Hati Yang Terpilih Part 2

Hati Yang Terpilih Part 2
Pertemuan Ayu Dengan Papi


__ADS_3

Matahari sore itu sinarnya tak lagi garang. Langit birunya begitu jernih, tanpa awan.Tak hentinya Isna mengagumi Sang Pencipta, yang telah menciptakan semesta dengan cinta sehingga hasilnya begitu indah. Masyaallah...


Hari itu Rizal meminta pada mbah Sum untuk diantar ke makam Sofie.


Bukan hanya Rizal dan mbah Sum, Ayu dan Dani juga ikut. Isna tidak ikut turun dari mobil, karena Mbah Sum melarang Isna yang sedang hamil berziarah ke makam. Padahal Isna merasa oke aja, tapi untuk menghargai perhatian mbah Sum akhirnya dia menurut.


Menunggu limabelas menit, akhirnya selesai sudah acara ziarah mereka.


" Anti," Ayu masuk ke mobil yang pintunya dibukakan oleh Dani.


" Ya sayang?" Isna menjawab panggilan Ayu. Isna melihat mata Ayu basah.


Mbah Sum yang duduk di belakang,di sebelah Ayu, meraih bocah kecil itu dalam pelukannya.


Isna memandang Mbah Sum, " Tidak apa, Teh."


Perasaan Isna teriris melihat Ayu. Gadis kecil itu biasanya periang, tapi kali itu Isna melihatnya muram. Mungkin dia merasakan kesedihan mengingat maminya, karena habis melihat tempat peristirahatan terakhir sang mami.


" Mas Rizal langsung pulang, A?" Isna bertanya pada suaminya.


" Katanya mas Rizal mau ke rumah Ayu dulu."


Dani berkata setengah berbisik. " Dia perlu pendekatan sama anaknya." Suara Dani makin pelan.


Dani mulai menjalankan kendaraannya. Mobil pun melaju, meninggalkan area TPU.


Tak butuh waktu lama, hanya sekitar sepuluh menit mereka sudah tiba di mulut gang tempat Ayu tinggal.


Di belakang kendaraan Dani, Rizal menyusul dengan mengendarai motornya.


Mbah Sum turun sambil menuntun Ayu. Isna dan Dani menyusul. Rizal menghampiri Ayu.


" Ayu, gendong sama papi ya?" Rizal menawarkan diri menggendong Ayu. Ayu yang biasanya cepat akrab dengan orang baru kali ini sepertinya menjaga jarak dari Rizal.


Rizal berjongkok di hadapan Ayu. " Kenapa? Ayu tidak suka sama papi?"


Ayu hanya terdiam, tapi matanya berbicara, memandang lelaki yang menyebut dirinya sebagai papinya. Sepertinya Ayu menyimpan keraguan.


" Kata mami, papi punya mama baru. Aku tidak boleh dekat papi." Ayu akhirnya berbicara juga.


Rizal memandang mbah Sum. Terus terang dia tidak yakin dengan apa yang Ayu katakan. Rizal menuntut penjelasan dari orang yang selama lima tahun belakangan ini selalu menemani Sofie.


" Kita bicarakan di rumah saja ,Mas. Monggo." Mbah Sum mempersilakan Rizal, Dani dan Isna berjalan di depannya. Sementara mbah Sum masih menuntun Ayu, memilih berjalan di belakang.


Isna berjalan menjajari langkah mbah Sum dan Ayu.


Ayu masih belum kembali ceria. Wajahnya masih tersaput mendung. Isna jadi berpikir, apakah mengajak Ayu ke makam sang mami adalah sesuatu yang benar?


" Anti, aku mau ketemu mami."

__ADS_1


Suara kecil itu ternyata mampu membuat Isna terkejut. Isna bingung, tak tahu harus ngomong apa, sementara tangan kecil Ayu meraih tangan Isna dan menggandengnya.


Mereka berjalan sambil berdiam diri. Semua hanyut dalam pikiran masing-masing. Akhirnya tak terasa merekapun tiba di rumah yang Ayu tempati bersama Mbah Sum.


Mbah Sum mempersilakan semua tamunya masuk.


