Hati Yang Terpilih Part 2

Hati Yang Terpilih Part 2
Dani Berbohong?


__ADS_3

Puasa sudah seminggu.Beberapa hari kemarin Isna sanggup menyelesaikan puasanya sampai magrib, tapi tadi pagi, mendadak Isna merasa mual hebat.


Dani sangat khawatir. Dia meminta Isna untuk tidak puasa pada hari ini.


Sudah beberapa minggu ini Dani sering ada di luar. Tadi, saat magrib pun Dani belum sampai rumah. Alasannya masih ada di jalan, terjebak macet.


Sebetulnya Isna punya kecurigaan yang amat banyak. Sikap Dani berubah. Memang, dia masih manis, romantis dan sangat perhatian pada Isna. Tak ada yang berkurang. Hanya waktunya yang berkurang. Waktunya buat Isna tak sebanyak dulu. Bahkan kalau bisa dibilang Dani lebih banyak menghabiskan waktunya diluar rumah.


Tapi Isna ngga mau curiga berlebihan. Isna berusaha meyakinkan diri bahwa semua yang Dani lakukan memang untuk pekerjaan nya. Tanpa ada hal-hal lain.


Apa memang begini hidup rumah tangga? Setelah resmi jadi suami istri intensitas pertemuan tak lagi sesering sewaktu sebelum menikah? Bertemu di malam hari, mengisi waktupun akhirnya dengan tidur, karena sama-sama sudah lelah.


Entahlah, Isna maklum dengan kesibukan Dani, dan ngga mau menimbulkan kesan istri manja dengan merajuk atau meminta Dani sering-sering di rumah. Tapi Isna tetap merasa ada yang mengganjal.


Sampai selesai shalat tarawih Dani masih belum pulang juga.


Isna betul-betul resah, ponsel Dani tak bisa dihubungi.


Macet dimana sampai berjam-jam seperti ini? Tidakkah Dani tahu, kalau penantian itu membuat pikiran bisa menciptakan hal yang aneh-aneh.


Untuk mengusir keresahannya Isna memutuskan untuk mengajak Mbak Pri ke rumah Mbah Sumirah.


Mbah Sumirah, yang biasa dipanggil mbah Sum, adalah tetangga Arif, yang kemarin baru Isna kenal.


" Mau apa ke rumah mbah Sum, mbak ?" Mbak Pri bertanya.


" Mau main saja. Mau lihat kondisinya."


" Tapi nanti kalau mas Dani pulang bagaimana?"


" Ya, biarin saja dia pulang."


" Maksudnya kalau mas Dani pulang, mbak Isna tak ada di rumah, bagaimana?"


" Tidak apa-apa, mbak Pri. Dia tak akan marah."


" Tapi kalau rumah dikunci, mas Dani tidak bisa masuk."


' Dia punya kunci cadangan."


" Yo wis. Ayoklah."


Isna mengunci pintu,


Lalu menggandeng tangan mbak Pri.


Untuk menuju ke perkampungan tempat Arif tinggal Isna dan Mbak Pri harus keluar melewati pos satpam, kemudian belok ke kanan. Kira-kira duapuluh meter belok kanan lagi, masuk gang kecil. Dari mulut gang itu rumah Mbah Sum berjarak seratus meter.


Tak jauh dari mulut gang ada bangunan dari bambu, yang mungkin difungsikan sebagai pos ronda kalau malam. Ada beberapa orang pemuda sedang bernyanyi sambil diiringi gitar.


Isna tak memperhatikan orang -orang yang ada disitu. Dia berjalan dengan menunduk, sampai ada seseorang memanggil namanya.


" Teh Isna."


Suara petikan gitar terhenti. Semua perhatian terarah pada Isna dan Mbak Pri.


" Mas Arif," Isna membalas panggilan Arif. Rupanya orang yang bermain gitar adalah Arif. Masih memakai baju koko dan sarung yang tadi dipakainya shalat tarawih.

__ADS_1


" Mbak Pri. Mau kemana toh, malam-malam gini?"


" Tidak tahu ini mbak Isna. Katanya mau bertemu mbah Sum."


" Mau bertemu dengan mbah Sum?"


" Iya. "


" Oh, ya monggo..." Arif mempersilakan dengan logat jawa nya .


" Permisi semuanya," basa-basi Isna.


" Iya Teh."


Mereka, Mbak Pri dan Isna, berjalan, menuju rumah Mbok Sum. Kebetulan Mbah Sum sedang duduk di teras.


Mbah Sum tinggal di rumah itu bersama seorang anak perempuan berumur lima tahun yang bernama Ayu.


Dari cerita yang Isna dengar dari Arif, Mbah Sum ini sebetulnya tak ada hubungan darah sama sekali dengan Ayu. Mami nya Ayu, namanya Sofie, sudah meninggal beberapa bulan yang lalu.


Semua berawal dari kedatangan Sofie ke kampung itu lima tahun lalu, saat Ayu bahkan belum lahir.


