
Hari ini adalah hari yang baru. Isna membuka pintu kamarnya yang berada di lantai dua, yang langsung terhubung ke balkon. Seketika angin pagi yang sejuk menyusup masuk berbarengan dengan terbukanya pintu kamarnya.
Akhirnya, Isna mempunyai kamar yang ada di lantai dua, Waktu masih tinggal dengan mama dan bapa, perempuan cantik itu sangat suka duduk di ambang jendela kamar kakak lelakinya yang ada di lantai dua.
Menyenangkan berada di ketinggian, apalagi saat malam, memandang sekitar yang hanya terlihat kelipan lampu-lampu, sambil sesekali angin malam yang dingin menyapu wajah dan tubuhnya. Dan itu membuatnya berkeinginan memiliki kamar di lantai dua, kamarnya sendiri, bukan numpang di kamar sang kakak.
Dan saat ini, di rumah barunya, keinginan itu menjadi nyata. Kamarnya memang tidak terlalu besar,tapi kamarnya ini mempunyai teras yang menjadi balkon. Isna benar-benar menyukai rumahnya, kamarnya, terutama sekali, pemilik rumah yang notabebe adalah suaminya sendiri, Dani.
" Geulis..." seseorang memeluk Isna dari belakang.
Isna merasakan sentuhan lembut pada keningnya, dan dekapan erat pada tubuhnya.
" Pagi ini Aa' sudah janji kan, mau menuruti kemana pun Neng mau."
" Isna tak mau kemana-mana,A... Isna hanya mau istirahat di rumah."
" Masih capek?" Dani memutar tubuh Isna,supaya bisa menghadap ke arahnya, dan Dani bisa memandang wajah cantik Isna yang tanpa polesan make up apapun.
Isna menjawab pertanyaan Dani dengan anggukan.
" Ya sudah ,kalau memang begitu maunya Isna." Dani merapatkan dekapannya pada tubuh Isna. " Kalau tidur lagi, bagaimana?"
Isna menarik tubuhnya. "Apaan sih,A?"
Dani tersenyum lebar," Bercanda, Neng..."
Tiba-tiba terdengar suara orang memanggil, asal suaranya dari bawah, sepertinya kurir pengantar makanan.
" Aa' pesan makanan?" Isna memandang suaminya.
" Iya, tunggu sebentar ya, Aa' turun dulu."
Dani bergegas menghampiri abang kurir yang sedang menunggu di bawah.
Isna berusaha melihat dari atas.
Tak lama Dani kembali sambil membawa satu kantong kresek, berisi sesuatu yang sepertinya agak berat.
" Apa itu A?" Isna memperhatikan isi kantong yang dibawa Dani.
Dani tak menjawab. Dia membuka kantong yang dibawanya dan mengeluarkan isinya, meletakkan di atas meja kecil yang ada di balkon.
" Lontong sayur padang," Isna menjawab pertanyaannya sendiri.
Selain itu Dani juga memesan dua gelas kopi susu.
" Makan yuk. Lapar nih." Dani duduk lesehan di lantai, lalu membukakan kotak makanan buat Isna.
Isna duduk di sebelah Dani.
Mereka berdua menikmati sarapan pagi itu dengan suasana diterangi matahari yang mulai menampakkan kecerahannya.
Baru tadi malam pasangan pengantin baru itu tiba dari Surabaya. Seminggu mereka di sana, ada acara syukuran pernikahan Dani. Katanya sih ngunduh mantu, tapi Isna tak didandani layaknya pengantin. Keluarga besar mereka hanya mengundang kenalan dan tetangga dekat, juga teman SMA Dani, ada acara makan-makan ala prasmanan tentu saja.
Sengaja mungkin mereka memilih waktu dan tanggal tersebut, empat bulan setelah Isna dan Dani resmi menikah, karena di tanggal itu adalah hari jadinya Dani. Jadi syukurannya di buat bersamaan.
Satu yang Isna sesali adalah, Isna tak mempunyai kado yang pantas untuk diberikan pada suami tercintanya itu.
