
Dani melirik jam di pergelangan tangan kanannya. Sudah pukul satu dini hari dan Dani terbangun tiba-tiba. Entah kenapa. Mungkin karena terlalu banyak yang menanti untuk dituntaskan. Selain urusan pekerjaan yang memang sedang banyak, yang paling membuatnya pusing sekaligus resah adalah perempuan bernama Anindita yang datang membawa cerita masa lalunya.
Dani melihat Isna. Memandang keindahan wajahnya, yang dilengkapi dengan pesona rambut tergerainya yang setiap hari selalu ditutupnya dengan kerudung.
Betapa tak terlukiskan perasaan bersalah yang mendera hati Dani. Dani harus menghentikan kegilaan yang Anin lakukan. Apapun itu, Anin tak pernah punya hak untuk memaksakan kehendaknya dan membuat Dani menyakiti hati Isna.
Dani melangkah turun dari ranjangnya, keluar kamarnya, menuju muholla. Dani ingin menghabiskan semua perenungannya di tempat itu.
Setelah mengambil air wudhu Dani melaksanakan shalat tasbih. Dani butuh kekuatan untuk bisa jujur pada Isna apapun itu resikonya.
Mudah-mudahan setelah sholat, hati Dani akan lebih bisa memutuskan.
Waktu terus menggelinding, tak mau berhenti. Sudah satu jam Dani memikirkannya. Capek rasanya.
Andai Dani bisa memutar waktu, Dani akan kembali ke masa itu, dan akan memilih untuk tidak terjebak dalam jeratan cinta yang salah. Tapi sekali lagi, hidup tak boleh ber andai-andai. Tidak akan ada yang berubah sekalipun kata 'andai' itu beratus kali diucapkan.
" Mas Dani?" suara seseorang terdengar, sepertinya selain Dani ada juga manusia yang masih terjaga di malam selarut ini.
Dani menoleh, walau tanpa melihat pun Dani hapal betul siapa pemilik suara itu.
" Belum tidur, mbak?" basa-basi Dani.
" Yo sudah bangun,Mas. Kan saya mau masak buat sahur."
Dani mengulas senyum sekilas.
" Kenapa,mas? Semakin rumit masalahnya?"
" Mbak Pri tahu masalah aku apa?"
" Hanya menebak saja. Masih ada hubungannya dengan Anindita kan?"
" Kok mbak Pri bisa menebak kesitu?"
" Karena sejak dia datang, mas Dani kelihatan selalu resah, bingung."
" Isna curhat sama mbak Pri?"
" Tidak, tapi saya tahu kalau dia merasakan keanehan pada diri suaminya. Hanya mungkin dia pendam sendiri."
Dani diam, menyimak perkataan Mbak Pri.
" Aku harus bersikap bagaimana mbak?" akhirnya dia bertanya.
" Mana saya tahu? Memangnya sebenarnya apa sih yang terjadi ?"
Dani baru ingat kalau Mbak Pri memang tak pernah tahu cerita sesungguhnya tentang dirinya dan Anindita beberapa hari ini.
" Anindita selalu menemui aku, mbak. Dan memaksa aku menuruti apa yang dia mau. Kalau aku tidak mau dia akan menemui Isna dan menceritakan semua masa lalu kami pada Isna. Gila kan?"
" Maaf, 'menuruti apa yang dia mau' itu seperti apa ya Mas?" mata Mbak Pri mendadak terlihat menyelidik.
" Menemani dia, makan siang, atau apapun."
__ADS_1
" Apapun?"
" Please deh Mbak, kemauan dia untuk selalu ketemu aku. Bukan yang aneh-aneh. Aku belum gila, mbak."
" Maaf kalau saya salah, mas. Biar bagaimana pun mas dan Anin pernah sangat intim. Siapa yang tahu tentang isi hati kalian. Apakah kalian masih memendam rasa atau tidak."
" Tidak, mbak Pri. Aku sudah mempunyai istri. Kegilaan itu biar menjadi masa lalu."
" Masa lalu tetap akan menempel seumur hidup,mas. Memang tidak akan terjadi lagi, tapi akan jadi bagian dari lembaran album hidup mas Dani. Tak akan bisa Mas sobek bagian yang itu, karena nanti ceritanya tidak lengkap."
" Biarkan saja tidak lengkap. Asalkan Isna tidak tahu."
" Sebetulnya apa sih yang Mas Dani takutkan kalau sampai Teh Isna tahu cerita itu?"
" Yaa aku takut Isna kecewa."
" Karena apa?"
" Karena ternyata aku tak seperti yang dia pikirkan."
" Oalah...mas Dani, mas Dani. Kamu hanya takut citra baik kamu jadi jelek di mata Teh Isna? Se-egois itukah ?"
Dani sedikit tersinggung disebut egois. " Aku? Egois?"
" Iya. Apalagi namanya kalau yang dipikirkan hanya nama baik, takut menjadi jelek, hingga kejujuran ditutupi."
