
Dani,Isna, Arif dan Ayu duduk mengelilingi meja panjang. Waktu buka puasa hanya tinggal menghitung detik.Tapi dokter Rizal belum juga datang.
Akhirnya adzan Magrib pun menggema dengan lantang dan syahdu. Mereka menyegerakan berbuka.
Rumah makan tersebut menyediakan menu buka puasa gratis berupa kurma, sop buah dan samosa.
" Gimana A? Dokter Rizal jadi kesini?" Isna mencoba menanyakan tentang dokter Rizal pada suaminya.
Mereka sudah berbuka, tapi dokter Rizal tak ada kabar.
" Sudah coba Aa hubungi,chatnya masuk kok, tapi belum dibaca."
" Kemana ya?"
" Mana Aa tahu."
" Anti, aku mau makan. Sudah boleh makan?"
" Boleh. Mau disuapin?"
" Ngga, kata si mbah harus bisa makan sendiri biar nasinya bikin kita jadi besar. Kalau disuapin terus nanti kita nggak besar-besar. Allah juga nggak suka."
Luar biasa mbah Sum, kata Isna dalam hati. Beliau pasti menyayangi Ayu, tapi dia tidak memanjakannya.
" Berdoa dulu, bisa?"
" Bisa." Dengan mantap Ayu membaca doa sebelum makan. Agak terbata, tapi sekali lagi Isna salut pada pengasuhnya Ayu.
" Assalamu'alaykum," akhirnya yang ditunggu pun datang. " Maaf, saya terlambat. Tadi ada pasien gawat darurat. Untungnya sekarang sudah selesai."
" Tidak apa, Mas. Silakan duduk." Dani menjawab.
Rizal pun duduk.
" Sudah buka puasa?" Isna yang bertanya.
" Sudah, hanya membatalkan."
" Ya kalau begitu kita makan dulu saja. Nanti baru saya ceritakan keperluan saya."
" Iya dong. Memang perut sudah lapar nih."
Selesai makan ternyata Dani masih belum bisa menuntaskan rasa penasarannya tentang foto itu. Karena mereka harus segera sholat magrib.
Setelah sholat magrib barulah Dani bisa berbicara serius dengan Rizal. Mereka memilih tempat di pelataran masjid.
" Maaf mas, saya hanya mau mas melihat ini. Ini foto mas Rizal bukan?" Dani memperlihatkan foto di ponselnya.
Rizal mengamati foto tersebut, dan tak butuh waktu lama, langsung terlihat reaksinya. Kaget, itu pasti.
" Kamu dapat foto ini dari mana Dan?" tanyanya, kaget bercampur heran.
" Jadi benar kan ini foto mas Rizal?" Dani berusaha meyakinkan.
" Iya, kamu dapat dari mana foto ini?" Rizal penasaran, mengulang pertanyaannya.
" Dari rumahnya Teh Sofie."
" Rumah Sofie? Kamu kenal Sofie? Kamu tahu rumah Sofie?"
" Mas ini dari tadi menjawab pertanyaan saya dengan pertanyaan. "
__ADS_1
" Ya maaf, Dan. Saya hanya tak menyangka, akhirnya saya dengar kabar tentang Sofie, setelah sekian lama. Bisa kamu antar saya ke rumahnya, Dan?"
" Bisa, rumah yang mana nih?"
" Memang rumahnya ada berapa?"
" Ada dua, yang satu, rumah yang ditempati dia sendiri, yang satu lagi ditempati anaknya."
Wajah Rizal terlihat bingung, "Sofie punya anak dan tinggal terpisah dari anaknya?"
" Anakmu, mas. Iya, mereka sudah terpisah."
" Kok bisa Sofie punya rumah untuk ditempati sendiri ? Kenapa?"
Dani memandang wajah Rizal. Tampak kebingungan yang semakin menjadi di wajah dokter itu.
" Maaf mas, ini kabar tidak menyenangkan. Teh Sofie sudah meninggal sekitar lima bulan lalu."
Wajah Rizal seketika berubah, dari bingung menjadi terkejut. Luar biasa terkejut.
" Meninggal? Kenapa?"
" Beritanya sih, kena kanker."
Mata Rizal mulai basah. Isna yang duduk tak jauh dari situ memeluk erat Ayu yang tampaknya mulai lelah, tak lagi mengeluarkan celotehannya. Mulai terlelap lebih tepatnya.
" Ini... ini serius, Dan? Kamu tidak berbohong kan?" Reaksi yang biasa diperlihatkan orang yang tak terima dengan kematian orang yang disayanginya.
Dani menggelengkan kepalnya. " Buat apa saya bohongi mas Rizal?"
Rizal terdiam sejenak, lalu seperti teringat sesuatu, dia bicara lagi. " Anakku? Kamu tahu dimana anakku?"
" Ini anak saya?" tanya Rizal, begitu antusias.
" Iya. Mas. Tadinya saya mengambil foto nya,karena saya pikir dia tidak akan ikut kesini, ternyata dia diajak Isna. Dia ada di dekat kamu ,mas."