" Ngapain harus buat kado sih, kamu sendiri aja adalah kado terindah buat hidup aku, sepanjang hidup." Dani selalu bisa mengeluarkan kata-kata manis yang menghibur.
Dan Isna selalu menyukainya.
Keinginan Isna adalah membelikan motor buat Dani, menggantikan motor yang dijual Dani untuk biaya perawatan Isna saat dirinya menghadapi musibah yang mengharuskannya dirawat di rumah sakit.Tapi Isna jelas belum punya uang sebanyak harga motor itu. Akhirnya Isna tidak memberikan apa-apa buat Dani.
Padahal Isna sangat ingin mengganti motor itu, motor pertama Dani, yang untuk memilikinya Dani harus menabung dan berhemat beberapa bulan.Hal itu Isna ketahui dari Wahid, kakaknya. Dan cerita tentang motor itu akhirnya di jual pun Isna dengar dari Wahid. Dani sama sekali tak menceritakannya.
" Aa' makasih ya, sudah mau memberikan semua buat Isna."tiba-tiba Isna berucap, yang pastinya membuat Dani memandang bingung pada istrinya. Kok tiba-tiba?
" Kenapa Neng? Kok tau-tau ngomong gitu?"
" Tidak apa-apa. Hanya merasa sedih, belum bisa mengganti motor yang Aa jual buat aku."
" Astagfirullah... Tidak usah dibahas lagi,dong. Siapa juga yang minta motor itu diganti?"
__ADS_1
" Ya, Aa memang tidak minta ganti sih. Tapi aku merasa sedih saja, itu kan motor yang sangat berarti buat Aa."
" Ah, tidak kok, kamu yang paling berharga buat Aa saat ini. Motor mah gampang dibeli lagi. Tapi kalau Isna? Tak ada yang jual kan?"
Bibir Isna mengguratkan senyum. " Atuh iya, the one and only ini mah. Tak bisa diperjualbelikan. Namanya juga bidadari..."
" Oh ya?" Dani menggoda Isna ." Coba lihat, mana bidadari itu teh?" Dani mendekatkan wajahnya ke wajah Isna. Seperti dulu, kala dia menggoda Isna, saat mereka belum menikah. Kali ini Isna sudah lebih berani . Perempuan itu menyentuhkan bibirnya ke pipi Dani. Dan jelas, perlakuan Isna membuat Dani sontak tersenyum.
" Tumben, sudah berani nih," Dani menyentuh pipi Isna dengan tangannya.
" Harus sudah bisa membuat suami senang. Halal kan?"
" Makin pinter ya sekarang."
" Atuh iya. Istrinya siapa dong?"
" Istri Aa Dani." Dani memeluk Isna dengan gemas.
Kemesraan itu terhenti karena terdengar seseorang mengucap salam.
" Assalamu'alaykum!"
" Wa'alaykumussalam," Dani dan Isna menyahut berbarengan.
" Seperti suara Mas Arif," Dani mengenali suara asisten pribadi merangkap supirnya itu.
" Ada janji mau pergi?" Isna bertanya.
" Tidak. Ada apa ya?"
Dani bergegas bangun dan keluar kamar untuk turun, menemui Arif.
Dani membuka pintu. Arif berdiri didepan pintu.
" Maaf Mas,saya disuruh bunda mengantarkan ini." Arif menyerahkan satu kantong besar,sepertinya berisi makanan.
" Apa ini?" Dani menerima kantong besar dari tangan Arif.
" Ya saya kurang tahu mas. Saya kan hanya disuruh mengantarkan saja."
" Ya sudah mas Dani, saya pulang dulu ya?"
" Pulang kemana? Ke Semarang?"
Arif ketawa, " Ya bukan toh mas. Pulang ke tempat kost saya."
" Tidak kwmbali ke rumah bunda?"
" Belum ada tugas. Sayanya juga belum mandi. Barangkali mas Dani mau kasih saya tugas?"
