HATI ANAK RANTAU

HATI ANAK RANTAU
11. PATAH HATI


__ADS_3

“Mutiara Ririani Fatimah Ayubi. Maukah kamu..”ucapnya mengejutkan Riri.


“Mau apa Bos?. Aku tidak masalah jika harus mendapatkan hukuman”ucapnya sebab bosnya tiba tiba terdiam.


“Maukah kamu jadi…”lanjutnya dengan detak jantung yang tidak menentu.


“Alan..”ucap Bian tiba tiba menerobos membuatnya menjadi pusat perhatian.


“Bian. Menganggu saja. Ada apa?”tanya jengkel.


“Alan. Bianca mencari mu”jawabnya membuat raut wajah Alan bertambah jengkel.


“Untuk apa mencari ku?”tanyanya membuat Riri hanya mampu menjadi pendengar.


“Bianca Ingin bertemu denganmu. Sekarang ada di ruanganku” ucapnya menjelaskan.


“Aku harus menemuinya terlebih dahulu daripada membuat semuanya tambah kacau”batinnya berlalu begitu saja.


“Bianca. Dia siapanya Bos?”batin Riri memandangi dua laki laki yang berlalu tanpanya.


“Riri..”Panggilnya sembari memutar badan yang sudah di muka pintu.


“Bos. Memanggilku”tanyanya sembari menunjuk dirinya sendiri dengan wajah heran.


“Jangan ke mana mana. Tunggu sampai aku kembali!. Aku hanya pergi sebentar saja”ucapnya diiringi dengan senyuman paling manis membuat Bian yang ternyata menyaksikan ikut tersenyum sementara Riri hanya mampu menganggukkan kepala.


“Apa Bos ke masukan Jin Baik sampai memanggilku dengan nama dan setelah berbulan bulan bersamanya baru kali ini aku melihat senyumnya secara langsung dengan begitu tulus”batinnya tak henti memandang punggungnya.


“Sayang”panggilnya sembari berlari hendak memeluk Alan.


“Kamu tahu aku paling tidak suka di sentuh dengan wanita selain Mommy dan Elan”ucapnya membuat Bianca mengurung niatnya.


“Sayang selalu seperti itu. Bianca Rindu tahu. Apa Sayang tidak merindukanku juga”jawabnya dengan suara seksinya.


“Siapa yang mengizinkanmu datang ke kantorku. Apa penjaga di kantor ini tidak bekerja dengan baik”ucapnya dengan tatapan tajam.


“Sayang lupa kalau sebelumnya kita sering datang bersama. Tidak mungkin mereka berani kepada Pacar Bosnya”ucapnya dengan penuh percaya diri.


“Dasar wanita tidak tahu diri” Batin Bian yang tak mampu mengutarakannya.


“Apa kamu lupa. Kita tidak ada hubungan apa apa lagi semenjak kamu selingkuh satu tahun lalu dengan orang yang lebih kaya dari laki laki yang mencintaimu dengan tulus tapi tidak punya apa apa”ucapnya sembari tersenyum.


“Sayang. Maaf aku khilaf. Bianca janji tidak akan melakukan hal yang sama lagi”jelasnya dengan wajah yang nampak penuh penyesalan.


“Simpan janjimu. Aku tidak butuh”ucapnya penuh ketegasan membuat Bianca kembali mendekat kepadanya.

__ADS_1


“Sayang kenapa jadi berubah menjadi kasar bukankah selama ini Sayang selalu memperlakukanku dengan lembut”ucapnya tak sadar membuat Alan semakin geram.


“Itu hanya masa lalu yang selalu ku sesali” jawabnya.


“Sayang bohong. Enggak mungkin sayang menyesal buktinya tidak perna mengandeng wanita lain setelah kita putus”ucapnya membuat Alan tertawa jahat.


“Ternyata kamu bukan lupa ingat melainkan tidak tahu diri. Kamu sendiri yang barusan mengatakan kita telah putus jadi jangan mengganggu ku lagi”ucapnya membuat Bianca kemakan omongan sendiri.


“Bian. Usir dia keluar dan pastikan tidak akan perna menginjakkan kaki di kantorku lagi”lanjutnya berucap membuat Bian menghampiri dan memegang erat tangan Bianca,


“Aku Khilaf. Bianca sangat mencintai Alan”ucapnya memberontak.


“Cinta. Kamu tidak mencintaiku melainkan cinta harta. Ke mana kamu satu tahun ini jika kamu benar benar mencintaiku”ucapnya membuat Bianca tak mampu menjawab.


“Kamu baru datang karena tahu ternyata laki laki yang perna kamu maki maki karena miskin kini memimpin salah satu perusahan terbesar di Indonesia. Jika aku jadi kamu. Aku pasti malu menampakkan wajahku. Jadi mending kamu angkat kaki dari kantorku sebelum Bian menyeret mu”jawabnya berlalu membuat Bianca berteriak.


“Sayang pasti masih ada cinta yang tersisa untukku”ucapnya membuat Alan berbalik sesaat sembari tersenyum.


“Kamu terlalu percaya diri Nona Bianca. Hatiku tidak ada lagi namamu sebab seseorang sudah memenuhinya”ucapnya membuat Bianca tidak percaya.


“Sayang pasti bohong. Sayang tidak perna bersama wanita lain selain aku”ucapnya masih berusaha melepaskan diri.


“Terserah kamu aku tidak peduli. Aku harus pergi, Ada seseorang yang menunggu kedatanganku”ucapnya berlalu tanpa mempedulikan Bianca yang memberontak.