Rizal masuk, dan matanya langsung tertuju pada foto Sofie yang terpajang di dinding rumah.


Rizal mendekat, untuk bisa melihat lebih jelas gambar diri Sofie, perempuan yang sudah begitu lama dirindukannya.


Ayu memandangi Rizal, tanpa suara.


Isna dan Dani saling beradu pandang. Barangkali Dani punya pikiran yang sama dengan Isna, sama-sama sibuk menebak apa yang sedang bergejolak dalam dada Rizal, yang akhirnya mengetahui keberadaan belahan jiwanya, walau tak sesuai harapan.


" Mas, aku masih belum ngerti, kenapa Sofie tiba-tiba saja ninggalin kamu, padahal dia sangat ingin bersama kamu, sampai menyusul kamu, meninggalkan kampungnya." Dani ingin sekali menghabiskan rasa penasarannya tentang cerita Sofie ini.


" Aku juga tidak tahu tentang itu, Dan, Sofie tak pernah bilang apapun. Lima tahun aku memendam tanya tentang itu, tanpa pernah tahu harus kemana aku mencari tahu. Aku tersiksa oleh pertanyaan dan kesedihan karena kehilangan dia."


" Mungkin Sofie pernah cerita sama si mbah?" Isna sekarang yang bertanya, sambil melihat ke arah Mbah Sum.


" Banyak,Teh. Neng Sofie sudah cerita banyak sama saya, tentang masa lalunya."


Cerita mbah Sum, sebelum menikah pekerjaan Sofie adalah menemani tamu di tempat hiburan malam, bahkan pernah juga dia menjadi perempuan simpanan seorang pengusaha. Tapi tak lama karena Sofie tidak betah hidup seperti itu, harus sembunyi-sembunyi terus. Akhirnya dia memutuskan untuk meninggalkan suami pengusahanya dan kembali bekerja, di diskotik. Sampai takdir mempertemukannya dengan seorang dokter yang jatuh cinta padanya dan mengajaknya menikah. Sofie pun memutuskan untuk mengakhiri kesendiriannya, membangun rumahtangga yang baik, memiliki anak. Angannya adalah hidup nyaman bersama keluarga kecilnya, suami dan anak-anaknya.


Sayang, cerita hidupnya tak seindah dalam dongeng, tak seperti kisah Cinderella atau Snow White yang berakhir bahagia.


Sedari kecil Sofie itu sudah nelangsa hidupnya.


Hidup bersama ayah tiri malah membuat Sofie makin tersiksa. Beberapa kali sang ayah tiri berusaha melakukan perbuatan tidak pantas padanya. Sang ibu sama sekali tak mau percaya pada ceritanya, hingga Sofie harus menyimpan semuanya sendiri.


Puncaknya saat usianya menginjak limabelas tahun. Secara kejam ayah tirinya ' menjual' Sofie pada seorang muncikari dari kota. Saat sang ayah kandung mengetahuinya, semua sudah terlambat. Sofie sudah jatuh ke dunia prostitusi. Itulah kenapa Sofie bisa menjalani hidup sebagai perempuan pekerja dunia malam. Isna sampai merinding mendengar cerita tentang Sofie. Batinnya merasa miris


Masih cerita Mbah Sum, setelah berpisah dari Rizal dan Ayu lahir, Sofie perlu dan harus membiayai hidupnya dan bayinya. Mau tak mau, Sofie harus kembali bekerja. Dan Mbah Sum sangat mewanti-wanti Sofie untuk mencari rezeki halal buat menafkahi Ayu. Jangan melanggar norma agama.


Sofie akhirnya diterima sebagai penyanyi tetap di sebuah kafe.


Mbah Sum berusaha mengingat segala hal tentang Sofie. Mengembalikan semua kenangannya.


Kenangan itu membawa mbah Sum teringat sesuatu.


" Oh iya, Mbah ingat, Neng Sofie punya barang-barang peninggalan. Tunggu, si mbah ambilkan dulu."


Mbah Sum masuk, tak lama mbah Sum keluar lagi dengan membawa satu kotak yang lumayan besar.


Mbah Sum meletakkan kotak itu di atas meja.


Rizal mendekati kotak itu, dan membukanya.


