
Isna duduk dan mengangkat Ayu ke atas pangkuannya.
" Aduh, lumayan berat juga ya kamu."
Ayu tertawa, pamer giginya yang berderet rapi. Mbah Sum memang jarang memberikan makanan manis buat Ayu, sehingga giginya tidak keropos.
Awal bertemu dengan Isna, Ayu memang tidak langsung dekat dan akrab.Tapi dia cepat beradaptasi. Kecerewetannya, pertanyaan-pertanyaannya, membuat rumah tak pernah sepi kalau Ayu tidak sedang tidur.
" Anti, aku mau sekolah. Kata Mami, aku mau sekolah, tapi tak sekolah sekolah.Teman aku sudah sekolah semua."
" Oh ya? Siapa saja teman kamu itu?"
" Banyak, Meymey, Echa, Ading, Andi,mmm siapa ya?"
" Itu tuh,yang rambutnya keriting."
" Eldi. Aku kan suka dikasih jajanan sama Eldi. Eh Echa mau katanya,tapi nggak dikasih sama Eldi."
" Kenapa tidak dikasih?"
" Katanya Echanya suka galak."
Dani memperhatikan gadis kecil yang duduk di pangkuan Isna sambil terus tersenyum.
" Anti, om itu siapa? Pacar Anti ya?" Ayu menanyakan tentang Dani yang sedari tadi dirasakannya memperhatikannya terus.
Senyum Dani melebar jadi tawa. " Bukan Cantik. Om bukan pacar Anti. Om ini suami Anti."
" Suami? Oh, menikah ya?"
Menikah? Begitu lucu kala kata itu diucapkan oleh Ayu, dengan gaya dan mimik wajah yang luar biasa polos. Dani terus tertawa.
" Om nya ketawa terus."
" Abisnya Ayu lucu."
Ayu senyum-senyum menggemaskan.
" Mbah, Ayu besok kan sekolahnya?" Ayu bicara pada sosok perempuan yang udah dianggapnya sebagai neneknya.
Isna menengok ke arah Mbah Sum.
" Iyo, cah ayu... Besok kita sekolah."
" Asik...!" Ayu melompat dari pangkuan Isna, lalu berlari menjauh, tanpa bisa dicegah.
" Ayu! Mau kemana?!" Isna bertanya setengah berteriak.
" Ke rumah Echa!" jawab Ayu, lalu lanjut berlari.
" Si mbah bingung," mbah Sum mulai bertutur. "Ayu minta sekolaaaah terus. Di mbah tidak punya biayanya. Untung ada Mas Arif. Mas Arif sudah mendaftarkan ke PAUD dekat sini. Tapi bayarnya menyicil. Katanya, tunggu sampai mas Arif gajian dulu. Sekolahnya mulainya juga masih lama."
Isna dan Dani saling berpandangan. " Arif?"
" Aa bisa bantu kan?" Isna tiba-tiba bertanya pada suaminya.
" Akan diusahakan." Dani menjawab.
Isna tersenyum, lalu beralih melihat ke Mbah Sum
__ADS_1
" Mbah, insyaallah nanti Aa Dani juga mau mengusahakan untuk mmbantu. Si mbah tidak usah bingung-bingung lagi. Biar nanti sekolah Ayu kami yang mengusahakan biayanya. Insyaallah..."
" Ya Allah... Teh Isna, matur suwun, nggeh. Mugi-mugi rijkinya ditambah. Aa Dani, diparingi sehat,selamet, tur barokah." ( Terimakasih, ya. Mudah-mudahan rezekinya ditambah, Aa Dani diberikan sehat,selamat, dan berkah )
Mbah Sum menyalami Dani, dan mau mencium pungung tangannya. Dani buru-buru menarik tangannya.
" Ora usah koyo ngene, Mbah. Biasa mawon." ( Ngga usah seperti ini, Mbah. Biasa saja )
Mbah Sum juga menyalami Isna. Isna hanya bisa tersenyum dalam perasaan miris, mengingat nasib Ayu yang sudah sendirian di usia sekecil itu.
Berada dibawah pengasuhan seorang seperti mbah Sum, akan sulit bagi Ayu untuk bisa mendapat pendidikan yang layak. Akan lebih baik bagi Ayu kalau dia diasuh oleh keluarga yang ada ayah dan ibu. Bukan hanya ada si Mbah saja.
" Teh Isna, Aa Dani, monggo, pinara. " Mbah Sum mempersilakan Isna dan Dani masuk.
Isna menjawab dengan senyum, lalu mengajak sang suami masuk.
Di dalam rumah mata Dani menerawang , melihat berkeliling.
" Maminya Ayu meninggalnya kapan , Mbah?" Dani memperhatikan foto seorang perempuan cantik dengan hidung mancung, yang dipajang di dinding ruang tamu.
" Wah, si mbahnya ngga apal. Koyone lima atau enam bulan lalu."
" Kenapa Ayu ngga pernah dibawa ke keluarga papinya, mbah? Ayu tu cantik lho. Kalau nenek kakeknya lihat mereka bisa jatuh sayang sama Ayu. Saya yakin."
" Yo si mbah ora ngerti A. Kata neng Sofie, Papinya Ayu sudah dikasih tahu waktu Ayu baru lahir, tapi tidak datang menengok Ayu, sampai sekarang."
