
Perlahan namun pasti, sedih itu sedikit terlupa. Tiga bulan berlalu dan Isna kembali menemukan cerianya. Lelaki tercintanya, tak pernah lupa memberikan perhatian dan cinta yang besar, membuatnya merasa semesta adalah miliknya.
Dan sepertinya kehamilan yang dinanti pun sudah memperlihatkan tandanya.
" Telat dua minggu," Isna menjawab pertanyaan Dani, saat lelaki itu menanyakan tentang datang bulannya.
" Coba pakai test pack ya?"
" Boleh."
Dani mengeluarkan alat itu dari laci meja.
" Aa menyimpan alat test pack?" Isna agak bingung melihat Dani ternyata menyimpan alat tersebut
" Buat mengecek kalau-kalau kamu telat datang bulan lagi."
Duh, sampai sebegitu nya Dani menunggu kehamilan Isna. Seandainya terjadi lagi hal yang seperti kehamilan sebelumnya, Isna tak berani membayangkan sedihnya Dani seperti apa.
" Isna pakai ya?" pinta Dani pada istrinya.
" Iya,"menyahut sang istri.
Saat itu hari masih sangat pagi. Matahari bahkan belum lagi terbit. Isna dan Dani baru saja selesai shalat subuh.
Isna memakai alat tes kehamilannya di kamar mandi.
Dengan tak sabar Dani menunggu. Harapannya menggendong bayi selucu dan semontok Emir, yang adalah bayinya sendiri, tak bisa dibendung lagi.
Begitu pintu kamar mandinya terbuka...
" Bagaimana?" Dani mendekati Isna.
Isna tak menjawab. Dia malah menunjukkan alat test pack itu pada Dani. Tertera dua garis, artinya...
" Positif! Alhamdulillah..." Perasaan bahagia yang memenuhi dadanya tak bisa tersembunyi kan. Dani memeluk erat sang istri, Dikecupnya kening Isna berkali-kali. Seandainya bisa membawanya ke awan, mungkin Dani akan membawa Isna terbang ke awan.
Hal yang tak berbeda juga dirasakan Isna. Angannya langsung mengembara, menciptakan cerita tentang keluarga kecil,dengan anak-anak yang lucu dan menggemaskan.
Pasti hidup akan menjadi berwarna. Ada mahluk kecil yang memanggilnya ' Mama' dan memanggil Dani 'Papa'.
Isna larut dalam lamunannya sendiri.
Pagi itu sang mentari terasa sangat indah. Berusaha untuk berpikir optimis, Isna tak mau membebani otak dan hatinya dengan, 'bagaimana kalau kejadian itu terulang lagi? Bagaimana kalau ternyata ada masalah dengan tubuhnya, yang membuat kehamilannya tak bisa dipertahankan, lagi?'
Perempuan berusia 23 tahun itu sangat paham kalau keguguran takkan pernah terjadi begitu saja, tanpa sebab. Pasti ada penjelasan yang bisa dokter berikan. Tapi terkadang sebagian orang akan memberi jawaban simpel, yang pasti tak terbantahkan oleh siapapun. 'Memang belum dikasih sama Allah. ' Tanpa berusaha mengulik lebih jauh, apa penyebabnya.
Sayangnya, Isna mempunyai perasaan kalau sesuatu akan terjadi lagi, entah apa, buruk atau baik, itu tak terlalu jelas . Yang jelas, saat ini dia malah harus berusaha mengusir semua pikiran yang mengganggu itu, apalagi pikiran yang buruk. Karena itu yang akan membuat hal yang buruk akan terjadi. Pikiran akan mensugesti diri.
Jadi, berpikirlah positif, karena pikiran positif akan membawa semua menjadi baik.
Sudah tiga bulan ini Isna kembali sibuk memasak. Hobi yang juga menjadi pekerjaan yang pernah selama lima tahun dia jalani, di Bali, sebelum akhirnya dia dipinang Dani. Juga merupakan jurusan yang dia pilih saat sekolah dulu, di SMK .
__ADS_1
Setelah Dani berpamitan keluar rumah untuk bekerja, Isna memulai kegiatannya itu, memasak.
Mbak Pri, yang ternyata akhirnya malah diperintahkan oleh bunda Anne untuk menjadi asisten di rumah Dani, selalu menjadi teman setia Isna dalam kesehariannya, setelah kegugurannya yang tempo hari. Termasuk membantu Isna membuat makanan untuk dijual secara online.
Dan hari itu mereka akan membuat tumpeng. Ada pesanan untuk acara ulangtahun.
Dani sudah mewanti-wanti Mbak Pri untuk menjaga Isna. Isna diijinkan untuk melakukan kegiatan pengisi waktu luangnya,tapi jangan terlalu capek. Hanya boleh menerima orderan yang tidak banyak. Lelaki berkulit bersih itu takut sekali kalau kelelahan akan berpengaruh pada kehamilan istrinya.
Mbak Pri ikut merasakan kebahagiaan saat Dani memberitahu tentang kondisi Isna.
" Tapi, ini hanya sekedar saran ya mas, jangan sebut saya sok tahu, ada baiknya mas Dani bawa mbak Isna periksa ke dokter, sekalian minta saran, supaya kejadian itu tak terulang lagi."
Saran yang bagus dari seorang perempuan sederhana.
Mbak Pri, sudah mengikuti keluarga pak Prasetyo sejak usianya 17 tahun, duapuluhlima tahun lalu. Saat itu dia sudah menjadi janda dengan satu orang anak perempuan. Memang dia menikah muda. Ayah Dani mendapat rekomendasi untuk mempekerjakan dia dari kakek Dani, yang ternyata adalah teman dari kakek Mbak Pri.
