Hati Yang Terpilih Part 2

Hati Yang Terpilih Part 2
Siapakah Anindita?


__ADS_3

Kedatangan Anindita di hari itu telah membuat hari Isna menjadi muram. Bukan, perempuan itu bukan hanya sekedar teman suaminya. Sikapnya dan caranya memandang Isna seolah ingin menegaskan kalau dia adalah perempuan yang pernah mengisi hati Dani, sebagaimana Isna mengisinya saat ini.


" Mbak, " Mbak Pri memanggilnya, berusaha meyakinkan kalau Isna baik-baik saja.


" Iya, mbak Pri."


" Mbak Isna tidak apa-apa kan?"


Isna memandang mbak Pri ." Kelihatannya bagaimana?"


" Tak usah terlalu dipikir, mbak. Kalaupun ada sesuatu diantara mereka berdua,itukan masa lalu. Masa kini dan masa depan Mas Dani adalah Mbak Isna."


" Mbak Pri sudah lama ikut keluarga Aa, mbak tahu tentang Anindita itu?"


Sebelum menjawab, perempuan sederhana itu menarik nafasnya. " Kalau boleh jujur, saya pernah dengar namanya disebut, dulu sekali, waktu mas Dani masih SMA. Tapi baru sekarang saya ketemu orangnya."


" Sampai namanya pernah disebut di tengah keluarga itu, berarti ada sesuatu yang serius."


" Tidak juga, Mbak. Hanya waktu itu saya dengar orangtua Anindita itu tak setuju dengan hubungan mereka, lalu mengirim Anindita sekolah di luar negri. Anindita itu tinggalnya di Surabaya. Mas Dani kan


SMA nya di Surabaya." Isna menyimak semua kalimat yang keluar dari mulut mbak Pri.


" Yang bikin saya bingung ya Mbak, darimana dia tahu tentang rumah ini. Tentang saya," Isna masih belum bisa melepaskan pikirannya dari peristiwa tadi.


Banyak hal yang membuat Isna penasaran.


Mbak Pri yang ditanya hanya bisa menjawab dengan satu kalimat, "Saya tidak tahu, Mbak."


Percuma rasanya bertanya-tanya sendiri. Akhirnya, masih dengan kegalauan hatinya, Isna memutuskan untuk menunggu saja suaminya pulang. Untuk bisa menuntaskan semua tanya yang membebani otak dan hatinya.


Tapi sebelum itu, masih ada hal lain yang harus Isna lakukan. Menyelesaikan pekerjaannya, supaya tidak membuat pelanggan kecewa.


Semua yang harus dikerjakan sudah selesai. Tinggal mengemasnya. Dan mengantarkannya ke tempat pemesan. Itu tugas mas Arif.


Sebelum waktu Ashar tiba asisten pribadi merangkap supir Dani itu pun tiba, dengan kendaraan yang baru di belikan oleh ayah mertuanya.


Berbasa-basi sebentar, setelah itu Arif pun menjalankan tugasnya untuk mengantarkan pesanan.


Isna naik ke kamarnya. Menunggu waktu shalat Ashar sambil membuka ponselnya. Aplikasi Al-Qur'an yang menjadi fokusnya. Berusaha membaca beberapa ayat Al-Qur'an , untuk menenangkan perasaan yang sedang tidak tenang.


Selesai membaca beberapa ayat,ada panggilan video masuk ke ponselnya.


"Assalamu'alaykum Geulis, lagi apa?"


Dani yang menghubunginya.


" Wa'alaykumussalam, Aa. Lagi menunggu waktu Ashar."


" Mas Arif sudah ke situ?"


" Sudah."


" Sudah pergi mengantarkan pesanan?"


" Sudah."


Ekspresi wajah Isna yang terlihat oleh Dani sangat tidak biasa. Begitupun intonasi suaranya. Itu akhirnya yang membuat Dani menjadi heran.

__ADS_1


" Kamu kenapa?"


" Kenapa?"


" Tidak seperti biasanya. Sakit?"


" Tidak."


" Isna, kalau ada apa-apa bilang dong." Dani betul-betul bingung melihat Isna seperti itu.


" Iya, nanti aku bilang semuanya."


" Apanya?"


" Semua yang ada apa-apanya."


" Kamu ni kenapa sih?"


" Nanti aku bilang semuanya. Tidak bisa aku bilang di telepon."


" Jangan membuat Aa bingung dong Neng. Kenapa sih?"


" Nanti saja di rumah."


" Ya sudah, kalau begitu Aa pulang sekarang."


" Ya sudah."


" Assalamu'alaykum."


" Wa'alaykumussalam."


Apakah ini cobaan yang harus Isna terima? Masa lalu Dani datang, dan akankah masa lalu itu melakukan sesuatu yang membuat hatinya tersakiti?


Isna takut sakit hati.


Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore saat Dani tiba di rumahnya. Sempat bertemu Arif yang baru selesai shalat Ashar.


Berbasa-basi sebentar, Arif pun minta diri, berpamitan pulang.


