laki laki bertopeng yang di akhiri tawa jahat.
__ADS_1