
Cinta tak harus selalu memiliki, ungkapan klise yang mudah sekali diucapkan untuk menghibur orang yang patah hati karena perjalanan perahu cintanya tak berlabuh di dermaga pelaminan. Mudah sekali terucap melalui lisan, nyatanya sulit untuk bersikap mengikhlaskan.
Rizal merasakan itu. Sakitnya melihat Delia duduk di pelaminan dengan lelaki lain, bukan dirinya, membuat hatinya tak ikhlas. Tapi mau tak mau, ikhlas tak ikhlas, Rizal harus menerima takdirnya, menghadapi hari-hari yang akan terasa sepi karena ditinggalkan Delia.
Sejak Delia menjadi adik kelas di fakultas yang sama dengannya, sejak itu pula Rizal, pemuda pendiam yang sedikit kaku, jatuh cinta pada gadis cantik bertubuh mungil yang periang itu. Pendekatan dilakukan, tapi hanya berani mendekat, tanpa berani mengungkapkan rasa.
Rizal merasakan bahagia saat bisa bersama Delia, tapi tiba-tiba, belum lagi menyelesaikan kuliahnya, Delia memutuskan untuk menikah dengan seseorang yang baru dikenalnya beberapa bulan. Katanya sih masih ada hubungan kekerabatan dengan keluarga besarnya di Surabaya.
Empat tahun Rizal berusaha mencari celah untuk bisa memasuki hati Delia, Nyatanya takdir jodoh tak berpihak padanya. Dengan mudah orang lain yang masuk ke hati Delia, dan membawanya pergi, bersama semua impian dan angan Rizal yang terlanjur terangkai menjadi cerita happy ending.
Cerita patah hatinya akhirnya selesai. Beberapa tahun kemudian Rizal bertemu seorang perempuan cantik yang karakternya sama dengan Delia. Periang dan suka berbicara.
Rizal bertemu perempuan itu saat Rizal menjadi koas di sebuah rumah sakit. Perempuan bernama Sofie itu rajin datang ke rumah sakit karena saat itu ayah Sofie sedang sakit dan dirawat di rumah sakit itu.
Sofie itu periang dan mudah bergaul, sehingga mudah baginya untuk menjadi akrab dengan Rizal.
Di suatu hari yang cerah, Rizal tiba-tiba bertanya pada Sofie." Sofie, kamu mau tidak menunggu sampai empat tahun lagi ?"
" Menunggu apa?" Sofie merasa bingung dengan pertanyaan Rizal.
" Menunggu.. aku jadi spesialis?" ragu-ragu Rizal menjawab.
Sofie semakin bingung." Buat apa?"
" Buat... buat jadi Nyonya Rizal Pahlefi."
Sofie hampir meledakkan tawanya. " Mas dokter pasti bercanda." Sofie tersenyum, merasa geli.
Rizal jadi semakin ragu. " Ya sudah kalau tidak mau. Maaf ya, aku sudah lancang ngomong kayak tadi ke kamu."
Melihat ekspresi wajah Rizal yang menjadi mendung Sofie merasa bersalah. "Maaf, mas dokter. Aku tidak maksud begitu."
Sofie meraih tangan Rizal. " Aku hanya tak menyangka, kita kenal belum lama, tiba-tiba mas dokter bilang begitu. Mas pasti tidak sungguh-sungguh. Iya kan?"
" Aku tak sedang bercanda, Sofie. Aku serius. Aku mau menikahi kamu, setelah aku menyelesaikan pendidikan spesialis. Kamu mau menunggu?"
__ADS_1
Rizal sadar kalau Sofie pasti tidak menyangka. Tapi Rizal sudah memantapkan hatinya, akan menikahi Sofie. Butuh kematangan pikir dan kebulatan hati untuk bisa memutuskan hal tersebut.
Apapun jawaban Sofie, Rizal sudah siap mendengarnya.
Dan amat tak terduga, jawaban Sofie adalah, " Aku mau menunggu kamu."
Rizal sendiri tak menyangka hal itu. Tapi dia bahagia, karena hatinya tak lagi sepi.
Nyatanya cita-cita Rizal untuk meminang Sofie tak berjalan sesuai kemauannya. Keluarga Rizal tak menyetujuinya. Penyebabnya karena pekerjaan Sofie adalah pekerja tempat hiburan malam.
Keluarga Rizal merasa sebagai keluarga terpelajar, tidak sekasta dengan Sofie.
Tapi Rizal pantang mundur. Malah, saat Sofie meminta Rizal mempercepat waktu pernikahannya, Rizal menyetujuinya. Setahun setelah perkenalan, mereka akhirnya menikah.
Alasan Sofie minta cepat dinikahi karena sang ayah yang menderita penyakit parah merasa takut tak bisa menjadi wali bagi putri satu-satunya itu. Akad nikah dan resepsi sederhana di lakukan di Sukabumi, kampung kelahiran Sofie.