Dani segera menuju ke kamarnya, dia ingin secepatnya menemui Isna. Tapi ternyata dia tak menemukan Isna di kamarnya. Dani akhirnya memutuskan untuk membersihkan diri terlebih dulu, di kamar mandi yang ada di kamarnya.


Selesai membersihkan diri dan mengganti pakaian, Dani turun, mencari keberadaan sang istri.


Sempat bertemu mbak Pri di bawah tangga.


" Mbak Pri, mbak tahu Isna dimana?"


" Ada di mushalla, mas. Tadi abis jama'£ah sama saya dan Arif."


Dani segera melangkahkan kakinya menuju mushalla kecil yang ada di belakang.


Ternyata benar, perempuan itu sedang terduduk sambil berdzikir. Saat Dani masuk sambil mengucap salam, Isna menjawab tanpa menoleh.


Dani duduk di sebelahnya.Tak berkata apapun, Dani malah ikut berdzikir.


Isna menengok, sekilas, kemudian melanjutkan dzikirnya.

__ADS_1


" Neng, ada apa?" Melihat gelagat tidak menyenangkan terkait perasaan Isna, Dani berinisiatif mengalah.


" Tadi ada perempuan,cantik sekali, datang kesini." suara Isna nyaris tak terdengar.


" Oh ya? Terus?" Dani mendekatkan wajahnya.


" Namanya... A-nin-di-ta," intonasi suara Isna terdengar agak menekan pada saat menyebut nama perempuan mewah itu.


Ekspresi wajah Dani seketika berubah, tidak lagi setenang tadi. Terkejut, sudah pasti. Perubahan ekspresi wajahnya terlihat jelas oleh Isna.


" Kaget? Tidak menyangka kan?"


Dani terlihat mau mengucapkan sesuatu,tapi sepertinya susah. Entah, mungkin dia sedang sibuk dengan hatinya sendiri. Bahagiakah karena cinta masa lalunya sudah kembali? Bingung, karena harus menceritakan masa lalunya pada Isna? Masa lalu yang sebenarnya ingin dia tutupi dari Isna, tapi kali ini harus dia buka, karena sudah terlanjur Isna mengetahuinya, walau hanya sedikit.


Isna pasti akan terus mendesaknya, untuk mengetahui lebih banyak tentang Anindita. Ada cerita yang tak pernah terceritakan, yang sekarang harus Dani ceritakan.


" Tidak mau jawab?" Melihat sang suami hanya terdiam, Isna semakin yakin kalau Anindita ini masa lalu yang tak ingin Dani bagi pada Isna.


" Tidak apa kalau Aa tak mau cerita. Tapi tolong bilang sama dia, jangan pernah datang kesini lagi, untuk alasan apapun. Apalagi hanya untuk sekedar memperkenalkan diri sebagai 'best friend' dari suamiku."


" Dia datang kesini?!" Dani makin terkejut.


" Ya. Memangnya Aa pikir darimana saya tau tentang dia?"


" Darimana dia tahu rumah ini?" Keterkejutannya berubah menjadi kebingungan.


" Ya mana saya tau. Tanyalah sendiri, hubungin dia. Barangkali dia kangen, sudah lama tidak bertemu kan?"


Sinis jawaban Isna. Dani semakin menyadari kalau Isna sedang cemburu. Bukan hanya cemburu, Isna juga marah. Matanya menyiratkan hal itu dengan sangat jelas.


Dani menggeser duduknya, menjadi berhadapan dengan Isna. Kedua tangannya meraih tangan Isna.


" Jadi ceritanya tadi ada perempuan datang kesini, mengaku bernama Anindita, gitu?"


" Iya."


" Apalagi yang dia bilang?"


" Salam buat Dani dari Dita."


" Hanya itu?"


" Hanya itu?!" Isna agak emosi mendengar pertanyaan suaminya. " Saya mau Aa jujur sama saya, ceritakan, siapa dia?!"


Dani melihat wajah cantik istrinya, yang biasanya ramah, menjadi kehilangan ramahnya. Sangat terlihat emosi yang tersimpan di hatinya. Dani punya tugas berat, menjelaskan semua hal tentang Anindita.


Tugas berat? Ya karena memang Dani tak pernah sedikitpun ingin nama itu disebutkan di tengah keluarga kecilnya, yang sedang berusaha dibangunnya dengan berbagai harapan manis dan indah.


Dani tak mau ada masa lalu yang menganggunya, apalagi masa lalu itu adalah Anindita, karena itu pasti akan membuat Isna tidak tenang.


Tapi sekarang, semua sudah tersingkap sebagian, membuat Isna sangat ingin membukanya lebar-lebar, mengetahui semuanya.


Dani menarik napas dalam, sangat berat buatnya untuk membiarkan Isna mengetahui semuanya. Tapi mau tak mau, suka tak suka, Isna harus tahu. Karena kalau bukan dari mulut Dani sendiri, bisa saja Anindita yang akan membeberkan semuanya.


Anindita sengaja mendatangi Isna untuk membuka kembali lembaran lama yang sudah Dani buang jauh-jauh. Entah apa maksudnya. Tapi itu adalah tugas Dani juga untuk mencari tahu.


Bersambung

__ADS_1


*******


__ADS_2