
Kedatangan Isna ke rumah orangtuanya, tanpa Dani, tentunya membuat heran mama dan bapanya, juga Wahid.
Pertanyaan itu pun diajukan. " Kenapa Dani tidak ikut?"
Dan sesuai yang direncanakan, dia menjawab kalau Dani sedang bekerja.
Mama tak langsung percaya. Karena berbulan-bulan menikah, tak pernah satu kali pun Isna pergi, bukan hanya ke rumah orangtuanya, ke manapun, hanya seorang diri,tanpa Dani.
Itulah alasan mengapa kedatangan Isna betul-betul mengundang keheranan.
" Tidak ada apa-apa, mama. Isna tiba-tiba saja pengen kesini. Mama masak apa? Isna lapar ma."
Pengalihan perhatiannya akhirnya berhasil. Mama mempersilakan Isna masuk kedalam, untuk mengambil makanannya sendiri. Tak lagi menanyakan alasan Dani tidak ikut. Tapi Isna mengurungkan niatnya. Dia malah tertarik menemui bapa, yang sedang ada di halaman belakang.
" Bapa, assalamu'alaykum.." Isna menyapa.
Bapa sudah beberapa bulan belakangan ini sibuk dengan kegiatan barunya, menanam tanaman hias. Halaman belakang tempat kesukaan bapa saat ini.
" Eh, Neng. Wa'alaykumussalam. Sendiri?"
" Iya." Isna mencium punggung tangan bapa.
" Tumben."
" Iya, Isna nya lagi pengen ke sini. Aa nya lagi kerja."
" Ooh, gitu."
" Iya. Bapa sekarang jualan tanaman hias?"
" Belum niat tuh Neng. Kalau dijual memangnya laku?"
" Laku pa, kalau bagus."
" Bagus tidak tanaman-tanaman bapa?"
" Bagus."
" Bapa jual ya?"
" Ya terserah bapa."
" Lewat medsos ya Neng."
" Bapa teh serius?"
" Kalau memang bisa dijual ya kenapa tidak ? Yang penting kan cuan."
Isna tertawa, " Bapa sudah tahu cuan sekarang."
" Atuh iya, Kan harus selalu up date, biar tidak kuno."
" Yang kuno itu laku mahal lho pa."
" Kalau bapa kuno laku mahal juga ?"
" Barangkali lakunya di panti jompo. Bercanda pa."
Bapa tertawa, memperlihatkan garis-garis ketuaan di wajahnya.
" Sudah mau maghrib. Bapa tidak ke masjid?"
" Oh,iya ya? Tidak terasa."
Bapa bangkit dari posisi jongkoknya.
" Neng menginap ?"
" Tidak, pa."
" Kenapa tidak?"
" Belum ijin. Besok.deh ya, Isna menginap disini."
" Baiklah, atur saja bagaimana baiknya."
Bapa masuk rumah, tapi Isna masih diam di tempatnya. Memandang langit senja yang penuh pesona.
Senja semakin jingga, pertanda malam akan datang sebentar lagi. Seharusnya hari ini menjadi hari yang menyenangkan, karena ada hal indah yang bisa dibagi pada orang-orang yang menyayangi dan Isna sayangi. Tapi semua terlupa begitu saja, hanya menyisakan galau, karena kedatangan perempuan itu.
Menyisakan tanya yang masih belum sepenuhnya bisa Isna percaya jawabannya.
__ADS_1
Kenapa jawaban Dani hanya seperti itu?
Kenapa rasanya Isna ngga percaya kalau memang Dani dan Anindita hubungannya hanya seperti itu?
Perasaan ini begitu kuat, membisikkan kalau sesungguhnya tidak sesederhana itu masa lalu dari lelaki yang sudah meminangnya itu. Tidak sesingkat itu ceritanya. Isna sangat bisa merasakan kalau ada yang salah. Tapi apa?
Curigakah Isna pada Dani? Iya, Isna curiga Dani tak jujur.
Kalaupun benar Dani tak jujur, siapkah Isna menerima kenyataan kalau dia dibohongi?
Siapapun orangnya, tidak ada yang mau dibohongi.
Tapi, apakah cara Isna seperti ini bisa menyelesaikan masalah?
Seharusnya Isna bisa bertanya, minta pada suaminya untuk jujur. Bukan malah diam dan pergi.
Hadapilah, apapun nanti jawaban yang akan Dani berikan atas desakan Isna, harus bisa dia terima. Kalaupun Dani akan terus berbohong, Isna harus siap menerimanya.
Ah, Isna tak tahu, apa sebenarnya yang sedang terjadi.
Adzan maghrib berkumandang. Saatnya Isna menumpahkan semua galaunya di hadapan Sang Kuasa.
Dan mudah-mudahan setelah itu hatinya akan semakin tenang.
Selesai shalat Maghrib Isna tidak langsung meninggalkan tempat sujud nya. Dia berdzikir, melantunkan Shalawat, dan mendengar murrotal dari ponselnya sampai waktu Isya tiba.
Dani menghubungi Isna lewat telepon, beberapa saat setelah Isna selesai shalat Isya.
Dani bertanya apa Isna mau dijemput.
" Kalau Isna mau menginap boleh?" pinta Isna pada Dani.
" Ya kalau begitu Aa ikut menginap, boleh?"
" Terserah."
" Baiklah kalau begitu. Aa ke situ ya? Neng mau dibawain baju ganti?"
