Hati Yang Terpilih Part 2

Hati Yang Terpilih Part 2
Dia Lagi?


__ADS_3

Lebaran tinggal menghitung hari. Persiapan menyambut hari Raya sudah mulai dilakukan. Tradisi yang tak pernah terlewatkan adalah membuat beraneka kue kering, dan idolanya pasti nastar dan kaastengel.


Isna teringat saat dia masih kecil dulu. Karena dia dibesarkan di kampung, setiap hari raya Idul Fitri mama biasanya membuat kue kering ala kampung. Ada yang namanya kue bawang, kembang goyang, kacang goreng, kue gabus, biji ketapang, dan the best nya adalah rengginang,yang gurih renyah, kesukaan Isna. serta yang bukan berjenis kue kering tapi biasanya selalu ada di rumah Isna, manisan kolang-kaling.


Tapi kali ini Isna mau mengajak mbak Pri membuat kue kering ala toko. Tahap pertama membuat nastar.


" Beli saja Neng. Kalau membuat sendiri capek." Dani sempat protes waktu melihat Isna mau repot-repot membuat kue kering.


" Sttt... diam . Aa mah tahunya beres saja." Isna mengacungkan telunjuknya di depan mulutnya.


" Aa takut Neng kecapean."


" Ish, kan ada mbak Pri." Isna melirik mbak Pri. Yang dilirik sedang asyik menimbang terigu.


" Yakin nih hasilnya enak?"


" Eh, sembarangan. Enak dong, boleh diuji. Jangan under estimate, ya? "


Dani melebarkan senyumnya. " Baiklah, silakan buktikan."


" Iya,akan aku buktikan."


Ternyata membuat kue kering termasuk pekerjaan yang tidak susah, tapi memakan waktu. Padahal adonan yang Isna buat hanya tiga perempat kilogram tepung terigu, tapi mereka sudah dua jam berkutat dengan adonan nastarnya, dan sepertinya adonannya sama sekali tak berkurang.


Luar biasa, lama juga pengerjaannya.


Dani yang sedang libur kerja harus bersedia bengong sendirian,


Akhirnya dia pun ikutan di dapur, ikutan membantu membentuk nastar. Tapi, malah kena omel Isna, gara-gara bentuk nastarnya besar-besar, seperti kue pia.


" Sudah, Aa main sana. Tak usah membantu. Bentuknya jadi absurd gitu." Isna mengusir suaminya dengan galak. Nastarnya jadi tak kompak bentuknya.


" Ya sudah, Aa main nih. Jangan kangen ya?"


" Iya, jangan kangen, berat. Biar aku saja."


Dani tertawa kecil. " Dadah Cinta." Lalu meninggalkan dapur


" Mbak Isna, saya belum masak untuk buka puasa. Bagaimana?" Mbak Pri mengingatkan Isna tentang tugasnya.


" Order sajalah, Mbak, tak usah masak. Kita selesaikan dulu pekerjaan ini."


Mbak Pri menurut. Diapun melanjutkan membantu Isna, membentuk adonan nastar.


Sampai lewat waktu Ashar, mereka masih sibuk dengan kue-kuenya.


Sementara Dani, setelah shalat Ashar berjamaah langsung meneruskan kegiatannya di masjid, sebagai panitia acara buka bersama.


Rasanya, menunggu sesuatu sambil mengerjakan sesuatu membuat waktu berjalan terasa cepat.


Sebentar lagi waktu maghrib akan segera tiba. Pekerjaan membuat kue tinggal sedikit lagi. Isna mengambil ponselnya, mau mengorder makanan untuk berbuka puasa.


" Assalamu'alaykum, " terdengar suara sesorang mengucap salam.


" Wa'alaykumussalam, " Isna menjawab.


Suara itu suara Arif. Isna mengenali nya.


" Masuk aja Mas."


Terdengar suara pintu dibuka. Arifpun muncul di hadapan Isna yang sedang ada di ruang tengah.


" Teh, ada titipan dari bunda." Arif menyerahkan sebuah tas kain yang ukurannya lumayan besar.


" Apa ini ?" Isna menerima tas dari tangan Arif. Lalu mengintip isinya. Ada beberapa kotak makanan didalamnya. Isna mengeluarkannya satu persatu, lalu memeriksanya.

__ADS_1


" Alhamdulillah..." Ternyata isinya adalah kolak biji salak, risoles, semur daging kentang, capcay, dan ikan lele goreng.


" Mas Arif buka puasa di sini ya? Bunda ngirimin makanan nih."


" Saya juga dikasih, Teh."


" Ohh."


" Iya, sudah ya Teh. Saya pamit."


" Eh, iya. Terimakasih banyak lho mas."


Setelah Arif pergi, Isna membatalkan rencananya untuk mengorder makanan. Dia menelpon mertuanya.


" Assalamu'alaykum, bunda."


" Wa'alaykumussalam, Neng. Ada apa, Cantik?"


" Makasih bunda, kirimannya udah sampai. Kebetulan banget, Mbak Pri sedang ngga masak hari ini. Sedang buat nastar, bantuin Isna."


" Oya? Wah, bunda mau ya dibuatkan satu toples."


" Tenang saja bunda, pokoknya bunda tahunya sampai nastarnya ke rumah bunda."


" Oh iya, Lebaran nanti bunda mau ke Surabaya. Ikut ya?"


" Kayaknya asyik juga ya, bund. Tapi Aa kok belum bilang apa-apa ya?"


