
Sudah sebulan berlalu sejak kedatangan Anindita menemui Isna. Dan tak terasa Ramadhan segera tiba. Menghitung hari, lima hari menjelang datangnya bulan suci itu. Berbagai persiapan sudah dilakukan. Sesuai tradisi dan kebiasaan, Isna dan Dani akan memberikan bahan-bahan pokok makanan, seperti beras, minyak goreng, gula pasir, ditambah sirup dan lainnya, untuk para orangtua. Nama tradisi itu adalah munggahan.
Selain itu di hari pertama puasa biasanya mereka akan berkumpul, anak yang sudah menikah dan tinggal terpisah dari orangtuanya akan mengunjungi orangtuanya, untuk mengawali hari pertama bulan Ramadhan dengan sahur bersama .
Isna sangat ingin melalui waktu sahur itu dengan berada di antara bapa dan mama.
" Boleh, nanti kita ke rumah bapa, ikut tarawih bareng, terus sahur bersama."
Mendengar perkataan suaminya, Isna merasa senang bukan main.
" Makasih suami..." Isna memeluk Dani.
Dani balas memeluk Isna.
Hari ini rencana Isna adalah mau berbelanja untuk membeli barang-barang yang akan diberikan pada para orangtuanya.Sebetulnya Isna sangat ingin pergi berbelanja bersama sang suami. Tapi ternyata kesibukan Dani membuatnya tak bisa memenuhi kemauan Isna. Akhirnya jadilah Isna harus puas pergi berbelanja ditemani Mbak Pri.
" Yakin Isna tidak akan apa-apa?" Dani meyakinkan diri dengan bertanya pada sang istri, tentang kondisinya yang sedang morning sickness.
Baru beberapa hari ini Isna merasakan mual dan muntah setiap pagi. Dani sampai harus bertanya pada dokternya, apakah Isna boleh puasa. Kata dokter coba saja dulu, separah apa morning sicknessnya. Kalau masih bisa diatasi, dan setelah dicoba untuk puasa kondisi Isna ternyata baik-baik saja, ya boleh.
Walau sebenarnya tri semester pertama ibu hamil tidak disarankan berpuasa. Tapi itu tergantung kondisi masing-masing individunya.
Semua hal sudah Dani lakukan untuk menjaga kehamilan dan kesehatan Isna. Segala bentuk pemeriksaan sudah dijalani. Dan sejauh yang sudah Dani dan Isna lakukan, semuanya baik-baik saja. Tak ada gangguan kesehatan yang diperkirakan dapat mengganggu kehamilan Isna.
Jadi Isna akan mencoba mengikuti puasa hari pertama.
" Mudah-mudahan kuat ya Mbak." Mbak Pri mendoakan.
" Aamiiiin..."
Suasana pasar modern tempat Isna dan Mbak Pri berbelanja terlihat ramai. Barang yang dibeli Isna lumayan banyak, karena rencananya Isna akan membagikan bingkisan juga buat orang-orang yang tinggal di sekitar komplek perumahan mereka.
Ada perkampungan di sekitar perumahan yang mereka tempati. Arif, supir Dani, menyewa rumah di kampung itu. Jadi Isna akan meminta Arif untuk mencari tahu orang-orang yang layak diberi.
Selesai berbelanja, semua barang yang baru dibeli itu dijadikan satu, sesuai jenisnya.
Matahari sudah menempati posisi nya tepat diatas kepala. Sudah waktunya tubuh mengisi energi dengan makan siang.
" Mbak Pri, Mas Arif, nanti kita makan bareng yuk." Isna melipat mukena setelah selesai shalat dhuhur berjamaah.
" Tak usah Teh. Saya makan di rumah saja," Arif basa-basi menolak.
" Ish, aku kan mau minta tolong, nanti sehabis makan kita bungkus barang -barang yang mau dibagikan. Masa aku mengerjakannnya sendirian?"
" Ooh... saya kira besok dikemasnya."
__ADS_1
" Besok aku mau ke rumah mama."
" Ya sudah, saya bantu."
" Harus atuh. Sekarang, mari kita makan."
Ketiganya, Isna, Mbak Pri, dan Arif, lalu menyantap hidangan yang Isna beli di Warteg dekat pasar.
Selesai makan, beristirahat sebentar, mereka mulai mengemas bahan-bahan makanan yang akan dibagikan pada orang.
" Mbak,orang yang terikat pekerjaan seperti Mbak Pri ini pastinya tidak bisa seenaknya pulang kampung. Awal puasa pastinya tak bisa berkumpul dengan keluarga,ya?"
" Ya tidaklah, Mbak Isna. Saya sudah tidak memikirkan sahur pertama bersama keluarga di kampung. Karena keluarga saya sekarang adalah keluarga Bunda Anne. Setiap tahun saya bersama mereka."
" Mbak Pri mempunyai anak?"
