Hati Yang Terpilih Part 2

Hati Yang Terpilih Part 2
Nama Itu Lagi


__ADS_3

Dua hari menjelang Lebaran. persiapan menyambut hari yang fitri itu telah selesai Isna lakukan. Sudah ada kue kering buatan sendiri yang akan Isna antarkan nanti sore, ke rumah bunda, dan ke rumah orangtuanya.


Ajakan bunda ke Surabaya akhirnya ditolak oleh Isna. Ada mama, bapa,Ayu, yang ingin bersama Isna di hari Lebaran ini.


Isna memandangi langit pagi yang samar berwarna jingga. Dalam hati Isna berucap syukur, ibadah puasanya di Ramadhan tahun ini terhitung lancar, hanya ada tiga kali dia merasakan mual hebat yang membuatnya harus membatalkan puasanya. Selebihnya, puasanya terhitung mudah dijalani. Anak dalam kandungannya ternyata mudah diajak ibadah.


Isna meraba perutnya. Kalau menurut dokter usia kandungannya sudah masuk sembilan minggu.


Tak sabar rasanya menunggu waktu itu, saat ada bayi mungil yang meramaikan rumah dengan suara tangisannya, kemudian nanti, setelah dia semakin besar dia akan berlarian di rumah ini. Saat dia mulai masuk sekolah, mama Isna akan mengantarkannya ke sekolah.


Lamunan Isna mengembara jauh ke depan, menghadirkan senyum di wajahnya, mendatangkan asa penuh suka dalam ruang hatinya.


" Senyum-senyum sendirian, Sedang memikirkan Aa ya?" Dani tiba-tiba sudah berada di sebelahnya, dan tangannya melingkari pinggang Isna yang masih ramping, belum mengalami perubahan karena kehamilannya.


Isna merebahkan kepalanya di pundak Dani. " Mau tahu aku lagi memikirkan siapa?"


" Memikirkan siapa?"


" Memikirkan anak kita."


" Anak kita?"


" Iya, Dani atau Isna junior. Kalau nanti dia sudah lahir, kita dipanggil mama dan papa. Eh, Aa maunya di panggil apa?"


" Emm... dipanggil apa ya? Neng maunya dipanggil apa?"


" Maunya dipanggil...mama ajalah. Nanti mama sama bapa dipanggil nini dan aki. Ayah sama bunda kita panggil... Opa dan Oma. Bagaimana?"


" Neng tahu kan kalau Aa tidak pernah tak setuju sama keputusan kamu?"


Isna tersenyum dalam perasaan bahagianya.


Berusaha untuk menciptakan bahagianya sendiri, karena terkadang datang sesuatu yang ingin mengambil kebahagiaan itu dari hatinya. Memporak porandakan suka citanya dan menggantinya dengan tangisan.


Isna masih mengingat dengan jelas isi pesan yang dikirim Anindita beberapa hari lalu. Memang hanya begitu saja, tanpa ada apapun lagi. Tapi itupun cukup membuat Isna resah.


Pasti akan ada kelanjutannya. Tapi Isna tak berniat menceritakannya pada Dani. Dia hanya bercerita pada Mbak Pri. Dan saran mbak Pri hanya satu, " Biarkan saja, tak usah ditanggapi."


Dan Isna mengikuti saran itu.


Berusaha untuk tidak terpengaruh dengan sepak terjang Anindita.


" Neng, Kita jadi ke rumah Bunda?"


" Jadi."


" Pagi saja ya, jangan sore. Biar bisa lebih lama ngobrol sama bundanya. Terus,ke rumah bapanya besok saja, malam takbir. Kita ajak Ayu, sekalian jalan-jalan."


Isna berlagak berpikir, hanya sedetik, langsung setuju pada saran Dani.


" Ya sudah, siap-siap sana."


Isna segera masuk kamar, dan berganti pakaian. Dani pun melakukan hal yang sama.


" Eh, tapi bunda ada di rumah kan ?"


" Ada, Aa sudah konfirmasi. Katanya bunda memang mau ke toko, tapi nanti sore, mau buka puasa di Bogor katanya."


" Ohh..."


" Mbak Pri," Isna menghampiri mbak Pri yang sedang merapikan kamarnya .

__ADS_1


" Iya Teh?"


" Aku sama Aa mau ke rumah bunda. Minta tolong ya, nanti mbak Pri masak soto ayam, sama lauknya, terserah mbak deh. Bahannya ada di kulkas. Kalau ada yang perlu dibeli lagi nih uangnya. Tolong ya Mbak." Isna memberikan sejumlah uang pada Mbak Pri.


Mbak Pri menerima uang dari Isna. " Siap mbak'e. Salam buat bunda Anne ya?"


" Iya. Makasih ya Mbak."


Sampai di rumah bunda Anne. Suasana rumah begitu lengang , sepi. Rumah sebesar itu, seperti tanpa penghuni.


Beberapa kali Dani mengucap salam, tak ada jawaban.


Akhirnya setelah yang kesekian kalinya baru ada jawaban, Lalu pintu pun dibuka.


" Bunda," Dani segera mengambil tangan bunda, dan mencium tangannya. Isna mengikutinya.