“Alan. Awas kamu Bian. Lepaskan aku” ucapnya berusaha melepaskan diri tapi tenaganya tak mampu mengalahkan Bian.


“Jalan. Sebelum aku melempar mu ke jendela”ucapnya penuh ancaman.


Saat Bian susah payah menyeret Bianca, Alan jalan dengan begitu tegak dan percaya diri menuju pujaan hati. Senyuman terus menghias wajah tampannya tanpa tahu bahwa kenyataan segera menghampirinya.


“Sayang Kapan Pulang”tanya seseorang kepada pujaan hati Alan.


“InsyAllah. Awal bulan depan Umma” jawabnya dengan senyuman mekar membuat Umma nya ikut bahagia melihat anaknya meski dari kejauhan.


“Nak. Ada yang Umma ingin sampaikan”ucapnya dengan suara lembut membuat Riri tiba tiba berdebar.


“Ada apa Umma. Appa dan Paman, baik baik saja?”tanyanya mulai khawatir.


“Alhamdulillah. Mereka baik dan Sehat sayang. Tapi.”jawabnya ragu membuat Riri memandang lekat sang Umma.


“Tetapi. Ummi kedatangan tamu untuk menyatakan keputusan  Sayang.”ucapnya membuat Riri mengerti arah pembicaraan.


“Bang Hidayat datang ke Rumah Umma?” tanyanya memastikan.


“Iya sayang. Nak hidayat datang bersama kedua orang tuanya” ucapnya sembari mengarahkan kepada objek yang nampak tersenyum sembari menunduk penuh permintaan maaf.

__ADS_1


“Nak. Maafkan Ibu dan Ayah yang datang tanpa sepengetahuan mu”ucap Ibu Hidayat.


“Candra. Seperti yang sampaikan sebelumnya. Kedatangan kami ke sini untuk meminang putrimu Mutiara Ririani Fatimah Ayubi untuk anak kami Deni Rahmat Hidayat”ucap Ayah Hidayat memperjelas membuat jantung Riri  berdetak tak menentu.


“Dani, Terima kasih untuk niat baiknya. Tetapi keputusan ada ditangan anak kami Riri sebab dia yang akan menjalaninya”ucapnya membuat Hidayat menunduk dengan doa yang tiada henti sementara Riri bertambah deg degan bahkan jantungnya seakan mau lompat dari tempatnya.


“Sayang. Bagaimana keputusanmu?”tanyanya membuat Riri tak mampu berkata kata.


“Nak. Kami meminta jawaban sesuai hati nurani Jika setuju maka kita akan membicarakan kelanjutannya jika tidak maka kami tidak memaksa”ucap Ibu Hidayat.


“Riri. Bang Hidayat sudah menunggu mu terlalu lama. Dia juga orangnya biak,sangat menghormati dan menyayangi orang tuanya bahkan Imannya juga tidak perlu di ragukan lagi. Lalu apa yang kamu tunggu?”tanyanya pada diri sendiri sembari menari nafas mengatur nafas.


“Bismillahi Rahmani Rahim. Jika Paman, Umma dan Appa tidak keberatan maka Riri..”ucapnya membuat detak jantung Hidayat tak mampu dikontrol kecuali oleh doa dan kepasrahan.


“Riri…Tidak mampu menolaknya”jawabnya membuat semua tersenyum bahkan Hidayat sampai Sujud syukur sementara Alan yang sedari tadi berdiri di belakangnya terdiam.


“Alhamdulillah, Makasih Ibu, Ayah”ucap Hidayat sembari memeluk orang tuanya secara bergantian.


“Terima Kasih. Nak mau bertunangan atau langsung menikah saja?”tanya Ibu Hidayat membuat Riri tersipu malu.


“Langsung menikah saja Ibu”jawabnya tapi bukan Riri.


“Nak. Itu mau kamu. Ibu tanya kepada calon menantu Ibu”ucapnya sembari melototi Anaknya yang tersenyum malu malu.


“Sepertinya Nak Hidayat tidak tahan lagi” ucap Umma tersenyum membuat semua tersenyum kecuali seseorang laki laki yang diam dengan ekspresi yang tidak mampu di tebak.


“Sayang. Kami tidak keberatan sama sekali. Niat baik dari orang baik baik harus disambut dengan tangan terbuka dan tidak boleh ditunda tunda tunda, Iyakan Appa, Candi?” tanyanya membuat membuat dua laki laki mengangguk.


“Jika semuanya setuju maka Riri menunggu keputusan bersama. Riri serahkan kepada Umma,Appa dan Paman”jawabnya membuat hati Alan semakin hancur.


“Bagaimana, kalau Pernikahannya dilangsungkan di Akhir Bulan depan, tepat di ulang Tahun Anak kita,Riri dan Hidayat”ucap Ibu Hidayat menyarankan membuat semua mengangguk.


“Umma sependapat dengan calon besan"ucapnya membuat semua bersyukur dan berbahagia hingga di akhir percakapan jarak jauh.


“Riri. Calon Menantu”ucapnya tersenyum sembari beranjak dan berbalik arah.


“Bos”ucapnya terkejut sebab melihat Alan mematung di tempat.


“Bos” panggilnya sembari melangkah mengakhiri Alan.


“Stop. Kamu..mulai sekarang jangan mendekatiku kurang dari satu meter” ucapnya penuh ketegasan membuat Riri bingung sendiri.


“Ya. Allah. Sakit sungguh sakit”batinnya menahan goresan hati yang terpendam.


“Ya Allah mengapa engkau menciptakan cinta jika hanya untuk mematahkannya” lanjutnya membatin dan berlalu membawah lukanya seorang diri.

__ADS_1


__ADS_2