" Kok begitu?"
" Yo ora ngerti."
" Kasihan Ayu. Dia berhak tahu siapa ayahnya."
" Neng Sofie bilang sama Ayu papinya sudah punya mama yang baru. Jadi Ayu tidak boleh bertemu lagi sama papinya."
" Begitulah yang Neng Sofie bilang."
" Anti !Aaaa!! Si mbah !!" Obrolan mereka terhenti oleh teriakan histeris Ayu, yang terdengar dari kejauhan.
Isna, Dani, dan Mbah Sum serentak terburu-buru keluar karena mendengar suara Ayu yang sepertinya ketakutan.
Begitu mereka sampai diluar, mereka melihat adegan Ayu yang sedang dikejar seekor ayam jago.
Beberapa tetangga ikut keluar karena juga terkejut mendengar suara Ayu yang histeris.
Dan yang terjadi adalah adegan yang terlihat lucu itu malah menjadi bahan tertawaan orang yang melihatnya.
Isna dan Dani,juga Mbah Sum , sempat merasa geli melihat adegan itu. Ayu yang berlari dengan tubuh montoknya saja sudah terlihat lucu, ditambah dengan ekspresi wajahnya yang ketakutan, tapi lucu, membuat Dani tak tahan untuk tidak menggelakkan tawanya.
Tapi melihat wajah Ayu yang ketakutan,Dani pun menghampiri Ayu yang masih berlari, kemudian mengangkat dan menggendongnya. lalu mengusir ayam nakal yang mengganggunya.
Ayam itupun berhenti mengejar Ayu. Sang pemilik akhirnya memanggil ayam jago galak itu, sambil meminta maaf pada Dani, terutama Ayu.
Masih menyisakan tawa, Dani membawa Ayu ke rumahnya.
" Aku takut sama Tanos." ucap Ayu sambil mengelap matanya yang basah karena air mata.
" Tanos?" Dani bingung." Ayam itu namanya Tanos?"
" Iya. Tanos galak, Om."
__ADS_1
Dani tersenyum. " Ya jangan dekat-dekat sama Tanos, biar tidak dikejar."
" Aku lewat aja kok Om. Tanosnya sudah galak terus."
" Ayam jago itu memang begitu. Galak, Semua orang yang lewat situ sudah pernah merasakan dikejar Tanos, lalu dipatok." Mbah Sum memberi penjelasan tentang Tanos.
" Kenapa bisa begitu ya?" Isna bertanya.
" Kurang tahu sebabnya kenapa."
" Ayu dipatok Tanos?" Dani bertanya.
" Nggak.Aku kan lari kencang, jadinya nggak kena."
Dani mencubit pipi Ayu dengan gemas. Lalu menurunkan Ayu dari gendongannya.
Ayu berlari masuk.
Dani memandang berkeliling, melihat suasana sekitar.
Matahari semakin garang memancarkan sinarnya. Kampung ini lumayan banyak penduduknya. Walaupun begitu rumahnya tak begitu padat, masih ada beberapa rumah yang masih mempunyai halaman yang lumayan besar. Timbul niat Dani untuk mempunyai rumah di daerah situ. Untuk investasi, dijadikan rumah kontrakan. Pikiran pengusaha.
Dani membuka ponselnya, dan menelpon seseorang. Diam-diam Isna berusaha mencuri dengar percakapan itu. Ada perasaan curiga yang timbul di hatinya, sejak mengetahui Dani pernah tidak jujur padanya.
" Anti, aku punya ini." Tiba-tiba Ayu keluar sambil membawa sebuah album foto.
Isna berjongkok, menerima album itu dari tangan Ayu.
Konsentrasinya pada usahanya mencuri dengar percakapan Dani sedikit terganggu.
Tapi keingintahuannya pada isi album foto yang dibawa Ayu membuatnya mulai membuka lembar demi lembar album tersebut.
Ketika matanya tiba pada selembar foto sepasang pengantin, Isna merasa tidak asing dengan wajah sang pengantin lelakinya.
Karena merasa kurang yakin, dia melihat foto pernikahan yang lain. Masih merasa ragu, dia memanggil sang suami.
Dani sudah selesai menelpon.
" Aa, coba lihat foto ini." Isna menyodorkan album foto itu untuk Dani lihat.
" Itu foto Papi sama Mami nikah." Ayu memberitahu, tanpa ditanya .
Dani melihat album yang disodorkan Isna.
Dan saat mata Dani melihat deretan foto yang menampilkan gambar sepasang pengantin itu, terlihat ekspresi wajahnya berubah kaget.
" Ini... ini mas Rizal?" Dani bertanya, entah pada siapa.
Sama seperti Isna, dia mengenali lelaki di foto itu, sang pengantin, sebagai Rizal, dokter yang mengobati patah tulangnya Isna.
" Iya kan? Itu seperti dokter Rizal." Isna menegaskan kalau penglihatannya tidak salah.
" Iya, mirip." Dani setuju.
Keduanya bertukar pandang, dalam kebingungan dan pertanyaan yang membutuhkan jawaban.
Ayu anak dokter Rizal?
Dani harus segera mencari tahu kebenarannya.
__ADS_1
Bersambung
******