
Isna melepas mukenanya, lalu beranjak keluar dari musholla. Dia baru menyelesaikan membaca Al-Qur'an, setelah sebelumnya mengikuti sholat tarawih berjamaah. Sepertinya tamunya, dokter Rizal, sudah pulang. Mungkin tinggal Mbah Sum. yang masih ada, karena menunggu Ayu terbangun dari tidurnya. Kebetulan saat mereka, Isna ,Dani, Rizal, Mbah Sum dan Arif, juga Mbak Pri, sedang berbuka puasa, Ayu memilih untuk bermain di kamar Isna. Saat Isna melihat ke kamar, anak itu ternyata sudah terlelap.
Mungkin dia lelah.
Tapi Isna bersyukur karena Ayu sudah mulai bisa akrab dengan sang ayah.
Dalam hati Isna merasa alangkah ajaibnya hidup ini. Allah tak pernah bingung mengatur cerita hidup mahluknya. Walau terkadang diluar dugaan, tapi itulah hidup. Selalu penuh rahasia.
Isna keluar dari musholla.
Saat melewati ruang tengah Isna melihat mbah Sum sudah tertidur dengan posisi duduk di sofa.
Isna mendekat, menyentuh lengan mbah Sum. " Mbah."
Mbah Sum membuka matanya. " Eh, Teh Isna."
" Kalau mau tidur di kamar mbak Pri saja."
" Tak usah Teh. Si mbah mau pulang saja. Ayu masih tidur ,Teh?"
" Kayaknya Ayu bangunnya besok pagi,deh. Mbah tidur saja disini."
" Si mbah pulang saja, Teh. Memangnya tidak apa Ayu tidur disini?"
" Ya tidak apa, mbah."
Mbah Sum siap siap untuk pulang.
" Aku antar ya? Aku pamit Aa dulu."
Isna mencari keberadaan suaminya
" Mbak, lihat A Dani ?" Isna bertanya pada Mbak Pri, yang juga ada di ruang tengah.
" Tadi sih ada di teras depan, mbak." Mbak Pri menjawab.
" Oh, makasih ya Mbak."
Isna berlalu ke teras, hendak menemui suaminya.
Sampai di teras, didapatinya lelaki itu sedang memperhatikan ikan-ikan yang sedang lalu lalang di kolam.
" Aa," Isna menegurnya. Dani menoleh." Eh, Cinta... Sini duduk."
Isna mengambil tempat disebelah Dani, ikut memandangi ikan-ikan yang seolah tak ada lelahnya berenang, sambil mulutnya tak hentinya membuka dan menutup.
" Mas Rizal sudah pulang?"Isna basa-basi.
" Sudah."
" Aku masih tidak bisa mengerti deh, kenapa sih Sofie harus langsung pergi hanya karena ada yang mengiriminya foto dan bilang kalau Rizal sudah menikah dengan si pengirim foto itu. Kenapa dia tidak bertanya dulu pada suaminya, minta penjelasan yang sebenarnya. Foto kan hanya gambar, belum bisa mewakili kejadian yang sebenarnya."
" Maksud Neng gimana? Foto belum bisa menjelaskan semuanya?"
" Ya kalaupun itu foto asli mas Rizal, dia kan hanya berfoto dengan seorang perempuan yang sedang menggendong bayi.Bisa jadi memang Mas Rizal hanya dimintai foto bareng. Kalaupun itu benar foto diri mas Rizal. Tapi katanya mas Rizal tak pernah melakukan itu. Kalau menurut Aa, mas Rizal bohong tidak?"
" Ya tidak tahu. Sepertinya sih dia jujur."
" Tapi kok Sofie sebegitu terpengaruh sama kebohongan yang dibuat orang lain? Harusnya dia lebih percaya sama suaminya, kan?"
" Mungkin Sofie punya krisis kepercayaan pada lelaki. Pengalaman hidupnya, sering mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari lelaki, bisa jadi membuatnya labil dan tak mudah untuk mempercayai lelaki."
" Begitu ya?"
" Mungkin. Aa kan bukan ahli jiwa."
__ADS_1
Isna membenarkan dalam hati. Bisa jadi seperti itu kenyataannya.
" Neng, Ayu masih tidur?"
" Sepertinya Ayu akan bangun besok pagi deh. Si mbah katanya mau pulang. Kita antar yuk."
" Ke rumahnya?"
" Ya iyalah. "
" Bolehlah. Ayuk."
" Aku panggil si mbah dulu."
Baru Isna mau masuk, mbah Sum sudah ada di ambang pintu keluar.
" Si mbah pamit Teh, Mas."
" Kami antar, mbah. Sebentar, aku pamit sama mbak Pri dulu." Isna tergesa masuk rumah.
Tak lama kemudian dia keluar.
Dani, Isna dan Mbah Sum mulai berjalan keluar rumah.
Saat memasuki gang ke rumah Mbah Sum, seperti biasa di bangunan seperti pos ronda yang ada di kampung itu, sekelompok pemuda sedang berkumpul sambil bernyanyi diiringi petikan gitar.
