
Keesokan harinya, bunda yang baru tiba dari Surabaya langsung menjenguk Isna di rumah sakit.
Bertemu mama, mereka saling mengucap permohonan maaf.
" Kita jadi bersilaturahmi di rumah sakit. Padahal rencananya siang ini saya dan bapanya Isna akan ke rumah Bunda." berbasa-basi.
" Nantilah, setelah Isna sembuh, Bapak dan Mama main-main ke rumah." Bunda membalas basa dari mama. " Bapa kemana, Ma?"
" Sedang pulang dulu."
" Ikut sedih mendengar berita tentang Isna, ma."
" Iya, bund. "
Bunda Anne mendekati ranjang Isna.
" Sayang," Bunda Anne memeluk Isna. Isna membalas pelukan bunda, dengan mata sedih, tanpa air mata. Tapi ketika bunda menangis, Isna pun terbawa suasana, ikut mengeluarkan air matanya lagi.
" Ikhlas ya Neng." Bunda mengusap punggung Isna.
" Insyaallah. bun."
Beberapa detik mereka bertangisan.
Dani yang baru selesai mandi menghampiri ibu kandungnya itu, dan memberi salam penuh hormat.
" Ayah mana, bund?" tanyanya kemudian.
" Nanti menyusul," jawab sang bunda, masih dengan sisa isaknya.
Dani duduk di ranjang, tepat di sebelah Isna. Sementara bunda duduk kursi yang ada di sebelah tempat tidur.
" Bagaimana kabar mbak Delia, bund?" Dani menanyakan kabar kakaknya.
"Baik. Mereka kirim salam buat kalian."
"Aku sudah terima chat dari Mbak Del tadi malam, bund." Isna menyambut ucapan Bunda.
" Kamu dikuret Neng?"
" Iya, bund."
Mereka berbincang seadanya. Kemudian bunda pamit pulang, dengan janji akan kembali lagi sore nanti.
"Bunda tadi langsung dari bandara. Sekarang bunda pulang dulu, nanti sore insyaallah bunda ke sini lagi. Ya Cantik?"
" Iya, bund. Bunda dijemput Mas Arif tadi?"
" Iya dong."
Bunda memeluk Isna lagi. " Lekas sehat ya Neng."
" Terimakasih bund."
Kemudian Bunda berpamitan pada Mama. Kedua besan itu saling berpelukan.
" Hati-hati di jalan, Bund." kata Mama. Bunda menjawab dengan senyuman, " Terimakasih, Ma."
" Aku antar ke depan, bund."
Bunda menggandeng tangan anak lelakinya, melangkah keluar kamar.
Di depan kamar perawatan, tiba-tiba Dani berkata pada ibu kandungnya ,"Bund, aku sudah tahu dari Mbak Del, tentang bunda dan Ayah."
__ADS_1
Bunda menghentikan langkah, memandang Dani, "Apa? Tentang apa, Dan?"
" Bunda, jangan menutupi apapun lagi dari kami. Ayah sudah menceritakannya pada Mbak Del." Dani berdiri menghadapkan tubuhnya pada bunda.
" Ayah sudah bilang apa pada Delia?"
" Tentang hubungan Ayah dan Bunda."
" Lalu?"
" Kami meminta Bunda menceritakan semuanya pada kami."
" Bukankah Ayah sudah menceritakannya pada Delia?"
" Memang, tapi tidak semuanya. Ayah hanya bilang, Bunda meminta Ayah menceraikan Bunda. Dan itu sudah terjadi hampir setahun."
" Hanya itu?"
" Iya."
" Ya sudah, sekarang bunda harus segera pulang. Rencananya bunda hari ini mau melihat toko. Nanti sore kalau bunda sudah pulang dari toko, bunda pasti menceritakan semuanya sama kamu." Bunda menepuk pipi Dani.
Mata Dani memandang bundanya yang berlalu dari hadapannya.
Ini menyakitkan. Dani merasakan hatinya tergores.
Ayah dan bunda, pernikahan mereka hampir mencapai empatpuluh tahun, tapi takdir tak menghendaki mereka bersama lagi. Kenapa? Dani tak henti bertanya.
Mendesak menuntut jawaban dari ayah, Delia berkata pada Dani, Ayah hanya menjawab kalau mereka sudah tak lagi ada kecocokan.
Setelah empatpuluh tahun?
Dani tak habis pikir.
Belasan tahun lalu, keluarga damai yang Dani pikir adalah tempat ternyaman di dunia berubah menjadi keluarga dengan suasana bak mwgan perang. Saat itu, Dani remaja harus pergi, meneruskan sekolahnya di Surabaya karena kedua orangtuanya tak lagi bisa memberikan rasa nyaman di rumah mereka sendiri.
Bersama Anin, Dani menikmati kebebasannya, mencari obat untuk rasa frustasi menghadapi persoalan Ayah Bundanya yang meninggalkan rasa sakit.
Dani tidak tahu lagi saat itu, apakah yang dia lakukan itu baik atau tidak, benar atau salah. Yang dia tahu hanyalah, dia perlu bahagia, dan itu dia dapatkan dari sosok Anindita, yang waktu itu menjadi tempat harapan dan bahagianya bertumpu.
