
" Aa bohong ya? Aa hanya mengerjai aku kan? Iyakan?" Isna bertanya, tapi sesungguhnya dia sedang menghibur dirinya sendiri dengan mengatakan bahwa pernyataan suaminya itu adalah isapan jempol semata. Bahwa kenyataannya tak seperti itu.
Sayangnya, Dani menegaskan kalau itu benar. Itulah masa lalunya.
" Waktu itu kita masih sama-sama muda, dan terlalu bebas dalam bergaul."
Isna terdiam dalam keterkejutannya. Masih dalam ketidak percayaan, Isna hanya mampu bermain dengan pikirannya sendiri.
" Seperti itukah masa lalu suamiku? Suami yang saat aku mengenalnya adalah lelaki yang terlihat taat pada Allah, bagus dalam ibadahnya. Lelaki idaman semua perempuan yang mencari imam yang soleh."
Tapi kenapa tidak? Seorang mantan napi saja bisa menjadi pendakwah. Bukannya tak mungkin dulu memang suaminya itu melewati masa remaja yang jauh dari norma agama. Dan sekarang dia sudah menjadi pribadi yang jauh lebih religius.
" Lanjutkan, apa ceritanya selesai sampai disitu saja?"
Isna meminta suaminya meneruskan bercerita tentang kisahnya.
" Orangtua kami berdua sangat kaget mendengarnya. Terutama orangtua Dita, yang punya ambisi besar menjadikan Dita sebagai CEO perusahaan warisan papinya. Kamipun dipisahkan. Dita dipaksa menggugurkan kandungannya, setelah itu orangtuanya membawanya ke Australia. Sejak itu kami betul-betul putus hubungan, sama sekali tak pernah bertukar kabar.
" Menggugurkan kandungan? " Isna kaget. " Kalian melakukannya?"
" Orangtua Dita. Aa sendiri tak pernah tahu prosesnya."
" Bolehkah aku bertanya?"
" Tanya apa?"
" Waktu tahu Anin hamil, apa yang Aa rasakan?"
Dani tak langsung menjawab. Sejenak terdiam, barangkali sedang berpikir.
" Aa tidak bisa menjawab?"
" Saat itu perasaan Aa tentu saja panik, seorang anak SMA, harus menghadapi kenyataan seperti itu, bahkan bermimpi pun belum berani. Yang terbayang dalam pikiran adalah masa depan akan berubah."
" Tidak terpikir sebelum kalian melakukan itu?"
" Sama sekali tidak. Melakukannya tentulah tanpa mengikutsertakan pikiran."
Isna menggelengkan kepalanya, bayangannya tentang sang suami yang masih berseragam SMA melakukan hubungan diluar batas dengan perempuan yang diakui sebagai kekasihnya. Ah! Isna rasanya tak tega ya membayangkannya .
" Kok bisa A? "
" Bisa apa?"
" Kalian, pacaran sampai Anindita hamil. Padahal setahu aku, Aa yang aku kenal, tak seperti itu."
" Itu kan masa lalu, Neng. Empatbelas tahun lalu."
" Aku masih belum bisa membayangkannya."
" Ya sudah dong, tak usah lagi dibayangkan. Aa juga sudah enggan mengingatnya. Malu sama Allah."
" Baiklah, itu masa lalu, dan aku sudah tahu sekarang. Apa ada lagi hal yang perlu aku tahu?"Isna sudah mulai bisa menerima kenyataan tentang masa lalu suaminya .
" Isna marah?"
" Buat apa? Itu mah masa lalu. Semua orang punya masa lalu. Seharusnya juga Aa tidak perlu membuka rahasia itu. Toh anak itu tak pernah terlahir."
" Masalahnya adalah Dita datang lagi, dan membawa cerita itu kembali ke kehidupan kita, kehidupan rumahtangga kita. Saat Isna belum tahu tentang Anindita sepenuhnya , Aa selalu takut kalau Dita akan menceritakannya pada Isna. Karenanya Aa meminta dia untuk tak bercerita apapun ke Neng, eh dia malah meminta imbalan pada Aa, dia mau menuruti keinginan Aa itu asalkan Aa mau menuruti semua keinginannya."
" Oya? Lantas, apa keinginannya?"
" Bertemu Aa."
Alis Isna terangkat naik, " Jadi bertemu Anin adalah kesengajaan ?"
__ADS_1
" Iya."
" Sudah sering?"
" Tidak terlalu sering, ada beberapa kali."
" Senang?"
" Tidak."
" Oya? "
" Aa salah, Neng. Maafkan Aa ya?"
" Kenapa dari awal Anindita datang menemui saya, Aa tidak langsung ceritakan semuanya? Kenapa harus terjadi pertemuan-pertemuan rahasia itu dulu baru Aa ceritakan tentang rahasia itu ke saya? Kenapa Aa harus sebegitunya tak mau saya mengetahui tentang masa lalu Aa? Padahal kalau dari awal Aa cerita,saya bisa lebih maklum melihat sikap Anindita yang seperti itu ke saya. Kalian sudah sedekat itu, terpisah karena dipisah, mungkin saja di hati kalian cinta itu masih ada."
