
Isna duduk sambil memainkan tali tasnya. Dalam hati dia merasa agak aneh, buat apa dia menunggu di sini? Buat apa dia menunggui perempuan yang sudah mengganggu kenyamanan hidupnya?
Sebagai perempuan normal, yang notabene sudah merasa terganggu dengan kehadiran perempuan masa lalu suaminya, sudah sangat wajar bila dia mendoakan supaya perempuan itu pergi selamanya dari kehidupan mereka.
Tapi saat ini situasinya berbeda.
Walaupun kalau mau jujur, sesungguhnya Isna tak pernah mau melihat dan mendengar suaminya berurusan lagi dengan Anindita.
Saat ini nyatanya Dani sedang sibuk mengurus administrasi rumah sakit untuk Anindita.
Isna merasa lelah. Secara fisik dan mental.
Duduk menunggu di koridor rumah sakit bukan pilihan yang menyenangkan. Isna merasakan pinggangnya pegal. Akhirnya setelah berpikir beberapa saat Isna memutuskan untuk pulang. Dia butuh merebahkan diri.
" Aa, antarkan aku pulang, " kalimat yang keluar dari mulut Isna lebih mirip perintah dari pada permintaan.
" Sebelumnya jemput mbak Pri dulu di rumah Bunda."
Tanpa membantah Dani segera melaksanakan titah istrinya.
" Bagaimana keadaan Anin?" Isna menanyakan keadaan Anindita, hanya untuk memastikan kalau suaminya tak perlu lagi menunggui perempuan itu.
" Masih belum sadar."
" Aa tak perlu lagi menungguinya kan ?"
Dani tak menjawab.
" Kenapa? Masih harus suamiku yang menungguinya sampai sadar?" sinis terdengar suara Isna.
" Aa harus bagaimana? Membiarkan dia sendiri di rumah sakit?"
" Aku akan suruh mas Arif yang menungguinya. Kalau ada sesuatu yang darurat barulah Aa boleh datang ke rumah sakit."
" Baiklah, Aa turuti keinginan Neng."
" Harus."
Baru saja mobil Dani memasuki halaman rumah Ayah Prasetyo, ponselnya berdering.
Dani mengangkat ponselnya, berbicara dengan si penelpon, sementara Isna berusaha mencuri dengar percakapan Dani dengan seseorang di seberang sana.
" Iya, dokter, " terdengar jawaban Dani.
" Baik, dokter. Iya, saya segera ke situ."
Isna tak jadi melangkah meninggalkan mobil. Dani akan kembali ke rumah sakit.
" Maaf, Neng. Tadi dokter bilang Dita sudah sadar, Tapi dia tak bisa mengingat apapun. Dokter minta Aa menungguinya, karena Aa tadi mengaku sebagai saudaranya."
Isna merasakan kepalanya tiba-tiba berputar. Isna berusaha mencari pegangan.
" Neng, kenapa?" Dani berusaha meraih Isna.
Isna hanya menggeleng. " Jadi Aa harus kembali ke rumah sakit?"
" Tidak akan, kalau Neng tak mengijinkan."
Isna merasa dilema. Biar bagaimanapun Isna adalah manusia yang punya empati. Seandainya benar Anindita mengalami amnesia, pasti akan sulit baginya menghadapi semuanya seorang diri.
__ADS_1
" Aku ijinkan. Tapi aku titip kepercayaan sama Aa. Tolong dijaga dengan sebaik-baiknya."
Dani terlihat tak percaya dengan perkataan Isna. "Benar Neng mengijinkan Aa menunggui Dita?"
"Ralat," Isna menukas kata-kata Dani. " Hanya menemui, bukan menunggui."
" Ya, menemui, hanya sebentar."
" Silakan. Aku mencoba untuk menjadi manusia yang masih punya hati."
"Terimakasih, Cinta." Dani memeluk Isna.
Isna tak menjawab.
" Tunggu, aku mau pinjam motor Mas Arif, Biar nanti mas Arif bisa antar Neng sama mbak Pri pulang, dengan mobil."
" Iya."
Setelah Dani pergi, Isna berniat pulang, dengan diantar Arif.
" Tolong antar saya pulang, mas."
" Siap. Teh."
Selama dalam perjalanan pulang Isna tak berbicara sepatah katapun. Keresahan terlihat jelas dari wajah cantiknya. Dalam hati Isna tak hentinya berdoa, supaya suaminya selalu dalam lindunganNya, dijauhkan dari hal-hal yang tidak baik.
Singkat cerita, Isna dan Mbak Pri sampai di rumah.
Baru saja Isna melangkahkan kakinya menaiki tangga, berniat masuk kamarnya, notifikasi WA berbunyi. Mengintip notifikasinya, nomor tak dikenal mengiriminya foto.
Rasa penasaran membuatnya membuka chat dari nomor tanpa nama itu.
" Astagfirullah!" Isna berteriak tanpa sadar. Mbak Pri yang terkejut spontan menengok ke arahnya, dan dengan nyaring dia meneriakkan nama Isna.
" Mbak Isna!"
