
Isna tak lepas memandang wajah Dani. Dani sedang berbicara serius perihal tanaman dengan bapa, sambil duduk di teras belakang rumahnya. Sesekali bibir itu merekahkan tawa. Dan sesekali pula mata lelaki itu melihat ke arah Isna, yang ikut menemani duduk di teras.
Sampai di detik itu Isna masih bisa merasakan getaran itu kala memandang wajah Dani. Cinta itu masih sangat banyak, seperti saat pertama kali Isna jatuh cinta pada Dani. Isna masih mengagumi Dani secara fisik, dan rasanya tak mau sedikitpun membiarkan ada perempuan lain yang juga mengagumi Dani, apalagi sampai juga mencintainya.
Bayangan perempuan mewah itu melintas. Cintanya Dani semasa SMA. Tak pernah Isna tahu kalau jauh sebelum Isna sudah ada perempuan lain yang juga pernah dicintai Dani.
Isna memang tak pernah bertanya tentang itu. Dan Isna rasa itu tak terlalu penting. Seperti yang Mbak Pri bilang, masa kini dan masa depan Dani adalah Isna. Anindita adalah masa lalu.
Masa lalu yang seperti apa? Kenapa perempuan itu datang dengan cara seperti itu, seolah mau menunjukkan kesombongannya, bahwa dia pernah bersama Dani?
Ataukah itu perasaan Isna saja ,terlalu terbawa emosi melihat masa lalu suaminya tiba-tiba hadir di depannya.
Tapi apapun yang pernah terjadi pada mereka, saat ini Dani adalah pasangan jiwanya. Dani sudah menunggu selama lima tahun untuk bisa mendapatkan cinta Isna. Haruskah Isna masih meragukannya?
Yang terpenting saat ini adalah kekuatan cinta antara Dani dan Isna. Masa lalu adalah bagian dari perjalanan hidup yang takkan pernah bisa hilang, karena akan melekat terus. Jadi terimalah, apapun itu. Sekali lagi, yang terpenting adalah Dani selalu ada disisinya, menemaninya, menghadapi dunia.
Dani masih berbicara dengan bapa. Tentu saja Isna tidak bisa menghentikannya, karena mereka sedang mengisi waktu pertemuan yang jarang bisa mereka lakukan.
Isna beranjak ke dalam, sebelumnya pamit pada bapa, beralasan mau tidur. Hari memang sudah malam. Sudah jam sepuluh malam lewat beberapa menit.
Mama sudah terlelap di sofa, tak sengaja tidur, mungkin kelelahan.
Kakak satu-satunya pasti ada di kamarnya. Niat Isna untuk tidur diurungkan. Dia malah masuk ke kamar Wahid.
Mengetuk pintu, ' Assalamu'alaykum, Aa."
Terdengar jawaban dari dalam, " Wa'alaykumussalam. Jangan masuk."
Hah? Kok jangan masuk?
" Isna tidak boleh masuk A?"
" Tidak boleh, karena kamu pasti akan menganggu. Bohong lah de. Masuk sini."
Isna membuka sedikit pintu kamar Wahid.
" Cilukbaa!" Wahid mengejutkan Isna dengan memunculkan wajahnya dari balik pintu yang satunya.
Isna sampai terhenyak kaget.
" Aa,,ih... kaget aku tu..." Isna sempat mendorong wajah Wahid, yang malah terkekeh merasa senang, usahanya berhasil.
" Ada apa?" Wahid bertanya sambil kembali ke laptopnya.
" Hanya mau duduk di sini." Isna duduk di ambang jendela kamar Wahid.
Wahid melanjutkan kegiatannya dengan laptopnya.
Isna membuang pandangannya keluar. Kepekatan yang diselingi cahaya lampu kecil diantaranya membuat Isna betah menonton nya.
Hening cukup lama. Sampai tiba-tiba terdengar ketukan di pintu kamar Wahid. Suara Dani terdengar, "Hid, ada istriku tidak ?"
" Masuk saja Dan. Lihat sendiri istrimu ada apa tidak." Wahid menjawab.
Dani membuka pintu kamar Wahid, dan langsung melihat Isna yang sedang duduk di ambang jendela.
Dani mendekati Isna, lalu berbisik di telinganya. " Aa lapar, kita keluar cari makan yuk?"
Isna memandang suaminya ," Bukannya tadi sudah makan?"
__ADS_1
" Memangnya ada larangan buat makan lagi?"
" Ya tidak ada,sih."
" Temani Aa ya?"
" Kalau aku tidak mau, bagaimana?"
" Aku paksa."
" Tak boleh memaksa, dosa."
" Tapi istri harus menurut sama suami. Kalau tidak menurut juga dosa."
Isna tak menjawab.
" Hayu, kita berangkat."
Isna mengulurkan tangannya, minta di gandeng.
Dani mengambil tangan Isna, menggandengnya, Senyumnya merekah. Dari reaksi Isna, Dani tahu kalau emosinya sudah mereda.
" Hid, mau ikut?"
