Hati Yang Terpilih Part 2

Hati Yang Terpilih Part 2
Jalan Jalan Dulu


__ADS_3

" Assalamu'alaykum, Mas." Dani memberi salam pada Rizal lewat ponselnya.


" Wa'alaykumussalam, Dani ya? Tumben." Rizal menjawab salam Dani.


" Iya nih. Aku mau bertemu sama Mas. Mas ada waktu?"


" Dua kali tumben. Ada apa nih?"


" Ada yang mau aku bicarakan. Kapan ada waktu, mas?"


" Kedengarannya serius sekali. Mm... kebetulan hari ini aku ada waktu kosong, kita buka puasa bareng. Kamu ada waktu kan hari ini?"


" Bisa, waktu buka puasa kan? Kita ketemu dimana?"


Rizal menyebutkan nama satu rumah makan.Lokasinya dekat rumah sakit tempat Isna pernah dirawat.


" Oke, kita ketemu di sana ya?"


" Sip."


Selesai mengucap salam Dani menutup ponselnya.


" Aa sudah atur waktu buat bertemu sama mas Rizal. Sekarang Aa mau siap-siap berangkat kerja dulu ya?"Dani bicara pada Isna.


" Apa tak sebaiknya Aa ambil gambar foto ini? Untuk lebih meyakinkan kalau kita benar-benar bertemu dengan anaknya." Isna menunjuk selembar foto." Terus ambil foto Ayu, pakai ponsel Aa."


" Oh iya ya. Istri Aa sudah cantik pintar pula."


Isna hanya mencibir.


" Ayu !" Dani memanggil Ayu.


Ayu keluar,diikuti mbah Sum.


" Om foto ya, Om ingin punya foto Ayu."


Wajah Ayu langsung sumringah, senyumnya merekah.


" Mau Om. Ayu mau difotoin."Lalu tanpa dikomando ia langsung bergaya.


Dani lagi-lagi merasa terhibur melihat tingkah Ayu. Ayu memang anak yang menyenangkan. Kepolosannya adalah kepolosan yang lucu dan alami.


Beberapa kali Dani mengambil gambar Ayu, dalam berbagai gaya. Lagi-lagi Dani tak bisa menahan tawanya.


Setelah itu, Dani mengambil gambar selembar foto yang memperlihatkan gambar sepasang pengantin, yang diduga adalah foto diri Rizal dan Sofie.


Selesai. Selanjutnya Dani dan Isna berpamitan.


" Nanti sore Anti kesini lagi. Oke?" Isna membujuk Ayu yang terlihat berat melepaskan Isna untuk pulang.


" Iya Cah Ayu. Anti nya mau pulang dulu,sama om nya. Nanti sore ke sini lagi." mbah Sum ikut membujuk.


" Iya deh. Janji ya, nanti Anti ke sini lagi." Ayu menyodorkan kelingkingnya.


" Iya, Anti janji." Isna menautkan kelingkingnya ke jari kecil Ayu.


Singkat cerita Isna dan Dani pulang.


" Jadi hari ini tidak buka puasa di rumah lagi?" Nada suara Isna terdengar kecewa.


" Iya, maaf ya? Atau Neng ikut saja, kita sama-sama bertemu mas Rizal."


Isna berpikir," Tapi tadi aku sudah janji sama Ayu."


" Ya sebelum kesini kamu temui Ayu dulu. Nanti kamu susul Aa, dianter mas Arif. "


" Apa Ayu aku ajak saja ya? Sekalian jalan- jalan. Tidak usah bilang dari awal Ayu itu siapa. Setelah dokter Rizal mengakui semua, baru kita kasih tahu tentang Ayu."


" Wah, boleh juga. Iya, begitu saja. Fix ya, Neng nanti susul Aa, minta diantarkan Arif. Kita bertemu di rumah makan dekat rumah sakit tempat kerja mas Rizal."


" Ohh, Oke." Isna mengacungkan jempolnya.


Sepeninggal Dani, Isna mengisi waktunya dengan membuat Nugget jamur dan cireng. Ada pesanan buat hari ini dan besok.

__ADS_1


Seperti biasa, mbak Pri membantu pekerjaan Isna.


Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Isna meminta pada Arif untuk mengantarkan pesanan yang baru selasai dibuatnya. Melalui ponsel Isna menghubungi Arif.


Tak lama, Arif datang.


" Oh iya Mas, nanti sore, kira-kira ba'da Ashar aku minta diantar ya. Aku janji bertemu sama Aa, tempatnya di dekat rumah sakit yang dulu itu."


" Siap, Teh."


" Aku juga mau ajak Ayu. Jadi nanti aku ke rumah Ayu dulu."


" Atur aja Teh. Saya manut wae."


Isna tersenyum. Arif pamit, mau menjalankan tugas.


Sore harinya, sesuai rencana, Isna datang ke rumah Ayu.


" Anti!" Ayu menyambut Isna.


Isna tersenyum sambil berjongkok." Si mbah mana?"


" Di dalam rumah."


" Ayu mau ikut Anti tidak?"


" Mau! Ayu mau ikut! Beli es krim kan?"


Isna tertawa, lalu berdiri, menggandeng tangan Ayu, mengajaknya masuk." Assalamu'alaykum mbah."


