Hati Yang Terpilih Part 2

Hati Yang Terpilih Part 2
Tangisan Isna


__ADS_3

Dani jatuh terduduk di ujung tempat tidur yang Isna tempati. Matanya terlihat berkaca-kaca. Mulutnya tak hentinya mengucap istigfar.


Kesedihan Dani tak kalah dari kesedihan yang Isna rasakan. Kepedihan hati mereka juga turut dirasakan oleh semua yang ada di kamar itu. Mama masih terisak. Begitu pula Mbak Pri. Sementara Arif dan Bapa bungkam, dalam kedukaan yang mendalam.


" Kalian hanya merasakan sedih, sementara aku harus merasakan sakitnya di khianati." Isna berkata dalam hati.


Diliriknya suaminya. Ada kesedihan yang bisa Isna lihat dari wajah itu. Tapi hal itu tentu saja tidak seketika membuat dosanya menjadi hilang.


"Maaf semuanya, aku mau bicara dengan suamiku tercinta, yang selalu aku hormati dan banggakan. Dimohon kalian keluar dulu." Isna berbicara pada semua yang ada do tempat itu, setelah tangisnya mereda.


Isna terpaksa melakukan itu, mempersilakan semua yang ada di kamar itu untuk keluar.


Sempat Isna melihat wajah kedua orangtua tercintanya yang kebingungan.


Tapi Isna memang harus bicara pada suaminya.


Setelah semua, kecuali Dani,keluar kamar.


" Aa, saat ini saya benar-benar tak. bisa lagi menerima kebohongan Aa. Jelaskan pada saya tentang foto ini."


Isna memegang ponselnya, yang untungnya tidak rusak saat tadi jatuh terlempar. Lalu menunjukkan foto yang dlkirim oleh seseorang yang tak diketahui, yang seketika membuat dunianya jungkir balik.


Dani mendekat, melihat ke arah ponsel yang dipegang Isna. Dan reaksinya sudah Isna duga. Kaget.


" Siapa yang mengirim foto ini?" tanyanya dengan wajah bagai melihat hantu, pucat.


" Harusnya saya yang bertanya, apa yang sedang Aa lakukan bersama perempuan ini?!"


Nada suara Isna meninggi. Emosinya sudah sangat menguasai hatinya.


" Aa bisa jelaskan semuanya, Neng."


" Penjelasan apa?! Penjelasan kalau kalian melakukan hal terhina, tercela, dan penuh dosa ,seperti yang pernah kalian lakukan empatbelas tahun lalu?! Kalian ingin mengulanginya lagi! Kalian masih punya hasrat yang sama, Kenapa?! Kenapa Aa mau melakukannya lagi?! Kenapa?!"


Luapan emosi Isna tak lagi dapat diredakan. Semuanya keluar dalam bentuk teriakan, saat dia menanyai Dani. Ya, perempuan cantik yang biasanya melepaskan emosi dengan tenang, saat itu terlihat sangat berbeda. Emosinya meledak begitu hebatnya.


" Dan asal Aa tahu, foto itulah yang sudah membuat saya mengalami hal seperti ini ! Gara-gara dia, saya jadi kehilangan anak saya ! Gara-gara kalian ! Kalian jahat. Terutama Aa, yang sudah mengkhianati kepercayaan saya ! Saya benci sama kalian ! Saya benci sama Aa !" amarah Isna yang luar biasa membuat Dani luar biasa bingung, bagaimana harus menyikapinya. Saat Dani berusaha meredakan amarah istrinya dengan memegang tangannya, Isna malah semakin marah. Dan puncaknya Isna menjerit dengan keras sekali.


" Pergi !! Saya tidak mau melihat Aa lagi !! Saya benci sama kamu !! Kamu sudah membuat anak saya meninggal !!"


" Neng, istigfar, " Dani masih berusaha meredakan amarah Isna. Tapi usahanya nihil. Isna malah semakin mengumbar emosi.


Mama, dan Bapa menyerbu masuk, berusaha mengambil alih usaha Dani untuk menenangkan Isna.

__ADS_1


" Maaf, Nak Dani bisa keluar dulu? Biar Bapa sama Mama yang menghadapi Isna.


" Pergi!!" suara Isna kembali terdengar. Kali ini dibarengi dengan suara tangis yang cukup keras.


Arif masuk kamar, berusaha membujuk Dani supaya Dani mau keluar. Sementara Mama menangis sambil berusaha menenangkan Isna. Bapa sibuk membisikkan sesuatu di telinga Isna.


Wahid yang baru tiba ikut masuk, Dani dan Arif keluar dari kamar.


" Neng, istigfar Neng. Istigfar. Astagfirullahal adziim..." Bapa terus membisikkan itu di telinga Isna, Mama memegangi kedua tangan Isna, sambil menangis.


Isna merasakan rasa sakit bercampur kebencian luar biasa yang menghimpit dadanya, yang membuat napasnya sesak. Isna butuh melepaskannya, agar sesaknya hilang, agar sakitnya juga reda. Isna butuh menjerit, melepaskan semuanya, Ia pun berteriak-teriak seraya menjatuhkan air matanya sederas mungkin. Tangisnya terdengar meratap, dan mendatangkan iba di hati setiap yang mendengarnya.


