Hati Yang Terpilih Part 2

Hati Yang Terpilih Part 2
Tangis dan Tawa Selalu Beriringan


__ADS_3

Tawa bahagia memang tak pernah hadir sendiri. Tangis sedih selalu mengiringi, kadang diawal,kadang diakhir. Sudah dua bulan berlalu sejak Isna dinyatakan positif hamil, nyatanya perempuan itu harus menghadapi kenyataan pahit. Dia keguguran .


Tangis itu belum reda. Pagi yang cerah dan seharusnya menjadi pembangkit semangat untuk melakukan kegiatan di awal hari ternyata tak membuat Isna bersemangat. Dia hanya duduk di teras, sambil memandangi ikan koi yang berenang bebas di kolam.


Memang kejadian itu baru sehari berlalu, jadi wajar kiranya kalau Isna masih belum bisa menerima kenyataan yang berlawanan dengan harapannya.


Semua anggota keluarga ikut berduka. Sang mama pun sampai menyempatkan diri datang sepagi ini untuk menemani putri kesayangannya melewati saat-saat dukanya.


" Neng, sarapan dulu ya?" mama membawakan semangkok bubur ayam ke hadapan Isna.


" Makasih mama." Singkat jawaban Isna.


Mama duduk, menemani Isna.


Isna menyuap bubur nya dengan tak berselera.


" Enak tidak?"


Isna memandang mama. " Enak."


" Makan yang banyak ya, biar kuat."


Isna tersenyum. Dalam hatinya dia sangat paham kalau semua orang disekelilingnya sedang berusaha menghiburnya. Dan dia tidak mau membuat mereka bertambah sedih melihat kondisinya. Bukan hanya dia seorang yang merasa kehilangan, mereka juga merasakan hal yang sama.


Jadi Isna harus bisa tidak menambah beban pikiran mereka.


Toh Isna dan Dani masih bisa mengusahakan kehamilan kedua.


Ya, karena tangis itu tak pernah datang sendirian. Berusaha membuat bahagia itu datang, dengan apapun takdir yang mengiringinya. Agar senyum itu bisa kembali hadir.


" Ma, Dani berangkat dulu ya? Titip Isna." Dani berpamitan. Hari ini sudah dijadwalkan dia harus keluar, mengurusi urusan yang tak bisa dikerjakan dari rumah. Tangannya terulur, mengambil tangan mertuanya, dan mencium punggung tangannya, tanda hormat.


" Iya, Dan. Hati-hati ya?" Mama menyambut uluran tangan Dani,


" Neng, Aa jalan dulu ya? Nanti Mbak Pri datang, buat menemani Isna kalau mama pulang." Dani berkata pada sang istri, sambil membalas uluran tangan Isna yang sudah lebih dulu terulur.


" Iya A." Isna mencium tangan Dani.


Sepeninggal Dani, mama yang penuh kasih mengajak Isna masuk, setelah menyelesaikan sarapannya.


Baru mereka masuk,sebuah motor berhenti di depan rumah mereka. Mbak Pri datang, dengan ojek online.


" Assalamu'alaykum ," salam diucapkan perempuan itu. Tangannya menentang tas besar.


" Wa'alaykumussalam," berbarengan mama dan Isna menjawab.


Mama dan mbak Pri bersalaman, kemudian mbak Pri juga menyalami Isna.


" Sehat Mbak Isna?" basa-basinya mbak Pri, mengawali pertemuan.


" Alhamdulillah, beginilah mbak."


" Ayo masuk." Mama mempersilakan mbak Pri masuk.


Mbak Pri mengangguk hormat, lalu mengikuti langkah mama dan Isna memasuki rumah.


Isna mempersilakan mbak Pri menempati kamar yang ada di belakang, dekat ruangan yang dijadikan musholla.


Bunda Anne, mertua Isna, memperbolehkan Dani untuk membawa mbak Pri ke rumahnya untuk membantu dan menemani Isna selama masa pemulihannya.


" Istirahat saja,Neng. Mama mau ke dapur dulu ya?"


Isna mengangguk tanpa berkata apapun.


Masuk ke kamar, Isna memutuskan untuk duduk di balkon kamarnya. Dari tempat itu Isna bisa melihat sekelilingnya, dari sudut pandang yang lebih luas dibanding dia harus melihat dalam posisi sejajar dengan pemandangan yang dilihatnya.


Ada panggilan telepon masuk ke ponselnya. Dari Rani.


" Assalamu'alaykum Rani." Isna antusias menjawab panggilan dari Rani.


" Wa'alaykumussalam Isna, Kumaha, damang,bu? ( Bagaimana, sehat,bu?)


" Sae( baik) alhamdulillah. Kamu sendiri kumaha ( bagaimana)?"

__ADS_1


" Sae oge (baik juga)."


" Kamu ada di rumah?"


" Ada, kenapa?"


" Tidak di rumah sakit?"


" Tidak, aku istirahat di rumah, kok. Kemarin memang aku ke rumah sakit."


" Aku ke rumah ya? Tapi nanti, agak siangan."


" Boleh dong. Masa ngga boleh?."


" Oke, tunggu aku ya?"


" Iya, jangan lama-lama, aku ingin sekali melihat keponakanku yang ganteng. Pasti sudah besar dia."


" Sudah dong aunty. Sudah hapal 30 juz Al-Quran."


Isna tertawa. " Ya sudah, cepat kesini, ya?"


" Siap bu. Aku beres-beres dulu ya. Assalamu'alaykum."


" Wa'alaykumussalam."


