
Kalau saja Dani bisa berbohong tentang Anindita, itu pasti akan Dani lakukan.
Dani takkan pernah mau jujur menceritakan masa lalunya bersama Anindita,takkan pernah mau. Tapi, perempuan itu terlanjur datang. Bukan hanya sekedar bertamu, dia bahkan sudah bersikap aneh, yang membuat Isna bertanya-tanya.
Dani bisa merasakan Isna sangat terpengaruh dengan kedatangan Dita.
" Saya masih menunggu." Isna berkata, dia menunggu penjelasan dari Dani tentang Anindita.
Isna membahasakan dirinya dengan 'saya'. Padahal dia tidak pernah begitu sebelumnya.
" Kamu benar-benar mau tahu?" Dani sungguh serba salah.
" Tak usah balik bertanya terus. Jawab saja pertanyaan saya."
Bagaimana Dani bisa menjawabnya, kalau masa lalunya dengan Dita itu adalah masa lalu yang bahkan Dani sendiri tidak mau mengenang nya lagi. Ada kesalahan fatal yang pernah mereka lakukan. Walau mereka terpisah bukan karena keinginan mereka, tapi nyatanya takdir membawa Dani sadar kalau masa lalu nya itu harus terkubur sedalam-dalamnya, jangan sampai terbuka. Apalagi sampai diketahui oleh orang yang menjadi masa depannya, istri tercintanya.
Akhirnya Dani memutuskan untuk menceritakan tentang Anindita, semoga Isna bisa menerimanya.
" Aa dan Anindita dulu satu sekolah, SMA, Di Surabaya. Aa memang SMA nya di Surabaya. Kita bertemu, terus jatuh cinta dan pacaran."
Dani menghentikan ceritanya, menunggu reaksi Isna, tapi Isna hanya diam, wajahnya tak menunjukkan perubahan apapun.
" Tapi orangtua Anindita tak setuju. Dan memisahkan kita dengan mengirim Anindita sekolah keluar negri."
Dani berhenti lagi. Kali ini benar-benar berhenti, karena Dani tidak berniat mengeluarkan kalimat apapun lagi dari mulutnya.
" Hanya itu?" Isna bertanya, matanya memandang Dani penuh rasa tak percaya.
Dani mengangguk cepat, "Iya, hanya itu."
" Baiklah," Isna berdiri dari duduknya, lalu berjalan meninggalkan Dani tanpa berkata apapun.
" Neng, mau kemana?" secepatnya tangan Dani menangkap tangan istrinya.
Isna menghentikan langkahnya, menoleh ke arah Dani, lalu berkata,lirih namun mampu menohok dada Dani. "Mau pamitan, saya mau ke rumah mama. Boleh?"
"Kok tiba-tiba?" Dani heran, bercampur tidak tenang. Ada sesuatu yang pasti sangat mengganggu pikiran Isna.
" Kenapa? Aneh? Tidak kan? Tiba-tiba saja kangen sama mama. Boleh ya?"
Itu bukan permintaan ijin. Yang Isna sampaikan itu lebih ke penyampaian maksud, bukan permintaan ijin. Sepertinya,tak diijinkan pun Isna tetap akan pergi,akan memaksa sampai diijinkan.
" Boleh, Aa antar ya?"
" Tak usah, saya mau naik ojol aja."
" Masa naik ojol? Gimana kalau mama sama bapa tanya."
" Saya bilang saja Aa belum pulang."
" Jangan sendirian dong Neng... Aa khawatir..."
__ADS_1
Isna tak menjawab apapun. Dia meninggalkan Dani begitu saja.,
Dani hanya bisa menggelengkan kepalanya. Luar biasa kalau Isna ngambek. Dani membuka ponselnya, menelpon Arif.
Selesai menelpon, Dani menemui Mbak Pri. Ada yang ingin dia tahu, kenapa Isna bisa seperti itu sikapnya pada Dani. Padahal yang Dani ceritakan itu benar adanya. Adakah Isna sudah mengetahui kebenaran yang Dani tutupi? Dia sengaja bersikap seperti tidak tahu, untuk mengetes kejujuran Dani. Sampai dimana suaminya ini berani berkata jujur, menceritakan semua masa lalu nya, sampai yang terjelek sekalipun.
" Mbak, aku bisa ngomong sebentar?" Dani menemukan Mbak Pri sedang di kamarnya, menonton televisi, sambil minum teh.
" Oh, boleh aja Mas." Mbak Pri mempersilakan Dani masuk.
" Tapi sebentar, aku mau ke depan dulu." Dani ingat kalau Isna belum pamitan.
Di bawah tangga Dani bertemu Isna.
" Aa, Isna pamit ke rumah Mama."
" Jangan menginap ya?"
" Nanti malem juga pulang."