Begitulah latar belakang perempuan berusia empatpuluhdua tahun itu, yang sampai saat ini masih betah seorang diri,tanpa suami.
Isna menyukai Mbak Pri. Tak heran orangtua Dani betah mempekerjakan nya. Mbak Pri orang yang baik.
"Mbak Pri tak mau punya suami lagi apa?" Secara ingin tahu Isna pernah bertanya.
" Tidak, Mbak Isna. Saya sudah tua. Mana ada yang mau sama saya." Begitulah, mbak Pri selalu merendah.
" Artinya, kalau ada yang mau sama Mbak Pri, mbak juga mau kan?"
Dan Mbak Pri sempat tersenyum sambil menjawab, "Kalau masih ada jodoh saya, kenapa tidak? Takdir kan kita tidak tahu ya mbak."
Saat waktu zuhur tiba mereka pun rehat sejenak.
Berdua Mbak Pri, Isna menyantap makan siangnya, karedok ditemani lontong,kesukaannya.
Belum lagi Isna menyelesaikan makan siangnya, datang seorang tamu.
Mbak Pri yang menemuinya. Isna sempat melihat sekilas, tamunya adalah seorang wanita.
" Mbak Isna, sudah selesai makannya?" begitu sopannya Mbak Pri, sampai harus bertanya apakah Isna sudah menyelesaikan makannya.
" Sudah," Isna menutup makan siangnya dengan meminum segelas air putih.
" £Ada tamu. "
" Tamu saya?"
" Bukan, tapi kurang tahu saya. Mending Mbak temui saja dulu."
Agak bingung Isna mendengar jawaban Mbak Pri. Bukan tamu Isna, tapi tidak tahu juga. Penasaran, Isna menemui tamu itu.
" Maaf, cari siapa ya?"
Perempuan itu tersenyum. Secara naluriah Isna langsung membandingkan perempuan yang ada di ruang tamunya itu dengan dirinya. Perawakannya tinggi ramping, Isna bisa memperkirakan kalau tinggi badannya sendiri pasti kalah dari perempuan itu. Yang paling menyita perhatiannya adalah wajahnya. Cantik, dengan dandanan yang paripurna, seperti layaknya model.
__ADS_1
Membandingkan dengan dirinya, sebaiknya jangan pernah, Isna membatin. Isna tidak pernah berdandan sesempurna itu. Walau Isna juga cantik,tapi kecantikan perempuan itu sangat sempurna, dari pakaian dan semua yang dipakainya sangat terlihat kelasnya.
" Kenalkan,saya Anindita, but you can call me Anin or Dita." Perempuan itu memberikan tangannya untuk bersalaman dengan Isna.
Isna membalas uluran tangan perempuan bernama Anindita itu.
" Mbak Anin mau bertemu siapa?"
" Saya mau kenal dengan Isna. Anda yang bernama Isna?"
Isna mengangguk. " Iya, saya Isna. Maaf, supaya saya tidak penasaran, bisa langsung saja bilang apa tujuan mbak kesini?"
" Don't call me 'mbak'. Just call me 'Anin'. Ok?"
" Oke, baiklah. Anin mau kenal dengan saya, setelah itu apa ?"
Anindita tersenyum ." Nothing. Hanya mau kenal dengan istrinya Dani saja. Dani is my bestfriend."
Kening Isna berkerut. Bestfriend? Bagaimana bisa?
" Maksudnya?"
" Ya itu maksud saya, Dani itu teman baik saya. Kenapa? Ada yang salah?"
Ada yang salah??? Isna merasakan ada emosi yang mau keluar dari dadanya saat melihat ekspresi wajah dan mendengar pertanyaan perempuan itu.
Aneh?? Jelas itu aneh. Sampai-sampai Isna ngga sanggup lagi bertanya , karena merasakan kalau perempuan itu mempunyai misi tertentu, yang Isna yakin tidak akan membuat hidupnya senyaman dahulu lagi.
Mbak Pri yang ternyata diam-diam menguping buru-buru menyelamatkan keadaan.
" Maaf Mbak Isna, kita masih ada kerjaan. Nanti sore harus kelar."
" Oh, iya ya Mbak." Beralih ke Anindita," Maaf Anin, bukan maksud mau tak sopan, kalau memang sudah tak ada yang perlu dibicarakan lagi, saya mau meneruskan pekerjaan saya. Atau kamu mau nemenin saya, melihat pekerjaan saya?"
Perempuan itu melihat ke jam tangan mewahnya." Em.. sorry, saya juga ada pekerjaan. Saya pamit dulu. Hanya mau kenal saja sama kamu. Anytime,boleh saya ke sini lagi?"
" Silakan," basa-basi yang tidak ingin Isna lakukan.
Perempuan cantik berpenampilan mewah itu berdiri, kemudian menjabat tangan Isna. Demi kesopanan, Isna membalasnya.
" Salam buat Dani ya, bilang saja Dita sudah kembali."
" Akan saya sampaikan." Kalau saya berkenan... Isna sudah enggan berurusan dengan tamunya itu.
Sepeninggal tamu anehnya itu, Isna dibayangi perasaan aneh juga. Mungkinkah mereka, Dani dan Anindita, pernah menjalin hubungan istimewa?
Atau malah perempuan itu adalah masa lalu Dani, cinta pertamanya, yang Isna tak pernah tahu?
Entahlah... Perasaan Isna semakin tak nyaman sekarang.
Bersambung....
__ADS_1