Rani Mulyawati, teman MI dan MTs nya. Acara nujuhbulanan Rani delapan bulan lalu,yang menjadikan Isna dan Dani bertemu lagi. Pertemuan yang ternyata meninggalkan kesan teramat mendalam buat Isna, karena saat itulah Isna mulai merasa jatuh cinta pada Dani.


Juga pada Oyen, kucing jantan berwarna oranye. yang saat itu masih kecil. Yang saat ini masih berada di rumah orangtua Isna, karena saat Isna dan Dani ke Surabaya Oyen dititipkan di rumah mama dan bapa.


Terdengar pintu kamar Isna diketuk seseorang.


" Mbak Isna, boleh saya masuk?" mbak Pri meminta ijin untuk masuk.


" Masuk saja mbak Pri. Pintunya tak dikunci."


Pintu terbuka. Mbak Pri masuk, membawa jeruk dan beberapa potong bolu gulung, diatas sebuah nampan.


" Disuruh mengantarkan ini oleh Bu Siti." Mbak Pri meletakkan nampan di atas meja, disebelah tempat tidur.Ibu Siti itu adalah mama.


" Sama-sama Mbak."


Mbak Pri kemudian berlalu, meninggalkan Isna kembali sendiri.


Waktu berjalan terasa sangat lambat.


Jam di dinding kamarnya menunjukkan pukul setengah sepuluh pagi. Perasaan sudah lama Isna menghabiskan waktu dengan hanya duduk saja.


Isna beranjak dari duduknya. Melelahkan kalau hanya berdiam diri tanpa melakukan apapun. Bosan lebih tepatnya. Isna butuh kegiatan.


Tapi belum lagi Isna keluar dari kamar, pintu kamarnya lagi-lagi diketuk.


" Masuk, pintunya tak dikunci."


Pintu terbuka, wajah Rani muncul dari balik pintu.


" Hai!"senyum menghias wajahnya


" Rani! Mana Emir?" Emir itu nama anak Rani.


" Di gendong mama."


Rani dan Isna saling beradu pipi.


" Sehat Na?" Rani memandangi Isna.


" Alhamdulillah. "


Rani memandang sekeliling kamar Isna. " Siapa desain interiornya nih?"


" Aku dong."


" Boleh juga nih. Bisalah jadi interior design profesional."

__ADS_1


" Mengejek.."


" Serius..."


" Eh, mau aku ambilin minum? Kamu tunggu disini ya?"


" Tak usah Isna. Sudahlah. Nanti kalau aku haus, aku ambil sendiri."


Akhirnya mereka pun saling tukar cerita. Segala hal. Sudah beberapa bulan mereka tak bertemu. Terakhir mereka bertemu saat Isna menengok Rani, seminggu setelah Isna menikah. Yang artinya seminggu usia anak Rani. Ya, tanggal lahir buah hati Rani dan Ihsan,suaminya, sama dengan tanggal pernikahan Isna dan Dani.


Isna memperlihatkan album pernikahannya.


" Tak ada foto aku nih," terdengar suara Rani agak menyesal.


" Iyaaa.. sayang ya?"


" Kalau saja bisa diundur waktu kelahirannya."


" Saat itu kondisinya darurat. Kalau tidak dikeluarkan bisa bahaya, sudah pecah ketuban kan?"


" Iya sih."


Mama datang, dengan menggendong bayi Emir.


" Aih, si ganteng... Ih, meni montok." Isna menyambut bayi lelaki lucu berwajah ganteng itu.


Isna mengambil Emir dari gendongan Mama.


Mata lucu bayi itu memandang wajah Isna. Ada sebersit rasa sedih mendera hati perempuan yang baru saja kehilangan calon bayinya itu.


Matanya mulai digenangi air. Sekuatnya berusaha ditahan air bening itu, supaya tidak jatuh. Dia tidak mau tangisnya merusak suasana saat itu.


" Eh si ganteng, anak mami Rani, sudah besar."


Bayi Emir memperlihatkan senyumnya. Luar biasa, Isna betul-betul jatuh cinta pada bayi satu ini.


Isna mencium pipi montok Emir dengan gemas.


" Gemuk pisan Ran, dibantu susu formula ya?"


" Tidak, hanya asi saja. Sekarang mah sudah Mpasi juga."


" Ohh, pantas montok."


Rani tersenyum.


Isna menggendong Emir ke balkon. Sambil mengajaknya bicara Isna tak henti menciumi pipi bayi itu.


Rani akhirnya berbincang dengan mama. Mbak Pri masuk kamar sambil membawakan cemilan dan segelas minuman buat Rani.


" Silakan Teh."


" Makasih Mbak."


" Rani ikut makan siang di sini ya? Suami sedang tidak di rumah kan?"


" Kalau bisa mah Rani mau nginep ,ma. Tapi sayangnya tidak bisa,"


" Pulang sore saja ya?"


" Iya ma."


" Mama kasihan lihat Neng sendirian kalau Dani sedang tidak di rumah."


" Tapi A Dani sering di rumah. Bukan begitu, ma?"


" Sudah beberapa hari ini dia sering keluar."


" Ya kan ada Mbak Pri. Tenang aja, ma. Nanti, kalau Dani tidak di rumah, silakan ke rumah Rani. Tapi Isna tidak akan apa-apa,ma. Insyaallah dia kuat."


Mama betul-betul khawatir pada anak perempuannya itu. Tapi beliau berusaha meyakinkan diri bahwa, seperti kata Rani, Isna kuat. Insyaallah.


Bersambung

__ADS_1


******


__ADS_2