" Neng geulis, sehat?" Bunda mencium kedua pipi Isna.


" Alhamdulillah, sehat. Bunda sepertinya pucat, bunda sakit?"


" Sedikit, sepertinya akan kena flu."


Bunda masuk, diikuti Dani dan Isna.


" Bunda, kalau bunda ada apa-apa bilang Dani dong,bund. Ayo ke dokter kalau bunda sakit."


" Tak usah, Dan. Hanya perlu istirahat saja, nanti juga segar lagi."


" Memangnya ceu Etty sama kang Pendi tidak ada?"


" Mereka sudah pulang kampung."


" Hah? Bunda kasih mereka pulang kampung?"


" Tapi ini masih H min dua . Bunda jadi sendirian deh."


" Ya tidak apa-apa, Dan."


" Memangnya ayah kemana?" Isna yang sedari tadi diam mulai ingin tau.


" Sedang mengurus hotelnya di Yogya." bunda yang menjawab pertanyaan Isna.


Isna menangkap pandangan sedih pada saat Isna manatap mata bunda. Bunda menyimpan sesuatu dalam hatinya. Apa ya ?


" Oh iya," Isna teringat sesuatu . Dia mengeluarkan dua buah toples dari dalam tas kain yang dibawanya.


" Ini bund, " Isna meletakkan kedua toples itu di atas meja. " Mohon dimaafkan, kalau rasanya belum seenak kue yang biasa bunda makan."


Bunda tersenyum. " Dari tampilannya sih sudah meyakinkan. Pasti enak."


" Jangan terlalu memuji, bunda. Nanti kalau bunda sudah makan, terus ternyata tak enak,bagaimana?"


" Ya kasih saja ke kucing." Dani tiba-tiba mengeluarkan celetukannya. " Tapi ini enak lho bund. Aku sudah mncobanya, dan rasanya tak mau berhenti mengunyahnya. Seriusan. Bukan karena ini buatan istri tercinta ya. Ini jujur, memang enak."


" Iya dong, pasti enak. Isna yang buat kan." Bunda memang paling bisa, sama seperti anaknya.


" Eh bund, aku mau ke belakang. Sekalian aku bawa kuenya ke belakang ya?" Isna merasakan ingin ke kamar mandi.


" Iya , cantik."


" Oh iya, sekalian aku mau numpang dhuha."

__ADS_1


Bunda memberi isyarat dengan tangannya, mempersilakan Isna melakukan yang dia mau lakukan.


Setelah selesai dhuha Isna pun kembali ke ruang tamu. Tapi dia tak menemukan suami dan mertuanya di situ. Dimana ya? Mata Isna melihat kehalaman depan, sepertinya tidak ada.


Eh, tapi siapa itu yang ada di pos satpam? Isna menajamkan penglihatannya.


Dani? Mau apa Dani ada di pos satpam?


Isna mau mendekati, tapi urung dilakukan karena terdengar suara bunda memanggilnya.


" Ya bund !" Isna menyahut. Lalu menghampiri asal suara bunda, yang ternyata ada di ruang makan.


" Geulis, bunda boleh minta tolong?"


" Apa bund?"


" Bunda punya kacang mete dan coklat blok. Isna bisa buat apa dari dua bahan ini?"


" Ya itu mah gampang, bunda. Tapi apa bunda punya cetakan nya?"


" Tidak."


" Eh, kalau bunda punya kurma, Isna bisa buat kurma coklat. Biji kurmanya dibuang, diganti dengan kacang mete."


" Oh iya ! Bunda pernah makan coklat seperti itu, pemberian mahasiswa bunda."


" Mau Isna buatkan ?"


" Boleh, kalau Isna tak keberatan, dan belum mau pulang kan?"


" Belum bund. Tapi itu Aa sedang berada di pos satpam, sedang apa ya bund?"


" Oh itu, bunda minta tolong Dani untuk mengecek saklar lampu di pos satpam. Kalau memang rusak biar Dani yang panggil tukang servisnya."


" Ohh..."


Penjelasan bunda agak kurang logis, tapi untuk apa bunda cari-cari alasan?


Kenapa Isna merasa agak aneh ya?


" Bunda keluar dulu ya geulis. Isna bisa sendiri kan?"


Isna mengangguk, tapi tetap dia merasa ada yang aneh.


Rasa penasaran membuat nya diam-diam mengawasi kemana bunda pergi.


Ternyata bunda ke teras belakang. Isna mengikuti, seperti polisi mengintai penjahat. Lalu terdengar suara beliau menelpon seseorang, dengan suara berbisik.


" Assalamu'alaykum, Anin. "


Deg ! Jantung Isna serasa berhenti seketika. Nama itu lagi ! Kali ini perempuan itu dengan mertuanya saling bicara?


Ada apa lagi ini?


Isna merasa dadanya sesak, oleh amarah dan rasa penasaran yang memuncak.


Kenapa sih nama itu selalu disebut dan terdengar di ruang pendengaran Isna?


Rasanya Isna mau menjerit sekencang-kencangnya.


Bersambung

__ADS_1


*****


__ADS_2