Hati Yang Terpilih Part 2

Hati Yang Terpilih Part 2
Kesedihan Terdalam


__ADS_3

" Ibu Isna, Ibu bisa pindah ke ruang perawatan."


Perawat yang tadi masuk kembali, dan bersiap membawa Isna ke ruang perawatan.


" Lelaki yang tadi diluar itu bukan suami ibu?"


" Bukan, mbak. Itu asisten pribadi suami saya."


" Oh, pantas, tadi dia yang membayarkan uang muka administrasi atas nama ibu."


Dalam genangan kesedihan Isna masih sempat heran, kenapa harus Mas Arif yang mengurusi semuanya?


Begitu keluar dari ruang UGD, Isna mendapati Arif sedang berdiri dengan tampang gelisah. Saat melihat Isna keluar, Arif segera menghampiri. Dari kejauhan Isna melihat Mbak Pri sedang mendekat dengan setengah berlari.


" Maaf Mas, saya kesini tadi pesan ojol, tapi lama dapatnya. Mbak Isna mau dibawa kemana?"


" Ke ruang rawat inap. Mbak Pri sudah hubungi Mas Dani?"


" Sudah. Kenapa? Belum datang?"


" Belum."


" Saya telepon memang tidak diangkat. Saya coba chat, juga tidak dibaca."


" Kemana ya mas Dani?"


Arif dan Mbak Pri mengikuti perawat yang mendorong brankar masuk ke dalam salah satu kamar kelas 1.


Sempat Arif melihat mata Isna yang sembab.


" Bagaimana kondisi mbak Isna?" Mbak Pri bertanya sambil berbisik.


" Saya kurang tahu. Dokter tidak memberi tahu saya, karena saya bukan suaminya."


" Sepertinya telah terjadi sesuatu."


" Iya. Kasihan Mbak Isna."


" Maaf, bapak bisa tolong saya memindahkan ibu Isna ke ranjang?" perawat bertanya pada Arif.


" Bisa, mbak."


Arif mendekati Isna." Maaf Teh, saya mohon ijin."


" Saya bisa berdiri kok mas."


Isna duduk dan mencoba turun dari brankar. Tapi ternyata tubuhnya malah terhuyung ke depan. Dengan sigap Arif menangkapnya. lalu berusaha mengangkat dan menggendongnya. Walau agak susah, akhirnya Arif berhasil membaringkannya di ranjang.


" Seharusnya Aa yang melakukan ini." kata Isna dalam hati. Dia memiringkan tubuhnya, berusaha menyembunyikan tangisnya dari pandangan Arif dan mbak Pri.


Air mata Isna menetes satu satu. Sepayah apapun Isna berusaha, air mata itu tetap keluar. Hatinya hancur. Dia tau, airmata takkan mengubah takdir, Tapi salahkah kalau Isna menangis karena kesedihannya? Ini bukan kali yang pertama, sesabar apapun dan sekuat apapun, Isna adalah manusia biasa. Banyak yang dia pikirkan, dan pikirannya itu membuatnya takut. Takut kalau takdir tak lagi memihaknya.Takut kalau semua bahagianya akan hilang, lagi.


Arif hanya mampu memandang penuh iba. Ingin rasanya dia merengkuh perempuan cantik itu ke dalam pelukannya, menghapus dukanya, menghiburnya, agar senyum itu kembali datang. Tapi perempuan itu adalah istri sah orang lain.

__ADS_1


Suasana kamar itu hening, walau Isna berusaha menyembunyikan tangisnya, isaknya tetap terdengar. Kehilangan calon anak,sementara suami tak bisa dihubungi, itu adalah hal yang sangat menyakitkan. Kedua orang yang menemani Isna hanya bisa terdiam dalam iba.


" Mbak, sudah mengabari orangtua Teh Isna?" Arif bertanya pada Mbak Pri,setelah mengambil posisi menjauh dari Isna. Bertanya pun Arif lakukan dengan setengah berbisik.


" Sudah."


" Apa aku datangi saja rumah sakit tempat teman Mas Dani dirawat,ya?" Arif bertanya, tapi sepertinya pada dirinya sendiri.


Isna mendengar kata-kata Arif. Dia menengok. "Tolong, Mas. Tolong lihat,apa yang sebenarnya terjadi pada suamiku?" masih dengan suara yang dipenuhi isak. Kalau bisa menjerit, mungkin Isna akan menjerit sekeras-kerasnya, mengeluarkan semua kesedihan dan kekesalan yang menghimpit dadanya.


" Baiklah, Teh."


" Eh tapi itu baju Mas Arif ada bekas darah."


" Oh iya,saya ada bawa baju buat ganti. Maaf Teh, saya pinjam baju mas Dani. Tadi saya lihat sebelum ke rumah sakit baju mas Arif terkena darah. Saya berinisiatif membawakan baju Mas Dani." Mbak Pri bertutur sambil menjelaskan keadaannya.


" Tak apa, Mbak. Silakan Mas Arif, ganti baju dulu."


Dengan agak sungkan, karena merasa tidak pantas, Arif mengambil baju yang disodorkan Mbak Pri. Kemudian dia berganti pakaian di kamar mandi.


Saat Arif keluar dari kamar mandi,Isna sempat beberapa detik mengira Arif adalah Dani.