" Salam saja buat tukang dagangnya."
" Dadah A Wahid..." Isna melambaikan tangannya.
Melewati ruang tengah, bapa sedang membangunkan mama yang tertidur di sofa.
" Pa, pamit dulu. Mau keluar sebentar, cari makanan. Bapa mau dibawain apa?" Dani berbasa-basi pada mertuanya.
Dani dan Isna berlalu.
" Kita mau kemana?"
Dani melajukan kendaraannya perlahan, " Maunya kemana?"
" Terserah yang mau makan. Aku mah ikut saja."
" Oke. Kita meluncur..."
Roda kendaraan menggelinding, membelah jalanan yang mulai sepi.
" Cintanya Aa sudah tidak ngambek kan ya?"Dani berusaha memecah keheningan.
" Tidak. Capek.Lebih enak kalau damai. "
" Baikan dong kita."
" Baikan yuk?"
Isna menyodorkan kelingking tangan kanannya. Dani menyambutnya, dengan mengaitkan kelingking tangan kirinya.
Bibirnya mengembangkan senyum. Isna membalas senyum itu untuk meyakinkan sang suami kalau semuanya baik-baik saja.
" Jangan marah lagi ya?" pinta Dani sambil menggenggam tangan Isna. " Aa bingung kalau Isna marah. Dunia langsung gelap gulita, dan seisinya menjadi murung."
" Masa sih?"
__ADS_1
" Iya. " Dani mencium tangan Isna. " Maafin Aa ya? Apapun salah Aa, Neng harus yakin kalau Aa tak pernah sedikitpun berniat menyakiti Neng geulis. Kalau Aa khilaf, itu karena ke alpa-an sebagai manusia. Maafin ya?"
Isna agak bingung mendengar permintaan maaf itu. Alpa? Khilaf?
" Aa khilaf apa? Memangnya apa yang sudah Aa lakukan?"
" Sejauh ini memang belum ada. Tapi seandainya, ada satu saat Aa khilaf, berbuat salah, tolong dimaafkan ya? Karena sejujurnya tak pernah terlintas sedikitpun untuk melakukan sesuatu yang menyakiti hati Isna. Aa sayang sama Isna. Sayang sekali ."
Suara Dani terdengar bergetar. Entah kenapa, Isna merasa kalau suaminya sedang berusaha meredakan gejolak emosinya sendiri.
" Isna juga sayang sama Aa. Dan sangat tidak suka kalau kita berselisih."
Dani menarik napasnya. Tangan Isna masih dalam genggamannya.
" Aa, boleh aku nanya tentang Anindita?"
" Boleh, mau tanya apa?" Dani berusaha menjawab dengan tenang. Padahal dia merasa mulai tidak tenang. Haruskah dia menjawab Isna, kalau nyatanya jawaban yang keluar adalah kebohongan.
" Gimana caranya Anindita itu tahu rumah kita?"
Dani merasa satu ganjalan di dadanya terlepas. " Ngga tahu. Darimana Aa bisa tahu sedangkan ketemu dia juga tidak."
" Tak ada nomer WA atau medsosnya, yang bisa dihubungi?"
" Tak tahu. Aa tidak tahu nomer WAnya, medsosnya."
" Benar?"
" Aa tahu, kedatangan Anindita ini cukup membuat Isna kaget. Tapi Aa minta dengan sangat, tolong jangan curiga apapun sama Aa. Anindita adalah masa lalu, dan kedatangannya kembali itu bukan keinginan Aa. Kalau ada perselisihan di antara kita karena dia, Aa lah yang merasa paling bersalah."
Dani melambatkan laju kendaraannya. Mobilnya akan berhenti, di depan sebuah warung tenda yang menjual pecel lele.
" Kita makan disitu?" Isna bertanya .
" Iya."
Dani dan Isna turun dari mobil, mendekati warung tenda.
Malam semakin bergerak naik. Udara malam mulai terasa membalut kulit. Isna dan Dani sudah duduk di dalam warung. Karena merasa tak nyaman dengan rasa dinginnya, Isna berusaha menghangatkan badan dengan melipat tangannya. Dani merengkuh pundak Isna dengan sebelah tangannya, berusaha membuat Isna lebih hangat.
" Tidak mau pakai jaket sih."
" Iya, aku tak mengira akan sedingin ini."
Dani merapatkan duduknya, dan semakin rapat merangkul Isna. Sebelah tangan yang satu menggenggam jemari Isna. Pengunjung warung yang duduk seorang diri di sebelah mereka sepertinya tak lepas memandangi adegan itu.
" Mas, bisa minta teh hangatnya dulu?" Dani minta minuman pada pelayan warung.
Segelas teh hangat segera terhidang di hadapan Isna.
Dengan penuh perhatian Dani meminta Isna minum teh nya, sambil menunggu pesanannya datang.
" Terimakasih," Isna memberikan senyum pada suaminya.
" Iya, sama-sama ,cinta." Dani membalas, juga dengan senyum.
Bersambung
******
__ADS_1