Terdengar sahutan dari dalam, bersamaan dengan munculnya si mbah.


" Mbah, Ayu mau aku ajak jalan-jalan. Boleh?"


" Jalan kemana, Teh?"


" Lihat-lihat kota."


" Mau jalan-jalan, mbah..."Ayu terdengar merengek.


" Asiiik!" Ayu menghambur ke dalam, diikuti mbah Sum.


" Teh Isna," terdengar seseorang menegur Isna.


" Ya, oh mas Arif."


" Sudah mau jalan?"


" Ayu sedang dandan. Tunggu dulu."


Arif ikut menunggu. Tak lama Ayu keluar, memakai baju gamis bunga-bunga pink putih,dengan kerudung yang senada.


" Aih, cantiknya anak Anti... Sudah siap kan?"


" Ayo!" Ayu menggandeng tangan Isna, mengajak buru-buru pergi.


" Teh Isna, kemarin pesan buras sama gorengan, bagaimana?" Mbah Sum mengingatkan pada sesuatu.


" Oh iya. Ya sudah, mbah kasih saja ke... siapa saja deh. Terserah mbah."


" Oh, ya sudah kalau begitu. Matur suwun nnggeh, teh."


Setelah berpamitan pada Mbah Sum, Isna, Ayu, dan Arif pun beranjak, hendak mengambil mobil di rumah Isna.


Sepanjang jalan Ayu tak hentinya bernyanyi sambil melompat lompat. Tangan kanannya digandeng Isna, tangan kirinya digandeng Arif. Ayu terlihat sangat bahagia.


Sampai di dalam mobil pun Ayu masih saja berceloteh. Ada saja yang diucapkannya. Kadang dia bershalawat, kadang dia bernyanyi.


Isna tersenyum sambil terus menanggapi apapun yang Ayu katakan. Tanpa sengaja matanya melihat ke spion depan, dan menangkap basah Arif yang sedang memperhatikannya.


Terlihat kikuk karena ketahuan, Arif buru-buru membuang pandangan ke arah depan.


Sementara Isna ikut jadi salah tingkah. Mbak Pri pernah cerita kalau almarhumah istri Arif wajahnya mirip dengan Isna.

__ADS_1


Isna saat itu sempat bertanya, dari mana Mbak Pri tahu tentang hal itu. Kata mbak Pri, Arif sendiri yang menceritakannya. Bahkan sambil menunjukkan foto sang istri. Dan masih dari penuturan Mbak Pri, wajahnya memang mirip Isna.


Isna maklum, mungkin Arif belum bisa move on dari istrinya. Apalagi kejadiannya sangat menyakitkan, Arif ditinggalkan oleh dua orang sekaligus, pada saat harapannya sedang tumbuh.


" Teh, kita kemana dulu nih? Magrib masih agak lama. Mas Dani sudah sampai belum?"


" Atuh kurang tahu ya. Nanti aku tanyakan dulu." Isna menghubungi suaminya.


" Assalamu'alaykum Aa."


" Wa'alaykumussalam, Cinta. Sudah sampai dimana?"


" Masih di jalan, sebentar lagi sampai. Aa sudah dimana?"


" Masih di jalan. Ya sudah, Neng jalan-jalan saja dulu, ke mini market, Belikan Ayu cemilan."


" Iya deh. Ya sudah ya A. Hati- hati menyetir."


" Makasih Cinta."


Isna menutup ponselnya.


" Kita ke mini market dulu, mas." Isna berkata pada Arif.


" Siap, Teh."


" Anti, beli es krim..." tiba-tiba Ayu mengeluarkan suaranya.


" Iya, hayu. Tunggu ya, kita cari mini marketnya dulu."


Ayu menempelkan wajahnya ke jendela mobil.


Tak lama mereka menemukan apa yang mereka cari. Arif lalu mencari tempat parkir.


Mobil berhenti.


" Anti, aku turun."


" Iya, tunggu.",


Isna turun dari mobil, lalu membantu Ayu turun.


Dengan tak sabar Ayu berlari menuju pintu mini market.


Ayu menggandeng tangan Isna, juga menggandeng tangan Arif. Orang yang melihat mereka pasti akan setuju kalau mereka disebut keluarga. Terlihat manis. Dan Ayu tak hentinya berceloteh.


" Anti sama Om mau es krim juga?"


Arif menggeleng. "Kan masih puasa."


" Ayu juga puasa, tadi, sampai dzuhur."


" Oh ya? Kuat?"


" Kuat dong."


" Masa sih?"


" Iya Om. Om nggak percaya?"


" Percaya..."


Isna berbelanja beberapa barang kebutuhan pribadinya. Juga membelikan Ayu cemilan. Arif hanya mengekor dari belakang, sambil sesekali bercanda dengan Ayu.


Setelah puas belanja, dan membelikan es krim buat Ayu, mereka kembali ke mobil, siap meluncur ke tempat pertemuan dengan Rizal.


*****


Keterangan:


dr. Rizal ini sudah pernah muncul di HATI YANG TERPILIH. Buat yang belum baca, silakan di baca dulu.


Bersambung

__ADS_1


*****


__ADS_2