
Pertanyaan itu masih menggantung, tanpa jawaban.
Mereka sudah sampai di rumah.
" Siapa yang barusan ngirim pesan lewat WA, A?" Isna penasaran, bercampur jengkel. Suaminya tak mau memberitahu jawaban nya. Padahal sepanjang jalan Isna berusaha menanyakannya.
" Kenapa sih, Neng sebegitu mau tahunya?"
" Kenapa sih, Aa sebegitu tidak mau memberi tahunya?"
Dani menarik nafas," Kalau Aa kasih tahu nanti Neng marah?"
" Memangnya siapa sih?"
Dani malah masuk ke dalam kamar yang ada di lantai bawah. Isna mengekornya. Rasa penasaran bercampur jengkel berubah menjadi kemarahan.
" Dari Anindita ya?" tanyanya dengan galak.
Tanpa menunggu jawaban Dani, Isna membalikkan badannya, hendak pergi ke kamarnya sendiri di lantai dua.
" Eh, mau kemana Cinta?"
" Tidur di atas, menemani Ayu."
Tangan Dani segera meraih tangan Isna, memegang nya, dan menariknya dengan sekuat tenaga sampai perempuan itu terjerembab ke dalam pelukannya.
Tak hanya sampai di situ, setelah Isna berada dalam pelukannya, Dani memeluknya erat sekali sambil menyentuhkan bibirnya ke wajah Isna.
Isna sebetulnya ingin sekali marah dan mendorong wajah suaminya jauh-jauh dari wajahnya. Tapi itu terlalu kasar. Lagi pula tak baik berbuat seperti itu pada suami.
Isna memalingkan wajahnya, sebisa mungkin menjauhkan diri dari Dani.
Dani berhenti melakukan aksinya. Masih dalam posisi berhadapan, Dani memandangi Isna, sambil tersenyum menggoda.
" Marah?" Kedua tangan Dani memegang pipi Isna.
" Makin cantik. Tapi akan lebih baik kalau bidadari ini tersenyum."
" Tidak usah merayu," jawaban Isna ketus.
" Ya sudah, kalau memang Neng mau tahu, sampai penasaran." Dani mengeluarkan ponselnya, membukanya, lalu menunjukannya pada Isna.
Isna melirik sekilas, pura-pura tak tertarik.
" Ini." Dani meletakkan ponselnya di tangan Isna. "Silakan diperiksa, Nyonya."
Isna mengambil ponsel Dani. Lalu membaca deretan pesan yang masuk.
Melihat jam masuknya, ternyata pesan yang masuk tadi adalah pesan dari Wahid, kakak lelaki Isna satu-satunya.
Dan isinya hanya kalimat singkat ," Sudah siap, bro. Tinggal eksekusi." Dan jawaban Dani adalah emoticon jempol mengacung.
" Sudah?" tanya Dani.
" Belum. Aku belum lihat semua."
" Mau lihat semuanya?"
Isna tak menjawab. Dia malah sibuk membaca semua deretan pesan yang ada di ponsel Dani.
Harus Isna akui, sejak ada peristiwa kedatangan Anindita, Isna mulai mempertanyakan kejujuran Dani, Sepertinya Isna mengalami krisis kepercayaan pada suaminya.
Dani sangat menyadari hal itu. "Selama ini Neng tidak pernah peduli sama ponsel itu, tak pernah mau tahu apapun isinya. Sekarang sepertinya Neng selalu ingin tahu. Masih belum bisa percaya lagi sama Aa?"
" Tak perlu aku perjelas ya, Memangnya salah nya ada di aku?"
Dani pikir semuanya sudah selesai saat Dani sudah jujur tentang Anindita. Tapi ternyata Isna tidak pernah bisa lagi percaya sepenuhnya pada Dani.
Kesalahan Dani fatal sekali.
Akhirnya Isna menyerahkan ponsel Dani kembali pada yang punya, setelah puas menjelajahi isinya.
Lalu dia beranjak meninggalkan Dani, tanpa bicara apapun.
Sebetulnya Isna tidak suka kalau harus mencurigai suaminya terus. Karena kecurigaan itu adalah tanda kalau Isna meragukan kejujuran suaminya. Tapi ini berkaitan dengan hati. Hati Isna sudah tak lagi bisa seyakin dulu pada kejujuran Dani. Hati Isna selalu ingin bertanya, " Apakah sekarang kamu jujur sama aku? Kebohongan apa lagi yang kamu berikan?"
Itulah kenyataannya.
Isna naik ke lantai dua, lalu masuk ke kamarnya.
__ADS_1
Ayu masih terlelap.
Setelah berganti pakaian Isna bersiap untuk tidur.
Dani tak juga menyusul Isna untuk masuk kamar.
Kecurigaan itu hadir lagi. Isna berusaha sekuat tenaga untuk tidak memikirkan kalau Dani sedang membohonginya. Karena itu hanya kecurigaan saja.
Tapi sekali lagi,itu tidak mudah.
Akhirnya Dani masuk juga ke kamarnya.
Isna pura-pura tidur. Dan merasakan Dani duduk di sebelahnya. Sepertinya Dani sedang memandanginya. Lalu Isna merasakan rambutnya disentuh dan diusap.
" Maafkan Aa ya Neng. Ini semua ulah Aa sendiri, membuat kamu selalu curiga sama Aa."
Isna masih tetap pura-pura tidur.
