Hati Yang Terpilih Part 2

Hati Yang Terpilih Part 2
Arif dan Dani


__ADS_3

" Mas Dani, maaf, apa Mas sudah melapor pada Polisi tentang ponsel Mas Dani yang dirampas orang?" Arif menanyakan, lebih tepatnya mengingatkan tentang kejadian perampasan ponsel miliknya.


" Iya, saya lupa. Tapi apa perlu ya Mas?"


" Perlu, Mas. Saya curiga, karena sampai tadi, beberapa menit lalu, SIM card yang ada di ponsel Mas Dani tidak dikeluarkan. Sedari tadi pun, saat Mbak Pri berusaha menghubungi Mas, nomor yang Mas biasa gunakan masih aktif. Berarti SIM Card nya tak dikeluarkan dari ponselnya. "


" Dan kalau pencurinya punya niat untuk menjualnya biasanya SIM cardnya pasti langsung diambil dari ponselnya." Dani mulai bisa menangkap maksud Arif.


" Itu dia. Berarti maksud orang yang marampas ponsel Mas Dani adalah bukan untuk menjualnya."


" Lalu, apa maksudnya?"


" Ya, sekedar membuat Mas Dani tak bisa dihubungi siapapun."


" Untuk apa?"


" Mana saya tahu, Mas? Kan bukan saya yang merampas ponsel Mas Dani."


Dani terdiam, berusaha memikirkan segala kemungkinan yang paling mungkin tentang pelaku perampasan ponsel nya, dan motif orang tersebut.


" Barusan saya mencoba melacak nomor itu dan saya berhasil. Ponsel Mas ada di sekitar rumah sakit tempat Mbak Anin dirawat."


" Masih di sekitar rumah sakit?"


" Iya. Begini Mas, kalau memang perampasan itu terjadi di rumah sakit, ada kemungkinan terekam kamera pengintai. Kita bisa minta pada polisi untuk menyelidikinya, walau akhirnya ponselnya ketemu, tapi kita perlu tahu siapa yang melakukannya, dan apa motifnya. Itupun kalau Mas Dani memang mau tahu."


" Iya, saya memang mau tahu, tapi yang paling penting adalah kalau bisa kembali saya sangat berharap ponsel saya bisa kembali."


Arif hanya mengangguk.


" Kita kembali ke rumah sakit tadi,Mas." Dani mengajak Arif. " Kita lacak keberadaan ponsel saya."


" Baik, Mas."


" Sebentar, saya pamit Mama dulu."


Dani masuk ke kamar perawatan Isna. Istrinya sedang tidur.


Setelah pamit pada mertuanya, Dani pergi dengan Arif, berbocengan menaiki motor Arif.


" Mas, saya mau mengucapkan terimakasih atas bantuan Mas Arif pada Isna. Nanti uang Mas Arif yang terpakai untuk uang muka rumah sakit akan saya transfer. Mudah-mudahan ponsel saya ditemukan, jadi saya bisa langsung transaksi."


" Tidak usah terburu-buru, Mas."


Arif melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Perasaan penasaran menguasai hatinya, ingin segera mengetahui yang sebenarnya tentang perampasan ponsel Dani.


Sesampainya di tempat yang dituju, Dani segera menuju ke tempat parkir, dimana ponsel Dani dirampas. Sedangkan Arif mendatangi pos keamanan.


Tak lama berselang Dani, Arif, dan satu orang petugas keamanan berjalan menuju ruang monitor untuk melihat rekaman kamera pengawas.

__ADS_1


Akhirnya si pelaku perampasan ponsel dapat diketahui dari rekaman kamera pengawas.


Singkat cerita, pelacakan ponsel yang Arif lakukan akhirnya membuahkan hasil. Ponsel Dani ternyata ada di tempat penampungan sampah rumah sakit. Ponsel Dani dirampas orang, hanya untuk dibuang?


Tapi biarlah. Toh dengan ditemukannya ponselnya itu Dani merasa beruntung sekali, karena ponsel itu bukan sekedar alat komunikasi buat Dani. Semua data penting, mobile banking, sampai foto-fotonya dengan orang-orang terdekat, termasuk istrinya,tersimpan di ponsel itu.


" Bagaimana Pak, apa bapak akan melaporkan kejadian ini pada polisi?" Pak petugas keamanan bertanya pada Dani.


Dani memandang Arif, minta pendapat. " Bagaimana ya Mas?"


" Terserah Mas Dani. Kalau pendapat saya sih,laporkan saja. Mas Dani mau tahu kan apa motif si pelaku sebenarnya."


" Iya juga ."


Akhirnya Dani memerintahkan Arif untuk melapor pada Kepolisian . Sementara Dani harus kembali ke rumah sakit tempat Isna dirawat.


Sebelum Arif pergi ke kantor polisi adzan Ashar telah memanggil lebih dulu.