" Oh ya?" Rizal langsung paham kalau anak perempuan cantik yang sedari tadi berceloteh tiada henti itu adalah anak yang dimaksud Dani. Anak kandungnya sendiri.
" Dia anak saya?" Rizal menunjuk Ayu.
Dani menjawab dengan anggukan.
Rizal memandang Ayu yang sudah rebah di pelukan Isna. " Namanya siapa?"
Rizal mengamati wajah Ayu, senyum mulai mengembang di wajahnya, walau masih ada sisa kesedihan mendengar kabar tentang Sofie.
" Namanya Ayu."
" Ayu... Cantik, mirip ibunya." Mata Rizal tak henti menatap wajah mungil yang sedang tertidur itu.
Isna mengakui Ayu memang mirip mami nya, hidungnya mancung, tapi senyumnya mirip Rizal. Dalam hatinya Isna merasa lega, akhirnya Ayu bisa bertemu ayah kandungnya. Sekaligus merasa takjub, dunianya ternyata sempit.
" Kenapa sih mas bisa terpisah dari Teh Sofie? Bahkan mungkin mas tidak tahu kalau teh Sofie sedang hamil. Kok bisa?" Dani bertanya, agak menghakimi.
Sebelum.menjawab pertanyaan Dani, Rizal terlebih dulu menarik napasnya," Saya tahu, saya melakukan kesalahan besar, sangat besar. Sampai tak pernah menyadari kalau Sofie ternyata hamil." Rizal menghentikan kalimatnya, mengatur napas, sambil memorinya bekerja, menata kembali ingatannya tentang Sofie.
" Apapun yang terjadi antara Mas Rizal dan Teh Sofie memang masa lalu. Saya tahu, saya tak punya hak untuk menghakimi mas Rizal. Yang penting sekarang, mas tahu kalau mas punya anak. Kami, yang sempat prihatin melihat keadaan Ayu yang ditinggal ibunya di usia semuda itu, sekarang bisa menjadi lega, karena tahu bahwa Ayu masih punya ayah."
Obrolan mereka sempat terhenti karena terdengar kumandang Shalawat dari pengeras suara masjid. Menandakan sebentar lagi akan masuk waktu sholat Isya.
" Mas, kalau mas sudah punya waktu luang, mas bisa datang ke rumah Ayu. Jelaskan pelan-pelan tentang mas sama Ayu. Dan bersiap mendapat pertanyaan yang banyak, karena Ayu anak yang kritis dan selalu ingin tahu."
__ADS_1
" Iya, Dan. Sebetulnya malam ini saya bisa ikut kamu ke rumah Ayu."
" Tapi ini sudah malam. Ayu-nya juga sudah tidur. Lebih baik jangan sekarang."
" Hari minggu saja,"
" Ya terserah mas, saya mag mengikuti saja."
" Oke."
Adzan Isya menggema. Dani berdiri, lalu mendekati Isna, berusaha memindahkan Ayu dalam gendongannya.
" Aa bawa Ayu ke mobil ya Neng. Tungguin, Aa mau sholat dulu."
" Mobil siapa?"
" Ya mobil Aa dong."
" Oh, Isna kira pulangnya sama mas Arif."
Mata Dani menyipit," Maunya pulang sama Arif?"
Isna mengulum senyum, niatnya menggoda suaminya. "Boleh kah?"
" Ya tidak boleh dong. Enak saja. Nanti Aa jadi jomblo."
" Masa sih jomblo? Kan masih ada yang mengharapkan dan mendambakanmu."
" Jangan mulai lagi deh Neng. Sudah dong,Aa jadi merasa diingatkan sama dosa, nih."
Isna memainkan mulutnya.
" Tolong ambilkan kunci mobilnya Neng, disaku celana."
Isna meraba saku celana Dani.
" Tolong bukakan."
" Apanya?"
" Pintu mobilnya."
" Ooh... kirain apanya."
" Apa memangnya?"
" Ngga tagu...."
Isna melebarkan senyumnya. Dani hanya bisa menyimpan rasa geregetannya mendengar kata-kata Isna. Masih sama seperti di awal bersama, Isna sering sekali menggodanya. Kalau tidak sedang menggendong Ayu mungkin Dani sudah membalas godaan itu dengan tindakan nyata.
Isna tahu kalau yang dia lakukan itu akan selalu berhasil memancing Dani untuk bereaksi. Jujur, sejak Dani jarang di rumah, sibuk dengan Anin, mungkin, kemesraan itu jarang terjadi. Mungkin Dani masih terbebani rahasia yang dia tutupi dari Isna. Tapi sekarang masalahnya sudah selesai.
Jadi, sudah lega rasanya. Isna berharap semua akan kembali seperti dulu. Dani tak harus berbohong terus, untuk menutupi kebohongan yang terdahulu . Dan Isna bisa kembali merasakan kemesraan dan ke-bucinan Dani padanya.
Tanpa sadar Isna tersenyum sendiri.
Bersambung
*****
.
__ADS_1