" Mas Arif terlihat seperti Mas Dani. Sebab baju itu biasa dipakai mas Dani, " pengakuan itu keluar dari mulut Mbak Pri.


Arif hanya tersenyum tipis.


" Teh, saya jalan dulu ya?" berpamitan Arif pada Isna.


" Itu bukan apa-apa."


Isna masih dalam puncak nelangsanya. Nestapa itu mengiris rasa suka citanya, menghadirkan tangis yang masih belum bisa reda.


Mbak Pri menghampiri, duduk di sebelahnya, Lalu lamat-lamat perempuan itu melantunkan shalawat, dengan suara parau. Dia ikut merasakan kepedihan yang Isna rasakan.


Masih tenggelam dalam duka, Isna berusaha mengikuti shalawat yang Mbak Pri lantunkan. Hati kecinya benar-benar mengharapkan suami tercintanya hadir di sisi nya saat ini. Karena Dani adalah sumber kekuatannya.


Tapi kemanakah dia?


Yang paling membuat Isna tak bisa tenang adalah karena Dani sedang menemui Anindita. Sudah hampir satu jam. Apa yang Dani lakukan? Kesedihan Isna bercampur dengan dugaan dan prasangka buruk yang semakin membuat pikirannya kalut. Emosi yang bercampur aduk membuat tangisnya tak juga mau berhenti.


Ada yang mengucap salam di depan pintu kamar. Mbak Pri dan Isna menjawab berbarengan. Pintu terbuka, lalu muncullah Bapa, kemudian disusul Mama.


Mata Mama sembab. Perempuan sabar itu langsung menghampiri sang anak, dan memeluknya. Tangis Isna meledak seketika.


" Anak Isna sudah tidak ada, Ma..." ucapnya, disela-sela isaknya.


Mama pun tak kalah tersedunya. Suara isak keduanya terdengar bersahutan memecah kesunyian ruangan tersebut.


Semua yang ada di kamar itu tampak tenggelam dalam suasana hati yang menyedihkan.


Sungguh sulit bagi kedua orangtua Isna untuk menenangkan anak perempuan mereka. Karena saat itu yang Isna butuhkan adalah Dani.


Bapa hanya mampu melantunkan dzikir, untuk menguatkan sang anak.

__ADS_1


Ponsel Mbak Pri berdering. Mbak Pri mengangkatnya.


Ada panggilan telepon, dari Arif.


" Assalamu'alaykum Mas Arif."


" Wa'alaykumussalam, Mbak. Orangtua Teh Isna sudah datang?"


" Sudah, Mas. Bagaimana? Mas Dani sudah ditemukan?"


" Sudah. Saya dan Mas Dani baru mau berangkat ke situ."


" Oh, ya sudah. Ada lagi yang mau dibicarakan?"


" Tidak ada, Mbak."


" Ya sudah. Hati-hati di jalan Mas."


" Iya Mbak."


Setelah saling mengucap salam percakapanpun selesai.


Bapa mengajak Mbak Pri agak menjauh dari tempat tidur Isna. Ada sesuatu yang Bapa mau tanyakan.


" Maaf Mbak, memangnya Dani kemana sampai harus dicari-cari? Dia tidak tahu kalau istrinya keguguran?" Bapa bertanya dengan berbisik.


" Sepertinya belum tahu, Pa. Tadi dia menemani temannya yang kecelakaan," Mbak Pri juga menjawab dengan berbisik.


Bapa tak berkata apa-apa lagi.


Menunggu hampir lima belas menit, akhirnya lelaki itupun muncul di harapan Isna. Dengan memasang wajah khawatir, Dani langsung menghampiri istrinya, dan ingin memeluknya. Tapi Isna menepis tangan Dani


Sisa tangisnya masih terdengar, tapi kekesalannya jauh lebih besar. Ingin sekali dia meluapkan kekesalan pada Dani. Keraguannya pada lelaki itu meningkat drastis. Kepercayaannya nyaris sirna. Gucangan yang menghantam jiwanya membuatnya tak lagi mampu berpikir dengan tenang. Seakan dia lupa kalau dia harus menyembunyikan persoalan ini dari kedua orangtuanya.


Dani terkejut dengan penolakan istrinya itu. Kebingungan langsung terlihat di wajahnya. Begitu juga dengan Mama dan Bapa. Kedua orangtua itu sangat kaget melihat reaksi Isna pada sikap suaminya.


" Kemana saja sampai susah dihubungi?" tanya Isna dengan ketus,


" Maaf Neng, ponsel Aa dirampas orang." jawab Dani dengan wajah penuh sesal.


" Oh ya? Kok bisa?!"


" Ya Aa juga tidak tahu kenapa bisa. "


" Kok bisa, pada saat sedang dibutuhkan, Aa malah tak bisa dihubungi? Saya sakit, A... Saya sendirian, saya..." Isna tak melanjutkan kalimatnya, tangisnya meledak.


" Anak kita sudah tidak ada." Dalam tangisnya yang kian keras Isna memberi tahu kabar itu pada suaminya.


Dani hanya bisa mematung, sambil bibirnya berucap. "Innalillahi wa inna ilaihi roji'un."


Bersambung


******

__ADS_1


__ADS_2