" Anak saya sudah menikah, Mbak. Dua tahun lalu, sewaktu dia baru menikah, saya masih berlebaran di kampung, karena masih ada ibu saya. Tapi sepertinya tahun ini tidak pulang. Ibu saya sudah meninggal, dan anak saya mau berlebaran di Yogya, rumah mertuanya. Tahun kemaren dia juga pulang ke Yogya."
Isna memandang wajah mbak Pri, sekilas ada kemuraman yang terlihat, saat dia menceritakan tentang anaknya. Tapi hanya sekilas. Mbak Pri sepertinya sedang berusaha mengusir awan mendung itu.
Isna meraih tangan Mbak Pri.
" Tidak apa, mbak Isna. Saya memang kurang dekat dengan anak saya. Karena sejak kecil dia saya tinggalkan. Dia dibesarkan oleh si mbahnya. Nenek dan kakeknya. Jadi wajarlah kalau dia lebih dekat dengan nenek kakeknya."
" Kalau mas Arif, ceritakan tentang perjalanannya sampai ke sini, bisa?" Isna mengalihkan perhatian pada Arif.
" Selalu ada yang istimewa dari setiap cerita tentang perjalanan hidup manusia, terutama untuk manusia yang menjalaninya."
" Dari mana ya saya mulainya?"
" Emm.. Mas Arif awalnya bekerja pada bunda itu bagaimana ceritanya?"
" Awalnya saya bekerja jadi keamanan di komplek perumahan tempat orangtua bunda Anne, di Bandung. Waktu itu saya baru lima bulan jadi satpam, tiba-tiba bunda yang kebetulan sedang berkunjung ke rumah Eyang Aki nya mas Dani menawarkan saya pekerjaan jadi supir pribadi buat Eyang aki. Saya juga diberikan tempat untuk tidur di rumah itu. Kata bunda, kasihan eyang aki, eyang nini baru meninggal. Saya diminta menemani."
" Mereka tak punya supir atau ART?"
" Ada, tapi sebelum eyang nini meninggal, supirnya sudah keluar. Kalau ART memang ada,tapi karena perempuan, mungkin bunda tak nyaman. Saya bekerja di situ tak lama, karena lima bulan saya kerja, eyang aki juga meninggal. Jadi saya diminta bunda untuk ikut ke rumah bunda. Begitu ceritanya, Teh."
" Oohh.." Isna mengangguk-angguk.
" Lebaran nanti berarti menjadi lebaran pertama Mas jauh dari keluarga?"
" Tidak juga, Teh. Sebelum di Bandung saya pernah di Jakarta, lima tahun."
" Oh ya? Kerja?"
__ADS_1
" Iya, jadi guru honor di SD, merangkap menjadi guru privat."
" Oh, mas Arif guru?"
" Kebetulan pendidikan saya di bidang itu, Teh."
" Pernah kuliah?"
" Alhamdulillah. Tapi nasibnya hanya jadi guru honor. Waktu masih di Semarang juga, guru honor. Pindah ke Jakarta, ya masih honor juga."
" Em... maaf, mas sudah punya istri?"
" Pernah, tapi meninggal dua tahun lalu, waktu melahirkan anak kami."
" Innalillahi wa inna illaihi roji'un. Maaf mas, saya mengorek duka lama."
" Tidak apa-apa, Teh."
Hening sejenak. Isna memperhatikan wajah lelaki di hadapannya. Dan Isna semakin menyadari kalau lelaki itu memang memiliki tipe wajah yang serupa dengan suaminya, Dani. Dari mulai keningnya, gaya rambutnya, bentuk rahangnya, dan garis bibirnya saat Arif tersenyum. Mbak Pri pernah bilang seperti itu.
Bahkan perawakannya pun sama. Isna pernah hampir salah memanggil Arif yang dikiranya Dani. Dari belakang mereka serupa betul badannya.
" Mas Arif tak mau cari istri lagi?" Isna bertanya, antara ingin tahu dan mencari bahan obrolan.
" Belum Teh. Belum terpikir lagi. Sekarang saya mau konsentrasi dulu dalam mencari uang. Sampai mapan."
" Ish, jangan bicara begitu, mau menikah kalau sudah punya harta, tidak boleh. Niatkanlah kalau sudah bertemu jodohnya. Rejeki nanti juga mengikuti."
" Siap, salah."
Isna tertawa. " Atau masih belom move on dari masa lalu?"
" Tidak tahu ,Teh. Mungkin juga."
" Yaaa tak bisa menyalahkan juga, yang penting jangan menutup hati. Menikah itu ibadah, Iya kan Mas?"
Arif menganggukkan kepala, membenarkan pernyataan Isna.
" Atau mau saya carikan perempuan buat jadi calon istri?"
Wajah Arif seketika memerah. "Tak usah, Teh. Nanti merepotkan."
Isna tersenyum. Terlihat Arif tersipu karena mendengar kata-kata Isna.
Bersambung...
__ADS_1
*******