Setelah menikah Sofie berhenti bekerja, dan tinggal di Sukabumi.
" Kamu tak merasa keberatan kan kalau kita tinggal berjauhan?" Rizal bertanya sambil mengusap kepala Sofie yang ada di pangkuannya.
"Tak apa. Tapi sementara saja kan?" Sofie menatap wajah suaminya.
" Aku jual saja rumah aku yang disini ya, buat beli rumah baru kita, yang dekat tempat kerja kamu, mas."
" Jangan, biarkan saja rumah kamu tetap ada. Untuk rumah kita, biar aku yang usahakan sendiri."
" Sebetulnya aku memang mau jual rumah ini, mau pindah ke Jakarta saja."
" Karena tak ada siapa-siapa lagi di sini?"
" Iya, tak ada orangtua,hanya tinggal ada ayah tiri dan saudara tiri."
" Tapi kan masih ada sepupu dan keponakan."
" Kamu tahu sendiri, mas. Mereka itu hanya mau uangku saja. Menganggap saudara karena aku ada harta."
__ADS_1
" Hus, jangan su'udzon begitu dong."
" Memang iya."
" Ya sudah, kalau memang maunya kamu gitu. Atur saja, Tapi tetap aku mau beli rumah pakai uangku. Kalau rumah ini mau dijual, ya itu terserah kamu."
Akhirnya mereka tinggal terpisah, kerena untuk membeli rumah itu tidak secepat membeli gorengan. Butuh waktu, dan harus sabar menunggu. Karena penghasilan Rizal pun belum besar.
Harusnya masa-masa awal pernikahan adalah masa yang penuh bunga, romantisme, dan cinta. Tapi Sofie tidak terbiasa dengan hubungan jarak jauh. Kedatangan Rizal yang hanya seminggu sekali awalnya masih bisa Sofie terima. Tapi kesibukan Rizal yang sedang dalam proses menjadi dokter spesialis menjadikannya semakin lama semakin jarang datang mengunjungi Sofie.
Akhirnya dengan modal nekat dan tekad yang bulat Sofie memutuskan untuk menyusul Rizal.
" Kita bisa menyewa rumah, mas. Tak apa rumahnya kecil, sederhana dan hidup pas-pasan, asalkan bisa bersama terus dengan suami." Sofie meyakinkan Rizal bahwa kebersamaan itu lebih penting dari segalanya.
" Yakin kamu, mau hidup susah sama aku?"
Pertanyaan yang terlambat, Sofie sudah bersedia dinikahi Rizal, saat bahkan Rizal belum jadi dokter yang sebenarnya. Seharusnya Rizal tak perlu menanyakan lagi kesediaan Sofie mengikutinya dalam segala keadaan.
Akhirnya mereka menyewa satu rumah kecil. Untuk mengisi waktu dan menambah penghasilan Sofie menjadi reseller produk kosmetik.
Awalnya semua berjalan baik. Rizal menikmati semuanya, saat kelelahan mendera usai bekerja, ada senyum Sofie yang mengobati lelahnya. Saat harus makan seadanya karena keuangan menipis, ada senyum Sofie yang menenangkan.
Sayang, pada suatu hari, Rizal mendapati Sofie tiba-tiba menghilang dari rumah. Dari penuturan tetangga Rizal mengetahui kalau Sofie memang pergi dari rumah, dengan membawa sebuah tas besar.
Tanpa bicara apapun Sofie meninggalkannya.
Memang beberapa hari sebelum pergi sempat ada pertengkaran antara Rizal dan Sofie. Sebabnya karena Sofie menuduh kalau sebenarnya sebelum menikahi Sofie, Rizal sudah menikah dengan orang lain, dan sudah memiliki anak.
Kaget? Tentu saja Rizal kaget. Dan Sofie sepertinya sangat meyakini kebenaran berita itu. Dia bilang sudah melihat buktinya.
Begitulah. Rizal sendiri bukannya tak berusaha mencari Sofie, tapi jejaknya sulit ditemukan. Kesibukan Rizal mengurus karir akhirnya menenggelamkannya dalam kesibukan dan tak ada waktu mencari Sofie.
Setiap saat Rizal selalu berharap dalam doanya supaya bisa menemui Sofie. Berumahtangga dengan Sofie hanya sempat dijalani Rizal selama enam bulan. Tapi selama lima tahun Rizal tak pernah punya niat mencari penggantinya, karena selalu ada asa dalam hati Rizal tentang pertemuannya kembali dengan Sofie.
Dan memang, akhirnya itu terjadi, walau Sofie sudah ada di alam lain. Bertemu dengan Sofie kecil, Ayu Putri Pahlefi. Paling tidak ada nama Rizal yang Sofie pakai pada nama anaknya.
__ADS_1
Bersambung
******