HATI ANAK RANTAU

HATI ANAK RANTAU
22. MENCARI KEBENARAN


__ADS_3

“Untuk apa kamu masih di sini?”tanyanya pada wanita yang masih duduk santai di hari yang sudah senja


“Kamu mengusirku?”jawabnya dengan pertanyaan.


“Yang sopan kamu sama Bosmu”ucapnya membuat Cika tersenyum.


“Hanya berlaku pada saat di kantor”jawabnya santai membuat lebih jengkel.


“Setidaknya kamu menghormati orang yang lebih tua darimu”jengkelnya.


“Setidaknya Kak Candi menyebut orang menggunakan namanya agar lebih sopan kepada yang lebih muda”jawabnya.


“Dasar gadis kanibal. Pulang sana ke rumahmu!”jengkelnya.


“Aku merantau ke sini mencari pekerjaan.  Bagaimana aku bisa punya rumah kalau besok baru kerja?. Mau bayar pake apa aku”jawabnya pura pura sedih.


“Bukan urusanku. Pergi sana!”ucapnya penuh perintah membuat Bibi dan anaknya datang menghampiri karena mendengar perdebatan yang tiada ujungnya.


“Aunty. Kak Candi mengusirku padahal Cika hanya punya Riri di Samarinda”ucapnya mengadu.


“Dasar wanita ular”batinnya.


“Nak Cika. Tak punya tempat tinggal?” tanyanya membuat Cika mengangguk.


“Iya Aunty. Cika tidak tahu harus ke mana”ucapnya dengan sedih.


“Kalau tidak keberatan. Nak bisa tinggal di sini. Riri pasti bahagia”jawabnya membuat Candi protes.


“Kak .”ucapnya sebab terhalang oleh Cika.


“Terima Kasih Aunty. Cika bisa tinggal satu Rumah dengan Bestie ku”ucapnya sembari memeluk Bibi.


“Alya punya teman. Holee”ucapnya sembari melompat membuat Cika gemes.


“Sekarang Kita berteman my little princes” ucapnya sembari menggendong dan menghujani ciuman.


“Candi. Biarkan Nak Cika tinggal bareng kita setidaknya ada yang membantumu menjaga Riri saat kakak kembali ke rumah”jawabnya membuat Candi melayangkan tatapan maut pada Cika yang tidak memiliki rasa takut kepadanya.


“Sepertinya Kak Candi patut di curigai” batinnya sembari tersenyum pada orang yang marah padanya.


“Nak Cika sudah malam. Masuk dan pilih kamar mana yang kamu mau”


“Tidur di kamar tamu lantai bawah saja” jawabnya membuat Cika tersenyum dan menurunkan Alya.


“Aunty. Boleh Cika memili kamar di sebelah kamar Riri?”tanyanya.


“Tidak boleh”jawabnya tetapi bukan Bibi melainkan Candi.

__ADS_1


“Candi”ucap Bibi penuh isyarat diam dan mengharapkan penjelasan.


“Boleh iya Aunty. Setidaknya Cika bisa memantau keadaan Riri dari dekat”jelasnya menghasilkan persetujuan.


“Terima kasih Nak masih peduli sama Riri. Nak langsung ke kamar saja tidak usah pedulikan Candi”ucapnya.


“Siap Aunty”ucapnya sembari hormat membuat Bibi tersenyum.


Dua koper di seret Cika menaiki Tangga menuju kamarnya membuat Candi yang mendapatkan perintah membantu Cika hanya mengikuti dari belakang


“Wanita Bunglon. Sebentar manja, sebentar tegas sebentar lemah sebenar jadi kuat” batinnya tanpa melepas tatapan hingga di depan kamarnya.


“Kak Candi. Terima kasih”ucapnya menghentikan Candi membuka Pintu sebab mendapat kedipan mata


“Dasar Ulat Bulu”batinnya memandang Wanita membuka kamarnya.


“Kelemahan laki laki adalah wanita”ucapnya sembari meletakkan kopernya sembari mengamati ruangan sempat terdapat CCTV tersembunyi.


Makan malam kembali datang membuat Cika ikut menata makanan bersama pelayan lebih tepatnya memaksa pelayan untuk ikut membantunya.


“Nak Cika mau ke mana?”tanyanya saat melihat Riri membawa makanan beserta minuman.


“Untuk Riri Aunty”jawabnya.


“Nak biarkan Aunty saja”ucapnya ingin mengambil alih.


“Cika ke atas dulu”pamitnya.


