
Sejak Anindita hadir dengan cerita masa lalunya, hubungan Dani dan Isna tak lagi sama. Pun ketika bersama merayakan hari yang fitri.
Berjalan bersama, tapi hati tak bisa merasakan kebersamaan itu.
Bukan tentang cinta. Karena cinta Isna masih penuh buat Dani, masih seperti ketika pertama Isna merasakan jatuh cinta pada lelaki itu.
Ini soal rasa percaya. Ada segaris ragu yang masih membekap rasa bahagianya, menghilangkan keinginan bergelayut mesra dalam dekapan hangat lelaki yang meminangnya hampir setahun lalu itu.
Isna kehilangan keyakinannya pada kejujuran Dani.
Berjalan bersama, seperti janji Dani sebelumnya, di malam saat seluruh muslim mengumandangkan takbir, Isna dan Dani mengajak Ayu.
Gadis kecil yang hobi bernyanyi itu terlihat sangat senang. Bibir kecilnya tak hentinya menyenandungkan lagu.
Dan setidaknya keceriaan Ayu bisa membuat Isna sedikit tertawa, setelah sempat kehilangan tawa itu untuk beberapa saat.
Bapa dan mama yang bertemu Ayu untuk kali pertama langsung merasa jatuh cinta padanya. Ayu yang memanggil bapa dengan panggilan "Kakek Anti" dan mama dipanggil " Nenek Anti" sudah mampu membawa suasana menjadi bahagia.
" Kakek Anti, mau kemana?" Ayu bertanya melihat bapa bersiap akan pergi.
" Ke masjid, mau takbiran," bapa menjawab .
" Aku ikut ya?" pintanya.
" Tanya sama anti Isna, boleh atau ngga."
" Anti, aku boleh ikut kakek ngga?"
Isna mengangguk. "Tapi jangan nakal ya?"
" Ngga, aku ngga nakal."
Isna tersenyum melihat gaya Ayu.
" Ayo, kakek Anti." Ayu menarik tangan bapa.
" Iya, sebentar."
" Takbiran ! Allahu akbar Allahu akbar Allahu akbar Laa illaha ilallahu allahu akbar, Allahu akbar waillahilham."
Lagi-lagi Isna tersenyum , kali ini karena mendengar suara Ayu menyuarakan takbir. Suara kecilnya terdengar merdu saat melantunkan kalimat takbir itu.
" Ayo berangkat," bapa menggandeng tangan Ayu.
" Anti sama Om ngga mau ikut?"
" Ngga, cantik." Dani mengusap kepala Ayu.
" Ya udah. Dadah anti, dadah om."
" Dadah Ayu."
Setelah Ayu dan bapa pergi.
" Ayu ngga mau ikut sama ayah kandungnya?" Mama bertanya pada Isna.
" Ngga, Ayu mau tetap sama si mbah. Kalau Ayu pindah ke rumah papinya, kasihan si mbah, katanya."
" Dani, mau nyobain kembang goyang ngga? " Mama mengeluarkan kue-kue yang sudah dibuat dari dalam lemari gantung di dapurnya, lalu menatanya di meja makan.
Ada biji ketapang, kembang goyang , kacang bawang, kue bawang, manisan kolang-kaling, dan beberapa merk biskuit kalengan.
" Hanya begini aja kue nya. Ya maklum, orang kampung."
" Sama aja, ma. tidak ada bedanya."
Isna mengambil kue bawang yang renyah dan gurih.
__ADS_1
" Ini yang Isna suka." dengan penuh minat dia mengunyah kepingan kue bawang.
Dani memperhatikan istrinya mengunyah makanan tanpa henti. Terlihat sekali kalau Isna sangat menyukai cemilan tersebut.
Ponsel Isna berbunyi. Isna menjawab panggilan telepon yang masuk.
" Assalamu'alaykum, Rani."
" Wa'alaykumussalam Isna. Aku sudah di rumah bapa nih. Kamu kesini dong."
" Iya, ntar aku kesitu."
" Sama suami ya?"
" Kenapa harus sama suami?"
" Biar suami ngobrol sama suami. Kasihan kan suami kalau hanya nungguin istrinya ngobrol."
" Ya sudah . Aku langsung ke situ. Tungguin ya?"
Isna menghentikan panggilan teleponnya.
" Mama, Isna mau ketemu Rani di rumah bapanya. Aa mau Isna ajak. Mama sendirian di rumah, Tak apa-apa kan?"
" Tak apa. Pergi saja."
Isna dan Dani pun berlalu dari hadapan mama.
Di depan kedua orangtuanya, Isna berusaha untuk bersikap biasa. Isna tak mau kalau bapa dan mama ikut memikirkan apa yang sedang mengganggu pikirannya. Lelah hatinya memikirkan apa lagi yang akan terjadi nanti, membuat dia tak bisa bersikap semanis dulu lagi.
Dani merangkul pinggang Isna. Isna tak bereaksi.