Sofie, sebagai warga baru saat itu, cukup menyita perhatian warga lama, karena penampilannya yang 'wah', wajahnya juga cantik.


Sofie membeli rumah yang sekarang Ayu tempati. Kebetulan disebelah rumah itu Mbah Sum dan suaminya menempati satu kamar kontrakan kecil,


Kata Mbah Sum, sampai ke telinga Isna melalui penuturan Arif, ayah kandung Ayu, suami Sofie, adalah seorang dokter, tapi hubungan Sofie dan si dokter tak pernah disetujui keluarga sang dokter. Sampai akhirnya mereka menikah diam-diam.


Entah bagaimana ceritanya, Sofie akhirnya memutuskan untuk menjauh dari suaminya,tanpa sepengetahuan suaminya, dia pergi, pada saat dia sedang hamil.


Setelah Ayu lahir, Sofie kembali ke pekerjaan lamanya,yang karena pekerjaannya itulah Sofie dianggap tak bermoral oleh keluarga si dokter, pekerjaan di dunia malam.


Baru beberapa bulan lalu Sofie meninggal, karena menderita kanker rahim. Sebelum meninggal, Sofie berpesan agar mbah Sum tinggal di rumahnya, menjaga Ayu. Suami mbah Sum sudah meninggal dua tahun lalu.


" Assalamu'alaykum," Isna memberi salam di depan rumah mbah Sum.


" Wa'alaykumussalam." Terdengar suara pintu dibuka.


" Eh, Teteh... Masuk Teh." Mbah Sum, perempuan berusia enampuluh tahunan itu mempersilakan Isna masuk.


" Di teras saja, Mbah. Ayu sudah tidur?"


" Baru saja, Teh. Ada perlu apa toh?"


" Eh, Mbak Pri, sini atuh, masa berdiri saja." Isna teringat pada Mbak Pri.


Mbak Pri mendekat, lalu berdiri di dekat tempat duduk Isna.


" Mbah, Isna mau pesan buras* sama gorengannya, pakai sambalnya juga ya Mbah, buat buka puasa besok. Bisa kan?"


" Bisa Teh, Gorengan nya apa? Bala-bala, gehu, apa tempe ?"


" Campur saja, duapuluh. Burasnya duapuluh juga." Isna menyerahkan selembar uang seratus ribu.


" Iya Teh." Mbah Sum menerima uang dari tangan Isna.


" Itu saja, Mbah. Isna langsung pamit ya?"

__ADS_1


" Yaa..Teh, kok terburu-buru?"


" Mbah mau istirahat kan? Besok pagi Isna kesini, mau ajak Ayu main, boleh kan?"


" Yo boleh, Teh. Monggo, silakan."


" Matur suwun, Mbah."


Mbah Sum tertawa mendengar Isna berbicara dalam bahasa Jawa.


"Lho iki duite ono angsulane."( Ini uangnya ada kembalinya.)Mbah Sum membalas dengan berbahasa Jawa.


" Mboten nopo-nopo, Mbah. Kanggo Ayu mawon angsulane ."( Ngga apa-apa, Mbah. Buat Ayu saja kembaliannya)


"Matur suwun nggeh, Teh."


"Sami-sami, Mbah."


Isna melangkah meninggalkan rumah Mbah Sum, diiringi Mbak Pri.


Melewati tempat sekelompok pemuda yang sedang berkumpul di pos ronda.


" Sudah, Teh?" Arif bertanya.


" Sampun, Mas."


Sampai rumah ternyata Dani masih juga belum pulang. Kegalauan Isna mencapai puncaknya.


Diambilnya ponselnya, mencoba menghubungi nomer suaminya. Sedari tadi nomernya tidak aktif.


Barangkali sekarang aktif.


Terdengar nada sambung. Tak lama panggilan terhubung.


" Assalamu'alaykum Cantik" Terdengar suara Dani di seberang telepon.


" Wa'alaykumussalam, lagi dimana?"


" Sebentar lagi sampai."


" Ohh... Ya udah."


" Kenapa? Kangen ya?"


Isna tak menjawab, malah menutup teleponnya.


Kegalauannya, bercampur kekesalan, juga disisipi sebuah tanda tanya besar, sangat besar. Ada sebuah pertanyaan yang harus Dani jawab, dengan jujur. "Kenapa baru pulang?"


Tak lama terdengar suara mobil Dani memasuki halaman rumah. Tak sabar rasanya Isna, ingin segera menghadiahi Dani serentetan pertanyaan .


Kecurigaan menggelayuti otaknya. Rasa cemas mendera hatinya. Telah terjadi sesuatu pada suaminya, yang membuatnya harus menjadi seperti itu, seperti menyembunyikan sesuatu dari Isna.


Apakah itu??


Keterangan :


* Buras itu penganan terbuat dari beras, dibungkus daun pisang, serupa lontong. Bedanya buras ada isinya, biasanya diisi sambel oncom, dimatangkan dengan cara dikukus, sedangkan lontong tanpa isi, dimatangkan dengan cara direbus.

__ADS_1


Bersambung


*******


__ADS_2