Hati Yang Terpilih Part 2

Hati Yang Terpilih Part 2
Insiden di Hari Raya


__ADS_3

Hari yang fitri, berbondong-bondong umat muslim mendatangi masjid untuk melaksanakan sholat sunat Idul Fitri. Suara takbir masih berkumandang, menggema sampai ke pelosok negri.


Isna, Dani, bapa, mama, dan Wahid sudah berada diantara kumpulan manusia yang sedang bersiap melaksanakan sholat Id.


Mulut Isna pun tak hentinya melantunkan takbir. Tanpa sadar air mata Isna menggenang. Allahu akbar, Allah Maha Besar. Isna merasa kecil dihadapan Allah, tanpa daya,tak punya kekuatan, hanya mampu memohon dan bersujud agar senantiasa diberi kekuatan kesabaran menghadapi hidup yang kadang tak seindah harapan.


Saat terdengar pemberitahuan bahwa sholat Id akan segera dimulai, segenap jemaah berdiri, dan merapatkan shaf sholatnya.


Begitupun dengan Isna dan mama.


Mentari pagi sudah mulai menampakkan senyumnya, menyaksikan deretan manusia yang berjajar rapi, menghadap arah yang sama, dengan satu niat yang sama, menyembah Allah, menuntaskan ibadah di penghujung bulan Ramadhan.


Sholat dua rakaat, dengan tujuh kali takbir di rakaat pertama, dan lima kali takbir di rakaat kedua, akhirnya selesai. Dilanjut dengan mendengarkan khotbah dari khotib.


Hari Raya Idul Fitri yang sedang Isna rayakan kali ini adalah Hari Raya pertamanya dengan status sebagai istri dan menantu. Kalau biasanya dia hanya sungkem sebagai anak, saat ini dia akan juga meminta ridho dan maaf pada suami dan mertuanya.


Karena itulah, sepulangnya dari solat Id Isna menyegerakan meminta maaf pada keluarganya, pada mama, bapa, kakaknya, dan suaminya. Niatnya ingin segera mengunjungi mertuanya, karena menurut agenda bunda Anne, mertuanya itu akan terbang ke Surabaya pukul satu siang.


" Kita makan dulu yu?" ajak mama pada anggota keluarga yang lain.


" Hayu ah,perut ini sudah menagih, minta diisi." Wahid menyambut antusias.


Mama sudah menata beraneka hidangan di atas meja.


" Mama memasak makanannya banyak juga." Dani berkomentar, melihat makanan yang terhidang di mana.


" Sebab saudara dan keponakan bapa akan berkumpul di sini. Tradisi keluarga besar kami." Isna memberikan jawaban.


Dani menjawab lagi. " Oh, begitu."


Benar saja, belum lagi keluarga Isna menikmati hidangan Lebaran, datanglah para keponakan dan saudara-saudara bapa.


Terjadilah adegan salam-salaman, saling meminta maaf, dan memaafkan.


" Langsung saja ke dalam, makan ketupat," Mama mempersilakan para tamu untuk makan.


Beberapa keponakan Isna yang masih kecil malah sibuk meneliti toples-toples kue, berniat memakan kue yang menarik minatnya.


Setelah semua tetamu menikmati hidangan yang tersaji. tiba giliran tuan rumah yang mengambil makanan.


Dani mengajak Isna untuk duduk di teras belakang, menikmati warna-warni bunga dan daun dari pohon-pohon yang merupakan hasil karya bapa.


Menikmati makanan dalam diam. Isna enggan bersuara sedikitpun. Sepertinya masih ada rasa tak nyaman yang disimpannya dalam hati.


" Neng," panggil Dani.


Isna hanya menengok sekilas, dan tersenyum tipis. tanpa berkata apapun.


" Belum mau bicara sama Aa?" Dani masih terus berusaha bertanya, berharap Isna akan menjawabnya.


" Nanti, kalau memang ada yang perlu dibicarakan."


" Harus 'kalau ada yang perlu dibicarakan', baru mau bicara?"


Lagi-lagi Isna tak menjawab.


Padahal tadi Isna dan Dani sudah saling bermaafan.


Tetap saja Isna masih tidak ingin bicara pada suaminya. Lebih tepatnya Isna ingin suaminya menyadari kesalahannya yang sudah terlalu dalam membuat Isna merasa tak lagi setenang dulu.

__ADS_1


Dani akhirnya diam. Menikmati makanannya tanpa suara.


Selesai makan, sesuai rencana semula, Dani dan Isna akan berkunjung ke rumah Ayah dan Bunda.


Bapa dan mama tidak bisa ikut, karena rumah mereka ramai didatangi tamu.


Dani dan Isna tiba di kediaman keluarga Prasetyo, tepat pada saat Ayah datang.


Dani dan Isna mengucap salam. Ayah membalas salam mereka.


" Ayah dari mana?" Dani bertanya.


" Dari rumah Pak Ustadz."


Bertiga mereka melangkah masuk ke dalam rumah. Di ruang tamu ternyata sudah ada mbak Pri dan Mas Arif.


Bergantian Isna menyalami Mbak Pri dan Arif. Begitu juga yang dilakukan Dani.


" Makan ketupat, mas." Isna menawari Arif, karena dia tahu, Arif pasti tidak menyediakan ketupat di tempat kost-nya.


" Sudah, Teh. Barusan."