Arif yang sedang duduk di teras ikut terkejut, dengan sigap dia berlari masuk.
Isna sudah jatuh dengan posisi tubuh terlentang.
Mbak Pri membantunya duduk. Isna memegangi perut bagian bawahnya yang tiba-tiba terasa sakit. Arif hanya berdiri sambil memandanginya. Tiba-tiba Arif menyadari sesuatu.
" Mbak Pri,itu, ada... darah?"
Mbak Pri kaget, " Darah?"
Isna juga tak kalah kaget. Dia memang merasakan bagian bawah baju gamisnya basah. Ternyata di lantai marmer tempat dia terjatuh tadi ada bercak darah.
" Mbak Isna, mbak pendarahan." Suara Mbak Pri terdengar panik.
Wajah Arif menjadi tegang. " Kita bawa ke rumah sakit, Mbak," Arif bicara pada mbak Pri.
Darah yang keluar semakin banyak. Semua panik, apalagi Isna.
" Mbak,tolong ambilkan selimut tebal," Arif lagi-lagi bicara pada Mbak Pri.
Mbak Pri bergegas menaiki tangga, mau mencari selimut di kamar Isna.
Sementara Isna semakin pucat, melihat darah yang begitu banyak.
__ADS_1
Mbak Pri kembali dengan membawa selimut yang Arif minta. Kemudian dengan selimut tersebut Arif membungkus tubuh bagian bawah Isna, dan menggendongnya, untuk masuk mobil.
" Mas Arif, ini hp mbak Isna." Mbak Pri memungut ponsel Isna yang tadi terjatuh.
" Tolong pegang, mbak. Maaf lagi, tolong bukakan pintu mobilnya."
Mbak Pri melaksanakan semua yang dikatakan Arif.
" Mas Arif duluan saja ke rumah sakit. Biar saya yang kasih tahu mas Dani. Mau ke rumah sakit mana, mas?"
" Rumah sakit Buah Hati, mbak." Isna yang menjawab.
" Baik, nanti saya kabari mas Dani. Ini hp nya, mbak." Mbak Pri menyerahkan ponsel Isna. Isna didudukkan di kursi belakang oleh Arif.
" Hati-hati, Mas." pesan Mbak Pri, saat Arif mulai menyalakan mesin mobilnya.
" Iya."
Mobil mulai melaju, menyusuri jalan, dengan kecepatan lumayan tinggi. Isna sampai harus mengingatkan Arif agar tidak mengebut.
Arif betul-betul tegang. Sesekali dia menengok, memastikan Isna masih baik-baik saja.
" Aku tidak apa-apa, mas."
" Iya, teh."
Padahal sesungguhnya Isna merasa takut akan terjadi sesuatu yang buruk pada calon bayi dalam kandungannya. Mudah-mudahan semua baik-baik saja, doa Isna dalam hati.
Sampai di rumah sakit, Arif kembali menggendong Isna, langsung menuju UGD.
Para perawat yang melihat kedatangan Isna yang digendong Arif dengan sigap mengambil peran, menangani Isna.
Setelah Isna ditangani, Arif yang dikira sebagai suami Isna oleh para perawat diminta datang ke bagian administrasi.
Tanpa banyak bicara Arif melaksanakan yang diminta oleh perawat. Berhubung dalam dompetnya tak ada uang sejumlah yang harus dibayarkan pada pihak rumah sakit, Arif harus mencari ATM untuk tarik tunai.
Selesai urusan administrasi Arif baru menyadari kalau bajunya terkena bercak darah. Tapi Arif tidak peduli. Dia menunggui Isna di depan UGD, cukup lama,sampai seorang perawat memanggilnya.
" Suami ibu Isna."
" Maaf, saya bukan suaminya. Suaminya belum datang, tapi sudah dikabari."
" Begini, pak. Ibu Isna sudah ditangani dokter. Sebetulnya dokter perlu bicara dengan suami bu Isna."
" Kalau begitu tunggu saja, mbak. Barangkali sebentar lagi suaminya datang."
" Baiklah." Perawat itu kembali masuk ke dalam ruang UGD.
Sementara Isna dalam kegelisahan yang amat sangat, karena menunggu kedatangan suaminya. Begitu lama dia menunggu. Kemana gerangan suaminya itu?Isna ingin menuntut penjelasan dari Dani, tentang foto yang baru saja Isna lihat. Foto yang mampu meluluhlantakan kepercayaan Isna dalam sekejap. Memorakporandakan hatinya, dan membuat hatinya patah.
Dani belum datang juga. Sudah lebih dari setengah jam. Sampai Isna harus mendengar sendiri pernyataan dari dokter kandungannya, bahwa calon bayinya tak terselamatkan. Isna keguguran, lagi.
Pernyataan sang dokter tidak mau Isna percayai. Tidak sama sekali. Isna berharap kalau itu hanya mimpi buruknya saja. Nanti juga aku akan bangun, batin Isna berkata. Tapi nyatanya, itu bukan mimpi.
Isna menangis sendirian. Merasa sendirian. Sakitnya terasa sangat dalam.
Kemanakah kamu, suamiku?
Bersambung
__ADS_1
******