Teringat itu semua, Dani merasakan miris. Badai yang nyaris menenggelamkan mereka semua akhirnya berlalu. Ayah dan Bunda menyadari kesalahan mereka, menginsafi nya, dan berusaha memperbaikinya.
Mereka berusaha menjadi keluarga yang lebih baik lagi. Mendalami agama, menyembuhkan Dani dari rasa putus asanya kehilangan Anindita, semua mereka lakukan, bersama, di bawah payung keluarga yang penuh kasih sayang.
Tapi sekarang? Kenapa harus ada perpisahan? Padahal badai terberat sudah mampu mereka lewati di masa lalu.
Dani melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar perawatan Isna. Mendapati Isna sedang melihat-lihat ponselnya. Sang mertua baru saja dijemput Wahid, sejenak akan menengok keadaan rumahnya.
Baru saja Dani duduk, seseorang masuk.
" Assalamu'alaykum Dan," seseorang itu menyapa Dani.
" Wa'alaykumussalam, Mas Rizal."
Mereka bersalaman, sambil saling mengucapkan permohonan maaf.
" Aku sebetulnya bawa Ayu dan Si Mbah. Tapi Ayu tak diijinkan masuk. Akhirnya si mbah tak bisa masuk, menunggui Ayu."
" Ya memang begitu aturannya , Mas."
" Aku dengar kabar dari Arif, kemarin waktu aku jemput Ayu untuk ketemu keluargaku."
" Sudah bertemu?"
__ADS_1
" Sudah."
" Reaksi mereka bagaimana?"
" Sebelumnya aku sudah menceritakan semua pada mereka. Jadi saat aku bawa Ayu menemui mereka, mereka tidak kaget. Justru sepertinya mereka sangat menyukai Ayu. Ayu adalah anak yang sangat pintar dan menyenangkan."
" Alhamdulillah." Isna yang ikut mendengarkan akhirnya berkomentar.
" Eh iya, Isna, bagaimana keadaannya?"
" Alhamdulillah, begini lah, Mas."
" Ikut prihatin. Yang ikhlas ya? " Rizal berbicara pada Isna sekaligus melihat ke arah Dani, menepuk pundaknya.
" Terimakasih, Mas." Bergantian Isna dan Dani mengucap terimakasih.
Sedikit terjadi perbincangan. tak lama kemudian Rizal pun pamit.
Setelah Rizal keluar, si Mbah yang masuk.
Seperti yang Rizal lakukan, si Mbah juga mendoakan supaya Isna cepat sehat. Dani dan Isna cepat diberi kepercayaan untuk memiliki anak. Yang langsung di aminkan oleh mereka berdua.
Waktu pun telah menjelang malam. Mentari telah memasuki peraduannya. Dan langit jingga telah berganti dengan gelap.
Dani membatin, sang bunda telat datang. Mungkin ada kendala di jalan.
Isna melihat suaminya terus menerus melihat arlojinya.
" Menunggu siapa, A?"
" Bunda. Katanya sore ini mau kesini lagi."
" Macet mungkin. Sekarang kan lebaran, pasti kawasan wisata daerah Bogor, aplagi yang ke arah puncak, pasti jalurnya padat."
" Iya juga."
Isna duduk berselonjor di atas tempat tidurnya, Dani duduk di sebelahnya, sambil tangannya menggenggam jemari Isna.
" De javu ya?" katanya sambil mengusap-usap cincin yang melingkar di jari manis Isna. Cincin pernikahan. Teringat cincin, rumah sakit, terbayang kembali dalam ingatan Dani saat mereka belum menikah.
Menunggui Isna di rumah sakit, memaksa Dani harus mempercepat niatnya untuk menjadikan Isna halal untuknya. Keinginannya untuk selalu menjaga Isna, tak mau dia kotori oleh sesuatu yang dilarang agama. Untuk bisa selalu berada dekat dengan perempuan yang mau dilindunginya, Dani harus menjadi mahramnya.
Mereka pun menikah secara siri, demi supaya mereka bisa bersama terus.
( Baca HATI YANG TERPILIH, kalau mau tahu cerita lengkapnya)
Isna ikut mengenang masa itu. Begitu manis perhatian Dani padanyq. Tak sadar bibirnya menyunggingkan senyum. Dani melihat senyum itu.
" Ingat apa, hayo?" godanya pada sang istri.
" Ngga ingat apa-apa."
Dani melebarkan senyumnya, mendekatkan wajahnya pada wajah Isna, " Masa sih?"
Isna memalingkan wajahnya, masih bisa dia tersipu malu menghadapi suaminya.
Sejenak Dani merasa sedang berhadapan dengan Isna setahun yang lalu.
Sejenak terlupa , bahwa ada yang belum terselesaikan. Penjelasan dari ibunya tentang perpisahannya dengan sang suami, yang adalah ayahnya.
Tapi Dani masih menunggu.
Bersambung
__ADS_1
****
.