Bunda keluar, menghampiri tamunya.


" Bunda, maafkan Isna ya?" Isna menghampiri bunda Anne, mencium tangannya.


" Sama, Sayang. Bunda juga minta dimaafkan ya?" Bunda mencium pipi Isna, kanan dan kiri.


Dani lagi-lagi mengikuti apa yang Isna lakukan, mencium punggung tangan perempuan yang sudah melahirkan dan membesarkannya itu, dengn penuh haru.


Bunda mengusap kepala Dani.


" Makan yuk, " Bunda memegang tangan Isna, mengajak ke ruang makan.


" Yaah... Bunda sudah masak. Nanti tak ada yang makan, bundanya kan mau pergi."


" Katanya, mas Arif bunda minta untuk jaga rumah."


" Iya, memang iya."


" Ya sudah, nanti biar mas Arif yang menghabiskan makanan yang sudah bunda masak."


Arif melirik Isna, pada saat yang sama Isna juga sedang melirik Arif sambil tersenyum.


" Benar kan Mas? Atau kalau masih belum habis juga bawalah ke markas besar. Pasti habis."


Arif jadi ikut tersenyum. " Teh Isna tahu saja."


" Iya lah."


Isna menyebut tempat Dani biasa kumpul dengan teman-teman kampungnya sebagai Markas Besar. Sebutan yang membuat Arif selalu ingin tersenyum.


" Ayah ikut ke Surabaya kan ?" Dani bertanya pada bunda.


" Ikut. "


" Baik-baik ya bund."


Bunda tersenyum sambil menepuk pipi Dani.

__ADS_1


" Nanti, sebelum zuhur kamu antar Bunda ke bandara ya?"


" Pesawatnya yang jam berapa, bund ?"


" Jam satu."


Singkat cerita, selesai mengantarkan Ayah dan Bunda ke bandara Dani berniat pulang. Sebelumnya, mereka menyempatkan diri untuk sholat dzuhur dulu di rumah bunda, Dani, Isna, Mbak Pri dan Arif


" Mas Arif, saya pulang ya? Titip rumah ini." Dani berpamitan pada Arif.


" Iya mas Dani. Insyaallah saya jaga rumah ini."


" Terimakasih ya?"


Dani, Isna dan Mbak Pri menaiki mobil Dani. Baru saja Dani hendak mengeluarkan mobilnya dari halaman rumah tiba-tiba terdengar suara mengejutkan yang terdengar sangat keras. Suara benturan benda keras.


" Brakk !!"


Bapak Satpam terlihat bergegas keluar dari pos nya, keluar dari pintu gerbang, hendak melihat apa yang terjadi.


Begitupun dengan Dani. Dia turun dengan segera, sama tergesanya dengan bapak satpam yang tadi. Isna juga turun dari mobil. mengekor di belakang Dani.


Saat sampai di luar halaman pemandangan yang Isna lihat adalah sebuah mobil sedan mewah berada di bawah tiang listrik, dengan keadaan tiang listrik yang bengkok, sepertinya mobil itu baru saja menyeruduk bagian bawah tiang. Kap mesin mobil itu penyok.


" Subhanallah." Isna ingin mendekat, tapi Dani mencegah, dengan tangan yang menahan langkah Isna.


Isna menurut dan mundur, walau agak heran, kenapa dia dilarang mendekat.


Dani mendekati mobil tersebut, mengikuti bapak Satpam yang sudah lebih dulu berada di sebelah mobil itu.


Isna menyaksikan dari jauh usaha suaminya dan Satpam untuk membuka pintu mobil dan mengeluarkan pengemudinya dari dalam mobil itu.


Beberapa orang yang kebetulan sedang berada di sekitar situ ikut membantu.


Setelah pintu mobil berhasil dibuka, Satpam mengeluarkan seseorang dari kursi pengemudi, dalam keadaan pingsan.


Dan alangkah terkejutnya Isna saat melihat korban kecelakaan tunggal yang mereka tolong itu adalah seorang perempuan cantik yang wajahnya tak asing buat Isna.


" Anindita?"


Merasa ragu dengan penglihatannya sendiri, Isna melangkah mendekati mobil yang menabrak tiang listrik tersebut. Saat berada dekat dengan si korban yang pingsan itu, Isna semakin yakin kalau itu memang Anindita.


Isna memandang Dani, yang secara kebetulan sedang memandang Isna juga.


Situasi sulit. Dani memilih untuk minggir, tidak terlibat menolong korban kecelakaan yang ternyata adalah Anin. Tapi Bapak Satpam malah memanggil Dani.


" Mas, ini korbannya mau diapakan?"


Dani tak bisa langsung menjawab.


Arif yang baru keluar langsung menghampiri bapak satpam. " Bawa ke rumah sakit. Korban terluka."


" Pak Dani? " Bapak satpam merasa bingung, siapa yang akan membawa perempuan cantik itu ke rumah sakit?


" Neng, bolehkah Aa yang membawa Anin ke rumah sakit? Kalau Arif yang bawa,kasihan kalau nanti harus membayar administrasinya."


Isna berpikir cepat. Anin terluka,harus dibawa ke rumah sakit. Dan satu-satunya yang memungkinkan untuk membawanya adalah Dani.


" Silakan bawa Anin ke rumah sakit. Aku ikut."

__ADS_1


Bersambung


******


__ADS_2