" Sholat dulu Mas. Nanti setelah sholat kita makan dulu. Saya lapar nih." Dani memberi saran yang sebetulnya memang sudah akan Arif lakukan,tanpa harus diusulkan. Tapi ajakan makan sama sekali tak terpikirkan oleh Arif. Bos nya tahu saja kalau Arif sedang lapar. Terakhir perutnya terisi makanan adalah tadi pagi, selepas sholat Id, menyantap hidangan di rumah bunda Anne.


Tadi pagi? Kok rasanya kejadian itu sudah terjadi kemarin ya? Hari ini terasa panjang, karena banyak kejadian yang terjadi dalam kurun waktu kurang dari enam jam.


Selesai melakasanakan sholat di musholla rumah sakit Dani dan Arif mencari makanan di sekitar tempat itu.


Karena saat itu sedang hari Raya,tak banyak pilihan makanan yang bisa Dani pilih. Kantin rumah sakit pun tutup. Untung masih ada satu warung nasi yang buka, di pinggir jalan.


Disela-sela kegiatan menyantap makanan Dani bertanya tentang kronologi kejadian yang menimpa istrinya.


"Apa yang terjadi sebenarnya, Mas? Kenapa Isna sampai mengalami pendarahan?"


" Kalau itu saya kurang tahu, Mas. Saya sedang ada di teras waktu Teh Isna jatuh. Kata Mbak Pri jatuh dari tangga."


" Hah? Jatuh dari tangga?" Dani kaget.


" Iya, ponselnya sampai terlempar. Saya masuk, dan melihat Teh Isna sudah terduduk. Dan ada darah di bawah bajunya."


" Lalu?"


" Saya panik,Mas. Yang terpikir saat itu adalah secepatnya membawa Teh Isna ke dokter. Saya takut ada apa-apa."


Dani memandang Arif, sementara yang dipandang jadi salah tingkah.


" Maaf, Mas, saya memakai baju Mas Dani. Dibawakan baju ini oleh Mbak Pri, karena saya belum sempat pulang untuk berganti baju. Baju saya yang tadi kotor, ada bercak darahnya."


" Oh, tidak apa-apa, Mas. Saya malah mau berterimakasih karena kalau Mas Arif tak ada di tempat kejadian mungkin istri saya akan kesulitan pergi ke rumah sakit, dan akibatnya bisa lebih parah. Terimakasih, mas."


" Sama-sama, Mas."


Sebetulnya Arif mau menanyakan pertanyaan yang sama dengan yang mengganjal di hati Isna, Kenapa lama perginya? Tapi. apakah Arif punya hak untuk menanyakannya? Arif bukan siapa-siapa. Lain dengan Wahid, yang memang punya hak untuk marah melihat Isna tersakiti.

__ADS_1


Tapi salahkah kalau Arif punya perasaan peduli pada Isna?


Perasaan itu datang tanpa dipinta, semakin sering melihat Isna menangis, semakin ingin Arif menyediakan dadanya sebagai tempat Isna menumpahkan air matanya.


Astagfirullah... Arif sering sekali beristigfar kala perasaan itu muncul.


Selesai makan, sesuai kesepakatan, Arif pergi melapor ke kantor polisi, Dani kembali ke rumah sakit .


" Mas Dani pakai motor saya saja, biar saya pesan ojek online."


" Eh jangan," sergah Dani. " Mas Arif saja yang pakai motor, saya sudah pesan ojol.


" Tapi Mas."


' Sudah, Tak usah mengajak berdebat. Sebentar lagi ojol pesanan saya datang."


Arif pun berpamitan pada Dani.


Ponsel Dani berdering. Wahid menelponnya.


" Assalamu'alaykum Dan." Suara Wahid memberi salam.


" Wa'alaykumussalam, Hid. Ada apa ?'


" Kamu dimana?"


" Habis mengambil ponsel ."


" Mengambil ponsel dimana?"


" Panjang ceritanya."


" Itulah, aku menuntut kamu untuk menceritakan ceritamu yang panjang itu. Aku perlu tahu apa yang sebenarnya terjadi pada adikku."


" Aku akan cerita,Hid. Aku juga perlu kamu untuk jadi penyambung cerita pada istriku. Karena Isna sangat marah padaku saat ini. Susah menceritakan apapun padanya."


" Baiklah. Aku tunggu di rumah sakit."


"Iya."


Sambungan telepon terputus. Dani merasakan perasaan nya tidak menentu. Kacau. Di satu sisi dia sebagai suami yang bertanggungjawab atas istrinya tak boleh membuat istrinya sampai menangis, Di sisi yang lain ada manusia yang sedang juga membutuhkan dirinya. Yang sedang putus asa dan butuh pendampingannya.


Dani adalah pahlawan baginya.


Apakah itu terlalu mengada-ada?


Bersambung


******

__ADS_1


__ADS_2