Ada sebuah kotak kecil tempat cincin, berbagai aksesoris yang sering Sofie pakai dulu, bahkan ada lingeri yang pernah Rizal berikan saat mereka baru menikah. Yang paling menarik perhatian Rizal adalah sebuah buku harian berwarna pink.

__ADS_1


Rizal mengambilnya, lalu membukanya. Mungkin dari situ akan terungkap alasan Sofie pergi meninggalkan Rizal.


Rizal membalik halaman demi halaman. Sampai pada halaman yang berisi tuisan Sofie tentang isi hatinya menghadapi kenyataan bahwa suaminya ternyata sudah menikah, dan mempunyai anak dari perempuan lain.


Sofie menulis, semua bukti terpampang dengan nyata di depan matanya. Foto-foto mereka bertiga, Rizal, perempuan itu dan bayi mereka, sudah cukup menjadi alasan bagi Sofie untuk menjauh dari kehidupan Rizal. Walau Sofie sadar kalau saat itu dirinya sedang mengandung, dan belum pernah sempat dia beritahukan hal itu pada Rizal.


Membaca semua tulisan itu timbul pertanyaan di benak Rizal. Bagaimana bisa ada foto-foto seperti itu, padahal Rizal sama sekali tak pernah melakukannya.


Tapi Rizal mengenali perempuan di foto itu sebagai Santi, perempuan yang memang dijodohkan oleh keluarganya.


Perasaan Rizal campur aduk, antara marah, sedih, dan yang paling terasa adalah menyesal. Penyesalan yang begitu mendalam, karena Sofie harus pergi dengan membawa kesedihan akibat berita bohong yang sengaja diciptakan oleh orang yang tak bertanggungjawab.


Seandainya Rizal tahu semua itu, seandainya ada kesempatan kedua baginya untuk mengulang lagi semuanya. Seandainya saat itu Sofie bercerita padanya, tak langsung mengambil keputusan sendiri.


Berbagai seandainya memang takkan pernah membuat Sofie kembali.


Rizal merenung. Penyesalannya membuat dadanya terasa sesak. Dia melihat ke arah Ayu, yang biasanya selalu tak bisa diam, entah kenapa hari itu dia begitu tenang.


" Ayu, " Rizal memanggil Ayu. " Sama papi sini." Tangan Rizal terulur, hendak memeluk Ayu.


Ayu melihat ke arah si mbah. Mbah Sum memberi jawaban dengan isyarat agar Ayu mendekat.


Dengan ragu Ayu mendekat.


" Sini,sama papi." Rizal berusaha meyakinkan Ayu.


Ayu semakin mendekat. Dan saat sudah berada cukup dekat dengannya, Rizal langsung meraih Ayu ke dalam pelukannya.


Ayu hanya diam, sementara Rizal merasa hatinya bahagia bercampur sesal. Matanya mulai basah, harusnya Sofie ada di sini. Akan lengkap kebahagiaan ini.


Takdir itu memang menyakitkan.


Tapi Rizal harus bisa menerimanya. Disitulah Allah mau melihat keikhlasan kita sebagai manusia. Saat takdir bertolak belakang dengan harap.


Yang tersisa sekarang adalah tugas Rizal membesarkan Ayu, dan mungkin akan ada harapan baru tentang masa depan Ayu.


" Maaf, mas. Si mbah pernah bercerita, katanya pada saat Ayu dilahirkan Sofie pernah menghubungi kamu. Tapi kamu tak pernah datang. Kamu kemana ?"


" Aku tak pernah mendapat berita apapun dari Sofie. Kalau memang aku tahu dia sudah melahirkan anakku, masa aku tidak mau melihatnya? Aku sama sekali tidak tahu, Dan. Tak ada kabar apapun yang aku terima."


" Lantas, kabar yang Sofie kirimkan sampai pada siapa?"


" Entahlah."


" Kalau perempuan bernama Santi itu,Mas tahu dia sekarang dimana?"


" Kabarnya sih masih ada di Jakarta, tapi aku tak pernah mendengar kabarnya."


Dani akhirnya hanya bisa diam , sudah kehabisan kata.

__ADS_1


Bersambung


******


__ADS_2