" Tak ada sepertinya. Kalau saya beri tugas bikin peta dunia, mau?"
Arif memandang Dani dengan bingung." Bikin peta dunia? Memangnya saya anak sekolahan?"
Dani ketawa, " Ya sudah, mas Arif boleh istirahat dulu hari ini."
" Makasih mas. Monggo."
" Silakan..."
Arif menaiki motornya, dan meninggalkan rumah Dani.
Dani masuk ke dalam rumahnya.
Isna sudah duduk menunggu di ruang tamu." Apa itu A?"
" Dari bunda, belum tahu isinya apa." Dani duduk disebelah Isna, lalu membongkar isi kantong yang dibawanya.
Ternyata isinya ada jeruk, apel, madu, biskuit, beberapa makanan ringan yang benar- benar ringan.
" Kenapa bunda memberikan ini ya ?" Dani agak heran melihat isi dari kantong besar itu.
" Ya mau memberikan buat anak menantunya, mungkin. Bunda tahu kalau kita tak punya stok makanan." Isna menjawab.
__ADS_1
" Bukan tidak punya, belum sempat beli."
" Ya sudah, Aa telepon bunda sana, ucapkan terimakasih ."
Dani menuruti kata-kata istrinya. Dia mencari ponselnya, sementara Isna merapikan semua makanan yang baru dikeluarkan dari kantong tadi.
" Assalamu'alaykum bunda," sudah tersambung dengan sang bunda.
" Wa'alaykumussalam Dani."
" Makasih ya bund, kirimannya sudah sampai."
" Iya, kalian harus banyak makan supaya sehat. Apalagi menantu bunda. Isna lagi hamil kan ?"
" Hah?" Dani kaget. " Isna hamil? Kata siapa bund?"
" Kamu ini bagaimana? Masa tidak tahu kalau istrinya sedang hamil?"
" Bunda sedang mengarang bebas, nih. Isna tak mengatakan apapun. kita juga belum memeriksakan diri ke dokter."
" Kemarin, waktu di Surabaya, bunda pernah menanyakan apa Isna sudah telat datang bulannya. Katanya memang bulan ini dia susah telat dua minggu."
" Ya, tapi belum tentu Isna hamil bund."
" Tapi bunda yakin Isna hamil. Makanya, cepat kamu cek. Apakah dia tidak bilang kalau dia sudah telat datang bulan?"
" Belum bilang apa-apa sih bund."
" Cepat kamu bawa Isna untuk cek ke dokter. Kalau sudah langsung kasih kabar pada bunda. Oke?"
" Siap, bund."
" Ya sudah, ada lagi yang mau Dani bicarakan?"
" Tak ada, bund. Sekali lagi terimakasih ya bund. Doakan supaya hasilnya positif."
" Pastinya... Sehat-sehat ya kalian."
" Aamiiin... Bunda sama ayah juga ya, sehat terus. Assalamu'alaykum, bunda..."
" Wa'alaykumussalam Dani."
Dani menutup teleponnya.
Isna ternyata sudah berdiri di sebelahnya.
" Mau ke dokter?" Dani bertanya pada Isna.
" Mau apa?" Isna balik tanya.
" Cek kehamilan."
" Siapa yang hamil?"
" Kata bunda kamu sudah telat datang bulan."
" Iya sih, memang."
" Kenapa tidak memberi tahu Aa sih?"
" Rencananya memang mau memberi tahu saat sudah pulang dari Surabaya. Sebelum pergi memang kondisi Isna sudah telat,baru seminggu, tapi belum sempat memberi tahu."
" Ya sudah, hari ini kita ke dokter ya?"
Isna memandang Dani. " Harus hari ini ya?"
" Iya dong. Biar lebih cepat kita tahu hasilnya."
" Ya sudah , Aa mandi dulu sana. Isna mah sudah mandi."
" Iya, Aa mandi dulu."
Dani berlalu ke kamar mandi.
__ADS_1
Isna berlalu ke kamar, hendak berganti pakaian.
******