" Ngga usah. Di sini masih ada baju."
" Ya sudah, sampai bertemu ya?"
" Iya."
" Wa'alaykumussalam ."
Hambar, Isna merasa hatinya sedang hambar menghadapi suaminya.
Pintu kamarnya diketuk seseorang.
" Isna, lagi apa?" suara mama memanggil.
" Tidak sedang apa-apa,ma."
" Keluar yuk.Mama mau bertukar cerita dengan Isna."
" Iya, sebentar."
Isna keluar kamar, mendapati seluruh anggota keluarganya berkumpul di ruang tengah.
" Duduk sini atuh Neng." Bapa mempersilakan Isna duduk di sebelahnya.
Isna duduk diantara mama dan bapa.
" Dani mau jemput jam berapa ?" Wahid yang bertanya.
" Tidak tahu, tapi katanya sih mau ikut menginap."
" Neng mau menginap ?"mama terdengar antusias.
" Iya."
" Alhamdulillah."
" Akhirnya kamu mau menginap juga, mama sama bapa sampai merasa kangen, tahu."
Isna sempat tersentil mendengar kalimat yang keluar dari mulut Wahid tadi. Sang mama sampai mengucap syukur waktu Isna bilang akan menginap. Apakah selama tujuh bulan ini Isna tidak merasakan kerinduan kedua orangtuanya? Ya, mungkin Isna terlalu hanyut dalam bahagianya bersama Dani, sampai lupa bahwa kedua orangtuanya masih merasa kehilangan dirinya, dan mengharap dia sering-sering datang berkunjung, kalau perlu bermalam .
" Isna minta maaf... Mama bilang dong kalau mama sama bapa kangen. Bilang kalau ingin Isna menginap di sini."
" Ya tidak enak atuh de kalau memerintahkan Isna menginap. Kesadaran sendiri saja."
__ADS_1
" Iya iya... Maafin Isna yaa..."
Bapa tersenyum sambil merangkul pundak Isna. Isna pun merebahkan kepalanya di dada bapa.
Ada perasaan damai menjalari hati Isna. Rasanya ingin sekali bisa membagi keresahan ini pada bapa, pada mama, tapi rasanya Isna tidak tega.
Usia pernikahannya belum lagi setahun. Dan tak seharusnya Isna membawakan cerita tidak menyenangkan pada kedua orang yang sudah begitu berjasa buat hidupnya. Kedua orang yang akan sangat bahagia kalau dia merasa bahagia, dan akan sangat sedih kalau Isna bersedih.
Biarlah sedikit cerita yang terjadi tadi pagi menjadi cerita yang hanya Isna yang tahu.
Tiba- tiba Isna teringat sesuatu.
" Oyen! Oyen kemana ma?"
" Oh iya, Oyen kemana ya Pa?" mama malah bertanya lagi pada bapa.
" Tadi dibawa Nadia." Wahid akhirnya yng menjawab.
" Nadia? Dibawa kemana?"
" Ya ke rumahnya atuh, Geulis."
" Ambil ya? Isna mau ke rumah Nadia ah."
" Eh, mau apa?"
" Mau ketemu Oyen."
Wahid menyentuh kepala Isna, " Lebih kangen sama Oyen daripada sama bapa mama?"
" bukan begitu."
" Ya sudah, lagi pula si Oyen sudah dipinta sama Nadia. Sudah, kasihkan saja. Nanti kamu beli kucing baru, atau mencari lagi di tempat orang resepsi."
Isna tersenyum nyaris tertawa mendengar kalimat yang Wahid ucapkan.
" Tapi Oyen kan penuh kenangan."
" Ya buat lagi kenangan baru dengan kucing yang baru, gitu saja kok repot."
Wahid berjalan keluar.
" Mau kemana Hid?"mama bertanya.
" Sebentar ma, mau ke warung."
" Jualan makanan masih lancar Neng?" mama bertanya pada Isna.
" Masih, ma. Alhamdulillah, ada pesanan sedikit mah. Tadi abis bikin tumpeng."
" Tumpeng? Ngga repot tuh? Besar kan?"
" Sebelum mulai buka order Isna sudah mempelajari cara pemasaran, pengirimannya. jadi sudah tahu."
" Mengantarnya? Dengan motor?"
" Menggunakan mobil. Ayah kasih mobil, katanya buat operasional usaha Isna."
" Oh ya?" Bapa agak kaget. " Kamu dikasih mobil?"
" Iya. Kan mobil A Dani sering dibawa. Biar tidak repot, kata ayah Isna harus punya mobil juga."
" Isna bisa mengendarai mobil?"
" Bisa sih, pernah belajar waktu di Bali. Tapi belum punya SIM, jadi Mas Arif yang jadi supirnya."
" Ohh..."
Percakapan mereka terhenti karena kedatangan Dani.
Mengucap salam, berbasa-basi demi kesopanan, bapa dan mama mempersilakan Dani masuk.
Isna melihat wajah suaminya. Terlihat agak lelah. Apakah dia sama galaunya sepert Isna?
Dani balas memandangnya, lalu tersenyum. " Aa bawain ini buat Isna, buat bapa sama mama juga."
Dani menyerahkan kantong plastik yang dibawanya.
Isna menerimanya, sempat mengintip isinya, lalu membawanya ke dapur, untuk diletakkan di piring.
Bersambung
__ADS_1
******