Dani terdiam. Beberapa detik pikirannya berusaha mencerna kalimat Mbak Pri.
Ya, harus diakui, kalaupun nanti Isna tau tentang cerita itu,kemungkinannya apa sih yang bakal terjadi?
Kalau Dani pernah berbuat salah di masa lalu ya manusiawi kan? Yang penting tobat. dan tidak akan mengulanginya lagi.
Jadi? Akan menjadi seperti apa kemungkinan terburuk nya?
Dani sibuk mengukur. Isna tak akan meninggalkannya hanya karena masa lalunya itu.
Jujurlah Dani.
Ceritakan semuanya.
Benar mbak Pri bilang,itu hanyalah bagian dari ke-egoisan Dani sendiri.
Akhirnya Dani memutuskan untuk mengatakan semuanya pada Isna.
Untuk Anindita, menghentikan semua ke-sewenang-wenangannya pada Dani.
Notifikasi ponsel Dani berbunyi. Ada email masuk. Dani membuka emailnya melalui ponselnya. Email dari Anindita.
Apa yang dilihatnya dalam email yang dikirim oleh Anindita itu sungguh diluar dugaan. Sebuah foto yang memperlihatkan Dani dan Anin berada di atas ranjang yang sama, dalam posisi seolah sedang berc*****.
Dani merasa kepalanya mau pecah melihat gambar di foto itu. Dia sadar, sangat sadar, kalau ia sama sekali tidak melakukan itu. Dia sedang tertidur, memejamkan mata, tapi Anin merekayasa, sehingga di foto itu terlihat Dani terpejam karena sedang menikmati ****** yang sedang mereka lakukan. Apalagi lingeri yang Anin pakai, terlihat pas dengan adegan rekayasa itu.
Dani membaca tulisan Anin
__ADS_1
" My dear, aku punya kunci yang aku yakin akan mengunci kamu untuk terus bersama aku. Terus menuruti mauku, atau I'll send this picture to your lovely wife. So, you belong to me now."
Ya Tuhan! Ingin rasanya Dani berteriak keras. Kebohongan Dani sudah begitu banyak, menyeretnya dalam masalah yang makin menggunung.
Sore tadi, saat sebelum magrib Isna menanyakan keberadaannya, Dani menjawab lewat chat, sesungguhnya yang melakukan itu adalah Anin. Sementara Dani sudah tertidur tanpa daya.
Anin sudah menguasai hidupnya.
Dan tadi, saat dia pulang masih dalam keadaan setengah mengantuk, supir Anin mengantarnya sampai gerbang komplek perumahan tempat Dani tinggal.
Sandiwara busuk! Bagaimana bisa Dani cerita jujur pada Isna tentang kejadian sore tadi?
Tapi Dani benar-benar tidur. Tidak berbohong. Itulah yang harus Dani ceritakan pada istrinya.
Terserah apa reaksi Anin. Kalau Dani sudah jujur, dan Isna mempercayainya, sepayah apapun usaha Anin untuk menggoyahkan kepercayaan Isna, istrinya takkan tergoyahkan.
Dani menunggu waktu yang tepat.
Seperti biasa, Isna shalat dua rakaat di sepertiga malam. Setelah itu barulah dia mengajak Dani sahur bersama.
Setelah selesai sahur Dani harus segera ke Masjid untuk berjamaah subuh.
Pulang dari masjid Dani mendapati Isna sudah duduk di teras sambil memberi makan ikan.
" Assalamu'alaykum Neng."
"Wa'alaykumussalam Aa," Isna menyalami Dani, mencium punggung tangannya.
Dani duduk di sebelah istrinya.
" Aa mau bicara."
" Bicaralah," Isna menjawab, sambil masih memandang ke arah kolam ikan.
" Janji ya, jangan marah dulu, sebelum Aa selesai bicara."
Isna mengalihkan pandangannya ke arah Dani. mata indah itu menatap dengan penuh tanya.
Ah, Dani sangat mengagumi mata Bidadari itu.
" Apa yang mau Aa bicarakan?" Isna penasaran.
Berat bagi Dani mengeluarkan suara. Akhirnya, setelah berdoa dalam hati, Dani menguatkan hati.
" Tentang Anindita. Tentang masa lalu Aa dengannya. Seharusnya ini tidak pernah terbuka, tapi Dita membuat semuanya harus Aa buka untuk Isna. Kalau bukan Aa yang cerita, Dita yang akan menceritakan semuanya pada Isna."
" Iya, lalu apa?"
" Mmm.. maaf sebelumnya, Dita dan Aa pernah... maksud Aa, Dita pernah... hamil. Anak Aa."
Bagai mendengar petir di tengah hari cerah, Isna merasakan telinganya tak sanggup menerimanya .
Beberapa detik perempuan itu merasa kalau suaminya sedang mengerjainya.
__ADS_1
Bersambung
******