Pintu terbuka menampakkan Riri sedang menangis di atas tempat tidurnya.


“Ri”ucapnya setelah meletakkan Makanan di dekat lampu tidur.


“Pergi. Pergi” teriaknya sembari melempar bantal ke arah Cika membuat Cika mengeluarkan jurus.


“Riri.Dengarkan Cika. Sampaikan seperti ini” ucapnya mengunci tangan Riri


“Lepasin. Lepasin”ucapnya memberontak tetapi tetap terkunci.


“No. Cika enggak bakalan lepasin Riri sebelum ber janji akan makan sendiri” ucapnya membuat Riri mengangguk.


“Makan”ucapnya memberikan sepiring makan dengan porsi lengkap.


“Ri..”ucapnya lagi sembari melototi Riri yang terpaksa makan sampai tuntas.


“Ri.Cika janji tidak akan pulang dengan tangan kosong” batinnya.


Makanan dan Minuman telah ludes membuat Riri menutup diri dengan selimutnya. Cika memili meninggalkan Riri dan kembali kelantai dasar di mana terdapat empat orang yang menyantap hidangan malam

__ADS_1


“Nak Cika. Sini makan bareng kami”ucapnya Bibi membuat Candi memandang sinis ke arah Cika.


“Terima kasih Aunty”ucapnya duduk di depan laki laki yang memandangnya dengan sinis tetapi membalasnya dengan kedipan mata.


“Dasar laki laki baru di kedip mata saja udah enggak tahan” batinnya sebab melihat Candi menunduk.


“Bukan wanita biasa.Aku harus hati hati” batinnya.


 Dua langkah kaki mengelilingi pertambangan yang dominan di isi dengan mobil berat serta batu bara. Senyum terbit di Bibir Candi sebab melihat Cika ku alahan mengikutinya sebab suasana pertambangan yang terasa sangat panas dan sesak olehnya.


“Aduuu”keluhnya sebab terjatuh ke tanah.


“Kalau tidak sanggup mending pulang ke Jakarta saja”ucapnya berbalik dan mengulurkan tangan untuk bantuan membuat Cika dengan semangat berdiri meski tidak menerima bantuan Bosnya.


“Sial.Dia mempermainkan ku”batinnya baru menyadari bahwa Cika hanya pura pura


“Ternyata Dia masih punya hati”batinnya kembali mengikuti atasannya.


“Jangan melihatku saja. Perhatikan semuanya kalau perlu catat”ucapnya membuat Cika memantau semuanya.


“Perusahan besar yang sangat maju. Pantas saja Kalimantan di juluki sarang batu bara sebab jumlah dan pendapatannya yang luar biasa”batinnya.


Setelah melakukan pengawasan di lapangan kini kembali ke gedung paling menonjol di antara semuanya.


“Meja kerjamu di sini dan jangan berani benari memasuki ruanganku tanpa izin dariku”ucapnya berlalu begitu saja.


“Sial. Aku harus cari cara biar bisa seperti Riri yang bisa satu ruangan dengan Atasannya. Dengan begitu. Lebih muda mengawasinya”batinnya.


“Kamu sekertaris Pak Candi?”tanya seseorang mengejutkannya.


“Iya Saya Sekertaris nya”jawabnya membuat orang itu membisikkan sesuatu.


“Pak Candi adalah laki laki impian semua perawan di perusahaan ini tapi sayang Pak Candi Impoten”bisiknya membuat Cika terkejut sekaligus tidak percaya.


“Ini rahasia umum tetapi harus dijaga”ucapnya sebelum berlalu.


“Impoten. Sayang banget ganteng ganteng tapi impoten. Tapi baguslah setidaknya aku tidak perlu takut di apa apain olehnya” batinnya.


“Hari ini tidak apa apa belum dapat apa apa. Masih banyak waktu”lanjutnya membatin.


“Wanita yang cerdas, pemberani dan misterius. Aku harus mencari tahu tentangmu apa kamu lawan atau kawan”Batinnya sembari melihat wajah serius Cika yang membaca profil perusahaan yang  sudah bersampul wajah Candi.


“Ternyata Pak Candi di asuh oleh kakaknya sendiri” batinnya setelah membaca.


“Laki laki berprestasi dan pekerja keras sudah ikut kerja di usia remaja”batinnya lagi saat membaca segudang prestasi yang di milikinya.


“Ingat Cika. Orang nampak jahat belum tentu jahat dan orang nampak baik belum tentu  baik…Tetap harus jaga jaga”batinnya.

__ADS_1


 


__ADS_2