Kalau dulu, saat Dani melakukan itu, dia akan senang hati membalasnya dengan menyandarkan tubuhnya pada Dani. Tapi sekarang Isna merasa asing pada suaminya sendiri.-
Sampai di rumah Rani. lebih tepatnya rumah orangtua Rani. Ihsan, suami Rani, terlihat sedang berdiri di teras, sambil menggendong Emir, jagoan kecil Ihsan dan Rani.
" Wa'alaykumussalam," Ihsan menjawab. Emir yang ada dalam gendongannya memandangi Isna.
" Anak ganteng, " Isna mencolek pipi montok Emir. "Aku gendong, A." Isna menyodorkan kedua tangannya, meminta Emir pindah dalam gendongannya.
" Boleh." Ihsan menyerahkan Emir, yang sepertinya memang ingin digendong Isna.
" Wah, lumayan juga besarnya ya?" Isna merasakan tubuh Emir yang sudah semakin montok dibanding beberapa saat lalu, waktu terakhir mereka ketemu.
" Rani mana A?"
" Di dalam. Masuk saja."
Sebelum masuk Isna mengucap salam. "Assalamu'alaykum."
Rani keluar dari kamarnya, " Wa'alaykumussalam. Wah, hati-hati bumil. Gendong si Ndut, nanti keberatan."
" Iya, lumayan euy."
" Memang iya."
" Tidak apa. Si Ndutnya mau kok sama Aunty Na."
Rani mempersilakan Isna duduk.
" Mana suamimu?" tanyanya.
" Di teras, sama suamimu."
Tiba-tiba Ihsan muncul. " Bun, Yanda mau ke masjid ya?" Dia berpamitan pada Rani.
" A Dani ditinggal?"
__ADS_1
" Tidak dong. Dani ikut."
" Oh."
" Neng, Aa pamit ke masjid ya?" Kali ini giliran Dani pamit pada Isna.
" Iya." Singkat jawaban Isna.
" Emir tidak ikut?" Isna mengajak Emir bicara. " Nanti ya, kalau sudah besar ikut ke masjid."
Emir merespon Isna dengan berusaha untuk bicara, walaupun suara yang keluar dari mulutnya hanya, "Hao.. hao..."
Isna tertawa melihat ekspresi dan reaksi Emir. "Masyaallah, sudah bisa ngomong."
Hilang semua rasa tak nyaman itu. Melihat senyum Emir, mendengar suaranya, dan memandangi ekspresi lucunya, semua membuat Isna bahagia.
" Mudah-mudahan anakku nanti bisa seperti ini ya?"
" Iya dong. Semua berawal dari sewaktu dia masih dalam kandungan. Mamanya jangan kebanyakan galau."
Isna menarik napas. " Inginnya sih begitu. "
" Eh iya, katanya kamu mau cerita."
Isna belum membuka suara. Sepertinya masih menyusun kalimat yang akan dikeluarkan.
" Na, kita perlu orang yang bisa dengerin cerita kita. Walau kadang belum ada solusinya, tapi paling tidak dengan cerita pada orang lain, beban kita sedikit berkurang."
Tiba-tiba Rani seperti teringat sesuatu. " Eh, aku buatin minum dulu ya?"
" Tak usah, Ran. Nanti aku ambil sendiri deh. "
" Tidak apa, Kalau mau nambah baru deh ambil sendiri."
" Bapa kemana Ran?"
" Di masjid lah. Takbiran."
Oh iya, lupa diceritakan, ibunya Rani sudah meninggal, sejak Rani masih sekolah. Jadi sejak Rani pindah mengikuti suaminya, Pak Dadang, ayah Rani, tinggal sendirian. Sesekali teh Ika, sepupu Rani yang tinggal bersama orangtuanya di sebelah rumah pak Dadang, datang untuk memasak, dan membereskan rumah.
(Tentang Teh Ika pernah ada sekilas ceritanya di "Pilihan Hati" bab " Persiapan Nujuhbulanan")
Setelah membawakan minum untuk Isna, Rani duduk disebelah Isna.
Isna mulai bercerita tentang kejadian yang terjadi kemarin, di rumah bunda Anne, mertuanya.
Isna mencurahkan semua uneg-unegnya tentang Dani.
Tentang bagimana perasaannya pada Dani yang tak lagi sama, karena kepercayaannya pada kejujuran Dani sudah mulai berkurang. Keyakinannya pada cinta Dani tak lagi seperti diawal pertemuan.
Terasa sekali kalau rumahtangga Isna dan Dani tak lagi sedamai dulu.
Rani hanya bisa memberi saran Isna untuk sabar dan selalu minta petunjuk sama Allah.
Karena saat manusia ditimpa suatu masalah, tak ada jalan lain selain meminta bantuan Allah, dengan sabar dan sholat.
Dan memang hanya itu yang bisa Isna lakukan.
Sudah Isna lakukan. Tapi perasaan dan hati tak bisa bohong. Isna kehilangan sedikit rasa nyaman saat bersama suaminya.
Apa yang harus Isna lakukan supaya dia bisa mengembalikan perasaan itu?
Sungguh, Isna tidak menyukai situasi seperti ini.
Bersambung
*****
__ADS_1