Tak terasa lagi usapan di rambut Isna. Sepertinya Dani tak lagi duduk di sebelahnya.
Tak terdengar suara apapun. Dani kemana lagi?
Ah, biarkanlah. Isna sudah mengantuk, dan ingin membuang semua pikiran yang tak penting itu, terus tidur. Mimpi indah. Dan bangun di esok hari dengan harapan baru.
Rasanya Isna baru saja terlelap ketika terdengar suara Dani membangunkannya, sambil menepuk pipinya.
" Neng, bangun Cinta."
" Mmmm..." Baru juga tidur, masa iya sudah waktunya sahur?
Mata Isna enggan sekali terbuka. Seperti ada lem yang merekatkan kelopak matanya.
Dani tak hentinya berusaha untuk membuat Isna terbangun.
" Jam berapa sih?" tanyanya , masih dengan mata setengah terpejam, suaranya setengah berbisik, takut membangunkan Ayu.
" Jam duabelas."
" Hah?" Isna kaget. " Jam duabelas? Mau apa aku dibangunkan tengah malam begini?"
" Aa mau...kamu mau ke surga ?"
Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka. Isna melihat ke arah pintu.
Dan yang pertama dilihatnya adalah Wahid, muncul, sambil membawa nampan berisi... tumpeng?
Dibelakang Wahid ada mama, bapa.
" Barakallah fi umrik, Isnaini Aisyah."
Sepersekian detik otak Isna langsung bisa bekerja secara normal. Mereka, keluarganya, memberi kejutan di hari ulang tahunnya.
Ulang tahun? Isna mengingat-ingat tanggal hari ini.
" Neng..." Bapa, mama, dan Wahid menghampiri Isna yang masih mematung di atas kasurnya.
Bapa memeluk Isna, " Barakallah ya Neng, tambah umur, tambah rezeki, hidupnya lebih baik lagi."
" Makasih, pa." Air mata Isna mulai menggenang di matanya. Diambilnya tangan bapa, diciumnya punggung tangan sang ayah dengan hormat.
Begitupun dengan mama, dan juga A Wahid.
" Makasih ma, pa, Aa... Isna saja lupa sama ulangtahun Isna sendiri."
" Hayu, sekarang silakan menyuapi bapa sama mama." Wahid menyodorkan tumpeng mini ke hadapan Isna.
Isna tersenyum sambil mulai menyendok nasi dan lauk nya, lalu menyuapi sang mama.
Setelah itu ganti menyuapi bapa.
"Aku dong." Wahid membuka mulutnya lebar-lebar, seperti buaya.
Isna menuruti kemauan kakaknya.
" Suami tak dikasih, nih?" Dani ikutan minta disuapi.
Isna pun menyuapi suaminya.
" Selamat nambah umur ya Cinta. Doanya semua yang terbaik buat bidadari Aa."
__ADS_1
" Terimakasih, suami."
" Sudah, sekarang kita turun yuk." Dani mengajak semua yang ada di kamarnya untuk turun." Kasihan Ayu, keberisikan."
" Isna ke kamar mandi dulu." Isna beranjak ke kamar mandi.
Bapa, mama, Wahid, keluar kamar. Tinggallah Dani yang sengaja menunggu sang istri keluar dari kamar mandi.
Isna keluar kamar mandi. Dani menyambutnya dengan memberikan sebuah kotak kado berwarna pink, berukuran kecil.
" Apa ini?"
" Buka lah."
Dengan tak sabar Isna membuka kotak itu.
" Kalung." Isna menyebut isi kotak itu. Diambilnya kalung itu,
" Masyaallah, cantiknya..."
Desain kalung itu sederhana, jalinan rantainya seperti tali, dengan liontin huruf ID yang dibingkai dalam bingkai berbentuk hati.
" Suka ?"
" Atuh suka. Sukaa sekali."
" Mana tanda terimakasihnya ?"
" Dih, pamrih."
" Iya dong. Ayo, mana tanda terimakasihnya?"
Isna memeluk Dani, " Terimakasih Aa."
" Itu saja?"
" Apa lagi harusnya?"
Dani menunjuk ke bibirnya. " Ini. "
" Apa sih? Kalau itu yang kena mah nanti jadi lupa diri, tidak ingat ada orang yang sedang menunggu."
" Masa sih?"
" Begitu lah." Isna berniat memakai kalungnya.
" Mau Aa bantu pakai kalungnya?"
" Boleh."
Dani memakaikan kalung ke leher Isna. Masih sempatnya dia mendaratkan ciuman di tengkuk Isna.
Isna buru-buru menjauh, mengambil kerudungnya yang tergantung di kapstok.
" Siapa yang punya ide nih, tengah malam bangunin orang tidur?" tanyanya, sambil memakai kerudungnya.
" Ide Aa dong. Biar jadi kejutan."
" Bapa sama mama disuruh datang tengah malam begini ?"
" Mereka mau kok. Kan demi anak kesayangannya."
" Terus, abis ini acaranyq apa lagi?"
" Ya makan-makan dong."
" Ya sudah, kita turun yu."
" Ayo..."
Isna dan Dani keluar kamar.
Dalam hati Isna merasa terharu, suaminya sudah mengusahakan memberinya kejutan, sesuatu yang tak pernah Isna dapat sebelumnya.
Dan yang paling membuatnya senang tentu saja kado dari Dani. Parempuan mana yang ngga senang dikasih perhiasan?
" Terimakasih Suami..."
Bersambung
__ADS_1
*******