" Aa berani sumpah kalau cinta Aa hanya buat istri Aa. Empatbelas tahun itu telah mengubah segalanya. Termasuk perasaan Aa pada Dita."
" Terus, kenapa Aa tak mau jujur menceritakannya saat masa lalu itu datang kembali?"
" Terlalu memalukan untuk diketahui orang lain, Neng."
" Tapi saya istrimu, bukan orang lain."
" Justru karena kamu istri Aa. Aa hanya mau kamu kenal Aa yang sekarang, tak perlu tahu tentang Aa yang dulu."
" Tapi biar bagaimanapun itu adalah bagian dari perjalanan hidup Aa. Aa yang sekarang ada ini karena Aa yang dulu pernah mengalami hal yang tidak biasa itu."
Selagi mereka bercakap-cakap matahari mulai menampakan diri. Mempertontonkan senyumnya, menghadirkan kehangatan pada dunia.
Isna mulai merasakan kehangatan itu mengenai tubuh tubuhnya.
Isna berdiri ." Baiklah, anggaplah sekarang Anin sudah tak punya senjata untuk membuat Aa menuruti kemauannya. Berarti masalahnya sudah selesai kan?"
" Mm...iya. " Dani ragu menjawab. Masih ada satu rahasia yang dipegang Anindita, yang Dani masih bingung gimana cara memberitahukannya pada Isna.
" Ya sudah, Neng mandi dulu saja. Nanti kita lanjutkan ceritanya."
Isna hanya mengangkat bahu. " Terserah."
Setelah mandi dan merapikan diri Isna teringat sesuatu. Dia sudah berjanji akan bertemu Ayu.
" Mau kemana Neng?" Dani bertanya, melihat Isna sudah bersiap pergi.
" Oh iya, aku lupa bilang. Aku mau ke rumah Mbah Sum."
" Mbah Sum? Siapa?"
" Itulah, kita jarang bertukar cerita, jadi Aa tidak tahu tentang Mbah Sum."
"Ya ceritakanlah tentang mbah Sum ini."
" Aa ada waktu untuk mendengar ceritaku? Tidak pergi kerja hari ini?"
" Aku pergi kerja nanti, agak siang."
" Kalau begitu sekalian kita jalan ke rumah Mbah Sum. Nanti aku ceritakan."
" Baiklah."
Isna dan Dani berjalan beriringan. Dani menggandeng tangan Isna. Mereka tampak menarik perhatian orang-orang yang berpapasan dengan mereka. Terlihat sangat mesra.
" Oh iya, ada yang lupa, darimana Anindita tahu rumah kita?"
Dani menghentikan langkahnya. " Masih penasaran?"
__ADS_1
" Iyalah. Apa dia menyewa jasa detektif swasta, begitu?"
" Mungkin, dia menolak menjawab apapun waktu Aa tanya tentang hal itu."
Mereka kembali berjalan.
Isna mulai menceritakan tentang Mbah Sum dan awal perkenalan mereka. Juga tentang Ayu dan maminya Sofie.
" Banyak cerita yang Aa lewatkan."
" Iya, karena sibuk dengan Anindita"
Dani memijit hidung Isna.
" Aduh! Sakit atuh ih."
Dani menjawab dengan merangkul pinggang Isna.
" Ini rumah Mbah Sum." Mereka berhenti di depan sebuah rumah.
" Yang itu rumah kontrakan mas Arif." tunjuk Isna pada rumah lain yang ada di seberang rumah Mbah Sum.
" Mas Arif supir kita?"
" Iyalah, siapa lagi."
" Kok aku baru tahu ya?"
" Ya karena..."
" Jangan sebut nama itu lagi. Please..." Belum selesai Isna bicara, Dani sudah memotongnya.
" Oke... baiklah. Malu ya?"
Dani membekap mulut Isna.
Tepat saat itu pintu rumah Arif terbuka.
" Teh Isna, pagi-pagi sudah sampai kesini. Eh, ada mas Dani juga.Tumben mas."
" Iya, mas. Mau menemani istri dulu dong."
" Haruslah, Mampir sini dulu, mas Dani, teh Isna."
". Terimakasih mas. Aku mau bertemu Ayu." Isna menjawab.
" Oh, ya coba dipanggil. Masih tidur kayaknya. Ayu kalau sudah bangun pasti suaranya terdengar sampai ke sini."
" Iya mas. Aku ke sini dulu ya?"
" Monggo, Teh."
Isna menghampiri pintu rumah mbah Sum, lalu mengucap salam.
Terdengar sahutan seorang anak kecil. Tak lama terdengar suara pintu dibuka.
Sosok mungil itu muncul dari balik pintu yang terbuka, dan langsung mengumbar senyum menggemaskan saat mata bulatnya melihat keberadaan Isna.
Mbah Sum berdiri di belakangnya.
Isna berjongkok, tangannya mengembang, ingin memeluk Ayu.
" Anti..." Ayu menubruk Isna. Dia memanggil Isna ' anti' maksudnya ' aunty' atau tante. Memang Isna yang mengajari.
Dani memperhatikan adegan itu. Tanpa sadar dia tersenyum, membayangkan kalau Ayu adalah anaknya.
__ADS_1
Bersambung
******