" Mas Dani." Seseorang menegur Dani.
" Eh, Mas Arif." Dani menghampiri Arif, ikut duduk bersama kelompok pemuda itu.
" Aa tunggu disini, Neng," katanya pada Isnq.
" Iya, " Isna menyahut.
Sementara suara alunan gitar mengelus-elus telinga Isna, Lagu melankolis yang dinyanyikan anak-anak muda itu membawa perasaan. Tanpa bisa dicegah Isna ikut bersenandung.
Melihat Arif bermain gitar, Isna merasa melihat seseorang yang pernah dikenalnya. Seorang lelaki dari masa lalunya. Lelaki yang pernah terang-terangan membuka hatinya, dan mengundang Isna untuk masuk ke dalamnya.
Seorang lelaki yang sebetulnya mampu membuat Isna tersanjung karena perhatiannya, Tapi hanya sebatas tersanjung, Isna tak pernah berani mengharapkan akan ada kelanjutan dari hubungan mereka selain hanya hubungan sebatas teman. Karena keyakinan yang dia anut berbeda dengan yang Isna anut. Oleh sebab itu Isna tak pernah sekalipun menyebut namanya dalam setiap ceritanya tentang masa lalunya. Karena dia tidak istimewa.
Tapi kali ini, entah kenapa, petikan gitar Arif mengingatkan Isna padanya. Dia yang pernah menciptakan sebuah lagu, katanya Isna-lah inspirasi lagu tersebut. Lagu itu hanya untuk Isna.
Isna tersenyum mengenang lagu itu. Sampai saat ini Isna masih menyimpan dalam ponselnya rekaman suara lelaki itu saat menyanyikan lagu yang diberinya judul "Yang Terindah".
" Sudah Neng?" Tanpa Isna sadari langkahnya telah sampai di pos ronda tempat Dani menunggunya.
" Eh, sudah. Hayu pulang."
" Mas Arif, pamit pulang ya?"
" Iya, mas Dani."
" Assalamu'alaykum semuanya ."
" Wa'alaykumussalam.".
Isna menggandeng tangan Dani. Mereka melangkah beriringan, dibawah langit malam yang penuh bintang, ditemani hembus angin malam yang lumayan dingin.
" Aku masih kepikiran mas Rizal," Isna memulai pembicaraan.
" Kenapa?"
" Dia sudah pernah dengar cerita tentang masa lalunya Sofie ngga? Yang katanya Sofie dijual oleh ayah tirinya sendiri."
" Katanya sih dia tau. Dari awal Sofie sudah cerita semua, mungkin maksud Sofie supaya mas Rizal tahu dari awal dan tidak menyesal di akhirnya."
__ADS_1
" Sekarang Ayah tirinya masih hidup?"
" Masih. Ayah kandungnya yang sudah tak ada. Seminggu setelah mereka menikah."
" Oohh..."
" Sekarang mas Rizal punya tugas baru. Mendekatkan Ayu pada keluarganya."
" Ayu akan di bawa ke keluarga mas Rizal?"
" Belum tahu. Kalaupun dia akan bawa Ayu ke rumahnya, siapa yang akan urus Ayu?"
" Bawa si Mbah juga dong."
" Iya, itu cara satu-satunya kalau mas Rizal mau bawa Ayu ke rumahnya."
Isna tak berkata lagi. Dia memilih untuk berjalan dalam diam.
Tiba-tiba ponsel Dani berbunyi. Notifikasi WA.
" Tidak dilihat?" Isna bertanya, melihat suaminya sama sekali tak tergerak untuk mengambil ponselnya untuk sekedar melihat siapa yang menghubunginya lewat WA.
" Tak perlu."
" Kenapa?"
" Tidak penting."
" Kok tahu kalau itu tidak penting?"
" Karena yang penting buat Aa saat ini adalah berduaan dengan bidadari Aa. Tak ada yang bisa dan boleh ganggu."
" Gimana kalau itu dari orang penting?"
" Neng, itu tidak mungkin. Kalau dari orang penting, atau tentang sesuatu yang penting, tidak akan lewat WA. Pasti akan langsung lewat telepon. 'Halo', begitu."
" Oh, gitu ya? Terus siapa dong orang yang ngirim pesan itu?"
" Ya mana Aa tau? Kan belum Aa lihat."
" Kalau begitu lihat lah."
" Kenapa sih Neng sangat memaksa? "
" Yaa... Hanya mau tahu saja."
" Kenapa mau tahu?"
" Kenapa tak boleh tahu?"
" Siapa yang bilang tak boleh?"
" Ya kalau boleh tahu buka atuh hpnya."
Dani menghentikan langkahnya, mengambil ponselnya, membuka dan membaca pesan yang masuk. Namun seketika ekspresi wajahnya berubah.
Isna melihat perubahan itu. " Dari siapa, A?"
Dani tak langsung menjawab. Dia malah memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku bajunya.
Isna memandang Dani dengan heran. Tapi Dani malah merangkul pundaknya dan mengajaknya kembali berjalan.
Bersambung
*******
__ADS_1