" Ya ini rencana mendadak. Rencana bunda sih habis sholat Ied bunda berangkat, besoknya sudah kembali lagi."


" Yah,hanya sebentar ya, bund."


" Pengennya sih lama, tapi disini toko tak ada yang mengontrol. Padahal pasti banyak pengunjungnya, sebab tahun kemarin juga begitu. Saat libur lebaran toko lumayan ramai. Teman bunda yang biasa di toko mau pulang kampung ke Bandung, mau menikahkan anaknya."


" Iya, Isna bisa kok, kalau mau sholat Ied sama mama dan bapa, nanti setelah itu baru ikut bunda. Mau?"


" Nanti Isna bicara dulu sama Aa ya bund."


" Iya, Sayang. Memangnya Dani kemana?"


" Di masjid, bund. Jadi panitia buka bersama."


" Oh. Ya sudah ya, bunda mau menyiapkan makanan buka dulu."


" Iya, bunda. Sekali lagi terimakasih makanannya, bund."


" Sama-sama Cantik."


" Assalamu'alaykum."


"Wa'alaykumussalam."


Isna menutup teleponnya. Lalu kembali ke dapur, menghampiri mbak Pri yang rupanya sudah menyelesaikan tugas nya. Nastar loyang terakhir sudah selesai di panggang.


" Makasih ya, Mbak. Tanpa bantuan mbak Pri belum tentu ini selesai ."


" Biasa saja, mbak."


Isna mengeluarkan makanan yang baru diterimanya dari sang mertua, dan meletakkannya di atas meja dapur.


" Dari siapa, mbak?"


" Bunda, mas Arif yang antar tadi."


Mbak Pri melihat satu persatu kotak makanan yang diletakkan Isna di atas meja.

__ADS_1


" Bunda perhatian sekali sih. Saya diajak pulang ke Surabaya lebaran nanti. Tapi saya menolak. Saya mau di sini saja, menemani Teh Isna."


" Aku juga di ajak sama bunda. Kalau aku mau, nanti Mbak Pri sendirian dong."


" Kalau teh Isna mau ikut bunda, ikut saja Teh. Saya di sini saja, jaga rumah."


" Ikut saja mbak. Buat apa sendirian di rumah?"


" Tidak apa,mbak. Kalau saya ikut nanti merepotkan bunda, karena akomodasi pasti di tanggung oleh bunda. Tidak enak saya. Tiket pesawat kan mahal."


" Iya juga, Mbak."


Mereka bicara sambil menata makanan di atas meja makan.


Bertepatan dengan selesainya makanan ditata, adzan maghrib pun terdengar.


Mereka pun berbuka puasa. Hanya berdua.


Setelah membatalkan puasa dengan kolak dari bunda Anne mereka berdua sholat berjamaah magrib.


" Eh,iya mbak, nastarnya sudah masuk toples semua?" Isna teringat pada nastar-nastar yang sudah dibuatnya dengan penuh kesabaran.


" Tadi mah masih ada yang belum masuk toples.Masih panas."


" Oh, sekarang mah sudah dingin meureun."


( meureun\=mungkin)


Isna merapikan mukenanya, lalu keluar musholla, menuju ke dapur, untuk melihat keadaan nastarnya.


Setelah memastikan semua nastarnya sudah aman dalam toples, Isna pun keluar dari dapur, sekarang tujuannya adalah kamar tidurnya.


Belum lagi kakinya melangkah meninggalkan dapur ponselnya berbunyi. Ada notifikasi pesan WA.


Isna mengambil ponselnya dari dalam saku baju gamisnya.


Membuka pesan yang masuk. Ada beberapa pesan, dan salah satunya dari nomor yang tak ada dalam daftar kontak di ponselnya.


" Nomer siapa ya?" Isna membukanya, dan reaksi pertama melihat pesan itu adalah terkejut bagai melihat petir di tangah cuaca cerah.


" Selamat malam, Nyonya Dani Prasetyo. How are you? I hope You always happy and enjoy your life."


Dengan hanya membaca satu kalimat itu saja Isna tau kalau pengirim pesan itu adalah Anindita.


Dada Isna seketika bergemuruh hebat. Setelah sekian minggu tak ada ceritanya, kenapa sekarang dia harus menunjukkan eksistensinya lagi?


Cerita apa lagi yang mau perempuan itu bagikan? Atau malah dia akan membuat cerita baru yang akan menguras emosi Isna?


Tapi pesan yang masuk hanya satu. Hanya begitu. Apa maksudnya?


Benar-benar perempuan yang kurang kerjaan, kalau Isna boleh berkomentar tenang prilakunya.


Bagaimana tidak kurang kerjaan coba? Kirim pesan tak jelas maksud dan tujuannya .


Isna berusaha menenangkan diri sendiri . Isna harus tetap waras dan berpikir dengan akal sehat. Mungkin tujuan perempuan itu adalah menganggu pikirannya. Jangan pernah biarkan itu terjadi. Isna menguatkan hati. Toh Dani sekarang adalah suaminya, Anindita itu masa lalu. Apapun yang akan Anin lakukan, Isna akan berusaha untuk tetap menjaga hubungannya dengan Dani.


Anindita hanya masa lalu bagi Dani.


Tapi, sebegitu sulitnya kah bagi perempuan secantik Anindita untuk melupakan seorang Dani Prasetyo?


Hanya Anin yang tahu jawabnya.


Bersambung


*******

__ADS_1


__ADS_2