Isna megulurkan tangan kanannya, begitupun Dani. Lalu Isna mencium punggung tangan Dani.
" Jadi pesan ojol?"
" Iya."
Dani mengantar Dani sampai ke teras. Menunggu beberapa menit, akhirnya ojol yang di tunggu pun datang.
" Wa'alaykumussalam, salam buat mama sama bapa."
" Iya."
Dani melambaikan tangannya. Tapi Isna sama sekali tak merespon.
Setelah Isna tak terlihat lagi Dani segera masuk, menemui Mbak Pri.
" Mau bicara apa mas?"
" Mbak, aku kenal mbak Pri, aku tau kalau Mbak Pri tahu apa yang mau aku bicarakan."
" Tentang Anindita?"
" Iya. Apa yang Isna tahu tentang Anindita ?"
" Lho, kok malah tanya saya? Mana saya tahu Mas?"
" Yah, barangkali Mbak cerita semua tentang aku dan Dita."
" Astagfirullah, mas Dani. Saya tidak akan melakukan itu Mas. Itu bukan urusan saya, dan tidak ada kepentingan saya untuk menceritakan masa lalu Mas yang itu sama Mbak Isna. Saya sadar resikonya , mas."
" Maaf mbak, maaf. Aku bukan menuduh, aku hanya bingung, kenapa sepertinya Isna tak percaya sedikitpun dengan jawaban aku, kalau aku sama Dita pernah pacaran, sekedar itu. Kenapa sepertinya dia masih kesal ?"
__ADS_1
" Mas, naluri perempuan itu kadang tajam, bisa merasakan ada sesuatu yang tak beres dengan pasangannya, walaupun belum lihat bukti apapun. Atau mungkin juga, mbak Isna masih baper melihat perempuan itu, yang gayanya luar biasa, bikin istri mas Dani merasa tersaingi."
" Maksudnya?"
" Kalau mas Dani mau tahu jelasnya lebih baik mas tanya saja mbak Isna langsung. Se-kesalnya mbak Isna, dia masih istri mas Dani. Apalagi dia sedang hamil. Jadi mas tunggu saja besok. Lihat, dan tanyakan lagi, sebenarnya dia kenapa. Kalau saya boleh kasih saran sih lebih baik mas Dani ceritakan saja semuanya, sejujurnya. Biar tak ada lagi yang mengganjal."
" Apa? Menceritakan semua? Sepertinya aku tidak bisa."
" Tidak bisa atau tak mau?"
Dani terdiam, merenungkan pertanyaan mbak Pri.
" Mau dengar pendapat saya?"
"Boleh, apa?"
" Perempuan itu, Anindita, sudah datang ke rumah ini, tanpa undangan, tanpa ada yang menyangka. Mas pasti bisa menebak apa maksudnya. Mungkin, ini mungkin lho, dia memang mau membuat Isna terganggu. Dan terbukti, itu berhasil. Bukan tak mungkin besok dia akan datang lagi, dan membuat gebrakan selanjutnya, menceritakan cerita kalian, yang Mas Dani tak mau Isna tahu."
" Bagaimana kalau itu terjadi?"
Dani terhenyak mendengar penuturan Mbak Pri. Sama sekali Dani tak berpikir sampai kesitu. Bisa jadi, Bisa saja Dita akan datang lagi, dan menceritakan cerita itu.
Serapat apapun Dani menutupnya,ternyata cerita itu harus terbuka juga.
Ini sama sekali diluar dugaan Dani.
Belasan tahun Anindita tak pernah ada kabarnya. Mereka putus sebagai pacar, dan juga putus silaturahmi. Anindita bagai ditelan bumi, lenyap. Membawa pergi hati Dani yang sedang dipenuhi cinta.
Meruntuhkan angan seorang remaja yang baru mengenal cinta.
Dani sakit, tidak terima, marah, kecewa. Hidupnya nyaris hancur, kalau tidak ada tangan seorang Ustadz yang meraihnya dan menuntunnya, mungkin Dani sudah salah mengambil jalan.
Masa lalu yang menyakitkan. Sekaligus akan menyakiti Isna, andai Isna sampai mengetahuinya.
Tapi seperti yang baru Mbak Pri sampaikan,kalau cerita itu tersampaikan pada Isna melalui penuturan Anindita, apa yang akan terjadi?
Akankah Isna marah, karena menganggap suaminya tak jujur?.
Atau bisa menerima dengan besar hati, dan menganggap itu hanya bagian dari masa lalu Dani, yang sudah berlalu?
Dani takut kemungkinan pertama yang akan terjadi .
Tapi menyembunyikannya terus, padahal Isna sudah melihat sebagiannya, bisakah?
Dani belum bisa memutuskan.
Pikirannya masih buntu.
Bersambung
******
__ADS_1