Bapa masih memeluknya, sambil tetap membacakan istigfar, takbir, tahmid, dan tahlil, terus menerus.


Dalam pelukan Bapa Isna masih menangis, tapi perlahan ketenangan mulai menguasai hatinya. Beberapa saat kemudian teriakannya tak lagi terdengar. Hanya ada suara tangis yang masih belum juga reda.


Ini adalah kejadian terberat dalam sejarah hidup Isna. Disakiti oleh takdir.


Yang lebih berat, dan paling berat, orang yang diharapkannya bisa menjadi tumpuan pijakannya, tempatnya bersandar, tempatnya bertukar tangis, ternyata malah membohonginya. Menghilangkan kepercayaannya.


Isna sangat kecewa.


" Mama," Isna mulai mengajak mama bicara.


" Isna capek. Isna mau tidur dulu ya?"


Mama mengangguk sambil tersenyum, tangannya masih mengusap kepala Isna. " Tidurlah, Neng. Tenangkan diri."


Isna mulai merebahkan diri dan memejamkan mata.


Di luar kamar Isna, beberapa saat sebelumnya


Jeritan dan histerisnya Isna membuat Mama, Bapa, Arif dan Mbak Pri terkejut luar biasa. Semakin lama terdengar suara Isna makin histeris. Bapa dan Mama akhirnya berinisiatif untuk masuk, menenangkan anak mereka.


Wahid yang baru datang memandang Arif, minta penjelasan tentang apa yang terjadi. Arif hanya mampu menjawab dengan isyarat gelengan kepalanya.


Wahid dan Arif kemudian tanpa komando bersamaan masuk ke kamar, menyusul Mama dan Bapa.


Arif membujuk Dani keluar kamar. " Tidak ada gunanya Mas, malah akan membuat Teh Isna semakin histeris."


Dani akhirnya keluar, dengan Arif. Tak lama Wahidpun keluar.


" Ada apa ini, Dan? Apa yang terjadi dengan adikku?" tanyanya dengan bingung, dan sedikit ada emosi dalam suaranya.

__ADS_1


Dani masih belum menjawab. Dia malah duduk di bangku koridor rumah sakit.


Tak mendapatkan jawaban dari Dani, Wahid melihat ke arah Mbak Pri dan Arif bergantian, minta penjelasan.


" Maaf, Mas Wahid, sebetulnya Teh Isna sedang dalam kondisi yang tidak menyenangkan. Dia keguguran." Arif mencoba menjelaskan apa yang dia tahu mengenai kondisi Isna.


" Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un. Lalu, kenapa dia histeris mengusir suaminya sendiri?"


" Kalau tentang itu saya kurang tahu, Mas. Saya hanya tahu saat Teh Isna dibawa ke sini Mas Dani sedang tidak ada di dekatnya."


Wahid mengalihkan pandang pada Dani.


" Tolong jawab aku, Dan. Apa yang sudah kamu lakukan pada Isna sampai ia bisa se-emosi itu?"


" Maaf Hid, aku memang salah." Hanya itu jawaban Dani.


Wahid mendekati Dani, berdiri tepat di depannya.


" Sebesar apa kesalahan kamu, sampai Isna bisa semarah itu pada kamu?"


" Mungkin sangat besar. Tapi sungguh, itu bukan kemauanku. Kamu tau sendiri Hid, bagaimana aku mencintai Isna. Aku tak pernah terpikir sedikitpun untuk menyakitinya."


" Jelas, kamu tidak akan pernah berpikir untuk itu, tapi bagaimana bisa nyatanya kamu malah membuat nya sakit hati? Dan saat tadi Isna mengalami musibah, katanya kamu tak ada. Kemana?"


"Hid, tolong jangan menghakimi aku. Aku juga sama sedihnya dengan Isna. Aku juga merasakan perasaan kehilangan calon anak kami." Dani memelas.


Alis Wahid saling bertaut. " Kamu merasa aku menghakimi kamu? Aku hanya bertanya ,Dan. Kenapa kamu merasa dihakimi?"


Dani menghembuskan napasnya dengan kuat,seolah mau membuang semua beban yang menggelayuti hati dan pikirannya yang sudah penuh sesak.


" Maaf, Hid. Aku sedang tidak dalam kondisi yang menyenangkan."


" Oke, baiklah. Kita semua sedang tidak dalam kondisi yang menyenangkan, Aku hanya butuh untuk tahu, apa yang sesungguhnya terjadi antara kalian, antara kamu dan adikku?"


" Dia istriku, Hid. Aku juga menyayanginya, sama seperti kalian menyayangi nya.. Aku mau kamu yakin bahwa yang terjadi tadi hanya kesalahpahaman saja. Tolong, kasih aku waktu sejenak untuk merasa tidak disalahkan lagi, seperti Isna menyalahkanku. Walau memang ku akui, aku salah."


" Baiklah. Aku percaya kamu. "


Wahid berusaha melihat ke dalam kamar Isna. Sepertinya adiknya itu sudah lebih tenang. Teriakannya tak terdengar lagi.


Bersambung


.********

__ADS_1


__ADS_2